Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 54 - Sambaran Petir Hitam


__ADS_3

Tepat setelah Lug dan yang lainnya membuat tempat untuk beristirahat, Lug langsung mengistirahatkan badannya. Dia dalam keadaan telanjang bulat di dalam ruangan pribadinya, itu hanya sebuah tenda kecil. Pada saat itu, ia menghela nafas karena letih. "Ini sangat melelahkan," gumamnya.


Tak lama, ada siluet seseorang yang berdiri di depan tendanya. Dia adalah sesosok wanita. "Apa aku boleh masuk, kak?" tanya wanita itu yang rupanya adalah Nagisa.


Lug mendengarnya. "Aku sedang telanjang bulat, sebelum kau masuk, apa kau bisa bawakan baju untukku terlebih dahulu?" pintanya.


Nagisa yang berada di luar, wajahnya langsung memerah. "O-oh, baiklah ... Ta ... Tapi, kepada siapa aku meminta pakaian?" tanyanya balik.


Lug menjawab, "Coba tanyakan kepada salah satu dari 5-O-V, siapa tahu ada dari mereka yang membawa pakaian."


"Emm ... Baiklah."


Tak lama Nagisa kembali dan membawakan pakaian untuk Lug. "Aku memintanya dari seorang wanita yang bernama Cleo," ucapnya.


"Tidak apa-apa," sahut Lug.


Lantas Nagisa masuk ke dalam dan membawakan pakaiannya itu. Dia malu-malu melihat suaminya yang sedang telanjang bulat. Dia selalu mengalihkan pandangannya, hanya saja matanya seperti ditarik oleh magnet untuk terus menatap tubuh suaminya itu.


Lug menyadari bahwa dirinya sedang ditatap oleh istrinya, dia tersenyum. Wajah mereka berdua merah padam.


"Wah, ini baju mahal," ujar Lug.


Nagisa melihat ke arah baju yang tengah dipakai oleh suaminya–Lug telah memakai celananya. "Apa benar? Harganya berapa?" tanya Nagisa penasaran.


Lug mengangguk. "Harganya mencapai ratusan koin emas, lho," jawabnya.


Nagisa terperangah terkejut. "Yang benar saja? Ratusan koin emas? Bagaimana bisa hanya sebuah pakaian seharga ratusan koin emas?!" serunya tak percaya.


"Jangan salah, bahkan Cleo mempunyai banyak sekali koleksi baju seharga ribuan koin emas. Dan hampir semua pakaian mahal 5-O-V adalah menjadi koleksi miliknya, karena dialah yang membelinya dari berbagai macam merk dan kerajaan," Lug menuturkan.


Mulut Nagisa terbuka lebar seakan rahang bawahnya hendak terjatuh. "Yang benar saja?!"


"Kenapa aku harus berbohong?"


Tak lama setelah itu, Nagisa keluar dari tendanya Lug. Sebelumnya mereka hanya berbicara ringan saja dan saling menanyakan kondisi mereka satu sama lain.


Kemudian, tak berselang lama Lug dikejutkan oleh sesuatu. Matanya terbuka sangat lebar seakan hendak lepas pada saat itu juga. "SIALAN! SUDAH TAK SEMPAT!!!" umpatnya seraya berdiri dengan cepat dan keluar dari tendanya, lantas menatap ke langit.


Terdapat lingkaran sihir hitam yang sangat besar di langit.

__ADS_1


BLAAARR


BLAAARR


BLAAARR


BLAAARR


Dari lingkaran sihir tersebut, muncul empat rantai hitam yang langsung terhempas ke tanah, namun itu tetap tegang seakan ditarik oleh lingkaran sihir tersebut agar tidak terjatuh semuanya.


BRZZZZZZZZZZTTTTT


Muncul petir hitam yang menjalar melalui keempat rantai tersebut.


"AAAAAAKKKKHHHH!!!"


Semua yang ada di dalam lingkup lingkaran tersebut terkena sengatan petir hitamnya, dan mereka semua berteriak. Petir itu menyambar hingga sambarannya menjulang tinggi dari tanah. Semuanya tertutup oleh petir itu.


Lug bahkan hampir tak bisa menahan sihir tersebut.


Setelah petirnya menghilang, Lug jatuh terbaring, kakinya tak sanggup berdiri bahkan ia harus sampai merangkak di tanah. "Na ... Nagisa? Rai ... Ni- kalian ... " ucapnya terpatah patah. Lelaki ini menyebut nama kedua istrinya dikarenakan juga mendengar teriakan mereka berdua.


Lambat laun sihir penyembuhannya mulai bekerja lebih maksimal, kini Lug dapat berdiri meski kedua kakinya terasa sangat lemas.


Laki-laki itu berjalan menyusuri tenda satu persatu, terlihat Zephyr sudah tak sadarkan diri. "ZEPHYR, SADARLAH!!!" serunya sambil mengguncang tubuh sahabatnya itu.


Tapi tak ada tanda Zephyr akan bangun, tubuhnya tampak tak kuat menahan sihir sekuat itu.


"SAYANG!!!"


Tiba-tiba ada suara lantang yang terdengar di telinga Lug. Itu Raini ... Ya, itu Raini! Batinnya. Dia menggunakan Penglihatan Langit dan Penglihatan Dunianya, benar saja bahwa Raini masih bertahan. Lug segera menuju ke tempat di mana istrinya itu berada. Dan di sana juga terdapat Nagisa yang tergeletak lemas tak sadarkan diri.


"RAINI! KAU BAIK-BAIK SAJA?!" seru Lug mengkhawatirkannya. Ia langsung memeluknya.


Raini mengangguk. "Aku baik-baik saja, tapi Nagisa ... Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, Nagisa ... Dia sudah tak sadarkan diri," jawabnya dengan nada resah dan cemas.


Lug melihat Nagisa dengan mata sedih, tak terasa ada tetesan air mata yang jatuh. "Akan sulit untuk menyadarkan mereka semua, ada sesuatu dari petir barusan yang membuat semuanya menjadi seperti ini, bahkan aku pun sendiri hampir tak bisa bergerak karenanya," jelasnya.


Di dalam hati Raini ingin sekali membantu, tapi ini berada di luar kemampuannya. Meski kemampuannya dapat menihilisasikan berbagai macam sihir yang ada, tapi ia takut melakukan kesalahan fatal yang bisa saja mengakibatkan cidera hingga bahkan kematian.

__ADS_1


Lug menggunakan sihir penyembuhan kepada Nagisa, meski tak terlalu berefek tapi ia tetap berusaha.


Aku terlihat seperti tidak berguna di sini, gumam Raini dalam hati. Ia juga takut perasaan yang dimiliki oleh Lug akan tertuju pada Nagisa sepenuhnya, Raini begitu resah dan sangat ingin terlihat berguna di hadapan suaminya itu.


"Raini, kau tak perlu berpikir bahwa dirimu tak berguna di saat seperti ini," ucap Lug dengan nada tegas. "Tak perlu gelisah, kita akan segera menyelesaikannya sekarang!"


Lug terlihat seperti sedang menggerutu di dalam hatinya, lalu dengan segera menggunakan Bola Semesta miliknya, ketika itu bola tersebut pun memancarkan cahaya. Sebelumnya bola itu tidak terdapat apapun di dalamnya, namun tiba-tiba saja terdapat sebuah planet di dalamnya yang juga diselimuti oleh nebula. Di atas kepala Lug, tercipta lingkaran sihir sebanyak tiga buah dengan ukuran yang luar biasa besar, ketiga lingkaran sihir itu terbang ke atas hingga menutupi langit sejauh puluhan mil. Tidak jelas berapa banyak jumlah garis lingkarannya, yang pasti sihir itu mencakup skala yang sangat luas.


"Nebula Surga Tertinggi!" ucap Lug bersamaan dengan Bola Semesta di tangannya yang mulai mengeluarkan kabut berwarna yang sangat indah.


Tak ada yang menyadarinya, namun mereka yang berada di bawah langit yang cerah akan melihat bahwa langit kini ditutupi oleh kabut nebula berwarna-warni yang sangat indah dan tebal, bahkan memancarkan cahaya sendiri dengan banyak gemerlap selayaknya bintang di malam hari. Dan juga, seluruh planet itu tertutupi oleh kabut tersebut, berada di domain yang berbeda, namun bergerak di semesta yang sama. Kendali dan kekuasaan para dewa di bumi lenyap dalam sekejap, mereka tak dapat melihat apapun yang ada di planet para manusia dan yang lainnya.


Para manusia yang membabi buta atas kekuasaan para dewa, berada di bawah kendali para dewa, berkomunikasi dengan dewa, atau apapun yang berhubungan dengan dunia luar langsung tertutup dan terhenti dalam sekejap mata.


"Akhirnya," ucap Lug. "Aku sedikit menyesal tidak menggunakan Bola Semesta dari awal, padahal aku sendiri yang meminta 5-O-V untuk mengambilnya di dunia dwarf."


Raini tidak melihat adanya sesuatu yang berubah setelah suaminya itu menggunakan sebuah bola yang ada di tangannya itu. Lantas ia bertanya, "Sayang, apa yang sudah kaulakukan? Memangnya apa yang terjadi di saat ini?"


Lug tersenyum tipis, dalam sekejap senyumannya memudar. Lantas ia menjawab, "Dunia ini sudah kututupi dengan domain dan pembatas yang sangat kuat, hingga para dewa pun kehilangan otoritas mereka dalam sekejap mata sekarang ini. Hanya saja semuanya sudah terlambat, entah siapa b*jingan yang menggunakan sihir barusan itu ... Mungkin si Lucifer- lupakan! Yang terpenting kita sudah aman sekarang."


Lantas ada sebuah pertanyaan yang terlintas di kepala Raini. "Sayang, jika ini demi menyelamatkan dunia, kenapa kau menyembunyikan semua ini dari Lucifer? Bukankah lebih baik kau terang-terangan saja? Mungkin dia bersedia untuk membantumu," tanyanya dengan nada polos.


Di saat yang bersamaan, Lug memperkuat sihir penyembuhannya. Dia menjawabnya dengan nada serius, "Lucifer adalah sesosok makhluk pelit yang bahkan pengikutnya saja tidak mendapatkan apa-apa selain kekuatan yang merugikan mereka."


Raini tercengang mendengar jawaban dari Lug, dia langsung tahu apa yang disampaikan itu. "Berarti apabila kejadian barusan itu darinya, maka dia hendak mencegah kita untuk datang ke dunia dewa. Bukankah mereka itu kuat? Kenapa mereka tidak membiarkan kita mendatangi mereka saja? Apa mereka takut?" tanyanya lagi panjang lebar.


Lug menjawab, "Mereka tidak ingin kita sebagai manusia menginjakkan kaki di dunia mereka yang mereka anggap suci- dasar si Lucifer tidak tau diri, raja iblis mengatakan dirinya suci!"


Tiba-tiba Lug menyeringai–tatapannya tampak penuh rencana, dan pada saat bersamaan Nagisa membuka matanya.


Hah? Kok ...


Raini bingung sendiri, dia memahami mereka berdua hanya saja tak tahu apa yang sedang mereka berdua rencanakan.


"Nagisa, maafkan aku, sepenuhnya aku tidak tahu bahwa Lucifer akan menyerang secepat itu, tapi sekarang adalah waktu yang tepat ... Untuk kita membuka gerbang masuk ke dunia para dewa," ucap Lug sambil memegang dagu Nagisa, lantas mengecup keningnya.


Untuk sekarang Lug tahu bahwa Lucifer telah mengerahkan banyak tenaga untuk menggunakan sihir masif dan dikirim dari dunia dewa ke dunia manusia serta lainnya. Dan Lug memanfaatkannya agar tak ada hambatan untuk bisa menyeberang dunia dengan aman, Nagisa juga sudah diberitahu, sehingga mereka berdua telah mempersiapkan diri sebelumnya, hanya saja Lucifer bergerak lebih cepat. Dan itulah alasan Lug mengumbar alasannya kepada para dewa termasuk Lucifer, agar Lucifer itu sendiri bertindak secara langsung. Serta Lug langsung menutup dunia dengan Bola Semesta agar Lucifer tidak berbuat secara berlebihan yang mungkin berakibat fatal, karena itulah sebelumnya ia menggerutu dalam hatinya. Itu karena, menurutnya rencananya itu berjalan mulus, hanya saja terlalu cepat dan sangat mendadak akibat musuh yang ia hadapi sangat agresif, yakni Sang Malaikat Terjatuh, Bintang Fajar, Raja Dari Segala Raja Dewa, Lucifer.


Bersambung!!

__ADS_1


__ADS_2