Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 3 - Kemenangan Raini


__ADS_3

"Jadi begitu laporannya," ucap Nagisa yang tengah duduk di sebuah ruangan yang cukup sunyi.


Kini gadis itu telah kembali dari dunia elf dan berada di asosiasi Ranker kerajaan Da Nuaktha. Sekarang waktu telah berlalu beberapa Minggu setelah dirinya keluar dari dunia elf. Karena ketika dirinya di dunia makhluk bertelinga runcing itu adalah sebuah tugas, maka dirinya diharuskan untuk melaporkan hasil dari tugasnya. Dia juga sudah melaporkan tentang bola mata leonider yang sulit untuk didapat dan memakan waktu. Nagisa melaporkannya kepada kepala keluarga Azamuth, yakni Antonio Azamuth dan juga seorang pimpinan biro peringkat Ranker Da Nuaktha, Roland Alexander.


Asosiasi Ranker kerajaan Da Nuaktha dan biro peringkat Ranker Da Nuaktha tidaklah sama. Asosiasi sendiri mengurusi tugas tugas yang akan diberikan untuk para Ranker, mereka juga yang mengurusi profil para Ranker. Sementara biro peringkat sendiri mengurus peringkat dan data kemampuan para Ranker yang dikirim ke sebuah kompetisi antar Ranker. Data itu juga diperlukan asosiasi untuk membentuk profil.


"Untuk seorang gadis muda sepertimu memang cukup bagus dalam mengumpulkan informasi secepat ini. Kau bahkan bisa mengungkap kebenaran seseorang yang hendak menipumu," Roland memuji. Dia kini duduk dengan melipat kedua kakinya sembari meminum segelas kopi hangat.


Nagisa mengangguk anggun. "Terima kasih, tapi maafkan saya atas kegagalan saya dalam mendapatkan bola mata serigala salju," ucapnya.


Antonio menggelengkan telapak tangannya. "Tidak, Nagisa. Bola mata serigala salju sendiri sebenarnya hanya ingin kujadikan hiasan saja, jika memang sangat sulit didapatkan juga tak masalah," terangnya.


Kemudian Roland pun berdiri. "Terima kasih atas semua informasinya, Nagisa. Sebagai bayarannya, aku titipkan pada Antonio sepenuhnya. Dan kau, Antonio, terima kasih atas kopinya yang sangat mantap, aku pergi dulu," ujarnya berpamitan. Lantas ia pun pergi tanpa melihat Nagisa dan Antonio mengangguk.


Setelah Roland keluar dari ruangan tersebut, Antonio mulai mengurus hal pribadinya dengan Nagisa.


"Kerja bagus, Nagisa," puji pria tua itu.


Nagisa mengangguk. "Terima kasih atas pujiannya, saya hanya melakukan sesuai dengan tugas yang saya terima," sahutnya.


"Oh iya, untuk bulan ini kau bisa beristirahat terlebih dahulu. Tidak ada tugas lagi untuk Minggu ini dan beberapa Minggu ke depan," jelas Antonio.


Kini pria itu sudah tak menyandang status sebagai seorang Baron. Meskipun dirinya mendanai seluruh perbaikan tambang, tapi hak kelolanya tetap dicabut dan dirinya tidak menjadi seorang Baron lagi secara resmi. Menimbang kontribusi yang diberikan keluarga Azamuth selama berabad-abad lamanya, dirinya mendapatkan kompensasi dengan hidup tanpa harus membayar pajak, biaya hidup yang murah asalkan masih dalam lingkup kota kerajaan, dan beberapa tunjangan lainnya. Walaupun tidak menjadi Baron dan mendapatkan berbagai tunjangan, tetapi Antonio kini bekerja sebagai administrator di asosiasi Ranker. Dia juga lah yang mencantumkan berbagai tugas ke tiap Ranker kerajaan Da Nuaktha, entah itu tugas yang ditunjuk perorangan, maupun tugas bebas yang bisa diambil oleh siapapun asalkan masih seorang Ranker.


"Baiklah, tuan Antonio," sahut Nagisa.


"Oh iya, Nagisa, kau juga sempat mendengar bahwa orang-orang itu akan segera menuju ke tempat Pusaran Angin Seribu Lengan dalam waktu dekat? Menurutmu kapan itu akan dilaksanakan?" tanya Antonio.


Nagisa memegang dagunya, wajahnya terlihat sedang berpikir keras. "Mempertimbangkan amukan Pusaran Angin Seribu Lengan yang kini sedang mencapai klimaksnya, kupikir dalam waktu satu hingga dua Minggu adalah paling lambat. Setidaknya sepuluh sampai lima belas hari ke depan sudah dilaksanakan," jawabnya.


Antonio mengangguk.


"Lagipula Pusaran Angin Seribu Lengan sudah menunjukkan eksistensinya. Jiwanya sudah berada pada titik di mana dapat dimurnikan, berbeda dengan sebelumnya ketika masih menyembunyikan diri. Ketika itu tak bisa dimurnikan dan masih dalam tahap pengumpulan mana," lanjut Nagisa.


Pria tua di depannya terkesan dengan pengetahuan Nagisa yang begitu cerdas. Di kepalanya malah terlintas seorang anak lelaki yang pernah membuat dirinya terheran-heran dan ketakutan.


Karena melihat Antonio yang menatapnya sambil tersenyum, Nagisa merasa ada yang aneh. "Tuan, apa ada sesuatu lagi?" tanyanya balik.


Antonio menggeleng. "Tidak ada," jawabnya. "Kau bisa kembali saja, aku masih harus mengurus data profilmu dan beberapa Ranker lain yang sudah melaporkan tugasnya."


"Baiklah."


Nagisa pun pergi dari asosiasi. Dia segera menuju ke kediaman Azamuth. Sebelum itu, dia menerima uang dari Antonio sebagai imbalan atas tugas yang telah diselesaikannya. Nagisa mendapatkan lima belas koin emas.

__ADS_1


Di tengah jalan, ia membatin, andaikan saja kakak Lug masih hidup ... Aku sangat ingin mentraktirnya dengan uang ini. Tak peduli berapapun aku akan mengeluarkannya, meskipun harus semewah mungkin, ini demi dirinya. Meskipun aku tidak bisa mewujudkan keinginan ini.


Nagisa masih teramat sangat rindu akan sosok Lug. Seorang lelaki yang pernah menyelamatkan hidupnya dan menjadi penyambung takdir kakaknya, yakni Teressa dengan suaminya kelak, Rakt Vincent. Tak akan pernah dilupakan oleh gadis itu atas apa yang pernah Lug lakukan padanya.


Sesampainya Nagisa di kediaman Azamuth, dirinya langsung mencari Raini. Tapi di atas meja terdapat makanan yang terlihat enak di mata Nagisa. "Wah, ini pasti makanan yang sudah disiapkan Raini," gumamnya.


Lantas gadis itu memakan makanan tersebut. Di atas meja juga terdapat gelas berisikan minuman. Ia pun meminumnya.


Setelah itu, Nagisa pergi ke halaman belakang dan melihat Raini sedang berlatih sihir di ruang batu. "Kupikir kau sedang bermalas-malasan, Raini," ujarnya.


Raini menoleh. "Kau meledekku, ya?" celetuknya.


"Bukan seperti itu," sahut Nagisa. "Biasanya di hari libur kan dirimu bermalas-malasan di kamar sembari melakukan suatu hal mesum dan dalam keadaan telanjang bulat- mungkin?" Ia mengangkat bahunya.


"HEI! AKU BUKAN MELAKUKAN HAL TIDAK SENONOH SEPERTI ITU!!!" bentak Raini, wajahnya memerah.


Nagisa tertawa terbahak-bahak. Raini menggembungkan pipinya sebal, dia mengalihkan wajahnya dan mengepalkan tangannya. Lantas kembali berlatih seperti sebelumnya.


"Raini," Nagisa memanggil.


"APA?!" seru Raini.


Wuish ... Galaknya, batin gadis berambut pirang. "Apa kau sudah menguasai keempat sihir kehampaan?"


Nagisa menahan tawanya, dan itu diketahui oleh Raini. Gadis itu semakin kesal.


Lantas Nagisa berinisiatif untuk menantang Raini. "Raini, aku menantangmu untuk bertarung satu sama lain," tantangnya.


Raini mendesah kesal. "Jangan kaupikir aku bisa dengan mudah dipermainkan olehmu! Aku tahu kau jauh lebih unggul dalam pertarungan fisik," sahutnya.


Nagisa menggeleng. "Peraturannya berbeda, kini aku memperbolehkan untuk menggunakan sihir penguatan. Sihir kehampaanmu itu termasuk, kecuali sihir Otoritas Kehampaan maupun sihir serangan yang mengandalkan jarak, bagaimana?" tawarnya.


Raini tertarik. Dia menoleh seraya melemparkan lirikan sinis nan tajam. "Baiklah, aku setuju. Tapi kutegaskan padamu untuk tidak meledekku dengan perkataan mesum seperti tadi!" serunya menegaskan.


Nagisa tertawa cekikikan lagi, itu membuat Raini malu. "Baiklah baiklah, tapi aku tidak bisa menjamin yang terakhir itu, hihi- " sahutnya.


"Nagisa!"


Segera mereka mengaktifkan ruangan dan keluar dari ruang batu. Mereka segera menuju ke tengah halaman belakan, lantas mempersiapkan kuda-kuda. Raini sudah bisa melakukan kuda-kuda dengan benar dan fondasinya benar-benar kokoh. Bahkan dari tatapannya yang tajam seperti elang itu seolah memperlihatkan isi hatinya yang sangat tenang dalam menghadapi musuh. Sementara Nagisa masih menyesuaikan nafas, dia jauh lebih mendalami tentang pertarungan fisik, persiapannya jauh lebih unggul.


TAP


TAP

__ADS_1


TAP


Mereka pun melesat.


Nagisa menggunakan sihir Tubuh Api Tak Berwujud, sementara Raini menggunakan sihir Mata Kehampaan.


Ketika saling berhadapan, Raini dengan sigap menerima segala pukulan dari Nagisa. Dikarenakan dirinya menggunakan sihir Mata Kehampaan dan lawannya menggunakan sihir tipe penguatan, maka sihir penguatan tersebut sama sekali tidak berdampak padanya, bahkan rasa sakit atau kerusakan yang keluar dari serangan fisiknya pun juga berkurang hampir setengahnya.


Setiap serangan Nagisa berhasil ditahan dengan baik oleh Raini, meskipun beberapa serangan mengenainya.


Dan ketika mengetahui bahwa Raini dapat mengurangi rasa sakit yang diterima dari sihir penguatannya, Nagisa segera menonaktifkan sihir Tubuh Api Tak Berwujud-nya. Serangannya menjadi jauh lebih berat dan berdampak terhadap Raini.


Meski gerakan Nagisa sedikit melambat dan lebih mudah dihindari, tapi Raini malah semakin terpukul mundur. Serangan lawannya menjadi lebih berat dua kali lipat.


BUGH


Raini berhasil memberikan serangan terhadap Nagisa, telapak tangannya itu mendorong lawannya mundur tujuh langkah.


"Hebat juga," Nagisa memuji.


"Heh," Raini menyeringai.


Nagisa pun melesat. Gerakkannya terlihat lebih cepat dari sebelumnya, Raini sudah bersiap-siap. Ketika wajahnya sudah hampir terkena ujung jari Nagisa yang dirapatkan–jaraknya hampir satu lengan, ia langsung menggunakan Tubuh Kehampaan. Sihirnya itu sudah hampir sempurna. Hampir tidak ada yang meluap-luap laksana api–ada beberapa juga, tapi tidak banyak, seperti di atas bahu kanan, di beberapa helai rambut, dan di atas telapak kakinya.


Nagisa terkejut pada saat itu juga. Ia sadar bahwa dirinya sudah tak bisa berhenti, semuanya telah terlanjur. Tapi dia segera mengaktifkan sihir Tubuh Api Tak Berwujud.


BWOOOSH


Nagisa menembus tubuh Raini. Sihir Tubuh Api Tak Berwujud-nya menghilang ketika melewatinya.


Nagisa jatuh terduduk, tubuhnya jadi lemas. Lantas ia menoleh pada Raini dengan wajah mengerikan, sudut mata kirinya berkedut. "RAINI! APA-APAAN YANG BARUSAN ITU?!!! KAU INGIN MEMBUNUHKU, HAH?!!!"


Raini tertawa. "Bukankah kau tadi yang bilang bahwa sihir Tubuh Kehampaan boleh digunakan?" celetuknya.


"TAPI JANGAN DADAKAN SEPERTI ITU! BERIKAN AKU KESEMPATAN!" bentak Nagisa lagi.


Raini mendengus, "Mau sampai kapan kau akan seperti itu? Lawanmu tidak akan pernah memberimu persiapan, dulu kau yang berkata padaku seperti ini."


Mata Nagisa pun berkaca-kaca. "T-tapi kan ... "


"Sudah! Tidak ada tapi tapi! Kau kalah, aku menang, YUHUUUU ... AKU MENAAANG!!!" teriak Raini.


"HUAAAA ... AKU KALAH!" Nagisa pun menangis.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2