![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Baiklah baiklah," ucap Leonardo.
Topik pembicaraan kembali seperti sebelumnya–membahas Pusaran Angin Seribu Lengan. Nio mengangguk dan kini Cleo malah menatap anak lelaki itu dengan tatapan dan seringai yang mencurigakan. Nio membalasnya dengan cara memelototinya–memberikan penolakan secara tegas namun tidak langsung dengan ucapan.
"Kita? Apa kita berempat akan berpartisipasi?" tanya Leonardo.
Vernando menjawab, "Ya, kita membutuhkan Nio untuk bertindak."
Semuanya menatap Nio, dan lelaki itu sendiri tersenyum. "Tenang saja," katanya. "Seperti biasa, kalian membutuhkan si Empat Topeng. Aku akan mengajukan diri, kalian tinggal siapkan saja set pakaian tempur milik kalian."
Lantas Leonardo menoleh pada Vernando. "Bagaimana dengan kerajaan Da Nuaktha dan yang lainnya?" tanyanya.
Vernando menggeleng. "Sudah kubilang, meski aku mengendalikan perdagangan di pulau Theiqt, tapi sangat sulit menjangkau informasi tentang kerajaan Da Nuaktha. Bahkan hanya sedikit orang dari kerajaan itu yang tahu bahwa ada pulau di kerajaan tetangga yang di dalamnya terdapat pasar gelap," jelasnya.
"Keluarga Alexander tahu akan kekuatan kita, tapi kita tak tahu apapun tentang mereka. Sungguh mengerikan," celetuk Cleo.
"Setuju," sahut Leonardo.
Ya, mau bagaimanapun juga, sebagai keluarga pemilik informasi terbanyak nomor lima juga pastinya sangat pandai menyembunyikan apa yang mereka punya. Mereka tahu banyak, tapi mereka juga tak mau orang lain tahu banyak tentang diri mereka. Itu memang sudah sewajarnya.
"Cih, kita hanya belum menggapainya saja," ujar Vernando. "Alih-alih keluarga Alexander, kita saja bisa dengan mudahnya menerobos dan mendapatkan kepercayaan dari keluarga pemilik informasi terbanyak nomor dua."
Cleo tertawa pada saat itu juga. "Makanya itu, Nio sangat dibutuhkan saat ini," paparnya.
Leonardo pun ikut tertawa. "Yah, mau bagaimanapun, bocah ini memang sangat hebat!" serunya sembari mendekati Nio dan merangkulnya. Sementara anak lelaki itu menghembuskan nafas kesal. "Kita harus berterima kasih karena Nio karena dirinya berhasil memikat nona muda keluarga Claudia. Bocah ini terlalu beruntung untuk dapat gadis secantik itu," Leonardo menambahkan.
"Ya begitulah," ujar Nio yang wajahnya memerah. "Untung saja kita sudah menyusupkan orang-orang kita ke dalam keluarga Claudia."
"Meskipun nona muda itu tahu bahwa lelaki yang selalu mengunjunginya itu pernah tidur denganku," celetuk Cleo.
"Hanya tidur, selain itu kita tak punya hubungan apapun. Lagipula dia yang suka padaku! ... Dia tidak tahu tentang itu, bodoh!" seru Nio menegaskan.
Leonardo dan Cleo tertawa.
Dan setelah itu, topik pembahasan pun kembali. Mereka mulai membahas tentang Pusaran Angin Seribu Lengan.
"Nio," ucap Vernando. "Kau harus meminta dukungan dan hak suara dari kepala keluarga Claudia agar kita berempat bisa berangkat menuju ke dataran Exter. Dan aku juga sudah mempersiapkan rencana keberangkatan kita secara diam-diam."
Tiga lainnya mengangguk serempak.
Dataran Exter sendiri adalah sebuah tempat yang cukup tinggi, di mana itu berada di tengah-tengah tiga gunung. Salah satunya adalah gunung tertinggi di dunia manusia, gunung Exter pertama. Dan untuk gunung Exter kedua dan ketiga bukanlah gunung tertinggi berikutnya, justru kedua gunung itu tergolong gunung yang cukup rendah. Dan dataran Exter adalah tempat di mana Pusaran Angin Seribu Lengan bersemayam. Dataran Exter sendiri berada di wilayah perbatasan antara kerajaan Tigerion dan kerajaan Yon.
Beberapa gejala di mana Monster Mistik itu mulai menunjukkan keberadaannya adalah angin puyuh yang muncul di area kaki gunung bagian luar. Adapun kubah angin yang membatasi area di dalamnya agar tidak ada makhluk lain yang masuk. Kubah angin itu sangatlah besar, luasnya menutupi hampir seluruh dataran Exter. Dan anginnya bergerak dengan kecepatan 65 regrit setiap detiknya.
Lalu Vernando mulai menjelaskan rencananya.
__ADS_1
Setelah menjelaskan rencananya, mereka berempat pun pergi. Jika mereka masih berkumpul lama, beberapa orang akan mulai curiga karena tiba-tiba menghilang, namun tidak untuk Nio yang orang-orang tahu bahwa dirinya diajak pergi oleh Leonardo.
Sesampainya di restoran, pria itu pun dibuatkan makanan oleh Nio. Johan pergi dan kembali menyiapkan beberapa daging dan persediaan bahan makanan.
"Kau mau makan apa?" tanya Nio.
Leonardo menggeleng. "Tidak perlu, aku harus segera pergi," sahutnya.
"Baiklah kalau begitu. Aku tahu kau belum makan, jadi aku akan membawakanmu sup daging rusa dan beberapa jeruk kesukaanmu," ujar Nio.
Leonardo tersenyum dengan mulut terbuka. "Wah, terima kasih. Aku akan menerimanya dengan senang hati," sahutnya lagi.
"Tunggu sebentar, ya?"
"Baiklah."
Tak lama kemudian Nio mengambilkan sup yang ternyata memang sudah disiapkan oleh Johan. Pelayannya itu tahu bahwa sebelumnya tuan muda pemilik restoran mewah tersebut menyuruhnya untuk membuatkan sup itu. Nio menambahkan beberapa makanan kering di dalamnya agar nantinya dapat di makan sebagai cemilan di waktu luang.
Lantas Leonardo membawanya pergi. "Sekali lagi, terima kasih atas makanannya, Nio," ucapnya.
"Iya, sama-sama," sahut Nio.
Setelah itu, Johan mendatanginya.
"Tuan muda, barusan nona muda Claudia datang untuk menjumpai anda. Sekarang ia sedang menunggu anda di ruangan pribadi," Johan menjelaskan.
Johan tersenyum.
"Kenapa kau senyum-senyum?" tanya Nio. "Sudahlah! Sekarang buatkan seporsi salad dan sop daging dua mangkuk, lalu untuk minumannya adalah dua teh lemon hangat. Hantarkan ke meja nomor tujuh di lantai dua!"
"Sup daging campur?"
"Ya."
"Kenapa tidak dihantarkan ke ruangan anda?"
"Karena ini untuk pelanggan, kau sendiri yang menerima pesanan ini tadi. Lihat saja kertas ini!"
"Iya juga, ya?"
"Gadis itu juga tidak akan memakan makanan masakanmu. Dan lagi, aku sudah menyiapkan makanan kesukaannya, lihat ini! Irisan daging sapi setengah matang, kau mau merasakannya?"
"Tidak usah, aku sudah pernah merasakannya."
"Baiklah, aku juga ingin kau membawakan minumanku. Aku sudah membuat satu, buat lagi satu untukku, vanilla latte, oke? Hantarkan ke ruangan pribadiku."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan segera membawakannya."
Kemudian Nio segera menuju ke lantai empat. Restorannya sendiri memang memiliki empat lantai dan tergolong sangat luas. Bangunannya sangat bagus dengan warna merah muda, di lantai dua, tiga, dan empat ada dua balkon yang menghadap ke satu sisi saja. Ada juga meja yang disediakan pada balkon, untuk makan di meja tersebut membutuhkan biaya tambahan. Sementara di lantai empat balkonnya tidak bisa ditempati pembeli yang datang, karena sebagian ruangan di lantai empat terdapat ruang pribadi Nio yang tertutup. Namun sebagai gantinya, ruangan pada lantai empat dipenuhi dengan hiasan ruangan yang sangat indah dan bahkan ada beberapa bola kaca yang menempel di dinding, bola kaca tersebut memancarkan cahaya yang tidak terlalu terang, cahayanya berwarna-warni.
Nio menuju ke atas melalui tangga dapur, tangganya zig-zag satu kali untuk naik ke lantai berikutnya. Ada pintu masuknya sendiri untuk naik tangga, tangga dapur memang khusus. Dan langsung menghubungkannya ke ruangan pribadi Nio.
Sesampainya di lantai empat–ruangan pribadinya, di sana sudah ada gadis berambut ungu yang bermain kursi putar milik Nio. Ruangan tersebut berwarna cokelat elegan dengan kombinasi warna abu-abu. Ada meja yang dipenuhi oleh tumpukan kertas beserta kursi putar yang sekarang dimainkan oleh seorang gadis. Ada pula bangku panjang yang berada di depan meja tersebut–bangku untuk tiduran dan bersantai. Dan kedua balkonnya menyatu, pintu pada balkon tersebut berupa kaca geser, begitu pula dengan pintu masuk pada ruangan tersebut. Kaca tersebut didesain khusus agar tidak bisa terlihat tembus pandang dari luar, namun jika dari dalam ruangan akan tembus pandang. Dan di balkon, terdapat meja berbentuk lingkaran, di atasnya tertutup oleh fondasi agar tidak kepanasan, dan ada dua kursi yang saling menghadap di samping meja lingkarannya.
"YUHUUU ... " teriak gadis berambut ungu itu kegirangan memainkan kursi putar milik Nio.
Nio sendiri tersenyum melihat tingkah lakunya. "Kau ini ... Bertingkah laku-lah sesuai dengan usiamu. Kau itu satu tahun lebih tua dariku, dan tingkah lakumu itu seperti anak yang tujuh tahun lebih muda dariku- dasar, Alice!" terangnya.
Anak berambut ungu itu bernama Alice Claudia, seorang nona muda dari keluarga Claudia yang sangat menyukai Nio.
"Yah, suka-suka aku, lah- hmph!" seru gadis itu seraya memalingkan wajahnya dengan kasar.
Nio menggeleng. "Lebih cepat sedikit saja kau menggeleng, kupastikan kepalamu itu putus, hahaha- " ledeknya.
"Wlee! Aku tak peduli!" sahut Alice. "Darimana saja kau ini?! Aku sudah menunggumu dari tadi!"
"Aku ada pertemuan khusus 4-OV, kau paham, kan?"
"Entah, aku tak paham! Dan aku juga tak mau tahu tentang apa itu 4-OV, pertemuan khusus, atau apalah itu! Aku hanya ingin kau segera tiba ketika aku mengunjungimu seperti ini! Jangan sembunyi sembunyi!"
"Mau bagaimanapun juga, ini ada keperluan mendadak dengan nama Vlamera."
"Ada yang diangkat lagi?"
"Tidak, bukan masalah itu. Ini masalah yang lain, kami tidak akan mengangkat seseorang dengan nama Vlamera, kecuali jika seluruh 4-OV setuju. Kami tidak mengambil keputusan sepihak."
"Yah, terserah padamu. Aku tak paham, ini urusan internalmu."
"Makanya itu, hargai diriku."
"Kalau begitu, nikahi aku!"
"Tak mau!"
Mereka malah saling bergurau. Tetapi Nio tahu bahwa menunda-nunda itu tidak baik, jadi dia kini langsung menuju pada intinya.
"Alice," ujar Nio sembari memegang pundak Alice. "Aku ingin bicara serius padamu, kita bicarakan di balkon saja."
Meski tahu pembicaraannya akan serius, tapi Alice masih bersikap santai. "Baiklah, tapi aku ingin memakan makanan itu dulu."
Gadis itu berdiri dan mereka berdua segera menuju ke balkon.
__ADS_1
Bersambung!!