Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 50 - "Refleks yang bagus"


__ADS_3

Zephyr dan Raini mendekati Lug dan Nagisa. Karena dirasa pertarungan telah selesai, mereka berdua berani mendekatinya.


"Sumpah," tiba-tiba Lug berseru. "Kalian ini- SANGAT MENGERIKAN!"


Lug dan Nagisa terkejut.


"Iya, kalian berdua sungguh sangat luar biasa," Raini menimpali. "Bagaimana cara kalian berlatih? Berapa lama?"


Kini Nagisa sudah tidak lagi menangis, justru sekarang ia malah tertawa terbahak-bahak nersa dengan Lug. Mereka berdua tampak sekali sangat menikmati pertarungannya. Tetapi Nagisa terlihat masih kesakitan karena kakinya yang terluka cukup parah.


Hingga di saat gadis itu sedang bergurau dengan Zephyr dan Raini, Lug diam-diam menggunakan mananya dan mengalirkannya ke koin yang dikalungkannya. Koin tersebut bercahaya biru redup, lantas mengeluarkan mana dan Lug dapat mengendalikannya. Mana tersebut ia alirkan ke dalam tubuh Nagisa secara diam-diam dengan menyentuh kulitnya–yang mana sekarang Lug sedang menggendongnya.


"Lihat kakimu, Nagisa," ujar Lug seraya menurunkan gadis itu.


Nagisa bisa berdiri dengan tegak, lantas melihat kakinya yang mana tidak terluka lagi, namun belas lukanya masih terlihat. "Wah- kakak, apa kau yang menyembuhkanku?" tanyanya kagum.


Lug tidak menjawab dan hanya tersenyum hangat.


Nagisa membalas dengan senyuman riangnya yang memperlihatkan gigi putihnya yang rapi. Di sisi lain, Lug merasa bersalah karena terlalu kasar terhadap gadis itu.


"Maafkan aku, Nagisa, aku terlalu kasar barusan," ucap Lug.


Nagisa terkejut. "Tidak tidak tidak, kak. Tidak apa-apa, itu sudah kuanggap seperti latihan yang kulakukan dulu di bawah bimbinganmu," paparnya.


Meski begitu, Lug tetap saja merasa bersalah. Lantas ia tersenyum karena sudah tahu bahwa Nagisa baik-baik.


"Lagipula, kak- manaku, sudah pulih. Setengah sumber manaku terisi kembali, bahkan lebih," ujar Nagisa.


Lug sedikit terkejut ketika mendengarnya. Ternyata koin ini juga memberikan pemulihan mana yang cukup besar. Ini pasti akan jauh lebih berguna di masa depan, seharusnya kuberikan saja kepada Nagisa suatu hari nanti, gumam Lug dalam hati.


"Baguslah, aku senang mendengarnya."


Setelah itu, Raini kembali melanjutkan latihan pribadinya. Lug dan Nagisa diminta Antonio untuk tinggal di kediamannya karena besok ia akan meminjamkan kereta miliknya untuk pergi ke desa Nedhen. Lug dan Nagisa setuju, apalagi Zephyr dan Raini sama sekali tidak keberatan.


*****


Keesokan harinya, Zephyr telah menyiapkan kereta kudanya yang sebelumnya disuruh oleh ayahnya. Ia juga sudah mahir mengendarainya dan di umurnya yang sekarang, ia sudah diberi izin untuk menggunakannya keluar masuk kota kerajaan.


"Wah, kau hebat juga, Zephyr," Lug memuji.


"Terima kasih," sahut Zephyr menyeringai.


Setelah itu, Lug dan Nagisa naik ke atas pedati dan Zephyr pun mulai memacu kudanya. Tapi tiba-tiba, ada suara derap kaki yang terdengar sedang berlari mengejar mereka.


"TUNGGUUUU!!!"


Ternyata yang berteriak itu adalah Raini yang hendak ikut dengan mereka bertiga. "AKU JUGA MAU IKUT!" teriaknya lagi.


Zephyr tertawa, sementara Lug dan Nagisa hanya tersenyum melihatnya.


"Naiklah," ucap Lug seraya menjulurkan tangannya.

__ADS_1


Raini meraihnya dan naik ke atas pedati. "Terima kasih," sahutnya.


Karena tidak ingin berlama-lama lagi, Zephyr kembali memacu kudanya. Dan selama Lug membantu Raini naik ke atas pedati barusan, seperti biasa, itu membuat Nagisa cemburu. Tapi dia berpikir bahwa menonjolkan hubungannya dengan Lug itu terlihat terlalu kekanak-kanakan. Sehingga dirinya memilih untuk membiasakan diri saja bahwa Lug itu memang anak laki-laki yang baik.


"Lug," tiba-tiba Raini mengajak Lug berbicara. "Apa kau sudah memutuskan untuk memilih ke mana nantinya?" tanyanya.


Lug mengangguk. "Ya, aku sudah menentukannya, dalam satu bulan ini aku akan dibina secara intens. Dan setelah itu, aku ingin menjadi Ranker saja," jawabnya.


Ranker ada sebuah gelar untuk seseorang yang mana mereka akan ditugaskan ke dunia dunia ras lain. Manusia telah mengetahui bahwa pembatas yang diciptakan oleh entitas misterius beribu-ribu tahun lalu memiliki kelemahan dan dapat diterobos dengan metode tertentu. Meskipun tidak dapat dihancurkan, tapi pembatasnya dapat diterobos.


Selain itu, Ranker biasanya juga sebagai perwakilan kekuatan tiap kerajaan yang mana ada sebuah turnamen yang meskipun tidak legal, namun setiap kerajaan setuju untuk tidak boleh mencampuri atau bahkan sampai membubarkannya. Dan dari turnamen tersebut, akan ada yang namanya peringkat setiap Ranker resmi antar kerajaan yang akan dicatat setiap hasilnya, serta kerajaan manapun boleh mengetahui hasil akhirnya.


"Aku juga ingin menjadi Ranker," Zephyr menimpali.


Raini meliriknya. "Memangnya aku bertanya padamu?"


Zephyr mendengus sebal. "Oh, lihat saja nanti,"


"Apa?!"


Mereka berdua malah ditertawakan oleh Lug dan Nagisa, dan sebenarnya gadis itu juga memilih pilihan yang sama dengan kakaknya. Dan Lug juga sebenarnya ingin menunjukkan sesuatu kepada Nagisa.


Dan ketika di perjalanan, Lug kembali melihat anjing anjing yang menghalangi jalan–seperti pada saat dirinya ke kota kerajaan bersama dengan ayahnya beberapa tahun yang lalu.


"Ternyata mereka masih ada?" Lug bergumam.


Zephyr sempat menghentikan pedatinya karena banyak sekali anjing yang menghalangi–terdapat empat ekor anjing. "Kau pernah menemui anjing anjing ini?" tanyanya.


Pada saat itu, Lug memang tidak membunuh semua anjingnya, tapi tetap saja mereka sama sekali tidak jera. Meskipun kawanan hewan, tapi anjing tetap memiliki insting yang kuat–ketika menghadapi lawan yang kuat, pasti akan mundur dan melarikan diri, tapi Lug mengalami hal yang berbeda. Jadi para anjing itu memiliki pemikirannya sendiri dan tidak merasa takut, memang ada kalanya lupa, tapi mereka seolah sedang diperintah oleh seseorang.


"Sudahlah, kita usir saja mereka," ujar Zephyr.


Lug menggeleng. "Anjing anjing ini susah diusir, mereka justru akan menyerang kuda milikmu, malah akan menjadi musibah nantinya," jelasnya.


Hingga ketika Zephyr turun dan hendak mengusir anjing yang menggonggong di depan kudanya, seekor anjing melompat dan hendak menggigit tangan lelaki itu.


CRAASS


Dengan cepat, Lug menyerang anjing itu dengan teknik memanipulasi mana–merubah mana alam yang ada di sekitar menjadi gelombang berbentuk sabit yang tajam–setajam pedang. Ia tiba-tiba saja sudah turun dan berada di belakang Zephyr.


"Berhati-hatilah," Lug menyarankan.


Zephyr menggosok perlahan tangan kanannya yang hendak digigit dan menatap Lug, bibirnya tertutup rapat dan tatapannya cemas. "Baiklah, maafkan aku karena aku ceroboh," ujarnya.


Sementara Lug tatapannya masih terlihat santai. "Tidak apa-apa- selama kau tidak terluka, itu sudah cukup," sahutnya.


Mendadak tatapan Lug tertuju ke arah pedalaman hutan yang sangat lebat. Ia merasakan ada yang sedang menuju ke arahnya. Tatapannya berubah menjadi sangat tajam. Zephyr khawatir terjadi sesuatu, ia pun juga menatap ke arah yang sama dengan tatapan penuh kewaspadaan.


Sementara melihat Lug dan Zephyr yang terlihat waspada, Nagisa segera melompat turun untuk menyusul mereka berdua.


"Ada apa, kak?" tanya gadis itu.

__ADS_1


Lug menjawab lirih, "Sepertinya pemilik anjing anjing anjing ini datang kemari."


Zephyr mendengarnya. Dia sempat khawatir karena tahu bahwa pemilik anjingnya datang. Aku tidak tahu seperti apa pemilik anjing anjing ini, tapi melihat Lug yang seperti itu ... Aku ragu jika kami bisa melewati ini dengan mudah, batinnya.


Dan benar saja, ada dua orang yang mana satunya membawa busur silang dan yang satunya lagi menggenggam tali yang mengikat lima anjing.


Pria yang membawa busur silang itu tidak mengenakan baju dan hanya mengenakan celana pendek loreng cokelat saja, wajahnya brewokan dengan rambut yang sedikit menguning, tubuhnya kurus namun tinggi dan lumayan berotot pada lengan dan perutnya, rambutnya cukup panjang disisir ke belakang namun masih sedikit acak-acakan karena terkena angin, serta wajahnya terlihat seperti pria berusia tiga puluh tahunan. Sementara pria yang satunya lagi terlihat seperti masih berusia dua puluh tahunan, wajahnya juga masih muda, rambutnya hitam dan pendek, disisir ke belakang dengan bagian samping yang sangat tipis. Tubuhnya berisi namun sedikit lebih pendek dari rekannya, dan mereka berdua sedikit lebih tinggi dari Lug. Pria yang membawa anjing anjing itu juga mengenakan celana yang hampir sama, hanya saja warnanya sedikit gelap dan ia mengenakan kaos tipis berwarna putih tanpa lengan.


"Apa kalian yang membunuh anjing kami?" tanya pria yang membawa busur silang.


Lug berani menjawab, "Ya, aku lah yang membunuh anjing itu! Aku juga yang membunuh anjing kalian beberapa tahun yang lalu ketika aku dan ayahku hendak pergi ke kota kerajaan!"


Nagisa, Zaphyr, dan Raini menoleh padanya. Mereka salut dan kagum melihat keberanian Lug, tetapi juga tetap khawatir.


"Aku mungkin lupa dengan kejadian beberapa tahun itu," sahut pria brewokan itu.


Akan tetapi pria yang satunya terlihat seperti memikirkan sesuatu. Lantas ia berkata dengan suara yang pelan, "Tahun lalu yang mana kita kehilangan belasan anjing yang kita suruh mengawasi wilayah sekitar sini- tapi pada akhirnya mereka malah mati."


Dan itu membuat si brewokan tersebut teringat dengan kejadian yang disebut itu. "Jadi itu kau, ya?!" tukasnya kepada Lug dengan tatapan sinis.


Tetapi anak yang ditatapnya sinis itu malah menatapnya sinis balik. Dia seolah tidak takut sama sekali dengan dua orang yang memiliki tampang seram itu. Biasanya anak seusianya akan melarikan diri–mungkin berusaha melawan jika mereka memiliki rekan.


"Kalau iya, memangnya kenapa?!" seru Lug menantang.


Dua orang yang ditantangnya itu terkejut melihat seorang anak menantang mereka. Tapi terlihat bahwa teman-temannya takut jika terjadi masalah.


"Sudahlah, Lug," bujuk Zephyr ketakutan. "Kita tak seharusnya melawan mereka, aku takut terjadi sesuatu."


Zephyr memang tidak pernah mengalami pertarungan secara langsung kecuali dengan Lug dan itupun juga bukan pertarungan yang menghadapkannya pada situasi seperti sekarang ini. Maka dari itu menjadi takut. Begitupun dengan Raini, yang mana itu juga dia adalah seorang gadis yang sudah kodratnya untuk jadi penakut.


Namun tidak dengan Nagisa, ia pernah sekali dihadapkan situasi hidup dan mati tepat sebelum bertemu dengan Lug.


Dan Lug sendiri tidak takut karena dirinya memiliki ketahanan terhadap ketakutan. Dia tidak takut sama sekali dengan siapapun itu, asalkan dia hanya dihadapkan dengan sesama manusia apabila hanya dinilai dari kemampuannya bertarung maupun sihir.


Si brewokan pun mulai membidik. Di depan ujung anak panahnya yang siap ditembakkan, terdapat lingkaran sihir berwarna putih dan mengeluarkan angin yang tidak terlalu kencang. Lingkaran sihir itu memiliki tiga garis lingkaran. Sembari tersenyum dan berjalan mendekat perlahan, itu mengancam, "Sudahi omong kosongmu itu, bocah! Berikan semua barang berharga milikmu, atau anak panah ini akan menancap tepat di depan kepalamu!"


Lug tetap berdiri dengan senyuman percaya diri yang terukir di bibirnya. "Tembakkan saja! Aku sama sekali tidak takut!" serunya yang semakin menantang.


Hm? Bocah ini benar-benar cari mati! Batin si pembawa anjing yang sedikit merasa heran.


WUUUSH


Anak panah melesat dengan sangat cepat. Lingkaran sihirnya membuat anak panah tersebut berputar dan menimbulkan pusaran angin yang cukup besar, serta kecepatan anak panah itu melesat meningkat hingga dua kali lipat.


Akan tetapi, ada sesuatu yang sangat mengejutkan. Kedua orang yang hendak merampok Lug dan kawan-kawannya itu bahkan sampai terbelalak melihatnya.


Terdapat bola hitam kelam di depan Lug dan ketika anak panahnya menyentuh bola tersebut, tercipta kabut yang dengan cepat melahapnya hingga tak bersisa. Lug yang sudah bersiaga dengan simbol Golem Lava di tangannya yang sudah menyala itu bahkan juga sedikit terkejut. Bola hitam itu adalah perbuatannya Raini.


"Refleks yang bagus, Raini," Lug memuji. "Tapi aku ingin kau memiliki refleks yang lebih cepat dari ini, sehingga tidak membahayakan diriku juga seperti ini."


Raini tersenyum mendapat pujian tersebut. Ia mengangguk dan menjawab, "Iya- terima kasih atas pujiannya."

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2