Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 54 - Kesedihan Mendalam


__ADS_3

Masih pada hari yang sama, dilakukan penyelidikan terhadap apa yang sedang terjadi. Beberapa prajurit diinterogasi dari siang dan malam, bahkan orang yang keluar masuk ke dalam kota kerajaan.


Hingga keesokan harinya, Zephyr, Raini, dan Nagisa mendapatkan panggilan ke asosiasi keamanan kerajaan. Tempatnya berada di dekat taman kota.


Semalaman Nagisa tinggal di kediaman Azamuth. Dia tidur bersama dengan Raini. Di kamar mereka berdua masih terus menangis sampai tertidur dengan sendirinya.


Raini memang masih sangat shock akan hilangnya Lug, tapi dia masih mau diajak berbicara. Berbeda dengan Nagisa yang sepertinya sudah sangat susah dan bahkan hampir tak bisa diajak berbicara, bahkan ia pun hampir tak mau makan dan minum. Kondisinya itu sangat mengkhawatirkan.


Mereka pun sampai di asosiasi. Segera mereka bertiga masuk ke gedung yang cukup besar di hadapan mereka dengan plester berwarna abu-abu. Pada saat itu juga, beberapa orang keluar dari gedung tersebut.


Sepertinya kami akan diinterogasi, mungkin mereka yang keluar itu juga baru saja selesai diinterogasi, batin Zephyr.


Tepat setelah itu, ada seorang penjaga yang membawa mereka ke tempat di mana mereka bertiga akan diinterogasi. Mereka diarahkan ke lantai tiga.


Sesampainya di ruangan interogasi, beberapa penjaga langsung menutup pintu dan menjaganya dengan sangat ketat.


Zephyr, Raini, dan Nagisa dipersilahkan untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Di sana ruangannya cukup gelap dan hanya ada satu obor saja di atas pintu masuknya. Ada sebuah meja di depan mereka bertiga, dan ada juga seorang pria yang sedang duduk menyandarkan kedua sikunya di atas meja dan menutupi mulutnya dengan telapak tangannya yang menggenggam satu sama lain. Tatapannya juga tampak sangat dingin.


"Apa kalian tahu kenapa kalian dipanggil ke sini?" tanya pria itu dengan nada datar.


Zephyr menelan ludah, ia mengangguk. "Ya, kami tahu kenapa kami dipanggil ke sini."


"Baiklah, karena kalian sudah tahu, aku tak akan berbasa-basi, sekarang aku akan menuju pada inti pertanyaannya," ujar pria mengerikan itu yang namanya ternyata adalah Logan Eden–tertera pada papan nama kecil di dadanya. "Apa yang kalian lakukan kemarin dengan keluar dari kota kerajaan? Dan lagi, kenapa kalian pulang secepat itu tepat setelah ledakan yang terjadi? Ceritakan sedetail mungkin!"


"Ya, kami ... Kami pada saat itu hanya sedang berjalan-jalan saja untuk pergi ke desa Nedhen, tempat temanku ini tinggal," jelas Zephyr seraya menunjuk Nagisa yang diam seribu bahasa dengan tatapan kosong.


"Lalu?! Jelaskan secara lengkap!"


"Dan di tengah perjalanan, tiba-tiba saja sudah ada ledakan itu. Kami memutuskan untuk kembali saja, dan ya ... "


"Kami dihadang oleh dua orang perampok."


Tiba-tiba ada seseorang yang memotong penjelasan Zephyr. Dia adalah Nagisa yang rupanya sudah cukup muak dengan alasan yang dibuat-buat itu, meskipun Zephyr belum menyelesaikan alasannya.


"Ini ... Kenapa kalian sepertinya sedang tidak searah, ya?" tanya Logan sambil melirik Nagisa yang tidak peduli. "Jangan memberikan alasan yang tidak masuk akal- satu persatu!"


"Dua perampok itu ternyata adalah penyembah dewa iblis yang bersembunyi di tengah hutan. Mereka menggunakan berkah sihir dari dewa mereka sehingga memojokkan kami. Dan pada akhirnya kami memberikan perlawanan, tapi kakakku, Lug- dia ... Dia ... "


Tak sampai selesai Nagisa menjelaskan dia menangis tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Wajahnya tetap datar meskipun air matanya mengalir layaknya air terjun.


Logan Eden tak mengerti kenapa gadis itu menangis, tapi dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya pada cerita gadis itu.


Zephyr tampak sangat cemas karena tak mungkin menghentikan ucapan Nagisa. Itu karena akan sangat menunjukkan bahwa mereka lah pelaku yang menyebabkan kehebohan kemarin. Sebenarnya Zephyr sudah sempat membicarakan hal ini dengan Raini, tapi gadis itu juga tidak terlalu memperhatikannya. Dia juga sangat sedih atas hilangnya Lug.


Nagisa pun melanjutkan ceritanya, "Dia berhasil menyingkirkan satunya, tapi kami malah kesulitan, dan kakak Lug membantu kami. Tapi ketika itu ... Orang itu meledak. Mereka berdua pingsan dan aku membawanya. Tiba-tiba kakak Lug dicakar, dia kutembak dengan sihir yang masif dan BUUMM! Hilang. Aku tak tahu- dia di mana, kami pun pulang."


Penjelasan Nagisa awalnya cukup mudah dipahami, hingga pada akhirnya sedikit berantakan.


"Jelaskan secara detail kejadiannya! Ceritamu terlalu tidak jelas," ujar Logan.


Nagisa diam saja. Tatapan matanya tetap kosong dan datar, ia seperti tidak berkedip sama sekali. Serta mulutnya tertutup rapat.


"Hoi!" seru Logan. "Kau dengar atau tidak?!"


Gadis yang diseru itu tidak menjawab sama sekali, wajahnya juga tidak berubah sama sekali. Itu membuat Logan semakin kesal.


"BOCAH!" pria itu langsung berdiri dan mencengkeram kerah bajunya Nagisa yang lusuh sampai gadis itu terangkat. "JAWAB AKU!!!" bentaknya.

__ADS_1


Tatapan Nagisa mulai bergeser kepada Logan. "Apa maumu?!" serunya kesal.


Wajah gadis itu malah berubah menjadi sangat mengerikan. Angin yang ada di dalam ruangan itu berhembus kencang dan berputar-putar di sekitar gadis itu. Nagisa juga mulai mengepalkan tangannya karena kesal.


Gadis ini ... Logan menjadi sedikit takut. Pria itu pun melemparkan Nagisa.


BLAAARR


"NAGISA!" teriak Zephyr.


Gadis itu terlempar hingga menghancurkan dinding keluar dari ruangan tersebut. Namun Nagisa sama sekali tidak terluka, beberapa orang hendak membantunya, tapi tiba-tiba saja muncul bola-bola kecil di samping mereka dan meledak yang kemudian membutakan mata mereka.


"AAA ... MATAKU!"


"APA INI?! MATAKU BUTA!!!"


Logan hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Dia mulai berkeringat dingin melihat seorang gadis yang menatapnya dengan mata yang sangat mengerikan layaknya sedang ditatap oleh monster mengerikan.


Nagisa berjalan mendekati pria besar itu tanpa rasa takut. Sementara Logan masih berdiri menatap gadis itu dengan mata yang terlihat seperti memikirkan ribuan hal dalam satu waktu.


"Tunggu tunggu! Jangan melakukan hal frontal yang mungkin akan sangat merugikan dirimu sendiri!" suruh Logan.


"Kau sangat tidak masuk akal! Kau melemparku sampai dinding itu hancur, tapi aku tidak boleh berbuat sesuatu?!" seru Nagisa dengan nada datar.


BLAAARR


BLAAARR


BLAAARR


Dengan sangat cepat dan sangat tiba-tiba, Nagisa mengangkat Logan dan membantingnya ke lantai dengan cara yang sama seperti pria itu melemparnya. Logan bahkan jatuh menembus lantai di bawahnya hingga menghantam lantai dasar. Dia pun pingsan.


Gadis itu tidak bereaksi apapun. Wajahnya masih tetap datar dan tatapan matanya kosong.


SRIIING


Tubuh Nagisa memancarkan cahaya. Semakin lama intensitasnya semakin meningkat, itu membuat silau mata semua orang yang menatap ke arahnya.


PUK


Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Nagisa, itu adalah Raini yang hendak menenangkannya. "Sudahlah, Nagisa- tolong tenanglah, aku mengerti perasaanmu," gadis itu berkata dengan tatapan kosong, namun terlihat kesedihan pada garis bibirnya. Apalagi air matanya itu yang henti-hentinya mengalir layaknya sungai yang mengalir sangat deras.


Di saat itu, Nagisa mulai tenang. Mereka saling berpelukan dan pergi meninggalkan ruang itu yang dipenuhi prajurit buta. Zephyr berlari kecil mengikuti mereka berdua.


Pada akhirnya, mereka bertiga turun dan tidak ada seorangpun yang berani menghentikan mereka. Segera mereka bertiga pulang dengan jalan kaki–sedari awal mereka memang tidak membawa pedati.


Sesampainya di rumah Zephyr, Nagisa langsung pergi menuju ke kamarnya Raini. Tapi pemilik kamar memiliki pemikiran yang berbeda.


Aku tak akan pernah mengecewakan Lug sampai kapanpun meskipun dia sudah ... Batin Raini sedih yang sedang berjalan menuju ke halaman belakang. Gadis itu hendak melatih kemampuannya dalam memanipulasi kekosongan seperti yang tertulis pada buku pemberian dari Lug.


Latihannya tak kunjung usai meskipun matahari telah menyembunyikan dirinya di belahan dunia yang lain.


Di kamar batu, Raini dikejutkan oleh Nagisa yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa bersuara sama sekali. "Nagisa?" ucapnya heran, namun ia tersenyum tipis melihat gadis itu menghampirinya.


Nagisa tidak berbicara apapun. Mulutnya tertutup rapat, di sekitar matanya berwarna hitam, rambutnya acak-acakan, dan pakaiannya juga sangat kusut. Ia tiba-tiba saja melakukan kuda-kuda dan berlatih seperti dulu yang biasanya bersama dengan Lug. Kuda-kudanya kini jauh lebih baik dari sebelumnya, meski tatapannya kosong, tapi jika orang lain melihatnya akan seperti gadis yang sedang marah.


Nagisa pun memulai latihannya. Setiap gerakannya sangatlah halus dan teratur, namun itu sangatlah cepat dan kuat.

__ADS_1


Raini kagum melihatnya, bahkan matanya sampai membayangkan bahwa yang sedang berlatih di hadapannya itu adalah Lug.


Semakin lama gerakan Nagisa semakin cepat, bahkan mata Raini sampai tidak bisa mengikutinya.


Sementara Nagisa sangat ingin mencoba gerakan yang pernah diajarkan oleh Lug, gerakan paling sulit untuk dilakukan, gerakan itu bernama Kepakan Burung Hantu. Sebenarnya gerakan Kepakan Burung Hantu bukan gerakan yang terdiri atas langkah-langkah khusus, melainkan sebuah metode di mana tiap gerakan yang dilakukan oleh Nagisa nantinya tidak mengeluarkan suara sama sekali. Serta gerakannya harus sangat cepat.


Hampir setengah jam berlalu, Nagisa melatih gerakan Kepakan Burung Hantu, tapi tak ada perkembangan sedikitpun darinya. Raini juga sudah kembali melatih kemampuannya memanipulasi kekosongan.


WUUUSH


Tiba-tiba saja ada angin berhembus di telinga kiri Raini. Dia menoleh ke arah kirinya, lantas menoleh ke belakang, ada Nagisa yang mengacungkan tangannya padanya.


"Nagisa?" Raini bingung.


Nagisa langsung berpose seperti orang yang hendak bertarung. Ia menyiapkan kuda-kudanya.


Dia mengajakku bertarung? Baiklah, seperti itu jauh lebih baik, dia sudah lumayan bisa diajak berkomunikasi, batin Raini seraya tersenyum mungil.


Raini pun mengacungkan tangannya, lantas menggoyangkan telapak tangannya mengisyaratkan kepada Nagisa untuk bergerak terlebih dahulu.


WUUUSH


BUGH


"UGH!"


Tiba-tiba saja Nagisa melesat ke arah Raini dengan sangat cepat. Raini tak bisa menghindari serangan yang dilancarkannya itu, sehingga mengenai perutnya. Gadis itu terpukul mundur.


Nagisa bergerak lagi dan hendak melayangkan tinjunya di wajah Raini.


Tapi Raini malah memalingkan wajahnya, memejamkan matanya dengan sangat erat, dan bibirnya meringis sampai memperlihatkan barisan giginya.


WUUUSH


Hanya ada angin yang berhembus di wajah Raini, ternyata Nagisa tidak melanjutkan serangannya.


"Cobalah untuk menghindar," ucap Nagisa lirih, suaranya sangatlah pelan.


Tapi refleks Raini tidaklah secepat gadis itu, apalagi pengalaman bertarungnya yang sangatlah kurang. Sehingga Raini hanya bisa menghindari serangan jarak jauh, dan untuk serangan jarak dekat adalah kelemahannya sekarang ini.


Lagi-lagi Nagisa bergerak dan dia sama sekali tiba memberikan aba-aba. Sementara Raini masih memegangi perutnya yang kesakitan.


Serangan berikutnya tidak ada jeda sama sekali. Raini tidak bisa mengindari satupun serangan yang dilancarkan oleh Nagisa. Seolah dia sedang disiksa di sana.


Beberapa saat kemudian, Raini menyerah. Sekarang dia baru saja terpukul dan terjatuh, ia terduduk di lantai dengan seluruh tubuhnya yang kesakitan karena baru saja dipukuli. "N-Nagisa! C-cukup ... Aku tidak kuat lagi," ucapnya terbata karena kesakitan.


Nagisa berhenti pada saat itu juga.


Tak lama kemudian, Raini bangun. Dia bertanya kepada Nagisa, "Apa kau selalu berlatih seperti ini bersama dengan Lug?"


Nagisa terdiam, di kepalanya terlintas banyak kenangan ketika sedang berlatih dengan Lug. Semasa dirinya masih kecil dulu, sampai latihan mereka yang terakhir berada di halaman belakang rumahnya Zephyr. Gadis itu menjadi sedih karena mengingat kenangan bersama dengan Lug kembali. Dan akhirnya dia mengangguk. "Ya, dulu kami selalu berlatih seperti ini," jawabnya lirih dengan senyuman tipis. Tatapan matanya seperti orang yang sangat mengantuk.


Kebersamaan seperti itu- memang sangat berat untuk dilepaskan. Mungkin dialah orang yang paling merasa berat ditinggalkan oleh Lug, selain kedua orang tuanya Lug, batin Raini.


Mereka bisa saling memahami satu sama lain sekarang ini, sangat berbeda ketika masih ada Lug di sana. Seakan Nagisa akan menjadi terlalu protektif terhadap Lug dari Raini. Tapi sekarang Nagisa dan Raini saling berpelukan. Entah ini memang rencana Lug ataupun tidak, tapi mereka berdua tampak jauh lebih akur dari yang dulu. Mungkin saja jika Lug masih ada, sikap Nagisa masih akan sama seperti sebelumnya.


Satu jam kemudian, latihan mereka berakhir. Mereka berdua langsung kembali ke kamar dan mereka pun tidur bersama. Mereka tidur di atas ranjang yang sama.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2