![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Kehadiran Lug benar-benar banyak mengubah keluarga Azamuth. Bahkan sekarang Raini sudah sangat jarang memberikan tatapan sinis kepadanya, justru gadis itu menjadih jauh lebih ramah kepadanya.
Bahkan sekarang Raini sedang memperkenalkan Lug kepada kedua orang tuanya–hmm ...
Rumah Raini memang menjadi satu di kediaman Azamuth, namun mereka berada di rumah yang berbeda. Tempatnya berada lebih ke belakang di bandingkan dengan kamar batu yang biasanya digunakan untuk latihan. Tetapi Raini tinggal di rumah keluarga Azamuth.
Sekarang ini Lug sedang duduk di ruang tamu yang tidak terlalu besar, namun di sekitarnya terdapat furnitur yang unik dan elegan–meskipun keluarganya tidak memiliki pangkat, namun mereka tetaplah satu keluarga yang kaya.
Kedua orang tua Raini pun datang. Ibunya datang dengan senyuman rama, dan ayahnya memberikan ekspresi wajah yang biasa-biasa saja.
Ibunya itu masih terlihat cukup muda–setidaknya dua puluh lima tahunan, dan ayahnya terlihat belum terlalu tua–masih berusia tiga puluh tahunan.
Rambut ayah Raini saja masih belum beruban dan dia berkumis serta tidak memiliki jenggot.
"Hai, nak," ibu Raini menyapa. "Apa namamu, Lug?"
"Benar," jawab Lug. "Nama lengkap saya adalah Lug Vincent dan biasa dipanggil Lug."
"Apa kau yang dipanggil dengan sebutan Debu Bintang itu?" tanya ayah Raini.
"Iya," Lug mengangguk.
"Wah, anakku bisa menemukan pria setampan kamu, dia cukup hebat juga, ya? Omong-omong kami tidak terlalu mempedulikan kasta," terang ibu Raini.
"Ibu!" keluh Raini. "Jangan begitu!"
"Hahaha," Lug tertawa.
Ibunya Raini tampak tertarik dengan Lug, dia melirik ke arahnya. "Apa kau tahu? Akhir-akhir ini Raini sering pulang ke rumah, dia membicarakan seorang pria, dan tentu saja, dia bernama Lug. Meskipun Raini cukup jarang menyebutkan namanya," terangnya lagi dengan nada menggoda.
Wajah Raini menjadi merah padam, seakan muncul asap dari wajahnya itu. "Ibu ... Kau membuatku malu," ucapnya. Lantas ia melihat Lug, "T-tolong jangan dengarkan ibuku, seluruh ucapannya itu benar-benar sesat!" tegasnya.
"Oh, begitukah? Kupikir kau selalu membicarakan tentang aku yang melirikmu dengan tatapan mesum," Lug malah menggoda.
Ibu Raini terkejut dan menutup bibirnya seketika, begitupun dengan ayahnya yang juga terkejut dan terlihat dari matanya yang membelalak.
"Iya! Kau adalah orang yang mesum!" tukas Raini.
Beberapa saat kemudian, Raini memperkenalkan nama ibu dan ayahnya, yakni Rosella Eveline dan Steyl Eveline. Lug sempat bertanya kenapa nama keluarga kedua orang tuanya sama, dan ternyata mereka berdua adalah sepupu dan memang sedang mempertahankan nama keluarga karena sudah tak ada lagi harapan. Kedua orang tua Raini adalah anak tunggal, dan gadis itu mempunyai adik laki-laki yang berusia lima tahun sebagai keturunan yang dapat mempertahankan nama keluarga Eveline. Nama adiknya adalah Rooney Eveline.
Lug merasa bahwa sekarang Raini sudah menjadi sedikit terbuka dengannya. "Apa ini kebetulan atau tidak, nama kalian kebanyakan diawali dengan huruf r," komentarnya.
Raini dan Rosella tertawa. Gadis itupun menjawab, "Iya, ibuku sendiri yang meminta ayah untuk menamai anak-anaknya yang diawali huruf r, aku dulu juga merasa ada yang kebetulan, hahaha-"
Kemudian Steyl sengaja terbatuk dan mendehem, lantas membicarakan topik yang lain. "Nak, kata Raini kau tahu sesuatu tentang rambutnya."
Raini dan Rosella terkejut mendengar Steyl yang mendadak langsung bicara tentang inti dari pertemuan mereka dengan Lug. Tapi bagi ibu dua anak itu tak masalah, namun Raini terlihat masih keberatan untuk membicarakannya, tampak dari wajahnya yang berubah menjadi sedikit murung.
"Apa yang kau tahu darinya?" lanjut Steyl.
"Mungkin tahu semuanya," jawab Lug lugas.
Steyl merasa bahwa jawaban itu tidak memuaskan. Dia coba bertanya lagi, "Apa salah satunya?"
"Dia hanya bisa menggunakan sihir dengan sumber mana yang kosong, selain itu dia tidak terlalu cocok menggunakan beberapa sihir umum yang kebanyakan dipakai orang lain," Lug menjelaskan.
Steyl sendiri tidak pernah tahu akan hal tersebut, tapi ketika Raini memperlihatkannya, dia langsung terkejut. "Apa sumber manamu benar-benar sedang kosong?" tanyanya memastikan.
"Ya," Raini mengangguk.
Steyl dan Rosella menjadi bingung mendengarnya, bahkan sebenarnya Raini pun juga bingung.
"Jika aku memberitahu kalian apa yang sebenarnya terjadi, mungkin kalian tidak bisa mencernanya dengan baik dari informasi yang kusampaikan. Meskipun sebenarnya informasi ini sangatlah rahasia," jelas Lug lagi, dia juga mendadak menyeringai. "Sekalipun para dewa tidak boleh mengetahuinya," imbuhnya lirih.
Steyl dan Rosella menelan ludah.
"Tidak perlu terlalu dipikirkan, kalian mau tahu atau tidak? Jika iya, aku akan menjelaskannya sedikit saja," ujar Lug.
__ADS_1
Steyl mengangguk. Pada dasarnya ia sangat penasaran dengan anaknya yang sedari kecil tak pernah bisa menggunakan sihir dengan baik.
"Baiklah."
Lug langsung menciptakan tiga lingkaran sihir secara bersamaan dan menggabungkannya. Itu adalah sihir Dunia Kegelapan yang mana gabungan dari sihir Singularitas, Tak Terdeteksi, dan Penjara Kehampaan.
Kedua orang tua Raini dan Raini itu sendiri terkejut melihatnya. Bagaimana tidak? Baru kali ini mereka melihat ada seseorang yang membentuk sekaligus menggabungkan tiga buah sihir dengan begitu mudahnya–bahkan tidak sampai tiga detik karena saking cepatnya.
"Pantas Antonio sepertinya sering menyebut-nyebut namamu, ternyata kau sungguh berbakat dan cukup mengejutkan seperti apa yang pria itu katakan," ujar Steyl.
Rosella mengangguk setuju. "Ya, baru kali ini aku melihat ada seseorang yang dengan mudahnya membentuk tiga sihir, bahkan menggabungkannya."
Lug tersenyum. "Terima kasih, tapi ini- sudahlah, lupakan itu!" katanya.
Sihir gabungan Lug telah menyebar dan tiba-tiba seluruh ruangan sudah ditutupi oleh bayangan hitam, bahkan kaca jendelanya pun ditutupi oleh bayangan yang sama, sehingga tidak ada yang mampu melihat dari dalam maupun dari luar ruangan tersebut. Dan bayangan hitam tersebut tampak sangat solid.
Setelah itu Lug mulai menjelaskan, "Dunia ini hanyalah sebatas ruang dan waktu yang diisi oleh materi. Sedangkan, jauh keluar dari semesta ini, ada semesta lain dan banyak lagi dengan jumlah yang- tak terbatas."
Raini menelan ludah, sementara kedua orang tuanya masih antusias mendengarkan penjelasan tersebut.
Lug melanjutkan, "Semakin keluar dari dunia ini, hierarkinya semakin tinggi, dan kalian mungkin akan bertemu dengan yang namanya kekosongan. Lihatlah ini!" Ia memperlihatkan sumber jiwanya, kali ini kedua orang tua Raini lah yang menelan ludah.
Lug memperlihatkan hal yang sama seperti ketika memperlihatkan sumber jiwanya kepada Antonio.
"Tunggu! Bola-bola yang barusan itu apa?" tanya Steyl.
"Alam semesta," jawabnya singkat.
"Tidak masuk akal!"
"Ya, tapi jika kau berhasil keluar dari semesta ini, perspektif kalian akan berbeda. Semesta ini terlihat seperti lautan tanpa batas, itu berbeda dengan yang kalian lihat barusan, dan kalian juga bisa melihat seluruh tubuh kalian sendiri bahkan organ dalam kalian hanya dalam satu perspektif saja, aneh bukan? Kalian mungkin tidak akan paham."
Steyl hanya menganggap ucapan Lug itu sebagai bualan semata, tapi anak laki-laki itu mendengar semuanya. Dia hanya bisa tersenyum tanpa harus mengatakan apa-apa lagi tentang sumber jiwanya.
"Terserah kalian saja jika tidak percaya," sindir anak itu.
Raini tersenyum.
Lug menyadarinya, lantas menanyai gadis itu, "Ada apa, Raini?"
Gadis itu menjawab dengan wajah yang senang, seakan sekarang adalah momen yang dinanti-nantikannya, "Aku sudah bisa sedikit melakukan metode yang kau tulis itu, lihat ini!"
Raini pun memperlihatkan sebuah pusaran berwarna hitam pekat di atas telapak tangannya. Pusaran itu perlahan berubah menjadi bola seukuran kelereng dan memudar dengan cepat.
Melihat itu, Steyl dan Rosella tersenyum bahagia, seakan mereka benar-benar baru saja melihat sebuah keajaiban.
Lug berkata, "Kau tahu? Setelah bola itu memudar, udara, cahaya, atau apapun itu akan menghilang setelah benda yang kau ciptakan itu memudar. Meskipun sekarang sudah ada lagi."
"Apa memang sekuat itu?" tanya Raini.
"Benda itulah yang mampu memecah konsep dunia ini, kau punya kemampuan yang setara dengan menghancurkan satu dunia, bahkan bisa terus berkembang tanpa batas," jelas Lug.
Namun Steyl dan Rosella masih menganggap itu bualan, tapi mereka tetap berterima kasih atas bantuan lelaki itu. Karenanya Raini bisa menggunakan sihir. Mereka tetap senang dan merasa bantuan dari Lug ini adalah sesuatu yang tak ternilai.
Karena dirasa tak ada lagi yang perlu disampaikan, Lug melepaskan sihir Dunia Kegelapannya.
"Berapa yang perlu kubayar atas bantuanmu? Seratus koin emas? Seribu? Atau sepuluh ribu?" Steyl menawarkan.
Lug menggeleng. "Itu tidak perlu," jawabnya.
Steyl dan Rosella bingung. "Kenapa kau tidak mau menerimanya?" tanya wanita itu.
Lug menjawab, "Aku membantu Raini karena aku menyukainya, ya, seperti yang dia katakan sebelumnya, aku menatapnya mesum karena aku menyukainya."
Sontak itu membuat Rosella tertawa. Ia menoleh kepada Raini yang wajahnya berubah menjadi merah padam. "Nak, kau bertemu dengan lelaki yang mirip ayahmu, dulu Steyl suka melirikku dengan mata cabulnya apalagi ketika aku mengenakan pakaian seksi."
"Mana ada?!" seru Steyl.
__ADS_1
Tetapi Raini tidak bisa berkata-kata lagi. Matanya tak bisa melihat langsung wajah Lug.
"Raini, katakan sesuatu kepada pria yang menyukaimu itu," Rosella membujuk.
Pada akhirnya Raini membuka mulutnya, meskipun tergagap. " B-bukankah ... Bukankah ada gadis itu- yang menyukaimu juga? Kalian kan ... Sepasang kekasih?" tanyanya.
Kedua orang tuanya pun menoleh kepada Lug.
Lug menjawab, "Dia kan adikku, memangnya kenapa?"
"B-bodoh! A ... A-aku tahu gadis itu bukan adik kandungmu! Kakak Zephyr sudah memberitahuku yang sebenarnya!"
"Lalu kenapa? Dia hanya menyukaiku, tapi kami bukan sepasang kekasih, kau bisa menjadi kekasihku."
Raini tak bisa menjawab lagi. Dia memalingkan wajahnya dan segera keluar dari rumahnya sendiri. Steyl dan Rosella menggelengkan kepalanya. "Ah, dasar anak-anak."
Setelah itu, mereka berdua dan Lug mengobrol dalam waktu yang cukup lama. Karena dirasa sudah malam, Lug pamit pergi menemui Raini saja yang sudah berlatih di kamar batu seperti biasanya.
Dan pada saat itu Zephyr juga ada di sana. "Hai, Lug," sapanya.
"Hai juga."
Lantas Lug langsung melihat kegigihan Raini yang sebenarnya sedang mencoba meraih perhatian anak lelaki itu. Gadis itu terus mencoba berkali-kali metode sihirnya dengan membentuk bola hitam yang ditunjukkannya sebelumnya. Bola itu terus meluruh dalam waktu yang sangat singkat.
Lug merasa kasihan padanya. "Kau harus sedikit bersabar, jangan terlalu tergesa-gesa, nikmati latihanmu, maka hasil yang kau dapat akan menjadi sangat menyenangkan," nasehatnya.
Raini tersenyum sesaat, lantas mengalihkan pandangannya dengan ekspresi sebal. "Iya iya, aku tahu," sahutnya.
Zephyr menertawakan mereka berdua yang terlihat menjadi jauh lebih akrab dari sebelumnya. Tapi pria itu malah merasa iri karena tidak menemukan pasangannya sendiri.
Melihat latihannya Raini, Lug berkata, "Biasanya orang awam tak akan mampu memahami metode yang kutulis di buku itu, tapi kau dengan mudahnya memahami isi buku yang kutulis itu. Ya, memang konsepnya itu sama dengan memanipulasi mana, tapi kemampuan memanipulasi mana tidak semudah yang dibayangkan. Jadi kupikir akan mudah bagimu.".
Raini menoleh padanya ketika Lug menjelaskan. Dia tiba-tiba memikirkan sesuatu. "Lalu apa yang kauperbuat beberapa hari kemarin dengan dahiku?" tanyanya penasaran.
Lug tersenyum. "Kau pasti masih berpikir kalau aku melakukan hal kotor pada saat itu, bukan?"
"IYA LAH! TIBA-TIBA SAJA KAU SAAT ITU MENYENTUH DAHIKU! AKU JUGA TIDAK BISA BERGERAK PADA SAAT ITU! BAGAIMANA BISA AKU TIDAK BERPIKIRAN KOTOR?!!!" Raini membentak.
Zephyr dan Lug terkejut mendengarnya. Mereka malah menertawakan gadis itu, hingga membuatnya hampir menangis.
Lantas Lug berkata, "Jangan berpikir seperti itu, aku hanya ingin membantumu."
Raini masih tak percaya, tapi dalam lubuk hatinya, ia berterima kasih.
"Pada saat itu aku membantumu meningkatkan pemahamanmu terhadap kekosongan. Aku tidak sedang mencari rasa terima kasih darimu, tapi aku ingin membantumu saja. Aku merasa kasihan terhadap orang dengan keadaan khusus sepertimu dan Zephyr. Makanya itu aku membantumu," jelas Lug.
Mendengar itu, Raini tertegun dan langsung merenunginya. Ia juga baru sadar bahwa Lug selama ini juga membantu kesembuhan kakak sepupunya, bahkan tak ada dokter lain atau penyihir lain yang membantu kesembuhan Zephyr. Pada saat ini, Raini merasa bersalah terhadap Lug yang selama ini dibencinya. Ternyata seorang pria yang dianggapnya mesum itu sudah membantu dirinya dan Zephyr dari keadaan terendah mereka.
"Lagipula, seperti apa yang kukatakan kepada kedua orang tuamu tadi ... " ucapan Lug terhenti. Dia melihat ada Nagisa yang sedang berjalan mendekatinya.
Zephyr menjadi bingung karena Lug tidak meneruskan ucapannya. "Memangnya tuan dan nyonya Eveline mengatakan apa?"
Pada saat itu juga, Nagisa datang ke kemar batu dan dia juga mendengar pertanyaan Zephyr. "Kalian sedang membahas apa?" Pada saat ini Nagisa sedang mengenakan pakaian tidur berwarna putih dengan garis garis hitam di lengannya.
Wajah Raini ternyata sudah mengepulkan asap dan berubah menjadi merah padam. Zephyr bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi antara Lug dan Raini ketika menemui tuan dan nyonya keluarga Eveline. "Kalian kenapa, sih? Aku bingung jadinya," tanya Zephyr bingung.
Lug memberikan senyum tipuan dan berkata, "T-tidak ada apa-apa, hanya obrolan biasa."
"Ya, hanya obrolan ... B-biasa," Raini menimpali dengan senyuman yang sama.
Nagisa menjadi curiga karena Lug dan Raini bersikap aneh. Mereka berdua terlihat gugup satu sama lain ketika Nagisa tiba di kamar batu. Zephyr juga merasakan hal yang sama dengan gadis itu. Hingga pada akhirnya Nagisa memeluk Lug–sebenarnya ia sedang melampiaskan rasa cemburunya dan memperlihatkannya kepada Raini.
Benar saja, Raini kini benar-benar tersenyum palsu yang terlihat sangat alami, namun tampak kesedihan di dalamnya.
Zephyr yang peka itu pun menepuk pundak gadis itu dan berbisik, "Sudahlah, jangan bersedih, aku masih ada di sampingmu."
Bersambung!!
__ADS_1