![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Karena sebelumnya Lug menawarkan bantuan kepada Raini, dia merasa ada yang aneh dengan anak lelaki itu. "Jangan bilang kau akan memanfaatkan kesempatan ini untuk kelakuan cabulmu nanti!" serunya marah. Sebenarnya gadis ini juga sedang mengalihkan topik agar tidak membahas tentang sumber jiwa lagi. Itu karena dia sedang menyembunyikannya.
Jelas saja Lug merasa tersinggung, tapi dia masih memiliki kesabaran. "Aku tulus membantumu, tidak usah khawatir jika aku mencabulimu atau apalah itu. Jika kau masih merasa kalau aku akan berbuat suatu hal yang meresahkan, bawa Zephyr untuk mengawasiku," tuturnya membela diri.
Zephyr mengangguk setuju dengan ucapan Lug. Tetapi Raini masih bimbang untuk menerima bantuan darinya itu.
Lantas Lug meminta buku kosong kepada Zephyr. Ketika diberi, Lug langsung menulis dengan cepat di dalam bukunya. Dan yang luar biasa adalah dia menulis hampir setengah buku yang mana setidaknya ada tiga puluh lembar pada buku tersebut–berarti Lug menulis setidaknya lima belas lembar hanya dalam beberapa menit saja. "Ambil buku ini untuk sihir yang kurekomendasikan padamu, akan kupastikan sesuai dengan atribut sihirmu," ujarnya sembari memberikan bukunya itu kepada Raini.
Raini menerimanya dengan tangan yang bergetar, gadis itu masih ragu untuk menerimanya. Ketika Raini menoleh ke Zephyr, sepupunya itu mengangguk.
Raini pun menerima buku dari Lug, lantas membuka dan melihat apa isi di dalamnya.
"Aku menulis metode yang sekiranya sesuai untukmu, tapi jika tidak sesuai, aku bisa membantumu- ya ... Itu terserah padamu juga, sih," ucap Lug.
Raini mengerutkan dahinya. "Kalau begitu, terima kasih," sahutnya.
Beberapa saat kemudian, Lug, Zephyr, dan Raini ke kamar batu untuk berlatih. Di sana Raini mencoba untuk melepaskan seluruh mana dari sumber mananya. Mana gadis itu melebur secara perlahan hingga pada akhirnya tersisa sangat sedikit. Ia khawatir akan terjadi sesuatu jikalau mananya benar-benar habis. Tetapi Lug dan Zephyr mengangguk, meskipun Zephyr juga ragu.
Raini pun melepaskan semua mananya, dan tiba-tiba ia menghirup nafas secara besar-besaran.
"Lug, ada apa dengan Raini?!" tanya Zephyr panik.
Lug memegang pundak temannya itu, lantas ia berkata, "Tenanglah, lihat saja apa yang akan terjadi."
Warna pada rambut Raini berubah menjadi sedikit lebih gelap dari sebelumnya, bahkan warnanya hampir berubah menjadi hitam. Namun gadis itu merasa seperti tubuhnya tidak terbebani sama sekali–menjadi jauh lebih ringan dari sebelumnya. "Ini- ini benar-benar nyata, aku tidak mati," ucapnya senang. Dia tertawa lepas dan terukir senyuman yang tak pernah ia lihatkan seumur hidupnya.
"Coba sekarang ciptakan sihir!" Lug menyuruh.
Raini kembali murung. "M-maaf, aku belum menguasai satupun sihir," ucapnya lirih.
Lug pun menempelkan jarinya pada dahi gadis itu. Jarinya itu tiba-tiba bersinar–berwarna emas. Raini terkejut dan hendak menjauh, akan tetapi tubuhnya tidak mau bergerak seolah ada sengatan listrik yang menghentikan seluruh saraf pergerakannya. Ia takut hingga jantungnya berdegup kencang.
"Jangan melawan, tetap fokus dan pejamkan matamu. Terima apa yang akan kuberikan padamu ini," ujar Lug lagi.
Raini menurutinya. Detak jantungnya mulai stabil, ia berkonsentrasi penuh pada saat itu juga.
Beberapa saat kemudian, Lug melepaskannya. Raini sudah dapat bergerak bebas, tapi ia tak tahu apa yang terjadi padanya. "Apa yang kau lakukan tadi?" tanyanya penasaran.
Lug tersenyum. "Sekarang, coba buka buku yang kuberikan padamu tadi, dan coba pelajari itu. Nanti kau akan tahu apa yang barusan kulakukan padamu barusan," jelasnya.
Raini mengangguk. "Baiklah."
Kemudian gadis itu membuka bukunya dan mulai membaca satu persatu huruf yang tertulis di sana. Sedikit demi sedikit Raini memahami apa yang ada di dalam buku tersebut dan dia mulai mempraktekkannya. Namun pada akhirnya ia selalu gagal.
Meskipun gagal, Lug tetap memberikan Raini kesempatan untuk hari hari berikutnya. "Mungkin kau perlu serius untuk menguasai sihir pertamamu, apalagi sihirmu yang pertama adalah sihir tiga lingkaran. Tapi tetap, jangan terlalu dibawa serius, bersantailah sedikit. Dan jika butuh bantuan, mungkin aku bisa membantumu," paparnya.
Raini mengangguk lagi, lantas ia kembali mempelajari apa yang ada di buku lagi.
Lug dan Zephyr pun kembali meninggalkan Raini sendiri di kamar batu tersebut. Gadis itu memang sudah terbiasa sendirian di ruangan tersebut, jadi ketika mereka berdua meninggalkannya di sana, itu tidak masalah bagi Raini.
Dua hari kemudian, Lug sudah berada di asramanya. Sekarang ini dia tengah menuju ke kediaman Azamuth. Dua kali dalam seminggu, akademi memberikan hari libur. Dan Lug pergi bersama dengan Nagisa, Toni sendiri tidak ikut karena ingin tidur saja.
Nagisa sendiri yang meminta kepada Lug untuk ikut menemui Zephyr–ya, begitulah, kalian harusnya tahu ... seperti itulah yang gadis itu pikirkan.
Ketika mereka berdua sampai, mereka langsung bertemu dengan Zephyr. Tetapi Lug langsung mencari Raini, "Bagaimana perkembangan Raini?"
Zephyr menjawab, "Dia benar-benar konsisten, aku tak menyangka bahwa dia menemukan banyak hal baru setelah lusa kemarin."
"Baguslah."
Tiba-tiba saja Nagisa merasa cemburu. "Kakak, apa hubunganmu dengan gadis itu?" tanyanya memastikan.
"Aku?" kata Lug. "Tidak ada, kemarin kami hanya saling bertemu di sini."
"Tapi kau kan kemarin lusa pergi ke sini, dia juga kelihatannya ada di sini."
"Memang rumahnya ada di sini, sama dengan rumahnya Zephyr."
Nagisa baru tahu pada saat itu juga. Jadi menurutnya memang perasaannya pada saat di taman lusa kemarin itu benar bahwa Lug akan mengunjungi Raini. Tetapi itu hanya pikiran buruknya saja.
Mereka pun dipersilahkan untuk masuk. Ketika sampai di dalam, Raini menyambut Lug dengan ramah–tidak seperti sebelumnya yang selalu disambut dengan tatapan dingin yang kasar.
__ADS_1
"Wah wah, ini seperti bukan kau saja, Raini," sindir Lug.
"Haha, maafkan aku," ucap Raini. "Pada saat itu aku tidak tahu bahwa kau ternyata adalah orang baik yang bersedia membantuku dengan tulus. Tapi tetap saja aku masih tak percaya kau itu orangnya tidak cabul."
"Kau ini ... "
Lug tersenyum hangat, tapi senyuman itu dilirik sinis oleh Nagisa. "Kakak, kau menyukainya?" tanyanya.
Zephyr menyeringai. "Apa kau cemburu, Nagisa?"
"Hmph!" Nagisa melempar wajahnya dengan sangat kasar. Zephyr dan Lug tertawa pada saat itu, namun Raini hanya tersenyum dengan perasaan yang kacau.
Setelah itu, mereka saling berbincang.
Hingga setelah menjelang sore, Raini memutuskan untuk segera berlatih saja agar tidak membuang waktunya. Lug, Zephyr, dan Nagisa mempersilahkannya, dan mereka bertiga pun masih melanjutkan obrolan mereka.
"Semenjak hari itu, dia benar-benar lebih sibuk berlatih," kata Zephyr.
"Benarkah?" tanya Lug berbasa-basi.
"Ya, sepulang sekolah berlatih, di hari libur pun berlatih. Mungkin jika hari ini kau tidak berkunjung, sejak dari siang tadi dia sudah mulai berlatih. Kau benar-benar mengubahnya, Lug," terang Zephyr.
Beberapa saat kemudian, Lug mengajak mereka berdua untuk melihat latihannya Raini.
"Baiklah, ayo," Zephyr setuju.
Tetapi Nagisa masih sedikit resah. Namun melihat Lug sudah hendak meninggalkannya sendiri, ia pun segera berdiri dan menyusulnya. "Tunggu aku!"
Ketika sampai di kamar batu, mereka mengintip dari luar. Dan ternyata Raini tidak hanya mempelajari sihirnya, dia juga masih ingin terus menyempurnakan kemampuannya dalam memanipulasi mana. Namun setelah membaca beberapa metode yang diberikan oleh Lug pada buku yang diberikan padanya, Raini sedikit merubah cara berlatihnya.
Setelah itu mereka tidak lagi mengintip Raini berlatih. Lug bertanya, "Zephyr, bagaimana dengan rehabilitasimu?"
"Tenang saja, rehabilitasiku lancar, kau lihat sekarang aku tidak menggunakan sarung tangan lagi. Semua tatonya sudah menghilang sepenuhnya," jawab Zephyr.
"Teruskan sampai lima puluh kali, sampai saat itu seluruh keturunanmu akan aman."
"Baiklah."
Lug hendak menjawabnya, tetapi Zephyr mencegahnya. "Biar aku saja yang menjelaskannya, Lug," ujarnya.
"Terserah padamu," sahut Lug.
Zephyr menghirup nafas panjang. "Nagisa, aku ini mempunya sebuah kutukan yang diturunkan secara turun menurun."
"Kutukan?" Nagisa terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka bahwa teman sekelasnya itu mengidap sebuah kutukan. Itu sungguh mengingatkanku kepada kakak Rakt, batinnya.
"Ya, aku mengidap sebuah kutukan yang cukup mengerikan, untungnya kau tidak pernah melihatnya. Tapi sekarang kutukan itu sudah hilang, namun belum sepenuhnya. Dan itu semua berkat Lug, dia lah yang membantuku menghilangkan kutukan yang ada di tanganku ini," jelas Zephyr.
Nagisa melihat ke arah Lug. Tatapannya penuh pertanyaan, seolah ia sedang bertanya, kenapa kakak Rakt tidak disembuhkan terlebih dahulu? Apa mungkin kakak Rakt punya kutukan yang lebih sulit disembuhkan daripada kutukannya Zephyr?
Lug tahu akan hal itu. Dia juga turut menyesal tidak bisa menyembuhkan kakaknya untuk yang pertama kali.
"Oh iya, Nagisa, apa kau ingin pulang?" tanya Lug.
Nagisa mengangguk. "Aku menunggu pertanyaan itu, ayo kita pulang," ajaknya.
"Oke."
Mereka berdua pun pulang karena hari sudah menjelang sore. Langit juga sudah memerah.
Ketika sampai di asrama, mereka berdua melihat banyak orang lainnya yang juga baru saja kembali ke asrama. Entah ada yang baru saja dari taman, pasar, atau tempat-tempat yang lainnya. Lug dan Nagisa berpisah karena gerbang asrama mereka berbeda meskipun asramanya menempel, namun keduanya dipisahkan oleh dinding dan tidak ada lorong yang menghubungkan keduanya di lantai manapun.
Nagisa masih merasa cemburu dengan apa yang terjadi sebelumnya. Ketika sampai di kamar, ia langsung membenamkan diri di atas ranjangnya. Kebetulan di sana ada Phieri yang baru saja memakai bajunya–dia baru saja selesai mandi.
"Kau itu kenapa?" tanya Phieri.
Nagisa terdiam sesaat, lantas menjawab, "Ah, sepertinya kakakku menyukai gadis lain." Wajahnya tampak sedih.
"Ooh, rupanya ada yang sedang cemburu nih, ya? Akan kuberi kau ruang untuk sementara," sahut Phieri. Lantas ia membuka pintu dan hendak pergi.
Nagisa yang tahu langsung menghentikannya, "Tunggu! Kau mau ke mana?" serunya.
__ADS_1
"Pergi sebentar, ke kamarnya Anni, mungkin," jawab Phieri seraya mengangkat bahunya dan matanya melirik ke kiri atas.
"Untuk apa?"
"Kulihat kau sedang bersedih, kalau butuh waktu sendiri, aku akan pergi."
"Tidak perlu, justru aku ... Membutuhkan seorang teman- tetaplah di sini, Phieri," pinta Nagisa.
Phieri menyeringai. "Haha, baiklah. Kau benar-benar anak manja, ya?" Lantas dia kembali menutup pintu dan berjalan mendekati Nagisa.
"Aku tidak manja!"
"Kau itu anak manja."
"Phieri! Jangan begitu, dong."
"Hahaha, kau itu sungguh sangat imut dan manis. Mustahil jika Lug meninggalkanmu demi wanita lain."
"Sungguh?!"
Mata Nagisa berseri-seri, emosinya berubah dengan sangat cepat. Terukir senyuman manis di bibirnya yang mungil.
"Justru aku cemburu jika kalian bermesraan di dekatku."
Nagisa menyeringai. "Jangan bilang kau menyukai kakakku juga," tukasnya.
"Siapa bilang?"
"Hahahaha ... "
Sementara itu, Lug yang baru saja masuk ke kamar melihat Toni yang baru saja mencuci piring selepas makan. Anak itu menyadari ada seseorang yang memasuki kamarnya. "Ah, kau ini- ketuk pintu dulu, dong! Kau membuatku kaget!" serunya.
Lug menggaruk kepalanya. "Maaf, aku lupa."
Toni menggelengkan kepalanya, dan dia segera mengambil handuk untuk mandi karena sudah sore. Lug melihat ranjang Toni yang sangat berantakan. "Apa kau baru saja bangun tidur?" tanyanya.
"Iya, memangnya kenapa?"
"KAU INI KERBAU, YA?!" Mau bagaimanapun, Toni tidur dari menjelang siang tadi hingga sore hari. Lug terheran-heran dengan teman sekamarnya itu, "Jujur saja, aku sedikit jijik dengan orang yang kebanyakan tidur."
"Oh ayolah, Lug, jangan seperti itu," bujuk Toni.
Tetapi Lug sudah merasa resah berada satu kamar dengan 'kerbau,' itu membuatnya jijik. "Jangan biasakan itu, kumohon. Kalau tidak, mungkin aku akan mengusirmu," ancamnya.
Toni tahu bahwa dirinya tak mampu melawan Lug, jadi dia menurut saja. "Akan kuusahakan, lagipula baru kali ini aku tidur selelap itu, serasa di surga," sahutnya.
"Kayak tahu surga itu ada."
"Ada."
"Memang kau pernah melihatnya sendiri?"
"Oh, pernah. Ketika aku berada di taman, aku melihat banyak sekali gadis cantik dan rasanya itu adalah surga yang sangat indah."
Dirasa bahwa Toni sudah semakin menjadi-jadi, Lug mendorongnya untuk pergi keluar. Nih bocah beneran tak waras, batinnya.
"Oi oi, jangan begitu dong, aku kan cuman bercanda," ucap Toni memelas.
Lug pun berhenti, "Sekarang kau mandi, cepat! Aku juga ingin menggunakan kamar mandinya. Akan kulupakan hal tadi kalau kau mandi selama lima menit saja."
"Apa?!"
"Kalau kau tidak mau, pergi sana!"
"Baiklah baiklah, akan kuturuti perkataanmu," sahut Toni sebal.
Dan beralih kepada Raini, gadis itu malah merasa bahwa ada yang kurang pada latihannya. Justru sekarang kepalanya itu tidak henti-hentinya memikirkan Lug. Dia malah ingin diajari oleh lelaki itu secara langsung, tapi ia terus melawan perasaannya itu.
Dan setiap kali memikirkan Lug, wajahnya menjadi merah merona. Namun pada saat yang bersamaan juga, itu membuat semangat latihannya semakin berkobar.
Bersambung!!
__ADS_1