Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 39 - Pusing


__ADS_3

Satu Minggu berikutnya, Zephyr mulai tampak lebih ceria dari biasanya. Dikatakan bahwa ia merehabilitasi dirinya sendiri setiap hari tanpa henti, dan membuat tangannya menjadi sedikit lebih ringan. Meski begitu, Zephyr masih menutupi tangannya dengan sarung tangan panjang karena masih ada tato hitam yang menempel pada tangannya. Dia masih belum percaya diri untuk melepaskan sarung tangannya, menunggu sampai semua tatonya benar-benar menghilang sepenuhnya.


Lug sadar bahwa temannya ini menaruh rasa percaya kepadanya lebih dari sebelumnya. "Apa kabarmu?" sapanya.


Kini mereka sedang berada di akademi dan sekarang adalah jam istirahat. Zephyr membawa makanan untuk Lug dan Toni juga. Mereka makan bersama di ruang makan yang disediakan oleh akademi dan berada di lantai dua.


"Kau lihat ini?" sahut Zephyr sembari memamerkan lengannya–dia melepaskan sarung tangannya sesaat, lantas memakainya kembali. "Luar biasa, tanganku jadi semakin ringan saja," imbuhnya.


"Memangnya tato itu beratnya sampai satu ton?" ujar Toni.


"Seratus ton mungkin?" Lug menimpali.


"Hahahaha," mereka semua tertawa bersama-sama bahkan sampai dilihat oleh murid yang lain.


Beberapa saat kemudian, datanglah Nagisa dan temannya yang bernama Phieri dan Anni. Phieri juga salah satu murid dari kelas S, sementara Anni adalah murid kelas B–kenalannya Qei.


"Wah wah, ini dia primadonanya," ujar Toni berbisik pada Zephyr.


"Kau benar, haha."


Lug mendengar suara mereka berdua yang tampak sedang membicarakan Nagisa. "Hei hei, kalian jangan diam diam membicarakan adikku, itu tidak sopan namanya!" tegurnya.


Kedua teman Lug itu malah tertawa kecil sambil menutupi mulutnya.


Nagisa dan temannya itu duduk di meja yang sama dengan Lug dan teman-temannya. Phieri dan Anni duduk di sampingnya.


Phieri memiliki paras yang cantik dan tubuhnya tinggi–meski tidak setinggi Nagisa. Kulitnya putih, matanya yang berwarna biru kelasi yang sangat mengkilat, rambutnya berwarna abu-abu pudar dan panjangnya sedada.


Sementara Anni juga memiliki wajah yang manis, ia lebih pemalu dibandingkan dengan Nagisa. Anni memakai kacamata persegi. Kulitnya putih bersih, iris matanya cokelat mengkilat, rambutnya berwarna ungu gelap dan panjangnya hanya seleher, bagian ujung rambutnya membelok ke leher. Sebenarnya Anni berasal dari desa yang sama dengan Toni, yaitu desa Forto.


"Kakak Lug," Nagisa memanggil. "Aku duduk di sini, ya?"


Lug menyeringai, "Tidak boleh!"


"Eh, kenapa?" Nagisa terheran-heran.


"Duduk di pangkuanku, mau?"


Seketika itu Nagisa langsung berdiri dan berkata, "Iya, aku mau." Ketika gadis ini mengedipkan matanya kepada Lug, Zephyr dan Toni terpukau pada saat itu juga.


Di dalam batin mereka berdua, cantik sekali. Bahkan pandangan mereka sampai tidak bisa teralih kepada dua gadis cantik nan manis yang ada di sebelahnya Nagisa, karena pesona gadis ini memanglah lain dari yang lainnya.


Lug mendengar suara hati kedua temannya, seketika itu juga ia mendehem, "Ekhem!"


Zephyr dan Toni mengalihkan pandangan matanya dan bersiul palsu–bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa.


Tatapan Lug kembali pada Nagisa, "Maaf, sudah tidak berlaku," katanya.


Nagisa menggembungkan pipinya sebal. "Kukira kau sungguhan memperbolehkanku," ucapnya. Lantas duduk dengan kasar dan masih sebal dengan kakaknya itu.


Phieri dan Anni merasa heran. Gadis berambut abu-abu itu bertanya, "Hei, Nagisa, kau menyukai kakakmu sendiri?"


Iya, memangnya kenapa?" jawab Nagisa seraya bertanya balik.


Anni memahami apa yang sebenarnya terjadi. "Apa dia- bukan kakak kandungmu?" tanyanya memastikan.


"Yap, kau benar," Nagisa menjawab lagi.


"Dan dia memanfaatkan status keluarga seperti itu agar bisa menyukaiku. Jadinya Nagisa seolah seperti benar-benar terobsesi denganku, kalau kalian melihatnya seperti itu, anggap saja dia orang gila," Lug menimpali.


Nagisa menggembungkan pipinya lagi. "Kakak ... Jangan gitu, dong!"


Lagi-lagi gadis itu membuat kedua teman Lug terpesona. Bahkan mereka berdua sampai tersenyum-senyum sendiri. Lug bahkan makan sambil mengetuk kepala kedua orang itu bergantian dengan menggunakan sendok makannya.

__ADS_1


"Lalu mereka berdua?" Phieri menunjuk ke arah Zephyr dan Toni.


Lug mendesah, "Hadeh, mereka bahkan lebih gila."


Phieri dan Anni tertawa mendengarnya. Sementara Zephyr dan Toni melemparkan tatapan sinis kepada Lug.


"Apa?" tanya Lug.


Setelah jam istirahat berakhir, pembelajaran kembali dimulai. Semua orang segera kembali ke kelasnya masing-masing begitupun dengan Lug dan teman-temannya


Elizabeth pun datang ke kelas untuk memulai pembelajarannya. Tapi sebelum itu, ia hendak memberikan sebuah pengumuman. "Anak-anak, tiga hari lagi kalian akan ke perpustakaan sihir," kata Elizabeth.


Seorang siswa dari meja belakang bertanya, "Apa kami harus datang, bu? Untuk acara apa kami ke perpustakaan?"


Elizabeth menjawab, "Untuk ujian kenaikan kalian di masa depan nanti. Kalian nanti akan diberi sebuah kertas untuk menulis daftar sihir yang akan kalian kuasai sebelum ujian tiba. Dan kalian diperkenankan untuk memilih sihirnya di perpustakaan nantinya."


Beberapa murid menelan ludah karena mendengar kata ujian. Sementara Zephyr yang juga menelan ludah dikarenakan hal lain, yaitu karena melihat ayahnya, Antonio Azamuth berjalan melewati kelasnya bersama kepala akademi dan sempat meliriknya. Lug juga menyadarinya.


Dan pembelajaran pun dimulai.


*****


Sepulang sekolah, Lug mengajak Nagisa, Qei, dan Toni untuk berkeliling. Meskipun sebentar lagi hari mulai gelap, tetapi mereka tetap mengiyakan ajakan Lug. Dan Nagisa juga sudah diberi tahu sebelum pulang sekolah.


Sebenarnya Lug mengajak mereka bertiga berkeliling karena hendak menunjukkan di mana tepatnya lokasi perpustakaan sihir. Dia tahu karena pada saat menyelinap keluar dari asrama, ia melihat beberapa lokasi seperti pasar–ketika Lug mengajak Toni membeli bahan makanan, dan perpustakaan sihir. Bahkan ada lokasi lain yang diketahuinya pada saat itu.


"Memangnya kenapa kau menunjukkan ini Lug?" Qei bertanya keheranan.


Lug tersenyum, dia tahu tentang suatu hal yang tidak diketahui oleh teman-temannya. "Kalian tidak tahu satu hal ini, mungkin kalian akan terkejut saat mendengarnya," ujarnya.


"Apa itu?" tanya Toni.


"Kita tidak akan ke perpustakaan bersama para bangsawan. Mereka akan terlebih dahulu pergi ke perpustakaan sebelum kita," Lug mengungkapkan.


"Iya," Lug mengangguk.


Setelah berjalan selama kurang lebih sepuluh menit, akhirnya mereka melihat sebuah bangunan berwarna putih keemasan yang cukup besar. Bahkan pintunya yang besar itu dapat memuat lima orang dewasa sekaligus dan tingginya dapat dilalui tiga orang dewasa yang saling menggendong satu sama lain. Bagian atapnya runcing seolah seperti sebuah menara.


Tapi sekarang bangunan itu ditutup. Terdapat gerbang di bagian depan seperti yang ada di depan asrama. Tapi gerbangnya sedikit lebih kecil dan gerbangnya ini terbuat dari logam yang dicat berwarna emas mengkilap.


"Indah sekali," ucap Nagisa.


Qei mengangguk setuju. "Andai ada orang yang punya rumah hanya dengan eksterior saja- hanya eksteriornya saja yang mirip dengan perpustakaan ini, sudah dipastikan dia adalah orang terkaya di desa kita," pendapatnya.


Mendengar kalimat Qei, Toni tersenyum kaku. "Haha, itu bagus," ujarnya dengan tidak semangat.


Lug tahu apa isi hati temannya itu. Menjelaskan apa yang didengarnya, sebenarnya desanya Toni bahkan tidak ada yang memiliki rumah yang layak. Kebanyakan saja rumah kayu yang hampir roboh dan yang paling bagus saja hanyalah yang masih utuh serta tidak ada tanda-tanda akan roboh.


Tak lama berselang, sebuah pedati melewati mereka. Di dalam kereta kuda tersebut ternyata ada Zephyr dan ayahnya yang hendak menuju ke tambang. "Hai, Lug, kalian mau ke mana?" Zephyr menyapa.


"Oh, halo Zephyr," balas Lug. "Aku sedang menunjukkan mereka tempat di mana perpustakaan sihir berada."


"Ooh ... "


"Ah, paman, terima kasih karena memberi tahuku tentang informasi ini," ucap Lug. Semuanya tampak bingung dengan ucapannya itu, kecuali Zephyr.


Antonio tertawa kecil. "Haha, tidak masalah. Lagi pun, ini adalah sedikit dari caraku untuk berterima kasih padamu," katanya.


"Sama-sama, paman."


"Baiklah, kami pergi dulu."


Setelah itu, Zephyr dan ayahnya pun pergi. Lug tahu mereka hendak pergi ke mana, karena jika melewati perpustakaan sihir, itu berarti jalannya berbanding terbalik dengan gerbang untuk menuju ke selatan, yang mana tambang yang dikelola oleh keluarga Azamuth berada di sebelah tenggara kota kerajaan. Antonio hendak pergi ke gudang tempat penyimpanan permata miliknya, yang mana ada Batu Pelangi di sana. Mereka hendak mengambil permata itu terlebih dahulu sebelum menuju ke tambang.

__ADS_1


Karena Qei masih penasaran dengan informasi apa yang dimaksud oleh Lug tadi, dia pun bertanya, "Informasi apa yang kaumaksud tadi, Lug?"


Lug menoleh, "Informasi? Oh- ya ini. Informasi tentang bangsawan yang pergi terlebih dahulu. Dan yang satunya adalah kita akan mencari lokasinya sendiri."


"Oh, jadi begitu ... Lantas, dia berterima kasih atas apa?" tanya Qei lagi.


"Tidak usah banyak tanya, yang penting sekarang aku sudah memberi tahu kalian tentang lokasi perpustakaan desa," Lug menjawab dengan nada ketus.


"Ya ya ya."


Alasan kenapa Lug mengatakan informasi kepada semuanya adalah karena nantinya ia tidak akan berangkat bersama dengan teman-temannya itu. Dia akan berangkat bersama dengan para bangsawan sebagai hak khusus karena ia sudah memiliki token emblem sumber jiwa.


Seharusnya Nagisa diikutsertakan, akan tetapi Antonio tidak mengenal gadis itu. Sehingga dia hanya mengajukan hak khususnya untuk Lug saja.


Namun masih belum tahu bagaimana keputusan para guru nantinya, apakah Nagisa diikutsertakan atau tidak masih belum tahu. Lug hanya berjaga-jaga saja jikalau adiknya itu tidak ikut bersamanya.


Setelah itu mereka pun pulang kembali.


Langit sudah mulai memerah, cahaya matahari mulai meredup ketika berada di cakrawala sebelah barat.


Sembari menunggu Toni selesai mandi, Lug berdiri di balkon seperti biasanya. Sekarang ia sedang iseng-iseng membaca masa depan yang cukup jauh, yakni dua hari setelah hari ini.


Ketika sudah mendapatkan gambaran masa depan, Lug dengan cepat memegangi kepalanya yang menjadi sangat berat. "Ah, sungguh ini terlalu berat- selalu seperti ini jika membaca masa depan lebih dari lima menit. Benar-benar membutuhkan status 'otoritas' yang lebih tinggi lagi, apalagi gambarannya sedikit buram," keluhnya.


KRIEEET


Suara pintu terdengar, keluarlah Toni dari kamar mandi yang sudah mengenakan pakaiannya yang terlihat lebih santai. Ia sekarang tengah mengusap rambutnya dengan rambut. "Kau itu mengeluhkan apa sih, Lug? Tadi kudengar kau mengeluh tentang masa depan, apa kau sekhawatir itu dengan 'masa depanmu' sendiri?" tanyanya.


Toni berpikir masa depan yang dimaksud oleh Lug adalah masalah ekonomi atau semacamnya, seperti pekerjaan, jodoh, dan lain sebagainya.


Lug menoleh ke arah Toni dengan wajah datar, lantas ia menghembuskan nafasnya yang berat. "Kau mandi lama sekali," tegurnya. "Tak perlu tahu apa masalahku, tapi aku sangat bosan menunggumu mandi sampai membuatku jadi gila sendiri."


Bayangkan saja kalian punya teman sekamar yang memakai kamar mandi lebih dari setengah jam. Bayangkan saja dulu, marahnya nanti saja.


"Lah, kok aku?" Toni tahu bahwa Lug sedang berusaha mengalihkan topik.


Tatapan Lug menjadi seperti sedang melihat sesuatu yang menjijikkan. "Jangan-jangan kau di kamar mandi sedaaaang .... "


"Hoi hoi! Pikiranmu kotor sekali!"


"Sudahlah, sekarang berikan handukmu!" pintanya sembari menjulurkan tangannya.


Toni bingung. "Lah, memangnya di mana handukmu?" tanyanya keheranan.


"Lihat di bawah kakimu!"


Wow, handuknya Lug sudah diinjak oleh Toni. Itu karena handuknya itu ia gantungkan pada gagang pintu kamar mandi, dan ketika Toni membuka pintu, tanpa sengaja ia menginjaknya serta dia tak menyadarinya.


"Lah lah, bagaimana bisa ada di sini?" Toni sekarang lebih terheran-heran lagi.


Lug mendesah, "Kelamaan!" Lug menyerobot serta mengambil handuk dengan kasar dari tangan Toni.


"Kenapa kau hari ini terlihat lebih sensitif, dah?"


"Entahlah."


Lantas Toni mengambil handuk Lug dan membersihkannya debunya. Ia menunggu pemiliknya selesai mandi agar bisa menggunakan kamar mandinya untuk mencuci handuk tersebut.


Lug pun sudah menutup pintu kamar mandinya dan di sana ia masih sedikit merasa pusing. "Memikirkan ini semua semakin membuatku pusing saja, apalagi hari ini juga cukup melelahkan, ah sudahlah," gumamnya.


Dia bergumam lagi, sepertinya anak itu sedang punya masalah, batin Toni.


Bersambung!!

__ADS_1


__ADS_2