![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Berhasil mengalahkan George, kini Lug ditantang oleh seorang anak bangsawan yang tangannya ditutupi oleh sarung tangan. Dia juga telah meminta izin kepada kepala akademi agar pertandingannya itu dapat dilaksanakan. Sebagai gantinya, Lug akan kehilangan kesempatannya untuk dapat menantang peserta lain.
Kembali pada arena sebelumnya, kini Lug berhadapan dengan orang yang berbeda. Menurutnya, lawannya kali ini lebih mengerikan ketimbang George.
Bangsawan pemurung itu lantas menatap Lug dengan senyuman. "Hei, ini pertama kali kita bertemu," sapanya.
"Hai juga," Lug membalas.
"Perkenalkan, namaku Zephyr, Zephyr Azamuth, dari keluarga Azamuth," ucap Zephyr memperkenalkan diri. Meski nada suaranya berat dan sedikit serak, tapi terlihat dia sedang berusaha agar tidak seperti orang yang mengerikan. "Sekarang giliranmu memperkenalkan dirimu!"
Lug tersenyum. "Namaku Lug, Lug Vincent, dari desa Nedhen."
"Baiklah, salam kenal."
Pertemuan mereka untuk pertama kalinya berjalan dengan sangat ramah. Mereka berdua juga tampak cocok untuk saling berteman. Tapi sekarang juga mereka harus bertanding untuk mendapatkan nilai dan membuktikan diri.
Zephyr melirik ke arah para penjaga di sekitarnya. "Lebarkan arenanya!" perintahnya.
Orang-orang yang bertanggung jawab atas pembatasnya itu langsung melakukan sesuai dengan diperintahkan. Luas arenanya sekarang sudah mencapai dua kali lipat dari luas sebelumnya. Dan itu juga telah diizinkan oleh kepala akademi yang menganggukkan kepalanya ketika ditatap oleh orang-orang yang bertugas untuk menjaga arenanya–mereka berjumlah empat orang.
Lagi-lagi Lug tersenyum. "Haha, sekarang sudah menjadi lebih luas. Kau seperti membaca pikiranku," paparnya.
Zephyr membalasnya dengan senyuman yang sama. "Bukan apa-apa, hanya saja tadi memang terlalu sempit."
"Kau benar."
WUUUSH
Lug langsung melesat dengan sangat cepat ke arah Zephyr. Gerakannya sangat cepat sekali, berbeda jauh dengan gerakannya ketika melawan George. Lug langsung berada di samping kirinya Zephyr–jaraknya sekitar 4 regrit, dan langsung mengacungkan tangannya ke arah lawannya, beberapa tangan tangan hitam dari lingkaran sihir hitam di belakang punggungnya dan melesat ke arah yang telah ditargetkannya.
Cepat sekali! Batin Zephyr. Dia langsung membalas dengan melakukan hal yang sama, yaitu mengacungkan tangannya ke arah Lug. Muncul lingkaran sihir yang memunculkan bola cahaya kebiruan dari telapak tangannya. Sihir itu memiliki tiga lingkaran sihir. Bola cahaya itu seperti menyerap energi yang ada di sekitarnya dan membuat bola itu membesar seakan dapat meledak kapan saja.
Dan benar saja, tepat setelah itu bola cahayanya memancarkan sinar lurus. Tangan tangan milik Lug dapat menghalanginya, hingga pada akhirnya mereka seimbang.
BLAAAM
Sihirnya Zephyr pun meledak, namun tangan tangan hitam yang menahannya berhasil menangkal dampaknya.
Zephyr kembali membalas dengan lingkaran sihir yang hampir sama atau bahkan sangat mirip seperti sebelumnya–dari jumlah lingkaran hingga ukiran di sekitar garis lingkarannya. Dan sihirnya itu memberikan serangan yang hampir sama, namun sinar yang terpancar menjadi lebih kecil dengan jumlah yang cukup banyak.
Lug tetap melakukan hal yang sama. Tetapi Zephyr menembakinya secara beruntun, dan semua serangan itu dapat ditangani dengan mudah.
Orang-orang yang melihatnya merasa takjub sekaligus heran. Mereka berpikir, bagaimana bisa sihir tiga lingkaran dikeluarkan secara terus menerus tanpa kehabisan mana.
Dan kenyataannya memang begitu. Lug sama sekali tidak kehabisan mana, dan begitupun dengan Zephyr yang juga tampak tidak kehabisan mana.
Lug berhenti untuk diam dan bertahan saja. Sihirnya Lengan Bayangannya itu ia hentikan dan bergerak dengan sangat cepat lagi ke arah yang lain. Zephyr juga langsung waspada seketika itu juga, dan dia menembaki Lug yang bergerak secara zig-zag meskipun tidak ada serangannya yang kena. Sekalinya ada yang kena, Lug dengan mudahnya menangkis serangan tersebut dan membuat ledakan ketika menghantam tanah.
Mata semua orang benar-benar tertuju kepada mereka. Bahkan ada bangsawan yang berhenti bertarung gaya untuk melihat pertarungan sengit tersebut.
Nagisa sendiri tak menyangka bahwa kakaknya yang disukainya itu, Lug, bisa membuat gerakan sehebat itu. Awalnya dia hanya mengira Lug itu mahir dalam sihir dan gerakannya tidak terlalu lincah. Tapi sekarang, laki-laki berambut hitam itu membuktikan bahwa dirinya bukan hanya sekedar jenius di bidang sihir, melainkan juga bagus dalam fisik dan gerakan taktis. Hingga saking cepatnya, mata semua orang hampir tidak bisa mengikuti gerakan Lug.
"Tak kusangka kau punya gerakan secepat itu. Aku hampir tak bisa menyaingimu kalau secepat ini!" seru Zephyr sembari menyeringai. Ia nampaknya menikmati pertandingannya.
Lug berhenti seketika dan melemparkan sihir lagi. Ia menghempaskan sihir Bola Petir, dan ketika Zephyr menembaknya, keduanya meledak.
Di tengah asap ledakan tersebut, muncul sihir lagi yang berupa petir yang memancar segaris lurus ke arah Zephyr. Karena sangat cepat dan sudah mustahil untuk dapat dihindari, Zephyr pun memilih untuk menyerangnya kembali dengan sihirnya. Ia menggunakan sihir yang pertama kali digunakannya untuk melawan Lug dan hasilnya hampir seimbang.
Terdengar suara orang berbicara, dan itu adalah Lug. "Sudah kuduga aku perlu serius untuk bisa berhadapan denganmu. Terima kasih karena telah menjadi lawan yang setara."
__ADS_1
Zephyr hanya bisa menyeringai secara terpaksa. Menurutnya, dirinya ini tak bisa menjadi lawan yang seimbang dengan Lug.
Tapi yang sebenarnya terjadi, Lug masih belum terlalu serius ketika menghadapi Zephyr. Dia hanya ingin melihat kemampuan lawan dan masih sedikit bermain-main. Selain itu, Lug juga sedang memastikan sesuatu, ia seperti sedang merencanakan suatu hal, tapi entah apa itu.
Pada saat itu juga, George mulai berpikir, bahwa mungkin dirinya sama sekali tidak bisa mengimbangi Lug apabila bertarung dengan sangat agresif seperti itu. Bukan hanya tak bisa mengimbangi gerakannya, terlihat sihirnya Lug seperti lebih kuat dari sebelumnya. Mungkin aku akan kalah dalam gerakan pertama jika dia seperti itu. Tidak! Jika aku tahu dia sekuat dan secepat itu, aku mungkin tak punya keberanian untuk menantangnya. Untung saja aku tidak dibunuh olehnya tadi, batin George yang keringatnya bercucuran itu, bahkan mungkin hampir mengompol sekarang ini.
Bahkan gadis di sebelahnya sampai meledek George karena saking takutnya, lantas kembali antusias melihat pertandingannya lagi.
Pertarungan sengit itu disaksikan oleh kepala akademi dengan teramat sangat antusias. Fokusnya itu melebihi siapapun yang melihat pertarungan antara Lug dan Zephyr. Baginya di pertandingan itu terdapat dua bintang yang bersinar sangat terang dan sedang unjuk diri atas kemampuan mereka masing-masing.
Kembali pada Lug, ia sekarang sedang melesat ke arah Zephyr dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Zephyr sudah tidak tahu berbuat apa sekarang ini. Dia berlari, tetapi lawannya itu lebih cepat dari gerakannya. Jadi menurutnya itu akan sia-sia saja jika terus berlari yang pada akhirnya akan terkejar. Sehingga ia memutuskan untuk berhenti.
Zephyr pun menyernyitkan dahinya, ujung alisnya turun, tatapannya sangat tajam laksana burung gagak.
Sementara Lug malah tersenyum. Dalam hatinya ia berkata, ini dia saatnya! Pasti Zephyr akan menggunakan itu.
Ada sesuatu yang telah diprediksi oleh Lug. Dan sekarang Zephyr tengah mewujudkannya. Zephyr membentuk lingkaran sihir di sekitarnya, tepatnya berada di bawah kakinya dengan ukuran yang cukup luas. Bahkan sekarang Lug berada di dalam area lingkaran sihir tersebut.
Lingkaran sihir itu membuat semua orang terkejut. Itu karena sihir itu memiliki empat lingkaran sihir dengan ukuran yang cukup besar. Zephyr sudah tak memiliki pilihan lain.
Kepala akademi sampai terbelalak melihatnya. "Ini sudah kelewatan! Aku harus-" tiba-tiba saja ketika pria tua ini hendak turun tangan, ia berhenti. Tunggu, dia tersenyum? batinnya terheran-heran. Yang dimaksudnya itu adalah Lug.
"KEPALA AKADEMI! AYO KITA HENTIKAN MEREKA!" teriak salah seorang perwakilan.
Namun kepala akademi tidak menghiraukannya sama sekali. Tatapannya masih terus tertuju pada pertandingan tersebut, seolah sedang menunggu-nunggu apa yang akan terjadi setelah ini. Hingga beberapa orang hendak turun untuk menghentikannya, kepala akademi menyadarinya. "JANGAN HENTIKAN MEREKA!!!" bentaknya kepada orang-orang yang hendak turun tangan itu.
Semuanya pun bertanya-tanya kenapa kepala akademi seperti itu, tapi pria tua itu hanya penasaran saja.
Tetapi tatapan mata kepala akademi seolah sangat tertarik dan penasaran dengan akhir pertandingan antara Lug dan Zephyr secara adil dan tidak dihentikan di tengah jalan. Bahkan ia sempat menyeringai sesaat dan itu berkali-kali.
"Dia pasti- tidak mungkin!"
"Mati! Dia pasti mati!"
Ketika ada yang mengatakan bahwa Lug mati, Nagisa langsung syok di tempat. Kakinya jadi sangat lemas sampai jatuh terduduk dengan air mata yang tak sadar mengalir di pipinya.
Tapi hampir tidak ada yang menyangka bahwa ada keanehan yang terjadi pada sihirnya Zephyr. Tiba-tiba saja pancaran sinarnya yang menjulang lurus ke atas menjadi meliuk-liuk dan memudar perlahan.
WUUUSH
Sihirnya itu terhempas dan menghilang begitu saja, namun lingkaran sihirnya masih ada. Di sana terlihat Lug yang tampak tidak terluka sama sekali. Dia menyeringai dengan tatapan yang sangat tajam laksana singa yang sudah berada di depan mangsanya. Semua orang terkejut sekaligus takjub dengan apa yang mereka lihat itu, tak percaya bahwa anak kecil bisa bertahan tanpa luka sedikitpun dari sihir empat lingkaran. Jika itu adalah orang dewasa sekalipun, pastinya akan mati, jika tidak pun pastinya mendapatkan luka yang cukup parah.
Itu karena sihir empat lingkaran yang berupa sebuah serangan, maka dampaknya memungkinkan untuk dapat menghancurkan sebuah bangunan, kecuali memiliki bahan khusus.
George lagi-lagi terperangah melihat aksi yang diperlihatkan oleh Lug. Jika itu aku, pasti aku sudah mati. Ya, tidak mungkin tidak! Tapi dia ... Mustahil! Trik- tidak! Apa yang ia gunakan sampai sampai bisa bertahan seperti itu? Setidaknya terluka lah sedikit, gumamnya kesal dalam hati.
Kepala akademi justru tersenyum melihat Lug dapat selamat dari serangan itu. "Luar biasa, sangat luar biasa! Di luar ekspektasiku," apresiasinya.
Pada saat itu juga, Zephyr tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dirinya diam membatu menatap Lug tanpa henti, hingga pada akhirnya ia menggelengkan sembari menghela nafas. Lantas mengangkat kedua tangannya. "Aku menyerah," ucapnya.
"Kenapa? Bukankah kau masih bisa lanjut?" tanya Lug menggoda.
Zephyr hanya bisa merapatkan bibirnya seraya menggeleng. "Mustahil bagiku menang darimu, jika kita teruskan, aku pasti yang akan kalah," terangnya.
Terlihat sihir empat lingkaran berwarna abu-abu di bawah kaki Lug. Sihir itu adalah sihir Anomali Distorsi yang membuat sihirnya Zephyr menghilang dan menyatu dengan udara. Semua orang bahkan sampai tak percaya bahwa itu adalah pertarungan antara anak yang masih berusia sembilan tahun–Zephyr juga sudah berusia sembilan tahun.
"Bocah itu pun juga bisa menggunakan sihir empat lingkaran?"
__ADS_1
"Tidak, dia pasti melakukan sesuatu."
"Hei, bodoh! Lihat apa yang ada di bawah kakinya itu, apa kau buta?!"
"Mengerikan sekali, apa dia benar-benar manusia?"
Ketika ada anak dari desa yang jenius dan memiliki bakat yang luar biasa, maka mereka pasti akan dianggap seperti bukan seorang manusia. Sehingga orang-orang yang ada di sekitarnya juga terdoktrin oleh anggapan tersebut, membuat mereka berbuat hal yang sama seperti itu. Mereka yang dimaksud adalah para bangsawan, entah mereka yang masih kecil maupun orang dewasa sekalipun. Tidak ada yang berbeda.
Tetapi Lug sudah menduganya dan sama sekali tidak peduli dengan anggapan tersebut. Ia masih bersemangat untuk kembali melakukan pertandingan. "Ya, terlepas dari semua itu, kau memang juga berbakat dalam sihir. Umm ... Tidak, itu hanya karena bawaanmu saja, benar kan? Sebenarnya kau tidak benar-benar ahli dalam sihir, apa aku benar?" tanya Lug memastikan.
Zephyr sempat terdiam sesaat, tapi pada akhirnya ia membuka mulutnya. "Itu benar, aku sebenarnya tidak berbakat dalam sihir. Hanya bawaanku saja," terangnya. Tatapannya kosong dan wajahnya tampak sedang bersedih, seakan sebuah masa lalu yang teramat buruk menerpa ingatannya.
"Tapi itu sungguh luar biasa, aku suka mempunyai lawan yang seimbang," ujar Lug yang masih kegirangan dan sedang mencoba untuk menghibur. Namun ia sangat tak ingin untuk terlalu mengungkit ingatan Zephyr saja, karena menurutnya, belum saatnya masa lalunya itu diungkit.
Zephyr mengangkat kepalanya dan menatap Lug dengan tatapan yang tak pasti. "Terima kasih," ucapnya parau. Tetapi dua kata itu tidak benar-benar terucap atas kata hatinya. Ia hanya memberi respon yang sesuai saja.
Lug tidak bisa berbuat apa-apa pada sekarang ini. "Semangatlah kembali, raih poinmu agar kelas yang kau dapat adalah kelas yang bagus," ujarnya lagi.
"Iya," hanya sepatah kata. Jawaban itu tidak terdengar seperti orang yang bersemangat.
Lantas Zephyr berbalik dan kembali ke kerumunan para bangsawan yang masih menatap mereka berdua dengan penuh keheranan. Tetapi pada saat itu, pertandingan yang lainnya kembali dilaksanakan karena sempat terhenti beberapa saat hanya untuk menyaksikan pertandingan antara Lug dan Zephyr. Meski orang lain menyaksikan mereka berdua bertarung, tapi tujuan semua orang hanyalah satu, meraih kelas yang bagus. Walau pada akhirnya mereka bertarung sembari memikirkan pertarungan dahsyat barusan.
Kini George malah tertarik dengan Nagisa. Itu karena sebelumnya dia tahu bahwa gadis tersebut memiliki kualifikasi yang cukup tinggi.
George selalu berusaha menjatuhkan sesama sesama jenius, tapi sekarang yang dia incar adalah anak-anak dari desa karena menurutnya jarang sekali muncul yang berbakat seperti Lug. Dan menurutnya, dengan menantang Lug sebelumnya adalah kesalahan fatal.
George pun mendekati Nagisa. "Hei, bagaimana jika kau melawanku?" tawarnya.
Nagisa pun berbalik badan karena takut dan bersembunyi di balik seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu adalah Lug. "Kau mau menantang adikku?"
George tak menyangka bahwa gadis cantik itu adiknya seorang monster. Sementara dia sedikit menaruh hati kepada Nagisa yang parasnya sangatlah cantik. "Em- Iya, siapa tahu kita ... Bisa berteman," ucapnya terbata.
Lug hanya menggelen seraya menyeringai. "Kau pikir aku tak tahu maksudmu?" Lantas lelaki ini menoleh ke arah gadis di belakangnya seraya mengelus kepalanya. Itu membuat banyak orang terkejut sekaligus cemburu, apalagi Qei yang mana ia sangat menginginkan seorang kekasih alias pacar.
Lalu Lug berkata, "Tidak apa-apa. Kau kan sudah berlatih sangat lama denganku, tak perlu takut. Aku yakin kau lebih kuat darinya," ujarnya menyemangati.
George menyeringai tipis, ia sama sekali tidak memandang tinggi kepada Nagisa. Justru merasa kalimat Lug itu hanya iming-iming belaka yang bertujuan untuk menyemangati. Aku tak percaya gadis ini lebih kuat dariku, memangnya sekuat apa dia? Kualifikasinya saka empat garis, sementara aku lima garis, batin George. Dia sangat menitikberatkan pada kualifikasi awal, tapi tidak pada kemampuan yang sesungguhnya.
Pada saat itu, George berbalik dan meminta izin kepada kepala akademi.
"TIDAK!"
Satu jawaban pasti, dengan alasan, "George, dari keluarga Lionel, kau sempat berbuat curang pada pertandinganmu melawan seorang anak bernama Lug," jelas kepala akademi.
Itu memang jelas dan dilihat oleh banyak orang. George berbuat curang dengan cara masuk kembali menyerang Lug padahal tahu bahwa dirinya sudah kalah. Kepala akademi berusaha untuk menertibkannya kembali.
Dan pada saat itu juga, Lug pun maju dan berkata, "Tidak perlu diingat lagi, pak kepala. Lagipula aku sendiri tidak mempermasalahkannya. Dan lagi, Nagisa adalah adik sepupuku, aku bertanggung jawab atas keselamatannya di sini sebagai seorang kakak. Aku juga sudah mengizinkannya."
Kalimat itu benar-benar membalik hati kepala akademi. "Baiklah," ucapnya. "Kau kuizinkan untuk menantang gadis kecil itu. Tapi ingat, sekali lagi kau berbuat curang, kau akan ditempatkan di bawah kelas a."
George menelan ludah. Konsekuensinya benar-benar mengerikan baginya, itu akan mempengaruhi status keluarganya.
Tetapi perwakilan dari keluarga Leonel malah tersenyum jahat pada saat mendengar kalimat Lug. Gadis yang kualifikasinya empat garis menurutmu bisa mengalahkan George yang kualifikasinya lima garis? Mimpinya terlalu tinggi, dipikir dirinya bisa mengalahkan George lantas adiknya juga bisa? Lihat saja setelah ini! Ujarnya dalam hati. Senyumannya itu sempat dilihat oleh Lug dalam sekejap, lantas ia mengalihkan pandangannya dan tidak tertarik dengan pikiran jahat orang lain.
Kemudian Nagisa pun masuk ke arena dan hendak bertanding melawan George. Para penjaga yang bertanggung jawab atas garis pembatasnya pun kembali menyesuaikan luas arenanya seperti semula. Arenanya memang banyak, tapi George memilih tempat yang sama dengan sebelumnya.
Kita lihat saja setelah ini! Gumam George dalam hati dengan semangat yang menggebu-gebu.
Bersambung!!
__ADS_1