![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
"Apa?!" seru Alice. "Kau ingin bertemu dengan ayahku?"
Nio mengangguk. "Iya."
Mereka berdua ternyata telah mengobrol selama setengah jam lamanya. Dan minuman yang diminta oleh Nio kepada Johan untuk dibawakan ke ruangannya juga sudah disajikan. Awalnya Alice tidak mau meminumnya karena mengira bahwa minuman tersebut adalah buatan Johan, tetapi Nio mengatakan bahwa dirinya yang membuat minuman tersebut, hanya saja ia meminta bantuan untuk membawakannya ke ruangan pribadinya.
"Wah wah, apa kau hendak melamarku? UUUUHHH ... AKU TERHARU! Aku akan menerima lamaranmu, ayahku mungkin akan menyetujui pernikahan kita," ujar Alice bersemangat.
Tetapi Nio sangat tidak menduga pikiran gadis di depannya itu, ia menggeleng dan menghela nafas. "Bukan, bukan itu," tuturnya. "Aku ingin meminta bantuan darinya untuk mendapatkan izin pergi menuju ke dataran Exter sebagai Ranker."
"Yaaah ... " Alice mendengus kecewa.
Sebenarnya Nio sangat kesal dengan perbuatan gadis berambut ungu tersebut, tapi itu yang membuat gadis tersebut berbeda dari yang lain, sehingga Nio nyaman berada di sisinya.
"Kapan kau akan kembali?" tanya Alice yang tahu bahwa kepergian lelaki yang disukainya itu memakan waktu berhari-hari.
Nio menjawab, "Setidaknya satu bulan. Jika kami cepat kembali, banyak orang akan tahu identitas kami. Kau tahu, kan, kalau nama Vlamera itu diisi oleh Ranker misterius yang tidak dikenal siapa saja anggotanya, maka dari itu jika kami segera kembali sama saja dengan mengungkap identitas. Orang luar tidak ada yang tahu bahwa 4-OV berasal dari nama Vlamera."
'Kami' yang dimaksud olehnya itu adalah 4-OV.
Setelah berbincang cukup lama, Alice menyerah untuk meyakinkan Nio agar tetap di kota Pertus saja. Nio sangat berintegrasi pada tujuannya yang mana penyandang nama Vlamera adalah orang-orang konsisten dan berintegritas.
"Ayo, kita ke rumahmu," ajak Nio. "Kalau beruntung, mungkin ayahmu akan menjodohkan kita berdua."
"Hmph! Aku tidak ingin kita dijodohkan, aku ingin melihat keberanianmu melamarku di depan kedua orang tuaku," papar Alice seraya menggembungkan pipinya.
"Baiklah baiklah, tapi apa kau tetap tak mau meski kita dijodohkan?" Nio menggoda.
Wajah Alice memerah. "Y-ya ... Aku mau- tapi ... "
"Sudahlah, ayo!"
Mereka pun segera menuju ke bawah melalui tangga dapur. Johan menyapa mereka berdua ketika sampai di lantai dasar. Alice sebenarnya orang yang sangat ramah, tapi untuk sekarang ia hanya ingin memperhatikan dan diperhatikan oleh Nio saja.
Di saat keluar dari restoran, mereka berdua bertemu dengan sepasang kekasih yang hendak masuk.
"Wah wah, tuan muda Nio," ucap sang pria berambut pirang. "Anda mau ke mana dengan nona muda Claudia? Apakah kalian hendak berkencan?"
Untuk menghormati, hampir semua orang memanggil Alice dengan nama keluarganya. Berbeda dengan nama Vlamera yang justru sebisa mungkin untuk tidak disebut. Tidak ada dari Nio, Leonardo, Cleo, maupun Vernando yang nama belakangnya digunakan sebagai panggilan. Semua orang memanggil mereka dengan nama depan.
Nio mengangguk. "Ya, begitulah. Gadis ini merengek meminta agar aku mengajaknya berkencan," sahutnya.
Alice menggembungkan pipinya sebal.
"Wah ... Kalian benar-benar mesra. Maaf jika kami mengganggu, kami masuk duluan tuan dan nona muda," sahut balik pria berambut pirang itu.
"Haha, sama sekali tidak mengganggu. Silahkan nikmati kencan kalian."
__ADS_1
"Anda juga."
Lantas Nio dan Alice segera menuju ke kediaman Claudia. Kediaman Claudia lingkungannya tidak terlalu besar, bahkan bisa dibilang keluarga tersebut dipenuhi dengan orang-orang sederhana. Kediaman Claudia hanya berupa tanah seluas 10x10 regrit, dan rumahnya berada di tengah dengan luas 6x6x8 regrit–tiga lantai. Ada pos penjaga di gerbang yang dipenuhi oleh tanaman hijau. Tanah di sekitarnya ditumbuhi oleh rerumputan hijau yang sangat halus.
Melihat nona muda Claudia yang hendak masuk bersama dengan Nio, sang penjaga gerbang pun membukakan gerbang gesernya. "Selamat datang, nona," ucapnya.
"Terima kasih, James," ucap Alice.
"Sama-sama, nona," sahut James yang mana itu adalah penjaga gerbang sembari menganggukkan badannya.
Dan ketika masuk, Nio melirik ke arah James. Ternyata mereka berdua saling melirik dan terlihat saling mengenal. Nio menyeringai tipis dan James mengedipkan matanya perlahan seraya menganggukkan kepalanya. James adalah salah satu anggota dari asosiasinya Vernando.
Sesampainya di dalam, ada beberapa pembantu yang sedang berberes. Nio mengetahui pembantu mana saja yang menjadi anggota dari asosiasinya Vernando.
Semua pembantu yang ada di kediaman Claudia bersikap natural seperti para pembantu pada umumnya. Dan ketika melihat nona mudanya datang, mereka langsung berdiri untuk memberikan hormat.
Ah, hidup seperti ini terlalu merepotkan, batin Alice.
Sebenarnya Nio juga membatin hal yang sama. Tapi mereka berdua memang orang yang sangat ramah terhadap orang lain, jadi tidak terlalu mempermasalahkannya.
"Bibi, tolong panggilkan ayahanda. Katakan padanya bahwa calon menantunya ingin menemuinya," suruh Alice pada salah satu pembantunya.
"Baiklah."
Pada saat itu, Nio melirik jengkel kepada Alice. Namun gadis itu malah menjulurkan lidahnya dan meledek. Di mata orang lain, mereka memang pasangan yang sangat serasi.
Tak lama kemudian, kepala keluarga Claudia pun datang. Ia memiliki tubuh yang tinggi, besar, dan kekar. Bahkan ujung kepala Nio pun tidak menyentuh kumis pria besar itu. Kumisnya yang melintang itu berwarna putih, rambutnya sudah hampir memutih semuanya–ada beberapa yang masih berwarna hitam, panjang dan disisir ke belakang yang memberikan kesan yang sangat garang–Nio kalah jauh. Besar tangannya saja bahkan hampir dua kali kepalan tangannya Nio. Namanya adalah Vorger Claudia.
"Ah, tuan Vorger," Nio menyapa. "Lama tak berjumpa. Anda sehat?"
Vorger memberikan tatapan tajam nan sinis pada anak lelaki itu. Sementara Nio sendiri tidak merasa takut padanya.
"Waaahhh ... Nio, aku sehat, hohoho- Beberapa bulan ini kita jarang berjumpa lagi, aku sampai hampir lupa dengan nama dan wajahmu. Maafkan aku pahlawan muda," ucap Vorger dengan suara yang keras. Memang seperti itulah orang, selalu berbicara dengan suara yang keras. Bahkan anaknya sendiri sampai tidak tahan mendengarnya.
Nio ikut tertawa. "Ya, mau bagaimanapun juga usia anda sudah tidak muda lagi. Bagaimana kabar nyonya Airin dan tuan muda Nozel?"
"Nozel ada di kamar, Airin sedang berdandan, mereka berdua baik-baik saja, bagamana denganmu sendiri?"
"Syukurlah, aku sendiri baik-baik saja."
Airin adalah ibunya Alice dan Nozel adalah kakaknya.
Sebenernya Vorger ingin sekali berbincang lebih lama dengan Nio, tapi ia tahu bahwa pemuda yang ada di hadapannya itu bukan datang hanya untuk mengobrol dan berkunjung saja. "Nak, apa maksud kedatanganmu kemari? Apa kau ada masalah yang perlu aku bantu?" tanya Vorger penasaran.
Nio suka ayahnya Alice yang bisa menebak situasi, ia tersenyum. "Langsung pada intinya saja, 4-OV ingin pergi ke dataran Exter sebagai Ranker. Kami akan jadi perwakilan kota Pertus, tolong lakukan sesuatu agar kami mendapatkan izin," pintanya berterus terang.
Vorger tersenyum mendengarnya. "Aku bisa saja membantumu," tuturnya.
__ADS_1
Nio merasa bahwa pria tua di hadapannya itu hendak memberikan syarat agar permintaannya dipenuhi. "Kau ingin memberikan syarat atas permintaanku?"
Vorger suka dengan kemampuan Nio yang seolah bisa membaca pikiran dan menebak ucapan. "Ya, aku ingin membicarakan ini empat mata saja."
Dan seketika itu juga, semua pelayan yang ada di sana langsung pergi. Mereka semua tahu apa maksud dari perkataan barusan. Alice tidak meninggalkan tempatnya, ia juga ingin mendengar apa yang akan dibicarakan oleh ayahnya dan Nio.
"Bagus, sekarang sudah sepi," ujar Vorger.
Nio membatin, aku tidak masalah apabila satu atau dua orang tadi mendengar percakapan kami. Toh, empat dari lima pembantu tadi adalah anggotanya paman Vernando.
"Nak, aku mengakui kemampuanmu," papar Vorger.
Alice terkejut mendengarnya.
"Terima kasih," ucap Nio.
"Aku benar-benar terkesan dengan kemampuanmu. Kau menolong kami dan membuat statusku yang seorang Duke masih bisa dipertahankan," ungkap Vorger. "Aku tak tahu bagaimana caramu, tapi dengan kedatanganmu di kota Pertus ini, kau menangkap seluruh pemuja dewa iblis yang ada di keluargaku. Bahkan kau membersihkan seluruh wilayah kota Pertus ini hanya dengan kemampuanmu dan Vlamera lainnya."
"Tuan Vorger, aku masih mengingat semua itu, itulah yang membuatku dipercaya di seluruh penjuru kota Pertus ini," ujar Nio. "Tapi, aku ingin mendengar syarat apa yang ingin kau-ajukan padaku."
Vorger tersenyum. "Aku suka sikapmu yang lugas itu, maaf jika aku bertele-tele."
"Tidak apa-apa," sahut Nio.
Alice masih ingat kejadian yang diceritakan oleh ayahandanya barusan. Dulu dirinya sempat dijadikan sandera di saat seluruh pemuja dewa iblis terungkap. Nio menyelamatkannya seorang diri.
"NOZEL! AIRIN! KEMARILAH!!!"
Tiba-tiba saja Vorger meneriaki nama istri dan anak sulungnya.
Tak lama kemudian, mereka yang diteriaki itu pun datang.
Airin memiliki mata indah yang sama dengan mata milik Alice. Wajahnya sangat anggun dan tidak terlihat tua selayaknya suaminya yang terlihat jelas menua. Tatapannya dingin dan anggun, rambutnya berwarna berwarna ungu, bibirnya mungil seperti anak kecil, dan sedikit lebih tinggi dari Alice–gadis itu tingginya hampir menyentuh hidungnya Nio. Airin mengenakan pakaian yang elegan nan mewah yang dihiasi oleh pernak pernik berkilauan–pakaiannya dominan berwarna ungu dan putih.
Sementara Nozel adalah seorang lelaki yang tingginya sama dengan Nio. Wajahnya mirip seperti ayahnya, namun rambutnya berwarna ungu–sama dengan ibunya. Tatapannya dingin, dan ia mengenakan anting tengkorak di telinga kirinya. Rambutnya memiliki model undercut dan pakaiannya adalah pakaian santai sehari-hari yang berupa kaos putih polos dengan celana pendek berwarna biru gelap yang hampir tidak menutupi lututnya.
Tatapan mereka berdua memang sangat dingin, namun ketika melihat ada Nio, mereka langsung terkejut dan bersemangat–bahkan tidak menunjukkan keeleganan mereka yang sebelumnya.
"Wah, tuan muda Nio," sapa Airin. "Sejak kapan kau datang ke sini? Maafkan aku karena tidak menyambut kedatanganmu."
Nio menjawab, "Aku baru saja datang, masih segar bugar seperti yang anda lihat."
"Tidak usah terlalu formal, tuan muda Nio."
"Begitu juga dengan anda, tak usah memanggilku dengan sebutan tuan muda. Panggil saja Nio."
"Baiklah, jika kau berkata seperti itu."
__ADS_1
Bersambung!!