![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Kabar tentang kematian Kembar Gila, Taring Iblis, dan Wajah Berdarah sudah terdengar ke berbagai kerajaan. Dan sekarang yang menjadi topik perbincangan utamanya adalah 'siapa yang mendapatkan Pusaran Angin Seribu Lengan?' Tiada yang tahu bahwa Nio lah yang berhasil mendapatkannya. Namun ada juga orang yang memperbincangkan tentang para Ranker misterius yang tidak memiliki simbol pada armornya. Mereka yang dimaksud adalah Empat Topeng dan rekan-rekannya, mereka menyamarkan simbol yang ada di armor mereka. Semua orang berasumsi bahwa keempat Ranker misterius itulah yang mendapatkan Pusaran Angin Seribu Lengan-nya.
Kini Nio masih bersama dengan Alice di ruangan pribadinya. Mereka mengobrol dan bersantai. Lelaki itu meletakkan kepalanya di atas paha tunangannya itu.
"Nio, a-aku ... Aku geli," ucap Alice.
Nio tertawa kecil.
"Kenapa- kau malah tertawa?!" seru Alice sambil memasang wajah cemberut.
"Ayolah- kita kan sudah bertunangan, kenapa aku tidak boleh melakukan ini?" sahut Nio.
Alice memalingkan wajahnya sembari menghembuskan nafas sebal. Nio tiba-tiba memegang dagu gadis tersebut, lantas membuat wajah gadis itu menghadap wajahnya.
"NIO!" bentak Alice malu.
Nio menertawakannya, sementara tunangannya itu wajahnya semakin mereka karena malu. Dan mereka berdua saling mendiamkan sejenak–Nio menikmati bantalnya yang sangat empuk itu dan Alice masih merasa geli, ia mengelus rambut tunangannya secara perlahan.
Tak lama kemudian, Alice bertanya pada Nio, "Nio, beberapa hari yang lalu kau tidak pernah keluar dari rumahmu. Katanya kau sedang sakit, kau itu sakit apa sampai berhari?"
Nio menjawab, "Aku sedang demam tinggi dan sulit untuk buang air besar. Ya- begitulah."
"Oooh ... Kukira kau ikut pergi ke dataran Exter," ujar Alice.
Lantas Nio tersenyum jahat, pada saat ini Alice tidak sedang memperhatikan wajah lelaki yang tidur di pahanya itu. Sehingga setelah itu ...
"AAAANGHHHH!!!"
Alice mendesah keras karena Nio menekan paha gadis itu dengan kepalanya. Lelaki itu juga menggeleng-gelengkan kepalanya agar sensasinya semakin meningkat.
"AAHHH! N-NIO! HENTIKAN!!! INI MENGGELI- AAAHHH!!!"
Alice menjadi sangat geli, tangannya berusah mengangkat kepala Nio sekuat tenaga, namun seolah-olah tenaga yang ada di tangannya itu menghilang, sehingga tangannya itu terasa lemas.
Semua orang yang ada di luar ruangan sedikit terkejut mendengar suara ******* seorang gadis. Akan tetapi suaranya samar-samar, dan mereka tahu bahwa itu berasal dari ruangan pribadi pemilik restoran tersebut.
Dari lantai dua, Johan mendengar suara Alice dengan cukup jelas. Kini dia sedang menghantarkan makanan ke meja pelanggan. Hmm ... Hehe, sepertinya tuan muda Nio sudah mulai agresif ke nona muda Claudia, batinnya.
*****
Menjelang sore, Nio pergi ke kediaman Claudia untuk berbincang dengan ayahnya Alice, Vorger Claudia.
"Sudah lama kau sakit-sakitan, apa kau sudah sembuh? Semua berjalan dengan lancar?" tanya Vorger sembari membenarkan posisi duduknya.
__ADS_1
Nio menghembuskan nafas. "Tuan Vorger, aku tidak ikut ke dataran Exter, kala itu aku sedang sakit demam dan kesulitan buang air besar. Berkali-kali aku mengalami kram di pergelangan kakiku- ugh ... Benar-benar menyakitkan," jelasnya.
Vorger terkejut mendengarnya. "Tunggu! Kupikir kau ikut pergi bersama dengan rekan-rekanmu, jadi selama ini kau sungguhan sedang sakit?"
"Ya, sekarang saja aku masih merasa pusing," jawab Nio.
Awalnya Vorger tidak percaya dengan ucapan lelaki itu, namun pada akhirnya semua penjelasannya benar-benar membuat ayah beranak dua itu percaya. Vorger teringat bahwa pada saat keberangkatan ke dataran Exter, dia tidak merasakan adanya Nio di dalam kelompok yang akan segera berangkat itu.
Dan pada saat itu, tiba-tiba saja Alice memulai pembicaraan baru yang sangat mengejutkan. "Ayah, bagaimana bisa tadi aku dilecehkan Nio? Aku ingin kau mengadilinya!" tuntutnya.
Nio tak menyangka bahwa kelakuannya tadi dilaporkan, dia terkejut mendengarnya.
Sementara Vorger mengubah tatapan matanya menjadi sangat garang. Dia juga terkejut mendengar aduan dari anak gadisnya itu. Tapi tiba-tiba saja, ekspresinya berubah 180 derajat. "Apa Nio melakukan sesuatu yang mesum terhadapmu? Apa kau bisa dipastikan hamil?" tanya Vorger bersemangat.
Mendengar pertanyaan dari ayahnya, Alice terkejut setengah mati. "Ayah! Apa maksudmu?! Nio ... Dia hanya menggelitiki pahaku, dia bahkan hampir menyentuh- "
"Oi oi! Yang terakhir itu ... Jangan asal mengarang!" tegas Nio.
Alice masih merasa sebal. "Hmph! Siapa yang mengarang? Kau berniat mesum terhadapku tadi!" serunya.
Sementara mendengar perdebatan itu, Vorger merasa kecewa karena alasan untuk menikahkan anaknya dengan Nio Vlamera masih belum segera muncul.
Lalu Nio meminta kepada Vorger untuk meminjam ruangan bawah tanah milik keluarga Claudia. Di ruangan bawah tanah itu dilapisi oleh mana yang cukup pekat, menghasilkan pelindung pada dinding dindingnya, sehingga tidak akan roboh meskipun terkena sihir. Tapi ada batasan seberapa besar sihir yang dapat diterima oleh pelindungnya, yang mana batas maksimumnya hanyalah sihir empat lingkaran, dan itupun tidak diperbolehkan untuk menggunakan sihir serangan empat lingkaran sebanyak lebih dari tiga kali, apalagi yang bersifat destruktif.
"Kebetulan juga aku sangat penasaran dengan kemampuanmu," ujar Vorger. "Bagaimana kalau kita berlatih tanding?"
Mereka segera menuju ke sebuah ruangan di bawah anak tangga. Ketika membuka pintunya, terdapat anak tangga ke bawah yang di bagian bawahnya tidak dak terlihat karena cukup gelap.
Nio dan Vorger menuruni anak tangga tersebut, di tempat itu hanya diterangi oleh beberapa obor yang tidak terlalu terang. Dan ternyata Alice juga penasaran dengan kemampuan yang dimiliki oleh Nio. Gadis itu mengikuti mereka berdua dari belakang dan yang menutup pintunya.
Vorger menoleh ke belakang karena mendengar derap kaki. "Alice, kau ingin melihat?" tanyanya ketika tahu bahwa yang mengikutinya adalah anak gadisnya.
Alice mengangguk. "Aku ingin melihat kemampuan bertarungnya Nio," jawabnya.
Vorger tersenyum. "Ternyata kau juga penasaran- sama sepertiku," sahutnya.
"Iya, ayah."
Nio juga ikut tersenyum.
Sembari berjalan, Vorger melirik ke arah anak lelaki yang berjalan di sampingnya. Ia membatin, Anak ini sama sekali tidak merasa gugup. Dari tatapan matanya yang tajam, dia memang seperti sudah ada persiapan.
Tiba-tiba Nio meliriknya balik. "Tuan Vorger? Apa kau sudah sepenasaran itu sampai terus melirikku?" tanyanya.
__ADS_1
Vorger menyeringai. "Hahaha, aku hanya sedang melihat kepercayaan dirimu saja. Kulihat kau tidak gugup sama sekali," jawabnya.
"Aku hanya sedang memantapkan hati saja," sahut Nio.
Mereka pun sampai pada ruangan bawah tanahnya. Di ruangan itu terbagi menjadi dua, dan itu terbagi oleh sebuah dinding transparan yang membatasi kedua ruangannya. Ada sebuah pintu yang ternyata juga transparan.
Alice melihat-lihat di sekitarnya. "Di sini tidak ada kursi, ya?" tanyanya heran.
Vorger menepuk jidatnya. "Iya, ya? Aku lupa menaruh kursi di tempat ini," sahutnya.
Setelah itu, Vorger masuk ke dalam ruangan latihan bersama dengan Nio. Mereka langsung mempersiapkan diri dan saling menjauh. Tepat setelah itu, Vorger menggunakan sihir yang dapat menembakkan bola sihir berwarna merah. Dengan mudahnya Nio menghindari serangan tersebut karena tidak terlalu cepat. Lantas Vorger menyerang lagi dengan menghantamkan lingkaran sihir di tangan kanannya ke tanah. Dan muncul banyak lingkaran sihir yang mencuat batuan tajam darinya. Lingkaran sihir itu tercipta hingga banyak sekali dan mengarah ke Nio.
Sementara itu Nio langsung melompat menghindar. Ia memanipulasi mana di sekitarnya dan mengubahnya menjadi pedang. Nio langsung menyerang maju karena dirinya lebih suka bertarung jarak dekat melawan musuhnya ketimbang beradu sihir.
Menurut Nio, jika sihir yang digunakan tidak lebih tinggi dari sihir lima lingkaran, sama sekali tidak berguna untuk diadu karena lingkup sihirnya terlalu kecil. Lebih baik bertarung jarak dekat daripada beradu sihir.
Kemudian pertarungan terus berlanjut. Alice memperhatikan pertarungannya dengan antusias, hingga terlintas sebuah ingatan di kepalanya yang mana itu adalah kejadian di mana Nio datang di hidupnya untuk yang pertama kalinya.
*****
"Hei! Kalau kau bukan pengecut, lawan aku secara langsung! Jangan jadikan gadis itu sebagai sandera!!!" seru seorang lelaki yang mana itu adalah Nio yang sedang mengacungkan pedang ke arah seseorang berjubah yang sedang menyandera seorang gadis di tangannya.
Seseorang berjubah itu mengancam akan membunuh gadis itu dengan sihir yang seperti berupa cincin hitam di leher sang gadis. Gadis itu bahkan sampai menangis karena pernafasannya mulai sesak.
Gadis itu rupanya adalah Alice. Sekarang rumahnya sudah sangat berantakan dan banyak sekali orang yang tumbang di dalam rumahnya itu. Terlihat Vorger mendapatkan serangan di dadanya yang membuatnya tersungkur laksana mayat. Bahkan Nozel pun hanya sanggup menggertakkan giginya karena kakinya sudah tak sanggup untuk berdiri.
"Hahaha, bocah ingusan sepertimu ... Kalau kau ingin menjadi sesosok pahlawan, sekarang juga selamatkan gadis kecil ini!"
Seseorang berjubah itu semakin menjadi-jadi, dia menatap Alice dengan mata meremehkan dan seakan dirinya bisa membunuh gadis itu kapan saja. Sosok berjubah itu adalah seorang penganut dari sekte pemuja dewa iblis.
Sementara Nio tersenyum. "Yaaah ... Sepertinya aku harus sedikit serius," ujarnya.
WUUUSH
Lelaki itu bergerak melampaui kecepatan angin hingga mata pemuja dewa iblis tidak sanggup mengikuti pergerakannya.
BUGH
DAG
Nio pun berjongkok, ia berhasil melepaskan cincin hitam yang mencekik leher Alice. "Apa kau tak apa-apa?" tanyanya.
Gadis itu menatapnya seperti ada pahlawan yang mengeluarkan aura emas dari sekujur tubuhnya. Tatapan matanya menjadi kagum, dan wajahnya memerah. "I-iya ... Aku tidak apa-apa. Te ... Terima kasih," sahut Alice.
__ADS_1
Dan itulah, awal mula pertemuan Nio dan Alice.
Bersambung!!