![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Tiga tahun telah berlalu. Banyak yang berubah dari desa Nedhen yang sekarang sama sekali tidak dipungut biaya pasca-pajak sepeserpun. Desa pun memiliki banyak kemajuan, yang mana sekarang bazar telah dibangun dan tiap kedainya berada dalam kios kios kecil. Dan juga dibangun beberapa fasilitas baru atau diperbaiki fasilitas yang sudah usang dan rusak.
Dan sang pemeran utama, Lug, kini ia telah mengalami banyak perkembangan, dari segi fisik, kemampuan, bahkan sihirnya. Kini tingginya akan mengejar kakaknya–tingginya telah mencapai 154 cm–lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Kulitnya kini telah menjadi lebih putih dari yang sebelumnya yang sawo matang. Rambut hitamnya disisir ke belakang, di sisi kanan dan kiri rambutnya dipotong setipis mungkin, kira-kira panjang rambut yang disisir ke belakang itu sekitar 3 hingga 4 cm. Menjadi yang paling jenius dalam kategori sihir dan menjadi panutan oleh anak-anak yang baru belajar sihir–menggeser posisi Rakt sebagai jenius nomor satu di desa Nedhen. Lug juga telah meningkatkan batasan sihirnya sekaligus sihir yang dikuasainya pun juga bertambah. Serta Lug juga meningkatkan beberapa sihir tiga lingkaran miliknya menjadi sihir empat lingkaran.
Sementara Nagisa juga telah menjadi jenius nomor dua setelah Lug. Akibat latihan yang dilakukannya sehari-hari, itu membuat tinggi badannya meningkat dengan pesat–tingginya mencapai 151 cm, gadis delapan tahun mana yang memiliki tinggi badan setinggi itu? Bahkan tingginya tidak jauh lagi dari kakaknya, yakni Teressa.
Selain penampilan, Nagisa memiliki sihir yang sangat kuat, menjadi ikon desa Nedhen, auranya terpancar ke seluruh desa. Alasan kenapa bisa seperti itu adalah karena Lug yang menyuruhnya.
Lug tidak ingin menampilkan apa yang ia punya, tapi dengan adanya Nagisa, maka seluruh topik dan perhatian akan selalu tertuju pada gadis tersebut. Lug hanya pernah sekali bertarung melawan Nagisa karena banyak yang meminta mereka untuk saling menunjukkan kekuatan, alhasil Nagisa mengakui kekalahannya sebelum pertandingan dimulai. Itu karena Nagisa yakin, Lug sama sekali tidak akan serius di dalam pertandingan atau bahkan sengaja berpura-pura kalah atau semacamnya. Tetapi anak-anak masih mendesak mereka berdua untuk bertarung dan pada akhirnya mereka pun saling beradu kekuatan. Lug tidak mengalah sama sekali dan justru ia bertujuan untuk melatih Nagisa agar gerakannya menjadi semakin lebih berhati-hati lagi.
Kini Nagisa juga telah menguasai tiga jenis sihir yang berbeda. Bahkan ketiga-tiganya adalah sihir tiga lingkaran. Semua itu berkat arahan dan pelatihan yang Lug berikan.
Dan sekarang Lug dan Nagisa sedang berlatih seperti biasanya. Nagisa tampak tidak senang dengan latihan di hari ini, wajahnya juga tampak tidak semangat di latihan tersebut. "Ayolah kak, tiga hari lagi ulang tahunmu, kenapa aku tidak boleh pergi mencarikan hadiah untukmu saja?" Nagisa mengeluh.
"Latihanmu penting untuk jadi jenius nomor satu di desa ini," sahut Lug sembari duduk membaca buku di samping meja. Di meja tersebut terdapat secangkir teh hangat dan beberapa biskuit yang dibuatkan oleh Teressa.
Sambil berlatih, Nagisa terus memikirkan alasan lagi agar ia bisa terbebas dari latihannya hari ini. Tiba-tiba saja gadis itu mendongak, ia menemukan ide yang bagus seolah muncul sebuah bohlam yang terang di atas kepalanya. "Kalau begitu, aku ingin kita berkencan setelah latihan ini! Kalau masih tidak mau juga, kakak harus menjadi pacarku!" Semua pilihan yang diajukan oleh Nagisa semata-mata hanya untuk menguntungkan dirinya saja.
Tapi Lug sama sekali tidak menjawab. Dia tetap diam dengan tatapannya yang terkunci pada buku di tangannya, tak peduli dengan pilihan yang diajukan untuknya.
"Kakak Lug?!" Nagisa memanggil. "WOI!"
Lug masih tetap diam, sama sekali tidak berkutik pada apa yang terjadi. Dan sekarang Nagisa memahami kenapa Lug diam tak menghiraukan perkataannya. "Kakak, apa kau berpikir kalau dengan tidak memilih maka kau akan aman dan mendapatkan solusinya?" tanya Nagisa memastikan.
"Tepat!" sahut Lug lagi, akan tetapi tatapannya masih terus tertuju pada bukunya. "Diamlah dan fokus pada latihanmu saja!"
Tetapi Nagisa masih terus mengoceh tanpa memperdulikan ucapan Lug tersebut. Hingga pada akhirnya Lug menutupi telinganya dengan cara memanipulasi mana dan memadatkannya tepat di depan gendang telinganya. Lug membaca bukunya dengan senyuman penuh ketenangan–sedang merasa lega. Nagisa kian sadar bahwa Lug sama sekali tidak mendengarkan ucapannya, atau bahkan memang ucapannya itu tidak terdengar oleh telinga Lug.
Sehingga Nagisa pun berteriak, "KAKAK LUG! KAU DENGAR AKU, TIDAK?!!!" Meski teriakannya sangat kencang, namun Lug tetap tidak mendengar suara harimau tersebut.
Kini Nagisa mulai menyerah untuk meyakinkan Lug. Sebenarnya dia ingin sekali kabur, tapi tahu bahwa dirinya tak akan pernah dapat melarikan diri dari kakak laki-laki yang disukainya itu. Karena dirasa tak bisa berbuat apa-apa lagi, Nagisa pasrah dan berlatih seperti hari biasanya. Sekarang intensitas latihan yang dilakukan gadis ini lebih intens dan lebih lama dibandingkan latihannya tiga tahun yang lalu.
*****
Beberapa jam kemudian, latihan yang dilakukan oleh Nagisa pun berakhir.
Beralih pada Teressa, kini dia tengah berjalan-jalan dengan Rakt di bazar. Dia sedang menuju ke butik langganannya, karena gadis itu telah memesan sebuah gaun di butik tersebut. Kini penampilan Teressa tidak banyak mengalami perubahan. Hanya saja ujung rambutnya berbentuk ikal dan agak kemerahan. Sekarang dia mengenakan kaos putih dan rok berwarna biru kelasi yang panjangnya hampir menutupi lututnya. Teressa juga mengenakan sepatu hak tinggi berwarna putih–kurang lebih 2 cm, dengan tali pengikat yang di bagian atasnya terdapat hiasan berbentuk bunga dengan lima kelopak berwarna putih yang di bagian tengahnya sedikit berwarna merah muda transparan.
Dan Rakt sekarang sedang mengenakan kaos tanpa lengan berwarna hitam. Kini warna kulitnya berubah menjadi sawo matang dan rambutnya diikat kebelakang. Terdapat dua saku di kaosnya–berada di bagian depan perut. Dan ia juga mengenakan celana jeans pendek berwarna abu-abu. Rakt hanya mengenakan sandal jepit biasa yang berwarna putih dengan tali pengikat berwarna biru.
Mereka pun telah sampai di depan butik. Kiosnya sangat elegan, di bagian depan terdapat kaca abu-abu transparan yang dapat memperlihatkan pakaian-pakaian yang dijualnya. Pakaian yang dipamerkan begitu elegan dan pastinya harganya sangatlah tinggi. Terdapat dua kaca dan di tengahnya adalah pintu masuk, kaca sebelah kanan memperlihatkan pakaian untuk para lelaki seperti jas dan di sebelah kiri memperlihatkan pakaian untuk para wanita seperti gaun atau semacamnya. Butik tersebut memiliki dinding berplester merah muda, dan di atas pintu masuknya terdapat tulisan yang sangat indah dan bertuliskan, Autumn.
Dua pintu besar berwarna cokelat mengkilat yang memiliki ukiran rapi di dorong oleh Rakt. Ketika dibuka, terlihat barisan rak pakaian yang amat sangat rapi dan penuh keindahan. Teressa selalu terpesona ketika melihat barisan pakaian tersebut. Pakaian yang ada di sana jumlahnya mungkin mencapai ribuan.
Datang seorang wanita berusia tiga puluhan tahun yang menyambut Teressa dan Rakt. Wanita itu mengenakan tank top hitam pekat dan jaket hitam yang tidak ia kenakan dengan baik. Riasan wajahnya sedikit mencolok seperti lipstik, eyeliner, dan bahkan bedaknya. Rambutnya berwarna hitam yang panjangnya hingga sepinggang serta diikat. Celana yang dikenakannya adalah celana model slacks berwarna hitam yang di bagian pergelangan kakinya agak sedikit longgar. "Hai, Teressa," wanita itu menyapa dengan sangat ramah. Nada bicaranya seperti orang yang sedang menyambut teman lamanya yang telah lama tak ia lihat. "Apa kabarmu? Apa kau baik-baik saja?"
"Tentu saja," Teressa menjawab dengan ramah. "Bagaimana denganmu, Veni?"
Nama wanita yang menyambut Teressa dan Rakt adalah Veni Autumn. Wanita itu adalah seorang janda yang memiliki satu anak, sekaligus menjadi pemilik butik langganan Teressa ini. "Aku juga baik-baik saja."
Sementara Teressa dan Veni sedang berbincang, Rakt justru melihat-lihat jas putih yang tergantung di samping kanannya. Ketika melihatnya, Rakt membayangkan dirinya berjalan dengan penuh wibawa dengan mengenakan jas tersebut seperti seorang pengusaha dari kota kerajaan.
Tatapan mata Veni terlempar pada Rakt sejenak. "Hei, lihatlah calon suamimu itu!" serunya berbisik seraya menunjuk Rakt yang masih bengong memelototi jas putih di sampingnya. "Dia mungkin sedang membayangkan dirinya memakai jas itu dan berjalan bersamamu di kota kerajaan, hihihi."
Teressa menoleh dan melihat kelakuan Rakt. "Akhir-akhir ini dia sering berkhayal dan bersikap agak konyol. Sepertinya dia memang orang yang seperti itu, hihihi," Teressa tertawa kecil sembari menutupi bibirnya.
Rakt sama sekali tidak mendengarkan percakapan dua wanita itu. Ia hanya sibuk melamun sambil membayangkan dirinya memakai satu persatu pakaian yang ada di sana–bahkan sampai berkhayal bahwa lemari yang ada di rumahnya penuh dengan pakaian lelaki yang ada di butik Autumn milik Veni ini.
Setelah itu, Teressa dan Veni melanjutkan percakapan mereka sambil berjalan ke suatu ruangan meninggalkan Rakt. Sadar telah ditinggalkan sendiri, Rakt segera menyusul, meskipun matanya masih menatap baju baju elegan di sampingnya berkali-kali sembari berjalan cepat.
__ADS_1
Sesampainya di suatu ruangan, Rakt menutupi matanya karena ruangannya sangat terang. Dindingnya berwarna abu-abu cerah, dan di lekukan antara dinding dan atap terdapat pipa bening seukuran setengah dari jarinya Teressa yang di dalamnya dipenuhi oleh air yang memancarkan cahaya putih yang sangat terang. Di sana terdapat sebuah etalase raksasa berbentuk heksagonal yang di dalamnya bahkan dapat dimasuki oleh dua orang Rakt sekaligus. Di dalam etalase tersebut terdapat gaun pengantin berwarna putih yang sangat anggun. Bahkan terdapat banyak hiasan bunga putih di bagian punggung. Gaun tersebut sangat cocok digunakan oleh Teressa, memang ukurannya sangat besar dan akan terseret di tanah, namun begitulah gaun pengantin.
"Wah, indah sekali," ucap Rakt kagum. Matanya berbinar melihat gaun tersebut, bahkan terlihat seperti ada debu bersinar layaknya bintang bintang kecil yang menghiasi matanya.
Teressa setuju, lantas ia menoleh pada Veni. "Apa ini gaun yang kupesan?" tanyanya penasaran.
Veni menggangguk, "Indah, bukan? Aku persiapkan khusus untukmu."
Gaun itu adalah pakaian yang dipesan oleh Teressa untuk pernikahannya satu Minggu mendatang–Rakt lah yang menjadi pengantin prianya. Mereka juga saling menyukai satu sama lain, bahkan Nivi dan Vans pun setuju akan pernikahan mereka. Rakt melamarnya beberapa hari yang lalu tepat di depan kedua orang tuanya, dan Teressa setuju. Bahkan gadis berambut pirang itu matanya berkaca-kaca dan hampir meneteskan air matanya pada saat itu.
Lalu pada saat ini Rakt tiba-tiba saja teringat akan Lug. Adik satu-satunya itu akan berulang tahun tiga hari lagi, dan ia belum menyiapkan hadiah. Karena masih di dalam butik, Rakt terpikirkan untuk membelikan pakaian untuk Lug di hari ulang tahunnya nanti. "Hei, Teressa, bagaimana menurutmu jika aku memberi Lug pakaian di hari ulang tahunnya nanti?"
Teressa refleks menoleh dengan cepat ke arah Rakt. Ia juga baru ingat bahwa anak laki-laki itu beberapa hari lagi akan berulang tahun. "Iya, ya," katanya. "Aku hampir lupa kalau Lug berulang tahun sebentar lagi."
"Aku juga baru ingat."
"Baju, ya? Hmm," Teressa melihat-lihat baju lain yang ada di ruangan tersebut.
Ada beberapa etalase heksagonal yang tertata rapi di ruangan yang tidak terlalu besar itu. Hanya ada tujuh etalase kaca dan kebanyakan di dalamnya adalah gaun pengantin dan gaun pesta. Tapi Teressa melihat ada satu etalase di pojok ruangan yang di dalamnya terdapat pakaian untuk seorang lelaki. "Veni, pakaian yang di sana itu pesanan orang?" tanya Teressa yang tertarik pada pakaian yang ada di pojokan itu.
"Bukan, itu hanya pameran saja, kau tertarik?" ujar Veni menawarkan.
Rakt menyadari pakaian mana yang dimaksud oleh Teressa. "Pakaian itu ... Apa kau berniat membelikan Lug pakaian yang elegan itu seperti pakaian dari kerajaan?" tanyanya memastikan.
Pakaian yang dipajang oleh Veni di pojokan itu dipakaikan pada patung model. Baju putih dengan garis merah tipis di tengah yang memisahkan bagian kanan dan kiri, garis tersebut memanjang dari lubang di leher hingga ke paling bawah. Baju tersebut memiliki saku di bagian dada sebelah kiri. Lalu ada juga jas putih dengan rantai berwarna emas yang digantung membentuk huruf U di lengan atas kanan maupun kiri. Terdapat dua saku di bagian depan perut, tiga kancing hitam selebar ibu jari perempuan, kerah yang tidak terlalu ketat, dan motif garis merah di balik kancing. Di dalam jas juga terdapat dua saku tambahan. Dan dalam satu set pakaiannya, terdapat celana putih dengan dua saku di kanan maupun kiri pinggang, terdapat dua rantai lagi emas digantungkan pada tali sabuk di sebelah kanan–yang satu sepanjang setengah lengan, yang satunya lagi sepanjang tiga perempat lengan. Dan yang terakhir adalah sepatu slip-on berwarna putih dengan garis garis hitam tipis horizontal serta dengan sol berwarna merah.
Kemudian Teressa menjawab, "Ya, itu akan cocok dengan Lug."
Veni sempat terpikir siapa itu Lug. Lalu dia baru saja teringat bahwa Lug itu adalah jenius nomor satu generasi muda dari desa Nedhen. "Anak itu?" Vena bertanya memastikan. "Dia masih berumur sepuluh tahun, iya kan?"
Rakt menggeleng. "Kau salah," sahutnya. "Tiga hari lagi Lug akan berusia sembilan tahun. Kami teringin membelikannya hadiah yang istimewa."
"Kau bangga sekali," ujar Rakt.
"Tentu saja. Kemampuan adikku akan semakin terasah jika berada di akademi kerajaan."
"Dia sudah jauh lebih baik di bawah binaan Lug, sudah berapa tahun itu? Kau ingat?"
"Sekitar tiga tahun- kurang lebih. Memang kuakui Nagisa berkembang cepat ketika berlatih dengan Lug, tapi kita belum tahu hasilnya jika dia berlatih di akademi sihir kerajaan."
"Kau tahu, aku dulu tidak lolos seleksi."
"Hahaha, rasakan itu. Pemilik gelar jenius nomor satu di desa Nedhen ternyata dulunya sempat gagal masuk ke akademi kerajaan."
"Sialan, aku malah ditertawakan."
Merasa menjadi nyamuk di antara obrolan Rakt dan Teressa, Veni memeriksa pakaian gaun pesanan dari pasangan tersebut–memeriksa apakah terdapat kerusakan kecil dan berusaha menyibukkan diri agar tidak dianggap sebagai nyamuk.
"Veni, apa pakaian yang di pojokan itu ada untuk anak-anak usia 9 tahunan? tanya Rakt.
Veni sedikit terkejut sebab dirinya tiba-tiba dipanggil. Tetapi dia sama sekali tidak menoleh ketika dipanggil. Sembari melihat-lihat gaunnya, Veni menjawab, "Usia tidak terlalu menentukan ukuran seseorang. Bawa anak itu kemari, biar aku lihat sendiri ukurannya dan tinggi badannya."
Tiba-tiba Rakt teringat dengan sebuah benda. Ia mengeluarkannya dari saku celananya, dan matanya mencari-cari sesuatu pada benda tersebut. "Ah, ini dia."
Benda itu mirip sebuah batu yang dipoles hingga rata dan menjadi tampak seperti plat batu berbentuk lingkaran seukuran segenggam tangan–lebarnya sekitar selebar jari perempuan. Itu seperti dua plat batu yang ditempelkan, dan terdapat salah satu permukaan yang bagian tengahnya memiliki ukiran yang sangat rumit, di tengahnya juga terdapat ukiran yang membentuk mata seukuran kuku jari telunjuk–ukirannya hanya ada pada plat bagian atas. Ketika Rakt memutar plat di bagian bawah, ukiran pada plat bagian atasnya bercahaya. Kedua plat itu dapat berputar karena di antara kedua plat itu, tepatnya di dalamnya, terdapat plat lingkaran kecil yang menghubungkan keduanya dan inti dari mekanismenya. Benda itu dibuat oleh Lug, dan ia menamainya Holo-Lug.
"Apa itu?" Veni dan Teressa bertanya bersamaan tanpa mereka sadari.
"Ini Hooo ... Holo-Lug? Lug yang memberinya padaku," jawab Rakt tergagap dan masih memelototi benda yang dipegangnya. Dia plat nya secara perlahan, hingga pada akhirnya plat bagian atasnya memancarkan cahaya yang menampilkan bagian tubuh Lug.
__ADS_1
Veni masih merasa kurang. "Dengan ukurannya yang sekecil ini, aku masih belum bisa memperkirakan tinggi dan lebar badannya," katanya. "Terlepas dari itu, alat yang bagus. Jika itu memang benar-benar adikmu yang membuatnya, dia benar-benar layak dijuluki jenius nomor satu dari desa Nedhen."
"Tunggu sebentar, lihat ini!" tuntut Rakt. Kemudian ia memutar platnya lagi sampai membuat tampilan tubuh Lug kian membesar. Dan ketika plat tersebut mentok, tampilan tubuh Lug memiliki ukuran aslinya. "Kata adikku, kalau sudah tak bisa diputar lagi, berarti ukurannya sama dengan tubuhnya," Rakt menjelaskan.
"Wow, menarik sekali," Veni memuji. Dia kagum melihat suatu benda fantastis yang tak pernah ia lihat seumur hidupnya. "Benda ini sangat luar biasa."
Rakt semakin kagum dengan benda buatan adiknya. Dia sendiri bahkan tak menyangka bahwa adik kecilnya itu sekarang mampu membuat alat yang begitu menakjubkan. Lantas Veni meminjam Holo-Lug untuk mengukur ukuran tubuh Lug. Sementara Teressa dan Rakt keluar dari ruangan tersebut untuk melihat-lihat pakaian. Adapun beberapa orang yang juga masuk ke dalam butik tersebut. Beberapa pelayan melayani para pengunjung itu.
Rakt tidak kembali melihat-lihat pakaian yang dilihatnya sebelumnya. Tapi sekarang ia lebih ingin memilih pakaian serasi yang cocok apabila seorang pria dan wanita memakainya bersamaan.
"Hei, lihat ini, Rakt," tiba-tiba saja Teressa memanggil.
Rakt pun mendatanginya. "Ada apa?" Sebelum Teressa menjawab pertanyaannya itu, Rakt sudah tahu apa yang dimaksud oleh calon istrinya itu. "Wah, gaun ini indah sekali."
Dan pada saat itu juga, Rakt melihat ada setelan jas yang sangat elegan dan dipakaikan pada patung model. Hitam mengkilap, disertai dasi kupu-kupu hitam yang manis.
"Wah, jas itu bagus juga, ya?" Teressa mengomentari.
Lantas Rakt tersenyum. Dan seketika itu juga senyumannya memudar, "Iya, tapi aku tak tahu isi kantongku ini cukup atau tidak untuk membayar semua pakaian yang akan kita beli."
Mendengar itu, Teressa mengelus punggung Rakt. "Aku juga tak menuntut kita akan membeli semua pakaian itu," ujarnya untuk kembali membalikkan semangat Rakt.
"Benarkah?"
"Ya, kita hanya perlu membeli gaun indah tadi dan setelan baju putih tadi untuk Lug."
"Benar juga, ya? Tapi jika uangku cukup, aku aka-"
"Sssttt!" Mendadak Teressa menghentikan ucapan Rakt dengan menempelkan jari telunjuknya pada bibir calon pasangannya itu. "Kita tak perlu membelinya sekarang," katanya. "Uang itu lebih baik kau simpan dulu, kita gunakan untuk keperluan yang ada saja. Baju baju itu hanya hiasan diri saja, kau tahu kan kalau aku tak terlalu paham tentang fashion, jadi kita tak perlu memaksakan diri untuk sekarang. Untuk baju seperti itu kita bisa membelinya nanti jika kita punya uang yang lebih di masa depan."
Rakt bukannya mendengarkan ucapan Teressa, tapi justru malah bengong sambil senyum-senyum memandangi gadis tersebut.
Teressa mulai kesal. "Rakt, kau tak mendengarkan ucapanku, ya?!" serunya.
Rakt segera sadar dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak tidak! Aku mendengarkanmu ... Iya iya, tentang itu kan? Umm, baju dan-"
"Ah, lupakan saja! Aku kesal, kesal padamu!" Benar saja, Teressa merajuk. Kemudian ia putar badan dan berjalan meninggalkan Rakt menuju ke ruangan sebelumnya. Langkahnya sangat berat.
Rakt berusaha mengejarnya. "Tunggu, Teressa. Kumohon maafkan aku, kau tadi terlalu menawan ketika menasihatiku. Jadi aku tak tahan melihat kecantikanmu," ujarnya menggoda.
Teressa berusah tak memperdulikan ucapan Rakt, tapi kalimat kalimat yang ia dengar itu sangatlah romantis di telinganya. Sehingga wajahnya memerah dan ia menggembungkan pipinya. "K-kau pikir itu mempan padaku?!"
"Ya! Lihat saja, wajahmu berubah jadi merah, itu terlihat dari telingamu yang juga memerah. Aku paham tentang dirimu."
"Apa yang kau paham?!"
Seketika Rakt menarik tubuh Teressa dan membuat gadis tersebut terjatuh di atas tangannya. Mau tidak mau, Teressa harus menatap wajah Rakt, dan itu membuatnya terpesona kembali. Seolah matanya tak bisa menatap wajah Rakt secara langsung. Ini- Bukankah ini terlalu dekat? Batin gadis itu.
Orang-orang lain sempat melihatnya, tak lama mereka memalingkan wajah mereka. Tak peduli apa yang pasangan itu lakukan, mereka hanya ingin mencari pakaian saja, bukan sedang ingin melihat dua orang bermesraan.
Tatapan Rakt menjadi semakin hangat, wajah Teressa semakin merah dan sekujur tubuhnya memanas–seolah asap keluar dari ubun-ubunnya.
"Teressa, maafkan aku. Aku janji padamu, jika aku punya uang nanti akan kubelikan gaun seperti itu untukmu," Rakt berjanji.
Raut wajah Teressa tiba-tiba berubah, namun merah di wajahnya masih belum hilang. "Sudah kuduga, kau memang tak mendengarkan ucapanku!" bentaknya. Lalu Teressa berdiri dan sedikit mendorong badan Rakt. Lantas masuk ke dalam ruangan putih yang di dalamnya ada Veni sekarang.
"Apa sih yang salah dari ucapanku? Aarrghh! Sudahlah, lama-lama aku kesal pada diriku sendiri," Rakt kian emosi pada dirinya sendiri. Dia memang bukan lelaki yang peka, itu karena dia jarang digauli oleh wanita apalagi seumurannya. Lantas Rakt hanya diam di sana dan melihat-lihat pakaian. Dia sangat merasa bersalah. Pria ini tak berani mengikuti Teressa masuk ke dalam ruang pakaian khusus, tapi ia juga tak berani meninggalkan Teressa di butik itu bersama Veni, itu akan membuatnya semakin merasa bersalah. Jadi Rakt memutuskan untuk melihat-lihat pakaian saja.
Bersambung!!
__ADS_1