Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 40 - Perpustakaan Sihir


__ADS_3

Dua hari kemudian, Lug pergi ke perpustakaan sihir dengan para bangsawan. Ternyata para guru tidak mengikutsertakan Nagisa karena gadis itu tidak diajukan oleh Antonio, meskipun sebenarnya Elizabeth, sebagai guru pembimbingnya, sangat ingin gadis itu pergi bersama dengan Lug.


Sebenarnya kemarin Lug mendapatkan sebuah masalah ketika jam istirahat tiba. Wilson menyenggolnya dengan kasar dan pada akhirnya, Lug malah meneriakinya. Akibatnya, seorang guru lelaki yang berpapasan dengannya menegurnya karena berteriak-teriak di koridor dan mengganggu kenyamanan yang lainnya.


Dan kembali pada sekarang ini, Lug mendapatkan cukup banyak penolakan ketika hendak berangkat menuju ke perpustakaan sihir.


Bagi para bangsawan, anak dari desa yang datang sesama dengan mereka sama saja dengan penghinaan. Meski begitu, Lug sama sekali tidak mempedulikan pendapat orang lain atas dirinya.


Sesampainya di perpustakaan sihir, Lug melihat banyak sekali buku yang tersusun rapi dan memiliki sampul yang sangat bagus. Sangat berbeda dengan perpustakaan yang ada pada desanya–walaupun telah ditata rapi, dibersihkan, serta sentiasa dijaga oleh Rakt, tidak ada yang sebagus dengan buku-buku yang ada di perpustakaan sihir di kota kerajaan. Bahkan ada buku yang sampulnya dari emas asli dan memiliki permata berharga, hebat! Gumam Lug dalam hati.


Lug juga diberi selembar kertas dan pena bulu angsa yang mana gurunya Elizabeth pernah berkata bahwa kertas tersebut mencantum semua pengetahuan yang ada di dalam perpustakaan.


"Jadi aku hanya perlu menuliskannya saja pada kertas ini?" tanya Zephyr kepada Lug. Justru bangsawan itu yang tidak paham dengan cara kerja dari selembar kertasnya.


"Iyaa ... Mana kutahu? Mungkin seperti itu," sahut Lug. "Kupikir kau sudah tahu."


Ketika itu, Lug mengambil satu persatu buku yang ada di tak. Ia memulainya dari yang paling depan. Ternyata pada dua baris rak paling depan berisikan tentang sihir-sihir tipe serangan dengan tiga lingkaran sihir. Dan ternyata lagi, semua buku yang ada rak belakangnya, semuanya adalah buku yang berisikan daftar sihir yang kapabilitasnya adalah tiga lingkaran sihir.


Lug melihat ada rak pada lantai dua yang di mana tangganya berada di samping kanan dan kiri tepat sebelah dinding. Ketika ia naik ke atas dan mulai mengambil sebuah buku, di dalamnya berisikan sihir empat lingkaran. Ada juga lantai ketiga yang mana ada larangan untuk menaikinya.


Pada saat itu juga, Elizabeth melintas di depan Lug. "Hai, Lug," sapanya.


"Hai juga, bu," Lug menyapa balik.


Melihat hampir semua anak didiknya berada di lantai kedua, Elizabeth sangat bangga dengan hal tersebut. Sekarang karena bertemu dengan Lug, guru wanita itu hendak mengajaknya untuk berbincang.


"Apa kau bingung ingin memilih sihir yang mana?" tanyanya. "Aku bisa merekomendasikan beberapa untukmu."


Tetapi Lug menggeleng. "Tidak perlu, aku sekarang tidak sedang kebingungan."


"Lalu kau di sini sedang apa? Membaca buku novel? Tidak ada yang seperti itu di sini," papar Elizabeth.


Mereka tertawa bersama dan beberapa orang menoleh melihatnya hanya sesaat dan mereka kembali pada buku bukunya.


"Oh, iya Lug, memangnya tipe sihir apa yang ingin kau cari?" Elizabeth bertanya lagi.


"Aku ingin mencari sihir yang berfokus pada mobilitas, penguatan, atau pelemahan berskala. Aku tidak terlalu memikirkan sihir tipe apa, yang pasti sesuai dengan keinginanku saja itu sudah cukup," terang Lug.


Mendengar jawaban itu, Elizabeth malah terheran-heran. "Seperti itu, ya? Kupikir kau itu mirip orang lain yang hanya memikirkan bahwa serangan adalah yang utama," ujarnya.


"Ya, sihir primer tidak selamanya menjadi prioritas."


"Kau benar, Lug."


Sihir primer itu adalah sihir yang digunakan sebagai ikon utama sihir. Mereka adalah sihir tipe serangan dan pertahanan.


Lalu berikutnya adalah sihir sekunder yang biasanya cukup banyak digunakan dan memiliki berbagai macam opsi, mereka berupa sihir tipe penguatan, transformasi, pelemahan, dukungan, penyembuhan, dan kutukan.


Lalu ada sihir tersier yang cukup jarang terdengar seperti sihir tipe spasial, intimidasi, dan visual.


Setelah itu, Lug membaca semua buku yang ada dengan sangat cepat. Orang lain yang melihatnya termasuk Elizabeth mengira bahwa Lug sedang melihat-lihat saja–anak itu sama sekali tidak membaca isinya, membuka tiap lembar bukunya hingga akhir, lantas menaruhnya kembali di tempatnya semula, dan mengambil buku baru serta mengulangi siklus tersebut.


"Lug, kau sedang bermain-main?" tanya Elizabeth.


Lug menggeleng. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, "Kulihat tadi ada beberapa sihir lima lingkaran, apa itu juga boleh dikuasai?"


Wow, pertanyaan yang mengejutkan.


"Jelas boleh, tapi batas waktunya cuman setahun lho, bahkan kurang. Aku menyarankan sihir empat atau tiga lingkaran saja, opsinya lebih banyak," saran Elizabeth.


"Kalau bisa?" celetuk Lug.


"Silahkan saja, dua tahun? Tidak, aku malah percaya kau menguasainya dalam waktu lima tahun," sahutnya seraya berbalik pergi. Ya, begitulah anak-anak, mimpi mereka cukup tinggi, apalagi untuk jenius sepertinya yang sangat percaya diri, gumam Elizabeth dalam hati.


Dan benar saja, Lug mendapatkan akses untuk menguasai sihir lima lingkaran. Itu berarti dia diizinkan untuk menguasai sihir sekuat itu. Lug tampak sangat senang, awalnya ia mengira bahwa kerajaan Da Nuaktha tak mengizinkan seseorang untuk menguasai sihir di atas empat lingkaran kecuali mereka memiliki hak khusus yang mengizinkan mereka.


Lalu Lug membuka lebih banyak lembaran buku, sebenarnya ia membacanya, tapi dengan sangat cepat.


*****


Hingga pada akhirnya, semua siswa dan siswi dipersilahkan untuk menyerahkan lembaran kertas yang diberikan kepada mereka sebelumnya kepada guru pembimbingnya masing-masing. Lug juga menyerahkannya. Tetapi semua murid belum diizinkan untuk meninggalkan perpustakaan.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, guru pembimbing tiap kelas pun datang. Mereka menyerahkan kembali kertasnya karena di dalamnya tersimpan informasi sihir yang tiap murid tulis.


Pada hari ini juga semua murid dari desa yang tidak ikut ke perpustakaan sihir diliburkan. Dan semua yang berangkat akan dipulangkan dengan cepat.


Karena telah dipulangkan, Lug segera menuju ke asrama wanita untuk menemui Nagisa. Seorang penjaga sempat mencegahnya, dan Lug meminta tolong untuk memanggilnya. Penjaga itu pun bersedia melakukannya.


Tak berselang lama, Nagisa turun bersama dengan penjaga itu.


"Halo, kak," sapanya. "Kenapa kau mencariku?"


"Hai, Nagisa, maaf aku mengganggumu, tapi bisakah kau meluangkan waktumu sedikit untuk pergi bersamaku?" pinta Lug.


Jawabannya sudah jelas. "B-baiklah, tunggu sebentar," sahut Nagisa. Lantas dia kembali masuk ke dalam asrama. Gadis itu hendak mengganti bajunya, karena sebelumnya ia hanya memakai kaos polos dan celana pendek karena sedang bersantai di kamarnya.


Dan sekarang Nagisa turun dengan mengenakan gaun cantik yang dibelikan oleh Teressa sebelumnya.


Dalam hati Lug berkata, dia mungkin berpikir aku sedang mengajaknya berkencan.


Mereka pun pergi bersama, tapi sebelum itu Lug pergi mengganti bajunya juga karena Nagisa sudah berpikir sedang diajak berkencan. Maka dari itu Lug menurut saja untuk mengajaknya berkencan karena sudah terlanjur. Ia juga mengenakan pakaian yang diberikan oleh Teressa dan Rakt.


Setelah itu, Lug berangkat bersama dengan Nagisa untuk pergi ke sebuah taman. Di sana banyak sekali bangsawan yang berbincang di sebuah pondok klasik yang sangat sesuai untuk mengobrol dan menikmati kopi.


Beberapa orang melihat Nagisa dengan mata yang terpesona. Dan ada juga yang ditampar oleh kekasihnya karena memandangi Nagisa terlalu lama.


Hingga pada akhirnya, Lug menemukan sebuah bangku yang cocok untuk dirinya dan Nagisa duduk berdua. Mereka pun duduk di bangku tersebut yang mana tepat di depannya adalah sebuah air terjun dan terdapat jalan batu yang tersusun rapi melingkarinya.


"Nah, seperti inilah kencang yang kuinginkan, kak," ujar Nagisa seraya meletakkan kepalanya di pundak kakak lelakinya itu, lantas memejamkan matanya karena menikmatinya.


Lug mendesah. "Ah, kau ini," sahutnya. "Padahal aku sedang ingin mengajakmu untuk berbicara serius."


"Memang apa yang ingin kaubicarakan?" tanya Nagisa lagi tanpa mengangkat kepalanya.


"Ini tentang besok di perpustakaan sihir."


"Oh? Apa kau ingin aku menguasai sihir empat lingkaran lagi?"


"Haha, tidak."


"Sihir lima lingkaran, dong, biar ekstrim!"


"Tunggu! Apa?!"


Sontak Nagisa langsung bangun dan menatap Lug dengan wajah yang penuh pertanyaan. Gadis itu terheran-heran.


"Sudah kubilang, pembicaraan ini serius," ucap Lug.


Nagisa menelan ludah. "Jangan bilang kau melakukan hal tersebut, lalu kau ingin aku menguasainya juga, sama sepertimu!" serunya.


Lug melirik kanan dan kirinya. "Pelankan suaramu, jangan sampai orang lain mendengar pembicaraan kita."


Nagisa memahami situasinya, dia tahu bahwa jika ada orang lain di sekitarnya yang mendengar bahwa ada dua orang anak dari desa yang masuk ke akademi sihir kerajaan hendak menguasai sihir lima lingkaran.


"Dengar ini!" Lug mulai menjelaskan. "Ini mungkin terdengar egois, tapi aku ingin kau mengambil sihir lima lingkaran karena aku juga ingin menguasainya juga. Tidak, aku hanya ingin mendengar lebih banyak informasi saja, pada saat itu aku tidak berhasil membaca semua buku yang ada di perpustakaan. Jadi aku ingin kau membaca beberapa buku yang ada pada barisan belakang di lantai dua. Barangkali kau menemukan sihir lima lingkaran yang menurutmu sesuai, sehingga kau juga diuntungkan."


Nagisa hendak sekali melawan dengan kata-kata tapi, namun mulutnya terkunci rapat rapat dan hanya bisa mengangguk seperti gadis penurut pada umumnya.


"Aku tahu, kau mungkin ingin sekali berkata tidak atau tapi. Namun yang pasti, aku ingin kau membantuku saja mendapatkan lebih banyak informasi, apa kau tak mau membantuku?" terang Lug.


Tatapan mata Nagisa menurun, wajahnya tampak tidak bersemangat. "Sejujurnya, aku cukup terpaksa dengan semua ini. Tapi yang pasti, aku siap dengan apa yang kauingin aku lakukan," kata Nagisa berterus terang.


Tiba-tiba terlintas ide menarik di benak Lug. "Jika tahun ini kau bisa menguasai sihir lima lingkaran, aku akan melakukan apa yang kausuruh, atau kauminta apa maka aku akan kabulkan selagi aku bisa," katanya.


Mendengar itu, Nagisa langsung bersemangat dan wajahnya kembali sumringah. "Kalau aku bisa melakukannya, nanti aku akan minta-"


"Sssstttt!!!" Lug dengan cepat menutup bibir Nagisa dengan satu jarinya. "Mintalah nanti jika kau mampu membuktikannya," ujarnya.


"Baiklah," sahut Nagisa dengan senyuman manisnya.


Dan kembali seperti sebelumnya, Nagisa menaruh kepalanya di atas pundak Lug dan memejamkan matanya serta tersenyum senang karena bisa berduaan dengan kakaknya itu. Sementara Lug lagi-lagi menoleh ke kanan dan kiri. Karena apa? Karena dia sedang menunggu seseorang.


Tak berselang lama, ada Zephyr yang datang menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


"Kau ini lama juga, ya?" ucap Lug dengan tatapan mengancam.


"Maaf, maaf-" sahut Zephyr.


Nagisa melihatnya dengan ekspresi sebal. Kenapa dia harus datang ke sini di saat kami sedang berduaan? Hmph, pasti kakak Lug yang memanggilnya, keluhnya dalam hati.


"Tapi kau jadi punya sedikit waktu untuk berduaan dengan adik cantikmu itu, kan?" ujar Zephyr menggoda.


"Ya, kau benar juga sih."


Dengan segera Nagisa melihat Lug dengan mata kebingungannya. Dan dalam sekejap ia memeluknya dengan sangat erat. "Kakak, aku sayang padamu," ucapnya.


Lug hampir terjatuh pada saat itu. "Salah bicara sih, ini!"


Zephyr tertawa melihat tingkah laku kakak adik yang sedang bermesraan layaknya sepasang kekasih itu. Tapi dalam lubuk hatinya, ia juga iri melihat orang lain bermesraan di depan matanya langsung, apalagi dia juga menaruh rasa kepada Nagisa. Dan tak bisa disangkal, Zephyr juga tahu bahwa Lug dan Nagisa tidak memiliki hubungan darah meskipun mereka dinyatakan saudara.


Dan tiba-tiba juga, ada Raini yang menghampiri mereka bertiga, seperti biasa, dia menggunakan cadar dan kerudung berlapis. Kedatangan mereka seolah memang berurutan. "Kalian sedang apa?" tanya gadis itu.


Nagisa masih memeluk erat Lug dan enggan untuk melepaskannya. Bahkan pria yang dipeluknya itu tercekik hingga hampir tak bisa bernafas.


"Entahlah, aku juga tak mengerti," sahut Zephyr.


Beberapa saat kemudian, Lug dilepaskan oleh Nagisa. Kasihan, pria yang malang. Dia pun mulai menjelaskan apa alasannya memanggil Zephyr di taman tersebut, meskipun tempatnya harus berubah sedikit. Sebelum itu, Lug mencoba untuk mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal. "Zephyr, aku sudah hampir sepenuhnya 'membantumu,' apa kau juga bersedia membantuku?" tanyanya sebagai pembukaan.


Zephyr tersenyum sambil mengangguk. "Aku sangat berterima kasih atas bantuannya, jika bisa, aku sangat ingin membalas kebaikanmu," sahutnya.


Lug juga tersenyum. "Bagaimana jika kuingin kau menguasai sihir lima lingkaran?" tanyanya lagi. Pada bagian di mana Lug mengatakan sihir lima lingkaran, suaranya mengecil seolah sedang berbisik, bahkan Raini tidak dapat mendengarnya dengan jelas.


Tapi itu mengejutkan Zephyr. "Apa?! Aku tidak salah dengar, kan?"


"Iya, kau tidak salah dengar."


Zephyr menjadi ragu setelah mendengar permintaan dari Lug. Tak disangka ia diminta untuk menguasai sihir lima lingkaran. "Tapi aku kan sudah memilih tadi bersamamu?!"


Lug tersenyum lagi, justru kali ini senyumannya lebih lebar. "Kau tak perlu bersusah payah untuk pergi ke perpustakaan sihir, aku bisa membantumu," katanya.


"Bagaimana caranya?"


Lantas Lug mengeluarkan sebuah buku yang cukup tebal dan di dalamnya memiliki keterangan dari berbagai sihir yang ada. "Sekali lagi kutanya, sihir apa yang kau ambil tadi?" tanyanya lagi.


Zephyr menghadap ke langit sambil mengingat-ingat apa yang dipilihnya pada saat berada di perpustakaan sihir. "Sepertinya ... Sihir empat lingkaran, namanya adalah sihir Langit Biru," jawabnya.


"Rupanya kau mengambil sihir yang cukup bagus, ya? Sihir universal, sangat mengesankan," ujar Lug.


"Wah, aku baru pertama kali dengar kalau sihir universal itu benar-benar ada," Nagisa menimpali.


Sihir universal adalah sihir yang dapat digunakan sebagai bentuk serangan, maupun pertahanan. Kedua unsur sihir primer ini menjadi satu dalam sihir universal, biasanya ada juga sihir universal tingkat lanjut yang juga mengandung beberapa atau bahkan semua sihir sekunder hingga tersier sekalipun. Sihir universal tingkat lanjut tidak ada yang memiliki lingkaran sihir di bawah enam lingkaran, kecuali jika mampu mempraktekkan beberapa metode sihir.


Zephyr merasa senang karena dipuji. "Haha, terima kasih."


Setelah berbincang cukup lama, Lug memberikan bukunya kepada Zephyr. Di dalamnya terdapat cukup banyak catatan tentang beberapa sihir empat dan lima lingkaran, beserta beberapa metode khusus.


"Oh iya, Lug, kau dapat buku ini darimana?" tanya Zephyr.


Lug menjawab, "Tadi aku dapat dari Bu Elizabeth, aku memintanya sepulang sekolah barusan."


"Oooh ... " Zephyr langsung menduga bahwa Lug memang sudah merencanakannya sejak lama. "Terus, sihir mana yang harus kukuasai untuk sekarang?"


Lug tersenyum jahat dengan tatapan matanya yang menyipit, seolah ada bayangan hitam yang menutupi wajahnya dan matanya berubah menjadi cahaya putih yang diselimuti asap merah menyala.


Zephyr menelan ludah dan langsung merinding ketakutan. Jangan bilang dia merencanakan sesuatu yang jahat, batinnya dengan penuh rasa khawatir.


"Aku sebenarnya tidak menuntutmu untuk menguasai semuanya, tapi kau punya potensi untuk menguasai lebih dari apa yang kutulis," Lug menjelaskan.


Raini memahami ucapannya. "Itu berarti semua yang ada di buku bahkan bisa lebih banyak lagi?"


"Iya, kau benar."


Di sana Zephyr, Raini, dan bahkan Nagisa tidak bisa berkata-kata. Mendengar bahwa seorang bangsawan dengan 'tangan terkutuk' memiliki potensi yang sangat besar, bukankah itu menjadi sebuah kabar yang menghebohkan? Tapi mau bagaimanapun juga, itu berasal dari Lug, seorang anak laki-laki yang telah membantu kesembuhan Zephyr. Jelas saja, mereka lebih memilih untuk percaya dibanding tidak, tapi tetap masih ada keraguan besar yang ada di dalam hati mereka.


Bersambung!!

__ADS_1


__ADS_2