![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Nagisa telah selesai dengan tanggung jawabnya selama satu Minggu lamanya. Akademi sihir kerajaan memberinya satu hari libur untuk beristirahat. Berkali-kali Nagisa mendapatkan makian dari banyaknya orang yang tidak terima akan kehancuran yang disebabkan oleh gadis itu. Bahkan ada beberapa orang yang berniat jahat dengan ingin melecehkan Nagisa. Gadis itu selalu berhasil mengalahkan setiap pria yang hendak melecehkannya, lantas menyeretnya dan membawanya untuk ditunjukkan kepada warga desa. Alasannya hanyalah satu, jika gadis itu membunuhnya, sudah pasti akan buruk bagi dirinya sendiri, jika melepaskannya maka orang yang melecehkannya itu akan berkata yang tidak-tidak kepada orang lain.
Pada hari ini, Nagisa tidak menggunakan hari liburnya untuk beristirahat, melainkan hendak berlatih di rumahnya Zephyr. Kini dirinya sudah berada di depan pintu rumahnya.
"Nagisa, kenapa kau tidak beristirahat saja di asrama?" tanya Antonio ketika membukakan pintu dan melihat Nagisa.
Nagisa tersenyum, sekarang ia sudah bisa sedikit diajak berbicara–meski hanya sedikit. "Aku hanya ingin berkunjung, paman," jawabnya.
"Oh, baiklah."
Lantas Antonio mengizinkannya masuk.
Ketika Nagisa masuk, di sana ada Raini yang menyambutnya. Sementara Zephyr sendiri tidak ada di sana karena sudah mulai berangkat ke akademi. Ketika itu Nagisa dipeluk oleh Raini, mereka tidak lagi menangis karena berusaha untuk tidak sedih lagi. Meski begitu, wajah, nama, suara, dan tingkah laku Lug telah terukir di hati mereka berdua.
"Nagisa, kau mau berlatih bersama denganku?" Raini menawarkan.
Nagisa mengangguk.
Mereka berdua langsung pergi ke halaman belakang untuk berlatih bersama. Raini menggandeng tangan Nagisa, mereka terlihat sangat akrab.
Antonio mendesah, "Haih ... Gadis itu datang-datang hanya untuk latihan saja. Lama lama tempat ini berubah menjadi tempat latihan."
Kembali pada Nagisa, dia dan Raini mulai pemanasan terlebih dahulu selama beberapa menit. Raini sentiasa mengikuti gerakan Nagisa, dan ketika selesai, mereka berdua melakukan kuda-kuda. Raini masih sangat kaku dan kakinya gemetaran ketika melakukan kuda-kuda. Mereka berdua berdiri saling berhadap-hadapan.
"Bersiaplah," kata Nagisa.
WHUUUSH
Gadis itu melayangkan pukulan ke udara. Dia tidak menyerang, tapi memberi contoh. "Coba lakukan itu sampai dua puluh kali, tetap pertahankan kuda-kudamu itu- kalau bisa lebih rendah lagi," suruhnya.
Raini tidak bisa menurunkan tubuhnya lebih banyak lagi, tapi dia tetap mencoba melayangkan pukulannya ke udara–lebih tepatnya segaris dengan pandangannya. Meski kakinya hampir tidak kuat lagi pada pukulan ke delapan.
Nagisa berjalan ke belakangnya Raini, lantas menekan tubuh gadis itu dengan mendorong ke bawah bahunya. Raini hampir terjatuh pada saat itu, kakinya sudah bergemetaran hebat. Nagisa menahan kedua kaki Raini agar tidak bergemetaran, tapi ketika dilepaskan kembali bergemetaran. Ah, mengingatkanku pada hari ketujuh aku latihan dulu, batin Nagisa.
Setelah itu, Raini dilatih habis-habisan oleh Nagisa dalam beberapa jam itu.
Benar-benar hari yang sangat melelahkan.
"Cukup Nagisa ... Haaah- haaah ... " Nafas Raini bahkan sampai tersengal-sengal seperti itu. Dia sudah sangat kelelahan pada latihan itu.
Nagisa menyeringai. "Ayolah, Raini ... Setelah ini kita latihan bertarung," ujarnya.
"Hah?!" Raini terperangah. "Tidak tidak! Aku tak mau- huhuhu ... "
Nagisa pun memberdirikan gadis itu, namun gadis berambut biru tua itu sangat malas sekali untuk berdiri. Ketika sudah hampir berdiri sepenuhnya, Nagisa melepaskannya.
DUG
"Aduh!"
Pantat Raini menghantam tanah dengan cukup keras.
"Hahaha- maaf Raini, aku sengaja, hehe ... " ujar Nagisa.
"Ah, kau ini ... Jangan begitu dong, Nagisa ... Huhuhu ... " Raini menangis.
Nagisa malah panik karena tangisan gadis itu. "Cup cup cup, Raini sayang, jangan menangis ... Ayo bayi kecilku, bangun yuk," ucapnya.
"HUAAAA!!!"
"Waah?!!" Nagisa kaget karena Raini menangis semakin keras.
Setelah itu, Raini berhenti menangis, tapi kemudian memalingkan wajahnya dari Nagisa sambil menggembungkan pipinya sebal. Nagisa menyeringai dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Raini tak mau disentuh oleh Nagisa sementara waktu, dia selalu menjauh ketika hendak disentuhnya.
Nagisa malah sedih karena dirinya dijauhi oleh Raini. Dia malah menangis dengan rahang bawahnya yang bergetar–tangisannya tidak bersuara sama sekali.
Awalnya Raini tidak tahu bahwa Nagisa menangis, tapi ketika menoleh dia pun tahu. Tapi dirinya tak peduli dan memalingkan wajahnya lagi.
Nagisa menghirup nafas sambil tersengal-sengal, Raini malah merasa kasihan.
"Huhu ... Nagisa, maafkan aku- aku tidak bermaksud membencimu, huhuhu ... " Raini pun memeluknya sembari menangis. Tapi Nagisa tidak berubah sama sekali, wajah mereka berubah jadi lucu sekali.
Dan akhirnya, mereka pun berbaikan lagi.
__ADS_1
Raini pun siap dengan latihan selanjutnya, tetapi Nagisa sudah tak mau latihan bertarung. Menurutnya itu akan sangat melelahkan bagi Raini dan justru akan menghambat latihan gadis itu terganggu. Raini pun berterima kasih.
"Tapi, jangan senang dulu," ujar Nagisa sembari menyeringai dengan tatapan jahat. "Besok kita teruskan latihannya!"
"Apa? Huhu ... "
"Hahaha- "
Selanjutnya mereka berdua pun berlatih sendiri sendiri. Nagisa berlatih gerakan Kepakan Burung Hantu, sementara Raini masih berlatih menyempurnakan sihir Tubuh Kehampaan.
Sihir Tubuh Kehampaan-nya Raini, kini sudah berkembang dari yang terakhir kalinya. Terlihat dari kekosongan di rambutnya yang sudah tidak lagi seperti kabut hitam yang mengepul, melainkan rambutnya sudah benar-benar berupa kekosongan pekat, begitupun dengan wajahnya. Namun pada bagian lainnya masih seperti kabut hitam yang mengepul.
Beberapa jam kemudian, Raini berhenti berlatih. Dia sudah sangat kelelahan karena kehabisan tenaga. Lantas ia memperhatikan bagaimana Nagisa berlatih–gadis ini benar-benar seperti tidak punya rasa lelah.
Berbeda dengan Raini, perkembangan Nagisa dalam latihannya itu sangatlah lambat. Gerakannya masih bersuara.
"Nagisa, gerakan Kepakan Burung Hantu itu bagaimana, sih?" tanya Raini. Sebelumnya Nagisa memang mengatakan padanya bahwa dirinya akan berlatih gerakan Kepakan Burung Hantu. Tapi Raini tidak tahu apa-apa tentang gerakan tersebut.
Nagisa pun berhenti. "Gerakan Kepakan Burung Hantu itu kemampuan untuk menghilangkan suara pada setiap gerakan yang dilakukan. Jadi gerakannya itu tidak mengeluarkan suara sama sekali," jelasnya.
"Ooh," Raini paham. Tapi dia tiba-tiba saja melirik ke kiri atas.
Nagisa menyadarinya. "Ada apa, Raini? Apa ada yang mengganggumu? Kalau kau mau berlatih sendirian, aku bisa pergi dulu."
Raini terkejut. "Tidak tidak! Aku hanya sedang memikirkan sesuatu saja," sahutnya.
"Apa itu?"
"Begini, aku sebenarnya bisa melakukan gerakan yang kau maksud itu. Apa aku boleh memperlihatkannya?"
"Wah, benarkah?" Nagisa terkejut mendengarnya. Dirinya yang bahkan sudah berlatih cukup lama saja belum menguasainya, tapi tiba-tiba saja Raini yang baru mendengar gerakan Kepakan Burung Hantu langsung tahu dan mengatakan dirinya bisa, itu sangat mengejutkannya. "Apa kau yakin itu gerakan Kepakan Burung Hantu?" tanyanya memastikan.
"Eeeee ... " Raini memalingkan pandangannya, dia menyeringai ragu sembari menggaruk kepalanya. "Aku juga tidak tahu," jawabnya.
Dan pada saat itu, Raini mempraktekkan gerakan Kepakan Burung Hantu. Setiap gerakannya memang tidak mengeluarkan suara sama sekali, itu sangat mengejutkan Nagisa. Bagaimana bisa? Semua gerakannya sama sekali tidak bersuara, aku tidak bisa mengeluarkan gerakan yang seperti itu, batin Nagisa.
Namun Raini sangat cepat lelah, dia berhenti hanya setelah melakukan lima gerakan saja.
"Lah? Kok hanya seperti itu saja?" tanya Nagisa yang tidak puas.
Nagisa bingung mendengar jawaban tersebut. "Gerakan Kepakan Burung Hantu itu memang cukup detail, kulihat gerakanmu sangatlah terbuka dan penuh dengan celah, tapi bisa tidak mengeluarkan suara begitu?"
"Ya ... Aku melakukannya dengan memanipulasi mana di sekitar agar suara dari gerakanku tidak keluar," jawab Raini.
"Ooohh ... Jadi begitu- pantas saja," ucap Nagisa.
"Ada apa?" tanya Raini bingung.
"Apa yang kakak Lug ajarkan padaku itu tidak menggunakan mana sama sekali. Gerakannya harus sempurna dan sama sekali tidak mengandalkan mana. Gerakan Kepakan Burung Hantu adalah kekuatan fisik murni tanpa bantuan mana sedikitpun," jelas Nagisa.
"Begitu, ya? Maaf, aku salah."
"Tidak apa-apa, kau hanya belum tahu saja."
"Iya."
Karena Raini telah lelah berlatih, dia pergi menuju ke dapur untuk memasak sesuatu. Sebenarnya Raini sudah bisa memasak karena belajar dari ibunya. Dia kini sedang mencoba-coba resep buatannya sendiri. "Nagisa suka atau tidak, ya?" gumamnya.
Tak lama setelah itu, Raini pun kembali membawa makanan buatannya yang diletakkan di atas piring yang diletakkan di atas nampan. Makanan buatannya itu adalah bola-bola berwarna cokelat matang yang masih panas, bola-bola itu baru saja disiram air susu. Di sekitarnya dihiasi oleh tiga helai daun mint. Di sebelah piring ada dua gelas susu cokelat hangat.
"Nagisa," Raini memanggil. "Mari makan bersama," ajaknya.
Nagisa menoleh. "Wah, kelihatannya enak."
"Iya nih, ayo coba bersama. Aku juga baru pertama kali bikin yang seperti ini, aku sendiri yang membuat resepnya. Jadilah yang pertama mencoba, Nagisa."
"Terima kasih, tapi ini benar-benar terlihat enak. Apa bola-bola itu memang sengaja dibuat gosong?"
"Tidak, warnanya terlihat matang, bukan gosong. Coba saja, enak atau tidaknya bisa kau rasakan setelah kaumakan."
"Kau menyindir atau bagaimana? Iya iya, ini aku coba."
"Hehehe- "
__ADS_1
Nagisa pun mengambil satu bola cokelat. Lantas memakannya perlahan. Pada gigitan pertama, ada cairan berwarna krim yang meleleh di mulutnya. Sebenarnya itu cukup panas, tapi Nagisa seperti tidak merasa panas.
"Itu panas, lho ... " papar Raini.
Nagisa tak mendengarkannya. Dia malah keasikan menikmati makanannya, dia mengunyahnya oerlahan karena tak mau kenikmatan tersebut menghilang dengan cepat.
Setelah satu bola bolanya habis, Nagisa mulai terlihat sangat ceria. "Waaaahhhh ... Ini enak sekali, bagaimana caramu membuatnya? Beritahu aku! Beritahu aku!" desak Nagisa.
"Haha- seenak itu, kah?" tanya Raini balik.
"Iya, benar-benar enak. Ada cairan hangat yang sangat kental meleleh ketika aku menggigitnya. Apa itu?"
"Oh, itu keju."
"Keju?"
"Ya, keju. Aku lupa bagaimana cara menjelaskannya, tapi yang pasti itu adalah susu."
"Lah? Sudah ada susu, ditambah susu lagi?"
"Ya begitulah, tapi keju ini rasanya sedikit beda dengan susu, kan? Seperti sedikit lebih asin, iya kan?"
"Benar, tapi rasa asinnya itu enak sekali."
Mereka pun bersama dengan lahapnya. Bahkan bola-bolanya sampai habis tak bersisa. Piringnya pun sampai bersih tak menyisakan setetes air susu yang menempel.
Hingga hari sudah mulai petang. Pada waktu itu, Nagisa dan Raini baru selesai mengobrol di ruang tamu. Nagisa hendak pulang, dan kebetulan juga Zephyr baru saja pulang dari akademi.
"Lho lho, kenapa kau mau pulang, Nagisa?" tanya Zephyr yang masih mengenakan seragam akademi.
"Sudah petang, aku di sini juga hanya mau berlatih saja," jawabnya.
"Kau benar-benar memanfaatkanku."
"Loh, kan dulu kamu pernah bilang kepadaku sama kakak Lug, kalau kami bisa menggunakan halaman belakang rumahmu untuk berlatih kapan saja? Apa sekarang aku tidak boleh?"
"Boleh kok, boleh ... Apa kau tidak mau tinggal malam ini?"
"Tidak. Aku teringin pulang saja, kasihan Phieri di asrama sendirian. Apa kau tidak kasihan? Atau ... Kau mau menemaninya?"
Seketika itu juga wajah Zephyr memerah. "Kalau peraturan asrama memperbolehkan aku berkunjung di asrama para gadis, mungkin aku sudah sering berkunjung ke kamarmu sejak dari dulu. Kau lihat saja, penjaganya saja sangat mengerikan, dia sungguh sangat tega," terangnya malu-malu.
Nagisa tersenyum mengerikan. "Baiklah, besok mungkin aku akan membawa Phieri kemari. Nanti kalian berdua bisa mengobrol sepuasnya. Atau ... Tidur berdua, mungkin?" paparnya.
"Benarkah? Ah ... Kau bodoh! Jangan berpikiran mesum seperti itu!" seru Zephyr.
"Hahahahahaha ... Kau berkata, benarkah? Apa kau sungguhan berharap ingin tidur berdua bersama Phieri?"
"S-sudahlah! Pergi sana, mending kau pulang saja!"
"Huhuuu ... Aku diusir."
"Iya, aku mengusirmu! Sudah sana, pergi!"
Dari ruang tamu, Raini memperhatikan tingkah laku Nagisa dan Zephyr yang sangat lucu. Dia malah tertawa cekikikan.
Lalu Nagisa pun pulang ke asramanya dan di sana dirinya sudah ditunggu oleh Phieri yang baru saja selesai mandi–hendak memakai baju dan kebetulan saja Nagisa masuk. Pada saat ini Phieri sedang telanjang bulat karena tidak mendengar ketukan pintu Nagisa.
"AAAHH?!!! NAGISA?!!!" teriak Phieri yang langsung menyambar handuk di bawahnya dan mengangkat menutupi tubuhnya.
Nagisa terkejut juga mendengar teriakan Phieri. "Kau ini ... Kaget, tahu!" serunya.
"Justru aku yang kaget, kau masuk tanpa mengetuk pintu."
Tatapan mata Nagisa menyipit. Lantas ia mendekati teman sekamarnya itu dan membelakanginya, lalu meremas buah dada Phieri dari belakang.
"AH! JANGAN BEGITU ... NAGISA!!!"
"Kau ini masih muda, punya dada yang bagus, tapi telingamu buruk sekali!"
Dan pada akhirnya, mereka pun bergurau sedemikian rupa. Tapi mereka tidak melakukan hal yang tidak senonoh, mereka berdua hanya bercanda saja dan giliran Nagisa yang selesai mandi, Phieri hendak membalasnya. Tapi karena buah dada Nagisa belum tumbuh, maka Phieri tidak bisa berbuat apa-apa.
Sialan, kau Nagisa! Akan kubalas kau suatu saat nanti! Umpat Phieri kesal dalam hati.
__ADS_1
Bersambung!!