![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Rakt merasa enggan untuk mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melawan adiknya sendiri sebelumnya. Tapi sekarang ia tak tahu lagi siapa makhluk yang ada di hadapannya yang berpenampilan laksana Lug. Namun mau bagaimanapun dan seperti apapun, Lug tetaplah Lug, ia tidak akan menjadi siapapun sekarang ini.
Lug tahu bahwa kakaknya mengiranya adalah orang lain. Jadi ia memutuskan untuk bermain-main dengan kakaknya. "Kau tak mempercayaiku, ya?"
Rakt masih membungkam mulutnya sendiri. Tanpa berbicara pun Lug sudah tahu apa yang dipikirkan oleh kakaknya itu.
Bukannya curiga kepada Lug, justru Nagisa curiga kepada Rakt. "Kak, kenapa kakak Rakt seperti tidak mengenali adiknya sendiri? Apa dia memang terkadang lupa ingata seperti itu?" tanyanya sembari melemparkan wajah mencurigakan. "Itu seperti bukan kakak Rakt saja."
Teressa mengangkat pundaknya, ia merapatkan bibirnya dan tidak menjawab sedikitpun. Tapi gadis itu tetap berpikir hal yang sama dengan adiknya. Hanya saja Lug memang memiliki perkembangan yang keterlaluan.
Pada saat itu juga, Rakt melesat ke arah adiknya dengan sangat cepat. Gerakannya membentuk sabit dan condong di sebelah kirinya Lug. Lug telah bersiaga menggunakan kedua tangannya untuk menahan serangan kakaknya. Serangan dari Rakt sesuai dengan prediksi dari Lug, pukulannya diperkuat dengan sihir Kuku Beruang Api dan pada saat yang sama pula terbentuk lingkaran sihir yang memancarkan mana yang luar biasa di bawah kaki mereka. Itu membuat Rakt sedikit terpental ke belakang, tetapi dia terus kembali melesat dan menyerang adiknya. Lug berhasil bertahan dan selalu mendapatkan momen agar tidak disudutkan. Lingkaran sihir yang sebelumnya itu menghilang dengan cepat dan itu adalah sihir ...
"Kak," Lug memanggil dengan nada yang rendah, namun bibirnya tersenyum. "Akan kutunjukkan padamu sebuah sihir yang akan mengejutkanmu lagi."
Pada saat itu, Lug menahan pukulan berat dari Rakt dengan tangan kirinya. Dan tangan kanannya berhasil memukul mundur kakaknya. Akan tetapi itu memberi sebuah momentum terhadap Rakt, ia segera merapatkan jari jari tangan kanannya layaknya sebuah pisau. Alih-alih menghindar, Lug lebih memilih untuk bertahan. Dan alhasil dia terkena serangan dari kakaknya dan membuat lubang di dadanya.
"Urhg ... " Lug mengerang kesakitan. Namun hal mengejutkan terjadi padanya. Ketika dirinya jatuh tersungkur, tubuhnya memudar perlahan menjadi cahaya. Anehnya lagi, ketika tubuhnya ditusuk oleh Rakt barusan, dadanya tidak berdarah sama sekali.
"LHO, EH?! KAKAK LUG?!" Nagisa terkejut setengah mati dan panik tidak karuan melihat Rakt membunuh Lug tepat di depan matanya.
Namun Teressa hanya mendehem saja sambil menatap lamat-lamat ke arah Lug. Tubuhnya ... Kenapa itu seperti tubuh buatan, ya? Kenapa dia tidak berdarah? Batinnya.
Rakt menyadari apa yang terjadi. Lingkaran sihir yang sebelumnya muncul di bawah kakinya itu muncul kembali, dan Lug tiba-tiba muncul. Kedatangannya itu seperti dirinya hidup kembali. Ketika tubuhnya yang sebelumnya memudar, cahayanya berterbangan dan membentuk tubuhnya yang baru. Namun rupanya itu hanyalah sebuah boneka yang mirip dengan penampilan tubuhnya–dari kulit, pakaian, rambut, corak mata, dan lain-lainnya, semuanya tampak sama. Dan itu menggunakan penampilan luar Lug yang digunakannya untuk memberikan warna dan penampilan yang sama dengan dirinya terhadap bonekanya. Jadi boneka itu mengambil penampilan penggunanya, dan itu membuat penggunanya menghilang sampai boneka itu dibunuh yang akan mengembalikan penampilan penggunanya.
"Kak, itu adalah sihirku selanjutnya yang kuperlihatkan padamu," Lug mengungkapkan. "Sihir Boneka Tembus Pandang!"
Alasan kenapa sihir tersebut diberi nama sihir Boneka Tembus Pandang adalah karena sihir itu dibentuk, maka akan terbentuk boneka yang tembus pandang. Pengguna dapat mengendalikannya hanya dengan pikirannya, hanya saja semua tindakannya harus masuk akal dan tidak di luar kemampuan dari bonekanya. Serta sihir tersebut adalah sihir empat lingkaran yang dapat digunakan untuk mengecoh. Penggunanya juga dapat membuat boneka itu tetap tembus pandang, tapi itu takkan bisa memberi pengaruh karena itu masih berupa seperti udara, dan berbeda halnya ketika diberi penampilan maka akan dapat membuatnya menyerang lawan karena tubuhnya solid. Meski tubuhnya terkoyak sekalipun, itu tidak akan mempengaruhi tubuh penggunanya. Sebaliknya pun begitu, jika penggunanya sedang dalam dalam kondisi tembus pandang, ia takkan bisa memberikan kerusakan atau pengaruh apapun terhadap lingkungan di sekitarnya kecuali udara. Akan tetapi, penggunanya tetap dapat terkena serangan apabila mengandung mana dalam serangan tersebut.
Rakt semakin merasa bingung, namun ia tidak membuka mulutnya sama sekali. Walau begitu, dalam hatinya selalu bimbang memikirkan adiknya. Dia selalu berpikir jika yang di depan adalah benar adiknya, harusnya bersyukur dan bukan malah menyerangnya. Tapi jika itu bukan, maka tindakan yang dilakukannya ini sangat tepat. Dan sekarang Rakt sudah mulai kelelahan, tampak dari nafasnya yang terengah-engah dan keringatnya yang sudah membasahi bajunya seperti baru saja selesai mandi.
"Kak, kumohon berbicaralah," pinta Lug dengan tatapan rendah. Pada saat itu juga, ia yakin bahwa sangat sulit untuk meyakinkan kakaknya itu.
WUUUSH
Rakt kembali melesat dengan cepat. Gerakannya lurus seperti pedang yang akan menusuk perut Lug. Kakinya melangkah teramat cepat, derap langkah kakinya menggema di ruangan tersebut.
Pada saat itu, Rakt menggunakan sihir yang memunculkan es yang sangat dingin dan es tersebut berwarna ungu. Es tersebut membentuk dua bilah sabit yang memiliki pegangan bengkok pada pangkalnya. Sabit tersebut sepanjang lengannya. Ia memegangnya dengan ujung yang selaras dengan siku tangannya. Sihir tersebut adalah sihir Bulan Beku.
"Wah, sihir yang bagus kak," Lug memuji. "Sudah lama, ya, kau tak menggunakan sihir ini untuk berlatih melawanku. Sudah berapa tahun itu, kau ingat?"
__ADS_1
Sihir Bulan Beku adalah sihir yang dipergunakan sebagai senjata jarak dekat, efisien untuk melawan para penyihir yang hanya mengandalkan sihirnya semata. Dan Rakt berusaha menekan Lug dengan sihir tersebut.
Namun yang terjadi sekarang ini, Lug justru membalikkan keadaan. Ketika Rakt hendak melesat ke arahnya, Lug menggunakan sihir Anomali Distorsi untuk mengacaukan tekanan udara di sekitar kakaknya. Sihir Bulan Beku-nya langsung pecah pada saat memasuki area sihir Anomali Distorsi. Dan itu juga membuat Rakt menjadi sangat kacau–telinganya berdengung, penglihatannya menjadi kabur, dan pernafasannya sedikit sesak serta sekujur tubuhnya seperti sedang ditekan oleh sesuatu. Dan ketika dirinya berhasil meloloskan diri dari sihir tersebut, tubuhnya jatuh terbaring lemas. Memang sebelumnya Rakt sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan Lug, apalagi menggunakan sihir empat lingkaran yang teramat sangat menguras sumber mana miliknya.
Lug berlari ke arah kakaknya yang sudah hampir pingsan. Lug berusaha membangunkan kakaknya dengan mengguncangnya berkali-kali, tapi pada akhirnya Rakt pun pingsan.
*****
Beberapa jam kemudian, Rakt akhirnya terbangun. Pada saat itu, matanya masih sangat sayu,matanya tampak bingung dan melihat ke langit-langit, semuanya masih tampak samar pada penglihatannya. Rakt terbaring di atas ranjang di dalam sebuah ruangan, ruangan tersebut adalah kamarnya. Terdapat beberapa bola kaca yang di dalamnya terdapat bola api menyala, bola-bola itu adalah penerangan kamarnya dan diletakkan di setiap ujung ruangan–bola-bola itu seperti menempel di dinding bahkan di langit-langit pun tidak terjatuh. Kamarnya itu dindingnya berupa kayu yang telah diplitur. Ketika menoleh ke samping kanannya, Rakt melihat ada seorang gadis yang menemaninya, gadis itu duduk dan tertidur dengan membungkukkan kepalanya yang sedikit condong ke kanan sembari memeluk erat kedua kakinya yang ditekuk. Rakt mengenali siapa gadis itu, rambutnya panjang dan pirang, jelas itu adalah Teressa.
Melihat gadis itu tertidur menungguinya, Rakt berusaha bangun–hendak memindahkan gadis itu ke atas ranjangnya. Namun belum juga berdiri, seseorang masuk ke dalam kamarnya. Dan sekarang ini waktunya adalah tepat tengah malam.
"Kak, jangan bangun dulu, tubuhmu masih lemas," ucap seseorang yang masuk itu. Dan ternyata ia adalah Lug.
Rakt menoleh perlahan padanya. Penglihatannya masih sedikit buram, lantas menatap Lug lamat-lamat hingga pada akhirnya bisa melihatnya dengan jelas. "Lug?" suaranya parau dan seperti orang yang sedang kebingungan. Lalu ketika hendak mengatakan sesuatu, mendadak kepalanya menjadi sakit dan terasa seperti sedang berputar-putar. Tangannya langsung memegangi kepalanya.
Lug segera bertindak dan hendak membaringkan tubuh kakaknya. Tapi Rakt mengisyaratkan dengan tangannya agar Lug menjauh dan tak perlu membantunya. "Kak, apa tak apa-apa?" tanya Lug prihatin.
Rakt mengangguk perlahan, mulutnya bergerak seolah mengatakan, aku baik-baik saja. Tetapi Lug lebih tahu kenyataannya, hanya saja ia tak ingin terlalu memaksa. "Kak, jika ada apa-apa, katakan saja padaku. Aku akan di sini sepanjang malam ini," katanya.
Pada saat Lug berbalik dan hendak keluar, ia menyadari bahwa Rakt memanggilnya. Lantas ia berbalik lagi dan mendekati kakaknya.
Lug merasa berat hati untuk menjelaskannya, jadi ia hanya mengatakan, "Tadi kau mengamuk lagi." Jawabannya itu tampak seperti kebohongan. Tetapi Rakt mengingat kejadiannya, dan itu bukanlah kebohongan.
Sebelumnya ketika Rakt jatuh pingsan, ia mengamuk setelah tubuhnya diguncang oleh Lug. Dan dirinya membabi buta hingga hampir membunuh adiknya. Tapi seseorang yang sedang dalam kondisi seperti itu dan tidak sadar, ia tak akan bisa berpikir jernih dan hanya menunjukkan kebuasan layaknya hewan buas. Bahkan semua itu tidak dicerna oleh otaknya dan membuatnya lupa akan kejadian tersebut.
Tetapi Rakt justru mengingat hal terburuknya. "Lug, kutanya padamu sekali lagi," pintanya.
Lug mengangguk.
"Apa tadi kau- menggunakan sihir empat lingkaran saat melawanku?" tanyanya memastikan.
"Iya, dari itulah kau berusaha membunuhku. Aku tidak berubah menjadi siapa-siapa, kau mengerti, kak?" sahut Lug dengan maksud untuk menyakinkan kakaknya lebih lagi.
Pada saat itu juga Rakt masih bimbang dalam keyakinannya. Ia masih belum percaya penuh jika laki-laki di depannya adalah adiknya. Namun mau bagaimana lagi jika memang itu kenyataannya. Dan Rakt mulai percaya adiknya benar-benar telah menjadi jauh lebih kuat dibandingkan dengan dirinya. Perlahan terukir senyuman di bibirnya, senyuman yang sangat hangat, dengan tatapan penuh penyesalan, Rakt pun berkata, "Maafkan aku, Lug!" Dia segera bangun dan memeluk adiknya itu.
Lug membalas pelukan kakaknya, ia memejamkan matanya sejenak dan kemudian mengelus punggung kakaknya. "Tidak perlu meminta maaf, kau tak pernah bersalah, kecurigaan lah yang memakan dirimu itu," ucapnya.
Lalu Rakt melepaskan pelukannya. "Jangan berlagak seperti orang dewasa, kau ini!" Lantas berusaha menjepit hidung adiknya, namun Lug berhasil menebak apa yang akan dilakukan kakaknya.
__ADS_1
"Kau pikir aku tidak tahu? Wlee." Setelah meledek, Lug berlarian kecil dan pergi dari kamar kakaknya.
Rakt menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis. Pada saat itu juga ia kembali membaringkan badannya, matanya penuh harapan menatap bola kaca yang ada di ujung langit-langit. "Lug, tak kusangka ternyata kau berkembang secepat itu," gumamnya. "Bodohnya aku yang terlambat menyadarinya, seharusnya aku tidak berbuat seperti itu. Aku yakin kejadian itu akan membekas di kepalamu, sebab ini juga akan membekas di kepalaku."
Setelah itu Rakt menghadap ke dinding dan memeluk gulingnya yang berwarna putih domba dan kainnya sangat kusut. Ia pun tidur.
Sementara Lug kini sedang berada di luar rumah. Bulan sabit bersinar terang menerangi malam yang dingin ini. Angin sepoi-sepoi mengacak-acak rambut tipisnya Lug, dan malam ini benar-benar dingin. Meski begitu pada malam ini tidak akan turun hujan karena langit sangatlah cerah.
Lug menatap kedua telapak tangannya bergantian, lantas dari kedua tangannya itu muncul dua sihir yang berbeda. Biasanya orang-orang sangat sulit untuk membentuk dua buah sihir sekaligus, tapi tidak bagi Lug–baginya ini adalah suatu yang sangat sederhana. Lingkaran sihir di tangan kanannya berwarna hitam, sementara lingkaran sihir di tangan kirinya berwarna emas menyala, keduanya adalah sihir empat lingkaran. Muncul bola hitam dari lingkaran sihir yang berwarna hitam dan lima buah pedang berwarna emas yang melingkar, di ujung mata pedangnya terdapat garis putih yang menghubungkan satu pedang ke pedang yang lainnya serta memancarkan cahaya emas dan membentuk lapisan emas transparan yang mengisi sela di antara pedang pedang tersebut, sehingga ketika itu dalam posisi vertikal akan terlihat seperti perisai pedang setengah transparan. Serta pedang pedang itu muncul dari lingkaran sihir yang berwarna emas dan bernama sihir Perisai Pedang Emas.
"Sihir dapat tercipta dari lingkaran sihir, lingkaran sihir terbentuk dari mana," Lug berbicara sendiri seraya mengangkat tangan kirinya dan sentiasa memandangi sihir di atas tangannya itu. "Sihir tidak mempunyai batasan. Layaknya imajinasi, sihir bisa berwujud, bersifat, berfungsi, dan bahkan berlaku seperti apapun. Berbicara tentang sihir tak akan ada habisnya, itu seperti menghitung banyaknya bintang yang ada di langit."
Lalu Lug menurunkan tangan kirinya dan mendekatkannya pada tangan kanannya. "Jenis, nama, dan tipe sihir terlalu banyak untuk disebutkan , entah itu bawaan atau berasal dari latihan. Berbicara tentang dari mana sihir itu berasal, pasti ada metodenya. Metode yang digunakan sangatlah beragam."
Semua ucapan yang keluar dari mulut Lug itu bukan karena dia gila. Tapi semua itu adalah karena ia teringin untuk mencoba menjelaskan sesuatu.
Pada saat ini, dua lingkaran sihirnya itu mulai bereaksi ketika didekatkan. Lantas memudar dan berubah menjadi asap yang membentuk pusaran seperti saling menyatukan diri. Di saat yang bersamaan pula, bola hitam dan lima pedang barusan juga memudar, tiba-tiba saja keluar huruf huruf asing dari mereka ketika memudar. Tetapi semua itu memancarkan cahaya–kecuali yang berwarna hitam–memancar di wajahnya Lug.
"Hal seperti ini- menjadi luar biasa di tempat seperti ini," gumam Lug sembari menyeringai puas akan hasil yang didapatnya.
Setelah itu, semua sihirnya itu menghilang dan Lug menghadap ke belakangnya. "Kau lihat itu, Nagisa? Kau memperhatikannya, bukan?"
Ternyata ada Nagisa yang telah memperhatikan Lug dari belakang dan semua kalimatnya tadi adalah pelajaran bagi gadis itu.
"Ya, aku paham," sahut Nagisa.
"Kau juga sudah menguasai sihir Kebangkitan Pedang, bukan? Nah, kau bisa mempraktekkan metode barusan dengan sihir Cahaya Penembus. Lihatlah nanti setelah kau menguasai metodenya maka kau akan melihat sihir yang menakjubkan," jelas Lug.
Kemudian Nagisa langsung mempraktekkan apa yang dilakukan Lug barusan. Dia lekas membentuk dua lingkaran sihir secara bersamaan, tapi hasilnya lingkaran sihir yang pertama menjadi kacau dan meledak. Membuat Nagisa terjatuh dan memberikan luka pada tangan kanannya. "Kak, ini agak ... Sulit!" keluhnya.
Lantas Lug mendekatinya, membentuk lingkaran sihir dan menggunakan sihir Udara Ketenangan untuk menyembuhkan luka yang dimiliki Nagisa.
"Pertahankan konsentrasimu!" tutur Lug dengan nada lembut. "Sudah bagus kau tahu bagaimana cara untuk mempelajarinya, yaitu membentuk lingkaran sihirnya satu persatu. Jika ingin membentuk keduanya, pertahankan aliran mana yang ada pada lingkaran sihir pertama. Kalau terasa sulit, lihatlah lingkaran sihir yang pertama terlebih dahulu, itu akan meningkatkan dan mempertahankan konsentrasi. Dirasa sihir kedua sudah setengah jadi, alihkan pandanganmu ke lingkaran sihir berikutnya. Untuk tetap mempertahankan konsentrasi, tatap kedua sihirnya secara bersamaan atau bergantian. Ingat! Tetap konsisten!"
Pada saat yang sama, Nagisa melakukan apa yang dikatakan oleh Lug. Dia melihat lingkaran sihir pertama dan berhasil mempertahankannya hingga beberapa detik, tapi pada akhirnya sihir keduanya kacau karena aliran mananya tidak konsisten dan tak beraturan. Nagisa tidak mengeluh lagi setelah kegagalan keduanya. Latihannya lebih intensif dan terus mencoba untuk bisa.
Lug tersenyum senang melihat usaha Nagisa. Ia juga teringat akan sesuatu yang mungkin akan membuat gadis itu senang. "Kalau kau berhasil melakukannya sebelum hari ulang tahunku, meskipun tidak sempurna, akan kuterima ajakanmu untuk berkencan denganku," Lug menantang.
Kalimat itu benar-benar mengejutkan Nagisa, berubah menjadi tenaga pendorong semangatnya untuk berlatih lebih keras dan giat. Tidak banyak bertanya, Nagisa langsung berlatih pada saat itu juga.
__ADS_1
Bersambung!!