![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Perkataan Lug benar-benar menyulut emosi Wilson. Namun mendadak ada seseorang yang menepuk pundaknya Wilson, dia adalah Zephyr yang baru saja datang.
Lug bertanya-tanya kenapa Zephyr berada di kelasnya. Padahal bangsawan pemurung itu adalah jenius yang seharusnya ditempatkan di kelas eksklusif. Tapi setelah beberapa saat berpikir, Lug mengerti kenapa Zephyr berada dalam kelasnya.
Anak yang bernama Wilson itu meringis terkejut. "K-kenapa kau ada di sini?" tanyanya.
Dengan wajah datar Zephyr menjawab, "Karena aku adalah murid di kelas S. Memangnya kenapa?"
Hampir semua murid bangsawan di kelas itu tak percaya bahwa bangsawan pemurung itu ditempatkan di kelas S. Tapi ada sebagian yang sepertinya mengerti dengan keadaan Zephyr, tetapi tidak bersimpati.
Wilson pun pergi dari hadapan Lug dan mencari tempat duduk di tempat yang hampir paling belakang. "Hei kau, lihat saja nanti!" serunya.
Lug tidak peduli sama sekali. Tetapi dia sudah mulai tahu siapa Wilson itu. Lug ingat bahwa ada seorang anak yang saling mengejek dengannya ketika di acara panahan keliling. Dan anak yang mengejeknya itu adalah Wilson–dialah anak yang mengatakan bahwa Lug bisa mengenai target pertama hanya dengan keberuntungan saja.
Lantas Zephyr menyapa, "Hai, Lug, bagaimana kabarmu?"
Lug tersenyum. "Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?"
"Aku baik-baik saja."
Toni tahu bahwa Lug dan Zephyr sempat menjadi lawan di saat seleksi tahapan terakhir, namun tak pernah ia duga bahwa mereka berdua malah saling berteman dan akrab.
Lalu Lug menoleh kepada Toni, pandangannya bergeser kepada Zephyr kembali. "Kenalkan, Zephyr, ini temanku, namanya Toni," katanya.
Zephyr langsung menjulurkan tangannya dan mencoba untuk berjabat tangan untuk berkenalan. "Namaku Zephyr."
"Oh?" Toni malah kebingungan harus melakukan apa, tapi dia langsung sadar untuk membalas jabatan tangan Zephyr. "A-aku ... Namaku Toni, maaf, aku merasa- agak canggung ... Ketika berbicara dengan bangsawan," ia berterus terang.
Zephyr menanggapinya dengan santai, lantas ia tertawa kecil. "Santai saja, aku sendiri juga canggung ketika berbicara dengan orang yang baru saja kutemui," terangnya balik.
Tiba-tiba saja ada seorang gadis yang mendatangi mereka bertiga, dia adalah Nagisa. Gadis itu hendak menemui Lug. "Kakak, apa kau baik-baik saja?" tanyanya.
Toni dan Zephyr terpesona melihat wajah Nagisa. Wajah natural tanpa dandanan, mata lebar dan bibir kecil yang imut, serta kulit yang terlihat begitu halus memberikan kesan yang menarik mereka berdua–mungkin tidak hanya mereka berdua, laki-laki lainnya pun juga terpesona dengan Nagisa.
Lug memberikan senyuman yang sangat hangat kepada Nagisa. "Tenang saja, aku tidak apa-apa," sahutnya.
Nagisa senang mendengarnya, "Aku memang sudah menduga, cepat atau lambat mungkin kau akan bermasalah di tempat ini," ujarnya berbisik. Lantas berbalik dan kembali pada teman-temannya yang sesama gadis.
Zephyr masih terpesona dengan Nagisa. Ketika gadis itu pergi, mata pria itu masih menatapnya sambil bengong.
Tapi Toni sadar bahwa dirinya dan Zephyr diperhatikan oleh Lug.
"Ekhem!"
Zephyr langsung sadar dan berbalik menatap Lug seraya menyeringai tak enak hati. Mereka pun bersenda gurau setelahnya yang lantas Zephyr duduk di belakang Lug dengan anak lelaki lainnya.
Beberapa saat kemudian, seorang guru wanita pun datang. Dia mengenakan pakaian hitam dengan rok yang sangat ketat. Penampilannya itu layaknya seorang wanita yang telah berusia kepala dua. Dandanannya juga tebal dan mengenakan kacamata dengan bingkai kacanya berbentuk persegi panjang yang sudutnya melengkung. Matanya tajam dengan hidung yang sangat mancung. Memberikan kesan yang sedikit galak terhadap Lug dan murid-murid lainnya.
"Keluarkan buku kalian!" perintahnya.
Sebelum Lug dan siswa siswi lainnya masuk ke kelas, mereka dipersilahkan untuk ke perpustakaan untuk mengambil sebuah pelat baja berbentuk lingkaran yang cukup tebal. Di tengahnya terdapat tombol yang ketika ditekan, maka akan muncul kain berbahan kulit yang membentuk dompet persegi panjang berwarna cokelat gelap. Ketika dibuka, terdapat beberapa buku di dalamnya.
Dan sekarang, Lug dan murid lainnya mengeluarkan buku mereka.
Guru yang ada di depan mereka pun mengenalkan namanya. "Namaku adalah Elizabeth Ellen, aku adalah pembimbing untuk kelas kalian ini," ucapnya.
Akan tetapi, mendengar nada bicara guru seksi itu, Lug merubah pandangannya. Guru wanita itu melihat semua muridnya itu sama tanpa memandang apakah dia itu bangsawan ataupun bukan. Meskipun terlihat galak dan tegas, tapi dia bukan termasuk seseorang yang suka mendiskriminasi orang lain yang kastanya lebih rendah darinya.
Lug menuruti ucapannya untuk mengeluarkan buku tanpa adanya rasa benci di dalam hatinya.
Setelah itu, Elizabeth menjelaskan tentang dasar-dasar sihir. Dimulai dari sumber mana dan mana alam, penjelasannya sangat mudah diterima dan hampir sama dengan pengetahuannya Lug.
Beberapa jam kemudian, waktu istirahat pun tiba. Mereka telah membawa bekal makanan dari asrama yang mereka buat sendiri. Karena Lug dan Toni tidak membawa bekal, mereka berjalan-jalan keluar untuk mengetahui denah akademi. Waktu istirahat hanya berlangsung selama setengah jam.
"Oh iya, Lug," ujar Toni. "Kita ini ingin kemana lagi? Kurasa kita jangan ke lantai dua." Ia tak mau memiliki masalah dengan para senior–lantai dua adalah tempatnya para senior.
Lug menjawab tanpa menoleh, "Aku memang mau ke lantai dua, di sana ada temanku."
__ADS_1
Toni masih sangat ragu dan ketakutan. Lug memahami lelaki tersebut, mau bagaimanapun juga usaha mereka untuk berada di akademi sihir kerajaan sangat besar. Sekalinya diterima dan memiliki posisi yang tinggi, maka resiko untuk dikeluarkan juga sebesar usaha yang mereka kerahkan. Bermasalah dengan para bangsawan, diskriminasi satu pihak yang membuat seseorang menjadi gila, mendapatkan banyak cercaan dan hinaan, serta stress berlebih yang bisa membuat depresi dan berakhir dengan bunuh diri, semua itu resiko yang harus ditanggung ketika sudah berada di akademi sihir kerajaan.
Para bangsawan tidak akan merasa bersalah sama sekali. Sekalipun mendapatkan hukuman, tetap saja pasti ada keringanan yang diberikan untuk mereka. Bahkan kesalahan dan kejahatannya itu mungkin akan dilupakan untuk selamanya.
Karena Lug tidak tega melihat Toni yang murung, ia pun berbalik. "Baiklah, kita kembali saja," ajaknya.
Toni terkejut. "Benarkah?"
"Iya, ayo kembali ke kelas."
"I-iya, baiklah."
Mereka pun kembali ke kelas dan bertemu dengan Zephyr yang juga baru saja masuk ke kelas–baru saja mencuci tangannya di wastafel yang ada di ruang toilet siswa–dia baru saja selesai makan–Lug juga mendapatkan roti isi daging darinya sebelum meninggalkan kelas.
Ada juga seorang anak yang bergabung dengan mereka dan mengobrol bersama. Anak itu adalah siswa yang semeja dengan Zephyr, ia bernama Evan Bion. Rambutnya lumayan panjang dan lebat berwarna hijau tua. Kulitnya sawo matang, murah senyum, mata lebar, iris mata hijau tua yang hampir menyatu dengan hitam, dan tubuhnya pendek serta sedikit gempal. Anak yang berasal dari desa Nordon, desa yang berada di sebelah barat kota kerajaan Da Nuaktha dan yang berjarak cukup dekat dengan kerajaan Da Nuaktha–setidaknya hanya 600 regrit saja, sementara desa Nedhen sendiri berjarak hampir 7800 regrit dari kota kerajaan apalagi desanya Toni, desa Forto, berjarak hampir 12000 regrit dari kota kerajaan.
Beberapa saat pun jam pelajaran dimulai. Ibu guru Elizabeth datang mengajar, dan pada saat itu Lug sangat bosan dengan apa yang diajarkan karena ia sudah tahu. Tak ada yang bisa dilakukan, Lug malah menaruh kepalanya di atas meja dan tidur.
Toni melihatnya, dan berusaha membangunkan Lug. Namun akhirnya Elizabeth tahu bahwa ada seorang muridnya yang tidur selama pembelajarannya. "Hei, itu! Yang tidur! Bangun!" bentak Elizabeth.
Lug terbangun pada saat itu juga, matanya yang malas itu terbuka secara perlahan, namun tidak seperti tatapan orang yang mengantuk. "Maaf?" ucapnya.
Elizabeth sedikit kesal, "Nak, jangan tidur selama pembelajaranku berlangsung. Maaf, kalau semisal pembelajaranku terdengar begitu membosankan, tapi hargai aku yang ada di depan," pintanya dengan nada yang halus.
Lug tersenyum. "Baiklah, bu, maafkan aku," ucapnya.
Elizabeth mendesah. "Kumaafkan kamu, tapi sekarang kamu ke depan dan jelaskan tentang sumber jiwa!" perintahnya. "Jelaskan saja apa yang kau tahu." Itu karena pada sekarang ini dia sedang menjelaskan tentang sumber jiwa.
Lug mengangguk. "Baik."
Lantas anak laki-laki itu maju. Toni membatin, sudah kuduga anak itu kurang tidur karena semalam tidak tidur.
Sementara orang lain seperti Wilson malah menertawainya dan mencercanya dari kursi belakang bersama dengan bangsawan lainnya. Zephyr tidak menyukai itu, lantas mengepalkan tangannya sekuat tenaga.
Lug mulai menjelaskan, "Sumber jiwa adalah perwujudan dari sumber mana seseorang. Tiap manusia atau makhluk lainnya pasti memiliki bentuk yang berbeda-beda, tergantung dari kepribadian, asal-usul, atribut sihir, lingkungan, fisik, dan bahkan faktor dari berlatih sihir. Biasanya wujud dari sumber sihir itu menentukan atribut sihir seseorang, apabila berbentuk seperti salju, seseorang akan lebih mahir menggunakan sihir dengan atribut yang dingin."
Bersamaan ketika sedang menjelaskan, Lug juga memperlihatkan sumber jiwanya yang hanya berupa sebuah debu yang bersinar saj–,sebenarnya itu bintang-bintang. Seisi kelas dibuatnya terkejut bahkan gurunya, Elizabeth Ellen pun juga terkejut melihatnya.
"Dari dulu aku sudah bisa memunculkan sumber jiwaku," jawab Lug dengan wajah datar.
"Apa?! Kenapa kau tidak melaporkan itu?" tanya Elizabeth.
"Memangnya untuk apa?"
"Kau akan mendapatkan token dengan emblem sumber jiwamu. Dengan itu para guru lebih mudah untuk mengenalimu."
"Kupikir sesuatu hal seperti ini tidak terlalu penting di akademi."
"Emblem dari sumber jiwamu itu akan menjadi tanda pengenal secara universal. Mungkin seseorang tak akan mengenalimu hanya dari wajah, tapi di masa depan dengan emblem dari sumber jiwamu itu yang akan membuat orang lain mengenalimu," Elizabeth menjelaskan.
Dan dengan ragu-ragu, Nagisa mengangkat tangannya. Elizabeth yang melihatnya pun langsung bertanya pada gadis tersebut, "Ada apa gadis cantik? Apa kau ingin bertanya?"
Beberapa gadis bangsawan di kelas S merasa jijik dengan panggilan yang diberikan guru pembimbingnya itu kepada salah seorang siswi yang berasal dari desa itu.
Nagisa menggeleng, lantas ia memperlihatkan sumber jiwanya di atas kedua telapak tangannya. "Aku juga sudah bisa melakukannya," terangnya.
Astaga! Mereka berdua katanya berasal dari desa yang sama, apa desanya itu menghasilkan anak-anak jenius seperti mereka? Batin Elizabeth. "Huh," dia mendesah. "Sekarang kalian menuju ke ruang praktek sihir terlebih dahulu, setelah pembelajaran ini aku dan teman-teman sekelasmu akan menyusul."
Sebenarnya setelah satu jam pembelajaran ini akan ada pelajaran praktek sihir di ruang yang berada di lantai dua. Karena Lug berulah, maka mereka akan mempercepatnya.
"Baiklah, kami akan ke sana," ujar Lug. Nagisa sudah berada di sampingnya dan mereka berdua pergi bersama.
Lug mendapatkan apa yang dia inginkan. Ia sangat ingin ke lantai dua, barangkali akan bertemu dengan Fana di sana. Sebenarnya Lug juga sudah membaca masa depan, ia tidur bukan hanya karena bosan, tujuannya adalah seperti yang sekarang ini sedang dialaminya. Semua itu ia lakukan dengan penuh kesengajaan.
Di tengah jalan, anak laki-laki itu meminta maaf. "Maaf ya, Nagisa, gara-gara aku, kau juga ikut terkena masalah denganku."
Nagisa memberikan senyuman hangat. "Tidak, kak. Aku sendiri yang memang ingin mengungkapnya," ujarnya berterus terang.
__ADS_1
Ketika berada di lantai dua, Lug dan Nagisa pun akhirnya bertemu dengan Fana. Terlihat gadis berambut jingga itu sedang membawa sebuah kotak kardus yang di dalamnya terdapat banyak buku dan kertas. Ternyata gadis itu sedang disuruh oleh gurunya untuk membawakan beberapa berkas untuk pembelajarannya.
"Mau kubantu, Fana?" Lug menawarkan.
Fana memberikan senyuman palsu. "Tidak perlu, aku sendiri bisa melakukannya," ungkapnya. Wajah gadis ini terlihat sedikit pucat dan tampak sedikit terpaksa ketika mengangkat kotak kardus tersebut.
Melihat itu, Lug segera merebut kotak tersebut. "Biar kubawa barang barang ini," ujarnya.
Fana merasa tidak enak. "T-tidak perlu, Lug," sahutnya. "Kalau seperti ini, aku malah merepotkanmu."
Lug malah tertawa. "Hahaha, kau kelihatannya berubah dengan sangat drastis ketika ada di akademi ini," paparnya. Lantas tertawaannya itu berhenti setelah melihat Fana yang wajahnya pucat. "Biar kubantu, kau kelihatannya sedang tidak enak badan," imbuhnya.
Alih-alih menolaknya, Fana mengiyakan bantuan dari Lug dan berterima kasih padanya.
Setelah sampai di kelasnya Fana, Lug melihat gurunya itu yang seorang wanita gemuk, memiliki tahi lalat di bawah bibirnya, mengenakan kacamata persegi panjang, dan rambut biru tua panjang disertai iris abu-abu sedang memarahinya karena terlalu lama membawakan barang-barangnya. Gurunya itu bahkan terdengar mendiskriminasi Fana karena berasal dari desa. Beberapa murid lainnya yang berasal dari desa ikut menunduk karena juga merasa sedang didiskriminasi.
Lug sudah menduga bahwa ada guru-guru semacam itu, apalagi kelasnya Fana ini adalah kelas C yang mana murid bangsawan yang ada di kelasnya itu sangatlah minim.
Tetapi Lug segera kembali menuju ruang praktek seperti yang disuruh oleh gurunya. Dan ternyata ketika ia dan Nagisa sampai di depan pintu, terdengar banyak orang yang sedang menggunakan ruangan tersebut. Ketika Lug melihat dengan Penglihatan Langitnya, di dalam ruangan tersebut digunakan oleh orang-orang yang mana itu adalah bangsawan semua. Yang berarti sekarang ini ruang praktek sihir sedang digunakan oleh kelas eksklusif.
Tidak ingin menunda banyak waktu lagi, Lug menarik tangan Nagisa dan membuka pintunya. Mereka masuk dan semua orang menatap ke arahnya.
"Siapa mereka?"
"Bukan bangsawan, mereka tak punya sopan santun."
"Oh, pantas saja."
"Untuk apa mereka ke sini?"
"Entahlah, mungkin saja tersesat di lantai dua."
Seorang guru lelaki mendatangi Lug dan Nagisa. Ketika berada di hadapan Lug, guru itu memberikan aura ganas yang sangat mengerikan, seolah sedang memberikan rasa takut kepada dua murid itu. "Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya. Suaranya serak dan keras, memberikan kesan yang lebih mengerikan.
Nagisa merasa takut mendengar suara guru itu, tetapi Lug sama sekali tidak terintimidasi olehnya. Wajahnya yang datar itu menatap mata guru lelaki di depannya sembari mendongak karena lelaki yang ada di depannya itu lebih tinggi darinya.
Lantas Lug menjelaskan, "Kami ke sini atas perintah guru kelasku, kelas S, nama gurunya adalah Elizabeth Ellen."
Para bangsawan yang ada di ruangan itu sedikit terkejut.
"Mereka berdua itu dari kelas S?"
"Aku tak percaya."
"Apa kau buta? Lihat emblem yang ada di jubah mereka itu!"
"Iya, mereka berdua dari kelas S."
Terlihat mereka seakan memberikan sedikit rasa menghormati ketika melihat Lug dan Nagisa berasal dari kelas S. Tak dapat dipungkiri, dari segi apapun, kelas S dan kelas eksklusif pastinya memiliki kualifikasi yang menjanjikan dan banyak kesamaan dari kedua kelas itu.
Menyadari seorang anak dari kelas S bernama Lug memasuki ruang praktek sihir, George langsung tahu siapa anak itu.
"Dia ... "
Guru laki-laki yang menghadang Lug itu pun bertanya, "Apa keperluan kalian berdua kemari? Sekarang ini ruang praktek sihir sedang digunakan oleh kelas eksklusif, satu jam setelah ini adalah giliran kelas kalian," jelasnya.
Lug menjawab, "Kami ke sini karena guru Elizabeth menyuruh kami datang ke ruangan ini. Dua kata saja, sumber jiwa."
Mendengar itu, semua yang ada di kelas itu heboh karena mendengar dua anak yang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam ruang praktek sihir mengatakan tentang sumber jiwa. Mereka semua tahu dua kata itu merujuk ke arah mana.
"Kalian berdua yakin tentang itu?" tanya guru lelaki itu lagi.
"Iya," jawab Lug singkat.
Dengan tatapan wajah sebal, guru lelaki itu pun berbalik. "Masuklah ke ruangan yang ada di ujung sana, untuk membuat token emblem ada di sana," katanya seraya menunjuk ke arah sebuah pintu yang ada di ujung ruangan.
"Baiklah."
__ADS_1
Lug dan Nagisa pun segera menuju ke ruangan yang telah diberitahukan.
Bersambung!!