Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 23 - Lug dan Nagisa


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Lug dan ayahnya pun pulang ke rumah. Pada saat itu, Nivi, Teressa, dan Nagisa berkumpul di ruang tengah untuk penyambutan, bahkan Rakt ikut menyambut kepulangan mereka berdua. Terlihat begitu banyak makanan yang dihidangkan di atas meja yang panjangnya hingga satu setengah regrit.


Vans terkejut melihat makanan dan meja baru tersebut. "Siapa yang membeli semua ini?" tanyanya sembari melihat semua makanan dari kanan ke kiri.


Sementara Vans dan Nivi saling berbincang, Lug mendekati Teressa. Anak lelaki itu menarik tangan gadis pirang yang berdiri menatap Rakt yang sedang duduk tersenyum memandangi orang tuanya yang sedang berbincang. Hingga tersadar bahwa Teressa sedang ditarik oleh Lug. "Eh, eh, ada apa?! Apa maumu?!" tuntutnya takut.


Lug menoleh dengan senyuman yang sangat lebar, "Terima kasih," ucapnya.


Teressa bingung. Apa maksudnya? Hingga ketika dirinya ditarik sampai tiba-tiba di samping Rakt yang masih belum menyadari kehadirannya.


"Kakak," Lug memanggil.


Rakt menoleh pada adiknya, "Oh, ada apa?" tanyanya. Lantas pandangannya mengarah pada Teressa, dan gadis itu tiba-tiba wajahnya memerah. "Oh, hai, Teressa," Rakt menyapa.


"H-hai."


Kembali pada Lug, "Kakak, kau diselamatkan oleh Teressa? Bagaimana kabarmu?" tanyanya memastikan.


Teressa terkejut mendengar Lug tahu Rakt sempat mengamuk pada beberapa hari sebelumnya. "Kau tahu?" tanyanya.


Lalu Rakt kembali menatap Teressa. Raut wajahnya sama sekali tidak terkejut, justru ia seolah dengan senang hati menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. "Kutukan yang ada di dalam diriku ini memiliki ikatan dengan Lug," Rakt menjelaskan. "Kau tahu? Kelahiran Lug sendiri membuat kutukan yang ada dalam diriku ini menjadi jauh lebih baik. Jelas tak mungkin jika adikku satu-satunya ini tak memiliki hubungan dengan kutukan yang ada di dalam tubuhku."


Teressa teringat dengan ucapan pria tua yang bertemu dengannya di hutan. "Jadi itu membuat Lug selalu tahu kapan kau akan mengamuk- ah, maksudku ketika kutukanmu itu kambuh?" tanyanya penasaran.


"Anggap saja itu benar," sahut Lug.


"Memang terdengar tak masuk akal, tapi sedari dulu ketika aku mengamuk, Lug pasti mengetahuinya di manapun dia berada," Rakt menimpali.


Kini Teressa memutuskan dalam hati bahwa sesuatu yang mengejutkan pasal Lug tak akan menjadi hal yang ajaib lagi. Seperti seolah Lug memang tempatnya sebuah keajaiban, dan itu sedikit merubah pandangannya terhadap anak lelaki kecil berambut hitam itu. Lug tahu apa yang ada di dalam hati Teressa, dan dia juga sudah menduga bahwa gadis pirang itu akan segera merubah pandangannya.


"Berpikir dari semua kemungkinan, yang paling masuk akal adalah Teressa yang menyelamatkan kakak. Ibu pasti ada di rumah, ada kalanya seseorang akan lelah ketika bekerja," terang Lug.


"Bagaimana kau tahu itu?" tanya Teressa lagi untuk memastikan.


Lug menampakkan senyuman congkak, "Kau tak perlu tahu, haha."


Raut wajah Teressa menjadi sedikit kesal, tapi baru kali ini tak ada rasa benci yang timbul terhadap Lug walaupun telah membuatnya kesal. Dan sekarang Lug menoleh–mencari-cari sesuatu di sekelilingnya. Dan seketika tatapan matanya terhenti ketika melihat Nagisa yang sedang berdiri yang juga memandanginya sedari tadi. Lug segera berjalan menghampiri gadis kecil itu. "Kalian berdua mengobrol-lah satu sama lain."


Nagisa tahu Lug akan menghampirinya, "Hai, kakak Lug," sapanya. "Bagaimana kabarmu di saat kau sedang di kota kerajaan?"


"Aku baik, bagaimana denganmu?"


"Aku juga baik."


"Lalu, bagaimana dengan latihanmu?" tiba-tiba saja Lug langsung memasuki arah pembicaraannya. "Jangan bilang kau bermalas-malasan selagi aku tidak ada di sini!" tuntutnya dengan jari yang sudah siap untuk mencubit telinga Nagisa.


"Ah, kakak, aku tak pernah meninggalkan latihanku," ucap Nagisa sebal. Ia menggembungkan pipinya.

__ADS_1


"Ah, yang benar?"


"Iya!"


"Bohooong?"


"Terserah lah!"


"Iya deh, iya. Hahahahahaha!"


Setelah itu, acara dilanjutkan dengan makan siang bersama. Hari telah berlalu dengan cepat, matahari tergelincir di barat, langit telah memerah dengan awan awan yang samar menghiasi langit merah.


Lug berlatih di antara dua pohon berdampingan di belakang rumah. Dia duduk sila dengan kedua tangan yang saling menggenggam. Di sekitarnya terdapat tulisan tulisan kuno yang muncul dan melayang dan terbang segaris lurus vertikal. Di kedua ujungnya memudar, ada yang panjangnya sepanjang lengan hingga satu regrit. Rambut Lug terhembus awan yang menarik ke atas, tubuhnya juga memancarkan cahaya redup berwarna putih kekuningan. Matanya memejam, wajahnya terlihat santai tapi ia sedang berkonsentrasi penuh. Itu adalah sebuah pencerahan, sebenarnya Lug sedang berlatih di dalam alam bawah sadarnya–sedang memilih sihir di antara jutaan sihir yang ada di dalam Semesta Sihirnya.


Semesta Sihir adalah bawaannya ketika lahir, memungkinkan dirinya untuk memiliki, mengetahui, menguasai, hingga bahkan menyempurnakan berbagai macam sihir. Bahkan kemampuan tersebut dapat membuatnya memiliki sihir milik orang lain hanya dengan melihatnya saja, dengan syarat Lug harus memahami mekanisme dan keluaran sihirnya.


Semesta Sihir memang menjadi idaman setiap orang yang tertarik dengan sihir, bahkan orang yang tak terlalu tertarik dengan sihir pun dapat tertarik jika mengetahui informasi tentang kemampuan Semesta Sihir. Ini seperti mendapatkan harta karun dengan isi seluruh informasi semua harta karun yang ada di dunia bahkan yang paling tersembunyi sekalipun.


Dan sebenarnya, Lug bukan memilih sihir untuk dikuasai sekarang juga–tetap saja itu memungkinkan dengan batasan sihir miliknya yang begitu besar, tetapi itu membuatnya seperti orang yang melakukan kecurangan di dalam sebuah permainan. Lug juga menganggap kehidupannya ini sebagai permainan yang seru, itu juga menjadi alasan kenapa dia turun ke dunia sekarang ini.


Pada saat itu juga, Nagisa sudah memperhatikan Lug dari kejauhan. Dia sangat mengidamkan memiliki kemampuan yang terampil dan kekuatan yang kuat seperti Lug.


Hingga beberapa saat kemudian, Lug selesai dengan meditasinya. Dia juga sudah menyadari kehadiran Nagisa sejak awal berlatih yang memang telah diawasi. "Nagisa, apa kau selalu rindu denganku?" tanya Lug menggoda.


Wajah Nagisa merona, dia malu dan segera membuang pandangannya. "Ti-tidak!" Dan sekarang dia berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah.


Lug menggelengkan kepalanya, dia sangat tahu karakter gadis itu. "Gadis seperti dia- untung saja aku yang bertemu dengannya, dan tidak datang terlambat," gumamnya sembari tersenyum. Lantas Lug mengangkat dan menatap telapak tangannya, ia seperti sedang mengepal sebuah bola seukuran setengah dari bola sepak. Dan pada saat itu, muncul bola cahaya berwarna biru seukuran bola kasti yang melayang di telapak tangannya. Intensitas cahayanya sangat terang tapi seolah tak berarti di mata Lug. "Beberapa sihir ini pasti akan berguna di masa depan nanti," ujarnya berbicara sendiri.


Selepas makan, Lug berjalan ke kamarnya sambil memikirkan sesuatu–suatu hal yang mungkin sangat penting baginya. Hingga dia tak menyadari ada seseorang di balik pintu kamarnya yang sedang telanjang dan hendak mengenakan pakaian. Itu adalah Nagisa yang baru saja selesai mandi, terlihat handuk berwarna merah muda yang diletakkan begitu saja di atas kasur.


"K-ka ... KAKAK LUG?!!!" Nagisa berteriak, ia terkejut dan tubuhnya mematung.


Lug mulai sadar ketika mendengar teriakan itu, dan pada saat yang bersamaan matanya membelalak, serta dengan sigap membanting pintu karena saking terkejutnya. "Ah, kenapa aku melamun tadi?" gumamnya.


Dan Nagisa segera mengambil handuk, padahal Lug sudah keluar baru saja–mungkin refleks di dalam pertarungannya luar biasa, tetapi tidak untuk sesuatu yang terjadi di dalam rumah seperti itu.


Langit mulai gelap. Lug masih tak berani untuk masuk ke dalam kamarnya. Sementara Nagisa juga masih membayangkan apa yang terjadi tadi sembari duduk bersandar di pojokan dinding–di atas kasur, dan lututnya ditekuk hingga mencium bibirnya serta diikat oleh kedua tangannya yang saling menggenggam erat. Lug juga masih membayangkan apa yang terjadi tadi, dia tak berani masuk padahal hari sudah malam dan dia belum juga mandi pada hari itu.


Sebelumnya Teressa dimintai oleh Nivi untuk menemani Rakt. Karena rumah yang mereka singgahi sekarang ini tak memiliki kamar lebih. Bahkan Lug sampai rela mengalah dan tidur di atas bangku panjang yang berada di ruang tamu. Sebenarnya Teressa ingin sekali menolak permintaan tersebut, akan tetapi di lain sisinya yang agak pemalu itu, ia sangat senang dengan permintaan tersebut. Justru itu seperti harapannya sejak dahulu kala. Dan sekarang ini Teressa tak menemani Nagisa tidur pada malam ini, sebelumnya juga Teressa telah meminta maaf kepada adiknya karena tak bisa tidur bersama pada malam ini. Dan Teressa juga sebenarnya tak ingin adiknya yang imut itu tidur sekamar dengan Lug, tapi dia hanya ingin menghargai Vans dan Nivi saja. Sehingga Teressa tak berkomentar apapun ketika Nivi mengatakan bahwa Lug lah yang akan menemani Nagisa tidur. Toh, mereka hanyalah sepasang anak kecil saja–meskipun sebenarnya Lug bukanlah anak kecil.


Dan sekarang Lug membalikkan badannya dan memberanikan dirinya untuk masuk ke kamar. Tetapi tangannya bergetar hebat ketika hendak menyentuh gagang pintunya.


Sementara Nagisa yang ada di dalam kamar terus berharap bahwa Lug akan membuka pintu dan segera masuk ke dalam kamar. Dan Nagisa juga tidak tahu bahwa Lug sebenarnya sedang 'berjuang keras' untuk masuk ke dalam kamar.


Dan tiba-tiba saja Nivi menghampiri Lug. Sebenarnya dia hendak pergi ke dapur untuk mengambil air minum. "Lug, kenapa kau tidak diam saja di sini?" tanyanya. Nagisa mendengar suara Nivi dari balik pintu. Dia menduga pasti Lug juga ada di sana–dan itu memang benar. Segera Nagisa beranjak merangkak ke ujung kasur untuk menguping percakapan yang ada di balik pintu.


Lug menggelengkan kepalanya, berpura-pura seperti seseorang yang melamun dan sedang dikejutkan. "Ah, ibu?" katanya. "I-iya, aku ini hendak masuk ke dalam, tapi tiba-tiba saja aku kepikiran sesuatu. Entah kenapa tubuhku terbawa suasana yang hening ini, jadi melamun begini."

__ADS_1


Nivi merasa ada yang aneh, lantas berjongkok dan melihat kanan kiri badan Lug–memeriksa sekaligus memastikan apakah ada sesuatu yang ganjil. "Tidak seperti biasanya kau bersikap seperti ini?"


Lug semakin cemas, tapi dia tetap tak ingin menceritakan peristiwa barusan kepada ibunya. "Memangnya ada yang aneh denganku, bu?" tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan. "Tidak ada yang aneh, bukan? Kalau begitu aku akan masuk ke dalam kamar dulu."


Lug menggenggam gagang pintu dengan erat, memutarnya perlahan seakan gagang pintu tersebut sangatlah berat.


"Apa gagangnya rusak?" tanya Nivi memastikan. Dia juga sebenarnya curiga bahwa gagang pintu kamarnya Lug bermasalah karena barusan dia melihat Lug menatap gagang pintu tersebut dengan begitu serius. "Akan kupanggil ayahmu kemari untuk memperbaikinya."


"Bukan begitu," sahut Lug.


"Lalu kenapa?"


"Tidak ada apa-apa." Lantas Lug segera membuka pintu dengan cepat–seakan memperlihatkan bahwa gagang pintu tersebut sama sekali tidak bermasalah. Lalu mendorong pintunya hingga terbuka. Nagisa terkejut melihat Lug masuk ke dalam kamar, dan juga ada Nivi yang juga berdiri di depan pintu. Gadis itu segera menutupi wajahnya dengan bantal. Nivi sempat melihat kelakuan Nagisa.


"Lihat? Apanya yang rusak?"


"Mana kutahu? Karena itu tadi aku bertanya," ujar Nivi. "Baiklah, aku akan pergi." Seusai menginterogasi Lug, Nivi pergi ke dapur untuk mengambil minuman. Tetapi ia tetap masih merasa ada yang aneh dari dua anak tadi. Yang satunya seperti sedang takut, dan yang satunya lagi seperti sedang malu. "Apa dulu saat aku kecil juga begitu?" gumam Nivi.


Setelah itu, Lug menutup pintunya. Nagisa bergegas membaringkan tubuhnya, memeluk guling dan menghadap ke dinding. Wajah mereka berdua merah padam.


Lug mulai berbicara. "M-maafkan aku, Nagisa," katanya. "Tadi aku tak sadar kau ada di balik pintu." Lug masih belum berani menatap Nagisa, tetapi gadis itu tetap mengiyakannya dengan suara yang kecil.


Perasaan malu sudah mulai tercipta dalam hati Lug. Dia mulai mengenal apa itu privasi, meskipun secara tak sadar dari kecil ia memang sudah mengenali makna dari kata "privasi" itu sendiri. Karena sudah waktunya untuk tidur, Lug memberanikan dirinya untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Nagisa memeluk gulingnya jauh lebih erat lagi, kini ia mengubur wajahnya ke dalam guling tersebut–karena masih ada rongga pada kain gulingnya, Nagisa masih dapat bernafas walau setiap tarikannya haruslah berat.


Malam hari itu bulannya sangat cerah. Berselang beberapa jam saja, Nagisa pun telah tertidur. Tapi Lug sudah tertidur sejak ia membaringkan tubuhnya. Dan kini ia sudah bangun kembali. Lug seperti tidak terlalu membutuhkan tidur, dan tubuhnya juga terbiasa akan hal tersebut.


Lug bangun, berjalan keluar dari kamarnya. Ketika hendak menutup pintu, Nagisa bangun dan menyadarinya. Tetapi ia tak ingin mengikuti Lug, gadis itu hanya merubah posisi tidurnya–berganti menjadi membelakangi dinding. Sebenarnya Nagisa penasaran dengan apa yang akan dilakukan Lug pada larut malam seperti sekarang ini. Tapi ia mengurungkan niatnya untuk mengikuti Lug. Lug sendiri sebenarnya juga tahu bahwa Nagisa terbangun dari tidurnya. Tetapi ia bersikap seolah tak mengetahui apa-apa.


Lug berjalan menuju ke dapur; membuka pintu pintu belakang; menutup pintunya kembali; dan pergi meninggalkan rumah. Lug kini menuju ke hutan, hingga beberapa saat kemudian ia sampai di pinggir sungai.


Di pinggir sungai, terdapat banyak batuan yang terjal dan tajam. Lug melihat punggung telapak tangannya yang memiliki tato bola yang diselimuti oleh api. Tato tersebut kemudian menyala–Lug lah yang mengaktifkannya–memberinya perintah melalui sirkulasi sumber mana. Tato bolanya menyala berwarna putih dan api yang menyelimutinya berwarna jingga kemerahan. Lantas cahaya tersebut melebur menjadi asap, dan tato yang ada di tangan Lug menghilang. Asap tersebut seperti memiliki bobot yang berat, sehingga mereka tertarik gravitasi hingga menyentuh sebuah batu. Asap tersebut merasuki batunya dan sebongkah batu tersebut memancarkan sinar yang lumayan terang. Lalu muncul beberapa garis merah yang juga bercahaya, dan batu itu menarik beberapa bongkah batu lainnya. Batu batu itu bergerak dengan asap yang membentuk sebuah tali yang panjang, hanya saja tidak mengikat batu yang ditariknya–hanya menempel saja.


Sebenarnya tujuan Lug adalah menguji apakah Golem Lava yang didapatnya dulu dapat berguna atau tidak. Tapi rupanya sekarang Golem Lava tersebut sedang membentuk tubuhnya atas perintah Lug.


Karena Lug sudah tahu apabila diteruskan akan berhasil, ia menghentikan prosesnya. Ia menarik kembali asap tadi dan corak merah yang ada pada sebongkah batu besar di depannya itu menghilang serta tidak lagi memancarkan cahaya. Keluar asap dari batu tersebut dan ditarik oleh tangan kanan Lug. Ketika asap tersebut kembali dan membentuk tato lagi, tatonya masih memancarkan sinar seperti sebelumnya. Lug masih ingin mencoba sesuatu.


"Aku mengira ini mungkin juga termasuk salah satu kemampuannya," gumam Lug. Muncul lagi asap yang membentuk tali, tapi berasal dari tatonya, dan tatonya itu tidak melebur seperti sebelumnya. Menarik beberapa batuan kecil di sekitarnya seperti proses pembentukan tubuh Golem Lava barusan. Dan beberapa saat kemudian, batu batu itu menempel di tangan Lug. Memberinya ketahanan yang kuat dan keras, dapat memberikan serangan fisik yang berat dan menyakitkan, serta tidak memberikan beban yang berat terhadap tangan Lug.


"Haha, kukira tanganku akan menjadi sangat berat kalau seperti ini. Tapi tanganku hanya sedikit kaku saja, tak berpengaruh banyak, bahkan aku mungkin bisa dengan mudah terbiasa dengan ini."


Entah kenapa Lug seperti menyukai tangannya yang seperti itu. Akan tetapi akan aneh jika dilihat oleh orang lain.


Beberapa jam kemudian, Lug kembali ke rumahnya. Di tengah perjalanan, tak kejadian yang menegangkan. Pada saat itu hutan sangatlah sunyi, bahkan suara jangkrik pun hampir tidak terdengar sama sekali. Tapi Lug sama sekali tidak mendapatkan masalah di perjalanannya hingga sampai ke rumah. Lug selamat sampai masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Dan ketika membuka pintu kamar, Nagisa duduk bersandar sambil mengayun-ayunkan kakinya di kasur.


"Nagisa?" Lug bertanya. Sebenarnya ia sudah tahu bahwa Nagisa terbangun ketika dirinya pergi tadi. "Kenapa kau masih terjaga?"


Wajah Nagisa memerah, dia hanya diam saja sembari mengalihkan wajahnya. Kemudian membaringkan tubuhnya–menghadap ke dinding, dan menenggelamkan wajahnya ke empuknya guling yang ia peluk.

__ADS_1


Lug mengetahui isi hati gadis itu–mereka berdua masih memikirkan kejadian sebelumnya. Dan wajahnya juga mulai memerah. Lug pun membaringkan tubuhnya dan mereka pun tidur bersama hingga keesokan paginya


Bersambung!!


__ADS_2