![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Nio merasa ada yang tidak beres dengan yang terjadi sekarang ini, dia segera pergi meninggalkan kota Pertus meninggalkan keempat Vlamera. Kini dia sedang pergi menuju ke kerajaan Da Nuaktha dan akan kembali sebagai Lug Vincent.
Dia membatin, Makhluk makhluk sialan yang hidup di luar sana pasti sedang membuat kegaduhan yang menyebabkan gelombang kehancuran di Lautan Semesta. Aku yakin, pasti sudah ada miliaran hingga triliunan alam semesta yang hancur. Jika hal ini terus berlanjut, semesta ini juga pasti akan hancur. Kiamat pasti tak terelakkan jika aku tak berbuat sesuatu untuk memperbaiki struktur semesta ini. Cih, mereka mengganggu kehidupanku yang sudah berjalan senikmat ini.
Sekarang Lug sedang berada di Hutan Belerang dan menuju ke perbatasan kerajaan Eternan dan kerajaan Yon.
Satu jam sebelumnya, dia masih berada di kota Pertus dan berada di rumah tempat tinggalnya Cleo. Wanita itu sudah terbangun dari pingsannya dan membuka matanya, telinganya juga terlihat sudah pulih.
Cleo dan yang lainnya sedang berada di dalam kamarnya yang dicat merah muda, dipenuhi oleh boneka yang cantik nan imut. Terdapat juga sebuah meja dengan cermin besar yang biasa digunakan oleh Cleo untuk berdandan.
"Cleo, apa kau baik-baik saja?" tanya Leonardo.
Nio menepuk pundak pamannya itu. "Biarkan kakak Cleo beristirahat untuk sementara, dia harus segera pulih karena situasi yang sangat gawat ini," ujarnya.
Leonardo mengangguk, tatapannya menjadi semakin sedih. Dia membatin, Nio benar, aku tak seharusnya langsung bertanya kepada Cleo seperti itu.
Tapi tiba-tiba, Cleo bangkit. Dia duduk, dahinya mengkerut, matanya menatap tajam ke arah Nio yang menatapnya tajam balik, meski begitu-, banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan oleh wanita itu kepada mereka semua yang berada di kamarnya itu. "Kalian ... Apa yang sebenarnya terjadi?! Suara mengerikan apa yang mendengung di seluruh penjuru kerajaan itu?! Apa itu sangkakala kiamat?!" tanyanya penasaran.
Nio maju tiga langkah mendekati Cleo. "Suara itu- bukan hanya kerajaan ini yang mendengarnya," jawabnya dengan tatapan yang lebih tajam. "Manusia, iblis, dan seluruh ras yang menghuni planet ini, hingga bahkan para dewa sekalipun terguncang akibat gelombang yang dahsyat itu. Suara hanyalah manifestasinya saja, kalian hanya tidak merasakan gelombang yang membuat ruang waktu menjadi sedikit kacau," Nio menjelaskan.
Dia duduk di ranjang tepat di samping Cleo, lantas mulai menjelaskan lagi, "Ada suatu hal yang terjadi di mana mungkin kau tak mungkin percaya dengan ucapanku."
"Memangnya apa?! Apa itu sampai membuat telingaku pecah?! Bahkan para dewa juga mendengarnya? Nio, bagaimana kau bisa tahu?!" seribu pertanyaan mulai terlontar dari mulut Cleo.
Tapi Nio mulai menjawabnya satu persatu, namun sebelum itu, "Sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu, aku ingin kalian memberikan kepercayaan dan kesetiaan kalian kepadaku agar penjelasan ini menjadi lebih mudah dimengerti, dan lebih masuk akal."
Vernando dan Leonardo saling menatap satu sama lain, mereka juga belum tahu apa yang akan dibahas kali ini.
"Kepercayaan kalian sangat dibutuhkan, tapi jika kalian mendesakku untuk menjawabnya- baiklah, tetapi aku hanya menjawab beberapa," papar Nio.
Lantas lelaki muda itu menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Semuanya terkejut hingga membelalakkan mata mereka, kecuali Nio dan Vernando.
"APA?! SEMESTA INI AKAN HANCUR?!" tanya Cleo.
Nio mengangguk mantap, tatapannya masih tajam dan ia masih mengerutkan keningnya. Seakan-akan ada suatu yang sangat membuat dirinya sangat marah. Tapi kini lebih tepatnya Nio sedang menanggapi situasinya dengan teramat sangat serius karena sedang mempertahankan alam semesta yang dihuninya.
"Kita sudah hancur, memangnya apa yang harus kita lakukan jika situasi ini terjadi? Semakin lama, kita akan semakin disudutkan. Semua yang kita lakukan sama sekali tidak berarti," gumam Cleo pesimis. Wajahnya murung sekaligus diselimuti oleh aura ketakutan yang sangat pekat. Dia tak kuasa menahan air matanya karena menurutnya, kematian sudah semakin dekat.
__ADS_1
"TIDAK!!!" seru Nio dengan suara yang sangat keras.
Semuanya menoleh kepadanya, mereka bingung karena merasa bahwa seolah anak muda itu memiliki solusi untuk situasi yang sangat tidak memungkinkan untuk bisa diselamatkan ini.
"Sedari awal aku sudah berkata, aku butuh kepercayaan dan kesetiaan kalian. Aku tidak bisa mengungkapnya begitu saja jika kalian tidak mempercayaiku," tutur Nio dengan nada tinggi.
Semua yang ada di ruangan itu mengerti dengan ekspresi pada wajah Nio.
Pada saat itu, Vernando mulai menundukkan badannya. "Aku percaya kepadamu, Nio. Aku berterima kasih karena kau lah yang membimbingku, aku merasa malu karena aku tidak bisa bertindak layaknya orang dewasa yang seharusnya menjadi pembimbingmu, bukan sebaliknya," ucapnya menyatakan kesetiaan.
Nio menggunakan Penglihatan Dunia dan Penglihatan Langit-nya merasakan ketulusan dari pernyataan tersebut. "Paman Vernando, bangunlah. Aku terima pengakuanmu," ujarnya.
Vernando bangun bersamaan dengan Nio yang berdiri. Mereka saling mengangguk dan melemparkan tatapan saling mempercayai satu sama lain. Vernando memang selalu mendapatkan solusi jika sedang bermasalah, seseorang yang selalu memberikan solusinya itu tak lain dan tak bukan adalah Nio seorang.
Cleo dan Leonardo juga menyatakan kesetiaan mereka pada saat itu juga, mereka berdua berjanji kepada Nio untuk setia, asalkan dunia yang mereka tempati sekarang selamat dari kehancuran.
Sebenarnya ketika Nio menatap Cleo, wanita itu memiliki sedikit keraguan di dalam hatinya. Dia memang berpikiran rasional, tapi melihat yang lain percaya kepada Nio, maka tak ada pilihan yang lain lagi. Meski begitu, Nio tersenyum melihat Cleo yang perlahan mulai mempercayainya.
"Apa yang membuatmu ragu, kakak Cleo? Rasionalisme? Aku belum mengatakan rencanaku, jadi kenapa kau berpikiran seperti itu seperti menganggap diriku ini tidak masuk akal?" tanya Nio untuk semakin meyakinkan Cleo.
Nio menjawab, "Tidak perlu banyak pertanyaan agar aku menjawab semuanya, setelah rencanaku kuungkapkan, maka itu akan menjawab semuanya."
Seketika Cleo terdiam, dia sudah tak bisa mempertanyakan apapun lagi.
"Jika kau tidak mempercayaiku, maka aku akan pergi saja dari sini. Kita sudah terlalu banyak membuang waktu di sini, aku senang kau sudah sadar. Beristirahatlah agar kau pulih kembali," tutur Nio yang mulai melangkah pergi dari kamar tersebut.
Dia diikuti oleh Leonardo dan Vernando dari belakang yang sudah mempercayainya, meski Leonardo masih ragu untuk meninggalkan Celo sendirian–bukan ragu untuk memberikan kesetiannya kepada Nio.
Mereka sudah keluar dari rumah Cleo yang indah dan dipenuhi oleh tanaman tanaman hijau. Nio mulai membuka pintu gerbang kecil berwarna hitam yang berada di antara dua dinding yang menjadi gerbang bagi rumahnya Cleo. Nio mulai keluar satu langkah dari sana.
"TUNGGU!!!"
Tiba-tiba saja ada yang menghentikan langkah kaki mereka untuk beranjak keluar dari sana. Dia adalah Cleo.
"Nio!" seru wanita itu. "Aku memang sangat ragu untuk mempercayaimu, tapi jika memang kau sungguh mempunyai cara untuk menyelamatkan semesta ini ... Kumohon, terimalah kesetiaanku. Selamatkanlah dunia ini dari kehancuran dan kiamat."
Air mata Cleo mulai menetes, dia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Sehingga membuatnya menangis karena mulai mempercayai Nio sepenuhnya yang berkata tidak masuk akal. Cleo menunduk ke bawah, air matanya sampai menetes ke lantai.
__ADS_1
Namun Nio menerima kesetiaan dari Cleo. Dia mulai tersenyum iba melihat wanita itu yang tak punya pilihan lain lagi. Nio mendekatinya dan mengusap kepala Cleo. "Baiklah, kita bicarakan semuanya di dalam," ajaknya.
Mereka semua kembali masuk ke dalam rumahnya Cleo.
Mereka duduk di ruang tamu. Sofa yang diduduki mereka memang sangat empuk, ada satu sofa panjang yang sekarang di duduki oleh Cleo dan Nio. Sementara Vernando duduk di sofa kecil yang saling berhadap-hadapan yang di antara keduanya terdapat meja panjang di tengahnya.
Nio mulai memberikan pengakuan, "Karena kalian telah memberikan pengakuan, yang pertama adalah sumber jiwaku." Dia menunjukkan sumber jiwanya yang spektakuler dan semuanya langsung tahu bahwa itu melampaui sumber jiwa milik Potter yang memiliki kelangkaan wujud legenda.
"Aku menunjukkan sumber jiwaku ini bukan tanpa tujuan apapun, ini adalah sebuah bukti. Dan lagi, bukti akan perihal apa? Aku akan mengakui suatu hal yang mungkin sulit dipercayai, tapi karena kalian sudah berjanji untuk mempercayaiku, maka kalian harus percaya!" tuntut Nio sembari menatap satu persatu mata Vlamera lainnya termasuk Cleo yang berada di sebelahnya.
Tak ada dari mereka bertiga yang memotong ucapan Nio dengan pertanyaan apapun.
"Sebelum itu, aku sekarang sedang menunggu seseorang. Kita tunggu saja dia kemari," ujar Nio.
Tak lama, ada seorang pria yang datang mengetuk pintu–sebelumnya pintu masuk ditutup oleh Leonardo.
TOK
TOK
TOK
"Dia sudah datang," ujar Nio.
Cleo berdiri dan membukakan pintunya, pada saat itu dia terkejut melihat seseorang yang familiar sekali di matanya.
Dan ternyata lelaki yang dimaksud oleh Nio adalah Johan. Dia memang sudah ditunggu kehadirannya oleh Nio semenjak dari tadi untuk ikut serta membahasnya.
"Semuanya, perkenalkan namanya, dia adalah Aldero Johan Vlamera, anggota Vlamera keenam yang kupercaya. Kalian pasti terkejut, dia adalah budak pertama yang aku bebaskan pada saat pertama kali kita membuka kedok para pemuja dewa iblis itu, dia adalah korban yang ada dijadikan persembahan untuk para dewa iblis, aku menyelamatkannya pada saat dia hampir dieksekusi dengan sebuah sihir gelap. Kepercayaannya melampaui kalian semua yang berkumpul di sini," jelas Nio.
Semua yang ada di sana menatapnya terkejut sambil menelan ludah. Tepat setelah itu, mereka kembali menatap Johan yang senang karena dipercaya sebagai anggota Vlamera terbaru.
Sekarang Johan dipanggil dengan nama Aldero. Dia sekarang berjalan bersama dengan Cleo dan duduk di samping Nio dengan Nio berada di tengah.
"Aku tidak akan berbasa-basi lagi, aku akan langsung menjelaskannya meski Romeo tidak hadir di sini," papar Nio. Tatapannya semakin tajam hingga semua orang menelan ludah ketika menatap matanya langsung–mereka juga penasaran dengan apa yang akan diucapkannya lagi. "Aku ingin kalian percaya padaku akan satu hal ini, aku adalah seorang reinkarnator, kehidupanku yang sebelumnya adalah ... Leluhur yang menciptakan pembatas antar ras yang telah memberikan kedamaian di dunia ini. Sumber jiwaku yang telah aku perlihatkan pada kalian tadi adalah sumber jiwa dengan kelangkaan wujud yang melampaui tingkat mitos- itu adalah bukti ... Bahwa aku adalah sesosok yang sering kalian sebut sebagai leluhur yang telah terlahir kembali."
Bersambung!!
__ADS_1