Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 46 - Dua Ghoul


__ADS_3

"Wah ... Si dingin berbicara ketus," Wina menyindir sambil melirik Maxleen.


Maxleen membalas lirikan tersebut, tapi dia tak menghiraukan ucapan itu. Kemudian pria itu melipat kedua tangannya dan menatap dengan mata dinginnya ke arah Lug.


Tetapi Lug hanya merespon dengan seringai yang menantang. "Kau menyuruhku kembali? Sekarang aku menyuruhmu untuk kembali, bagaimana?!" serunya.


Maxleen tidak menjawab, pandangannya sama sekali tidak berubah dan tetap sama.


"Kau diam saja?" tanya Lug. "Jangan jadi sok pendiam dan menjadi orang dengan kepribadian yang dingin, kau punya mulut, kan?!" ucapannya memang sangatlah memprovokasi.


Hal tersebut sampai membuat Zephyr cemas. "Lug, apa kita memang harus memprovokasinya?" tanyanya resah dengan suara berbisik.


Maxleen tidak berkutik sedikitpun, wajahnya masih datar seakan suara itu hanya berlalu lalang di telinganya.


Lug tersenyum menyerah dan mengangkat kedua tangannya. "Aku menyerah, kau bukan orang yang mudah untuk diprovokasi, tapi maaf- aku tetap saja akan maju, kalian tak bisa menghentikan kami!" tegasnya.


Alis Maxleen mulai mengerucut ke bawah.


"Jangan melakukan sesuatu yang tidak perlu, nak!" tegas balik dari Axlon. Dia menciptakan sebuah bola lagi, namun itu berada di atas telapak tangannya.


Lug diam saja dengan wajah datarnya. Matanya berbinar dengan gemerlap sinar ungu.


Wina menyeringai. Tiga segitiga di belakangnya itu berputar dengan sangat cepat–itu berwarna emas dan ketika berputar memancarkan cahaya emas yang sangat terang. Dan ketika itu juga, tubuh Wina berubah menjadi kabut emas dan menghilang dengan cepat.


"Kalian tak perlu memberikan perlawanan yang sia-sia."


Tiba-tiba saja Wina sudah berada di belakang Lug dan tubuhnya kini berwujud kabut emas.


Lug menyeringai.


"Kenapa kau tersenyum?" tanya Wina terheran-heran. "Apa kau berencana ingin melawa- "


Ucapan wanita itu berhenti, tapi tampaknya dia kesakitan karena suatu hal. Dan ternyata tubuh kabut emasnya itu terbakar oleh api yang sangat ganas hingga membuat wujudnya itu tak mampu bertahan lama. Wina menghilang dan kembali ke tempatnya, namun dia kini masih panik karena seluruh tubuhnya masih merasakan sensasi panas yang sangat menyiksa. "APA YANG KAULAKUKAN PADAKU?!!!" bentaknya sambil mengusap tangan dan wajahnya yang mulai memerah.


Lug mengangkat tangannya tinggi-tinggi, dia menyeringai jahat, lantas menghantamkan tangannya ke tanah.

__ADS_1


BLAAARR


Retakan hebat muncul selepas hantaman tersebut. Bersamaan dengan itu muncul batu yang menyeruak dari bawah tanah dengan kobaran api di setiap retakan di sekitarnya, mereka mengarah ke arah keempat Ranker Langit.


Segera keempat Ranker tersebut melompat mundur, hanya saja Wina terjatuh karena masih merasa sakit pada sekujur tubuhnya.


Ketika mendarat, wanita itu tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Sehingga ia terjatuh seperti bayi yang sedang berusaha untuk merangkak. Wina memuntahkan darah, dan darahnya itu sangat panas hingga mengeluarkan uap. Dia mengerikan! Apa benar dia itu manusia? Apa lelaki itu adalah sesosok naga? Ketika kusentuh punggungnya, itu terasa seperti sisik yang sangat keras dan tajam, serta sangat panas. Tapi- apa benar naga itu ada? Batin Wina penuh dengan pertanyaan yang membingungkannya.


Axlon merasa khawatir dengan kondisi Wina sekarang ini. Itu karena mereka berdua saling menyukai satu sama lain. "Wina, apa kau baik-baik saja?!" tanyanya mencemaskan.


Wina sangat ingin sekali menjawab bahwa dirinya sedang dalam keadaan terburuknya, tapi bibirnya masih terus meringis karena rasa sakit yang tak tertahankan. Dia bahkan tak bisa bangkit namun enggan untuk tumbang. Ketika itu juga, segitiga lain yang berputar di punggung Wina itu bersinar. Di sekujur tubuhnya dilapisi oleh lapisan cahaya putih tembus pandang.


Viordan dan Maxleen juga pastinya mencemaskan Wina.


Viordan membawa sebuah tongkat kecil berwarna merah gelap di punggungnya, dan ketika ia mengambilnya, tongkat itu berubah menjadi sebuah kapak yang cukup besar. Kedua bilah kapak tersebut memiliki sisi yang bergerigi dan tajam, dan di antara keduanya itu terdapat akar akar hitam yang melilit benda yang tampak seperti berlian berwarna merah gelap.


Dan pada saat yang bersamaan, Lug menoleh ke arah lain, seakan ada sesuatu yang akan segera muncul.


"Ghoul!" sebutnya.


Pikiran Viordan sempat teralihkan ketika mendengar kata tersebut, tetapi dengan cepat dia menggelengkan kepalanya karena menurutnya itu hanyalah sebuah pengalihan saja.


Tiba-tiba saja Wina berteriak.


BLAAARR


Ada dua ekor ghoul yang sangat mengerikan datang dari belakang keempat Ranker tersebut. Ghoul itu memiliki enam mata yang sangat mengerikan. Ghoul itu menghantam tanah teramat keras hingga melemparkan keempat Ranker tersebut.


Wina terguling-guling jauh karena dirinya yang tak berdaya, dan dengan sangat sigap Axlon menolongnya.


Maxleen dan Viordan mendarat dengan selamat, mereka ternyata langsung menyadari ketika mendengar teriakan Wina, dan refleks mereka benar-benar cepat. Mereka berdua tidak terkena hantaman dari ghoul itu, mereka melompat menjauh.


"Aku baru pertama kali melihat ghoul, dan rupanya- iuuh ... Itu sangat menjijikkan!" seru Raini sembari memasang wajah jijik dan dia menutupi bibirnya dengan tangan kirinya.


Axlon merasa sangat marah ketika melihat kekasihnya itu terluka–terlihat dari tatapan matanya yang sangat mengerikan.

__ADS_1


Lelaki itu menggunakan sihirnya secara besar-besaran untuk mengekang pergerakan kedua ghoul itu. Dan ada dua bola yang muncul membungkus kedua ghoul itu, bola bola itu sama seperti bola yang mengurung Lug sebelumnya.


Maxleen tidak tinggal diam begitu saja, dia menggunakan sebuah sihir yang membentuk sepasang sayap berapi jingga di punggungnya dengan kobaran yang sangat mengerikan.


BWOOOOSH


Lelaki itu melesat layaknya burung phoenix yang membelah udara. Di kedua tangannya tercipta sarung tangan api dengan kuku yang besar dan tajam, apinya berkobar-kobar sedemikian dahsyatnya. Maxleen membentangkan tangan apinya itu seakan sedang mempertontonkan kekuatannya yang sebenarnya.


Sementara Lug menyeringai seakan sedang melihat tontonan lucu yang tidak seberapa. "Mereka pamer apa?" tanyanya sambil menoleh ke arah Nagisa.


Nagisa membalasnye dengan senyuman tipis yang halus. "Mungkin mereka sedang tidak serius," sahutnya.


"Masuk akal," sahut balik Lug.


Pada saat ini, kedua ghoul yang terkurung oleh sihirnya Axlon telah berada tepat di depan matanya. Dan ketika dia hendak mencabik-cabiknya, tiba-tiba saja ...


SRAAAASSH


WUUUSH


BWOOOOSH


Sesuatu melintasi Maxleen dengan sangat kecepatan. Dia yakin bahwa kecepatannya melebihi kecepatan suara.


Itu adalah tebasan yang berupa api yang sangat tajam. Tebasan itu berhasil menebas kedua ghoul itu hingga bahkan sihirnya Axlon pun ikut terbelah. Di belakang kedua ghoul itu muncul ledakan kobaran api yang membakar hangus tanah yang terkena olehnya. Kedua ghoul itu pula beserta sihirnya Axlon ikut terbakar habis. Kobaran api itu bahkan tak menyisakan debu dari hangusnya kedua iblis raksasa itu.


Ketika menghadapi ke belakang, Maxleen melihat Lug memperlihat jari-jarinya yang terbakar dengan kobaran yang membentuk kuku-kuku tajam.


"Sangat mudah, bukan?" tanya Lug dengan nada menyindir, namun wajahnya terlihat datar.


Maxleen menjadi sangat benci dengannya, rambutnya itu tiba-tiba saja berubah menjadi api dan sedikit memanjang. Dan muncul tiga ekor api panjang di belakang pinggangnya.


"Burung phoenix, ular naga, dan kuda pegasus! Ketiga itu adalah legenda yang selalu diceritakan oleh orang-orang tua, tapi- mereka memanglah ada! Mereka hanya tidak hidup berdampingan dengan kita saja, sehingga menganggapnya hanya berupa legenda," jelas Lug berbicara sendiri ketika melihat wujudnya Maxleen.


Maxleen tidak berbicara sepatah katapun ketika mendengar ucapan yang panjang itu.

__ADS_1


Lug sedikit benci dengan orang yang hanya diam ketika sedang diajak berbicara. "Baiklah, kita lihat saja! Apakah burung phoenix bisa mengalahkan naga!" serunya dengan wajah yang sedikit bersemangat. Terbentuk senyuman tipis pada ujung bibirnya.


Bersambung!!


__ADS_2