![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Pada saat insiden Nagisa menembakkan sihir enam lingkaran, itu juga disaksikan oleh beberapa warga dari desa Nedhen. Banyak dari mereka tidak percaya mendengar orang-orang yang menceritakan kejadian tersebut.
Empat hari kemudian, berita tersebut terdengar sampai ke telinga Rakt.
"Wah, benarkah yang seperti itu ada?" gumam Rakt setelah mendengar kabar itu dari beberapa pedagang di bazar.
Kini dia sedang pulang.
Matahari sudah menyentuh cakrawala barat–garis yang menghubungkan bumi dan langit di barat. Sinarnya juga berubah menjadi merah, suasananya sangat nikmat untuk dibuat bersantai dan beristirahat.
Meski Rakt sedikit tidak percaya dengan berita itu, tapi dia mempunyai firasat yang buruk. Entah kenapa aku merasa tidak nyaman- ah, mungkin aku sedang lelah karena bekerja seharian penuh tanpa bantuan Teressa, batinnya seraya menggeleng.
Sesampainya di rumah, dia segera masuk dan melihat sang istri sedang memberikan asi kepada anaknya di kamar. "Wah, papa sudah pulang," kata Teressa. "Kayaknya papa juga mau minum susu, hehe."
"Ah, kau ini ... Mau dong, hehe," Rakt menggoda.
"Ih, ya kali jatah anaknya mau diambil juga sama papanya, jangan serakah gitu dong, udah jadi papa juga."
"Kalau dikasih cuma-cuma juga mau."
"Haha, bisa saja."
Setelah itu, Rakt duduk di samping Teressa. "Sebenarnya aku baru saja mendengar sebuah berita, ada sesuatu yang menghebohkan," ceritanya.
Teressa penasaran. "Oh, ya? Apa itu?" tanyanya.
"Katanya ada seseorang yang menggunakan sihir enam lingkaran dan menghancurkan seluruh hutan sejauh ribuan regrit. Awalnya aku tidak percaya, tapi yang mengatakan itu bukan hanya satu. Berita ini juga sudah menyebar ke seluruh desa."
"Wah, di mana itu? Dahsyat sekali."
"Iya, katanya ada yang bilang di dekat perbatasan kota kerajaan bagian selatan. Bahkan ada yang mengatakan kalau sihir itu mengenai desa Nedhen, sebagian besar dari desa ini bisa saja runtuh."
"Tolong jangan katakan itu, aku tak bisa membayangkan desa Nedhen hancur, itu sangat mengerikan. Nanti aku bisa sedih."
"Baiklah baiklah, maafkan aku."
Tiba-tiba terlintas Nagisa di kepala Teressa. Wanita itu masih sangat mengkhawatirkan adiknya, itu karena dirinya tak pernah menerima kabar tentang Nagisa. Semoga di sana kau baik-baik, Nagisa, batin Teressa.
Dan juga tiba-tiba terlintas pikiran yang tidak mengenakkan Rakt tentang Lug. Lug, apa kau baik-baik saja di sana? Aku merasa resah karena kau tidak pernah berkunjung ke desa, kuharap kau bisa pulang dan melihat keponakanmu, batinnya.
Lalu, Rakt pergi mandi. Hari juga sudah petang. "Baiklah, aku mau pergi mandi saja," ucapnya.
"Oke, basuh seluruh tubuhmu sampai bersih. Buat dirimu sendiri nyaman," ucap Teressa yang sudah selesai menyusui anaknya, kini ia juga hendak tidur bersama anaknya karena dirasa langit sudah gelap–meskipun belum terlalu larut.
Tak lama kemudian, Rakt pun keluar dari kamar mandi. Melihat Teressa yang sudah tertidur pulas bersama anak mereka, membuatnya tersenyum senang. Rakt segera membenarkan posisi tidurnya Teressa, begitu juga anaknya agar tidak terjatuh dari ranjang.
Setelah itu, Rakt mengambil kasur tipis yang digulung, itu berada di bawah ranjang. Lalu dengan kasur itu, dia tidur di samping bawah ranjang istrinya.
*****
Beberapa hari kemudian, Rakt sedang membantu seorang pria tua untuk menutup kedai orang itu sekaligus membersihkannya. Dia dibayar 150 koin perak.
"Hei, Rakt," panggil pria tua itu. Dia menelan ludah ketika hendak melanjutkan ucapannya.
"Ada apa, pak?" tanya Rakt.
__ADS_1
Pak tua itu sangat ingin sekali melupakan obrolannya itu, tapi semua ini sudah sangat terlanjur. Rakt juga sudah menantikannya.
"Begini, Rakt- kau sudah dengar kejadian kemarin yang sangat heboh itu?"
"Ya, aku sudah mendengarnya. Memangnya kenapa?"
"Apa kau tahu kabar ini? Sebenarnya- adikmu tewas pada kejadian itu."
BRUUK
Pada saat itu, Rakt sedang membawa sebuah bangku untuk dibawa ke dalam sebuah gudang, tapi dia menjatuhkannya. Matanya melotot, bengong dengan perasaan kacau yang tidak karuan. Dan pada saat itu juga, mata kirinya mulai memerah.
"Rakt, kumohon- jangan mengamuk di sini," pria tua itu menyadari mata Rakt yang memerah.
Rakt masih terdiam, kedua matanya mulai memerah.
"RAKT!"
Tiba-tiba saja ada seseorang yang meneriakinya dan memeluknya dari belakang. Pelukannya itu sangat erat dan hangat. Ternyata itu adalah Teressa yang telah mendengar kabar kematian Lug. Wanita itu memeluknya karena sedang berusaha menenangkan suaminya itu. "Tolong, Rakt- tenangkan dirimu ... Kumohon," pinta Teressa.
Pada saat itu juga, Rakt menangis sejadi-jadinya. Satu desa bahkan sampai mendengar tangisannya itu.
Teressa juga turut bersedih kala itu.
Dari rumah, Nivi dan Vans juga mendengar suara tangisan Rakt. Mereka berdua juga sudah mendengar kabarnya, namun enggan memberitahu anak sulungnya itu karena takut bila anaknya itu mengamuk. Kedua orang tua itu juga sedang menangis, Vans sedang memeluk Nivi di kamar. Bahkan seluruh pakaian wanita itu hampir basah kuyup akibat tangisannya sendiri sedari pagi.
Pak tua yang dibantu Rakt itu sedikit merasa lega. Untung saja istrinya itu datang, jika tidak- tempat ini bisa saja hancur di tangan Rakt, gumamnya dalam hati.
Rakt menahan amarahnya untuk Lug, adiknya. Dia tak mau di hari di mana dia tahu adiknya tewas pada kejadian yang dahsyat itu dipenuhi oleh amarah dari kutukan yang selama ini hinggap di tubuhnya.
Di malam harinya, Rakt sama sekali tidak tidur. Teressa mencemaskan kesehatan suaminya itu. "Sayang, kau tidak tidur?" tanya seraya menoleh ke bawah.
"Tidak," jawab Rakt sembari memalingkan wajahnya.
Kesedihan Teressa semakin besar karena melihat suaminya yang terus-terusan bersedih.
Dan tiba-tiba, Rakt berdiri. Dia pergi keluar. "Sayang, aku akan pergi ke gudang- sebentar saja, aku akan kembali dengan cepat," ucapnya.
Teressa mengangguk. Dia malah berpikir bahwa suaminya pergi ke hutan untuk mengamuk, tapi matanya terlihat biasa saja–karena tiap kali mengamuk, mata Rakt akan memerah. Ekspresinya juga tenang dan tidak seperti ketika marah, maka dia akan terlihat memelototi siapapun serta muncul urat nadi yang memerah di wajah–paling banyak di samping mata hingga pelipis.
Lalu Rakt benar-benar pergi ke gudang belakang rumah.
Biasanya gudang akan diperlihatkan tempat yang sangat kotor dan berantakan, namun berbeda dengan gudangnya Rakt. Di sana semua benda tertata rapi, gudang itu ada setelah dua bulan ia menikahi Teressa.
Di sana ada sebuah etalase kaca setinggi tubuhnya Rakt yang di dalamnya ada papan bersusun. Di atas papan yang paling bawah terdapat sepatu berwarna hitam yang masih cukup bagus, tapi tidak muat untuk kakinya Rakt yang bisa dibilang sangat besar–setidaknya ukuran sepatunya 48, haha ... Kaki Rakt luar biasa besar.
Di atasnya ada buku-buku yang sudah robek dan ditumpuk. Di atasnya lagi juga ada buku yang ditumpuk, di atasnya lagi ada pot bunga yang sudah rusak, di atasnya lagi, ada sebuah balok berwarna merah, balok tersebut bisa dibuka, dan di yang paling atas adalah pedang yang sudah patah.
Rakt mengambil balok merahnya. Balok itu dibuka, dan di dalamnya terdapat tiga buah beda yang terletak di atas styrofoam yang dilapisi kain hitam–bentuknya sangat pas dengan ukuran ruang yang ada di dalam baloknya. Tiga buah benda itu adalah Holo-Lug, mutiara berwarna hitam pekat, dan kalung yang ada sebuah logam bertuliskan RAKT. Semua itu adalah pemberian Lug.
Ketika itu, Rakt tersenyum sembari melihat benda-benda itu.
*****
Keesokan harinya, Rakt terlihat seperti tidak ada masalah lagi. Dia membuka kedainya seperti biasa di pagi hari dengan membawa beberapa daging yang diletakkan di sebuah karung goni.
__ADS_1
Orang lain yang melihatnya merasa ada yang aneh dengan Rakt. Bagaimana tidak? Seseorang yang baru saja kehilangan adiknya tiba-tiba saja sudah tidak merasa sedih lagi pada pagi di hari setelah dirinya mendengar kabar adiknya. Setiap orang yang melihatnya pasti mengira dia itu sudah kehilangan akal sehatnya.
"Rakt, apa kau baik-baik saja?" tanya pria tua yang kemarin meminta bantuan kepada Rakt. Kini dia sedang mengunjungi lelaki itu karena kemarin pria tua tersebut belum sempat memberinya upah.
Rakt tersenyum hangat. Dia seolah sudah benar-benar melupakan kabar tentang kematian adiknya. "Aku baik-baik, pak, tenang saja," paparnya. "Apa kau mau pesan daging? Sebentar, akan aku buatkan dulu, daging apa? Rusa? Domba? Babi?"
Pak tua yang ada di depan kedainya Rakt itu semakin cemas. "Tidak, nak, aku hanya mengkhawatirkanmu. Oh iya, ini upah untukmu karena membantuku mengemasi barang-barangku kemarin," ucapnya seraya mengambil uangnya dari saku celananya.
"Ah, yang kemarin, ya? Baiklah, aku terima, terima kasih," ucap Rakt.
"Sama-sama," sahut si pria tua.
Tapi si pria tua itu masih ragu bahwa Rakt baik-baik saja. Dan tiba-tiba saja, Rakt menyusulnya serta memberinya satu tusuk potongan daging domba. Ekspresinya tidak seperti orang sedih ketika memberikannya, terlihat senyuman hangat pada garis bibirnya.
Ketika Rakt kembali ke kedainya, si pria tua bergumam, "Nak, kuharap kau baik-baik saja."
Dan setelah itu, Rakt mendapatkan pelanggan yang sangat banyak. Semua pelanggannya itu mengingat bahwa adik Rakt baru saja tewas, mereka semua bersimpati kepadanya dengan membeli semua dagingnya sampai habis. Dan benar saja, saking ramainya, bahkan matahari belum tepat berada di atas kepala, daging yang dibawa oleh Rakt ke kedai sudah habis tak bersisa. Selain bersimpati, para pembeli juga menikmati rasa dari makanan buatan Rakt yang sangat enak, bahkan ada yang sampai memberikan tips dan memesannya untuk di esoknya lagi.
Pada saat ini, Rakt sudah menutup kedainya dan sudah berada di depan rumahnya. Sekarang dia masuk ke dalam dan melihat Teressa yang sedang menyapu. "Sayang, kenapa kau malah bersih-bersih?" tanyanya khawatir.
Teressa menoleh, ia terkejut melihat suaminya sudah pulang ke rumah. "Aku memang sudah mulai bersih-bersih sejak dua hari yang lalu, maafkan aku membuatmu khawatir," ujarnya.
"Jangan buat dirimu lelah, aku saja yang melakukannya," tutur Rakt.
"Tidak usah, aku merasa lebih sehat dengan bersih-bersih seperti ini," sahut Teressa. "Lagipula kenapa kau pulang secepat ini? Apakah ada daging yang ketinggalan? Tadi aku mencarinya di kotak pendingin dan persediaannya sudah habis, lho- "
Rakt tersenyum, lantas ia mendekati istrinya itu dan memeluknya. "Semua dagingnya sudah habis," ucapnya senang.
"Ah? Benarkah?"
"Iya, hari ini ramai sekali, hari yang sangat melelahkan, hahaha ... "
"Ya sudah, pergi mandi sana! Kau itu bau- ish ... Cepat sana, mandi!" Teressa mengusir.
Rakt tertawa sembari tidak melepaskan pelukannya. "Kenapa kau tidak mendorongku?"
Teressa juga sebenarnya memeluk Rakt. Ia memasang wajah sebal. "Tidak baik bagi seorang istri mendorong suaminya, apa kau ingin menjadikanku istri pembangkang dan kasar?"
"Baiklah baiklah," Rakt pun tertawa dan melepaskan pelukannya.
Tapi Teressa tidak melepaskannya, tangan wanita itu masih melingkari pinggangnya Rakt.
"Sekarang kau yang- "
Tiba-tiba Teressa mencium pipi Rakt. Wajah mereka berdua memerah. Sang istri benar-benar menciumnya dengan penuh rasa cinta. "Aku tahu kau bisa melepaskan kepergian adikmu, tapi aku tak berharap secepat ini."
Rakt tersenyum, lalu memeluk istrinya itu sekali lagi. Lantas mata mereka saling menatap satu sama lain.
"Setelah ini aku akan menceritakan sesuatu yang mungkin akan mengejutkanmu, dan ini adalah alasan kenapa kesedihanku akan kepergian Lug cepat sekali memudar," ujar Rakt seraya mencium kening Teressa.
"Baiklah, aku sangat menantikan ceritamu itu," sahut wanita berambut pirang tersebut.
Mereka pun melepaskan pelukannya dan Rakt segera membasuh diri di kamar mandi.
Bersambung!!
__ADS_1