Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 35 - Bermasalah


__ADS_3

Ruang praktek sihir, ruangan tersebut dipenuhi oleh alat-alat yang diperlukan untuk sihir. Seperti boneka jerami yang digunakan sebagai target untuk sihir menembak, mangkuk yang dipenuhi oleh air untuk sihir pengendalian air dan es ataupun atribut yang lain, dan lain-lainnya.


Di ujung ruangan tersebut terdapat pintu yang mana di balik pintu itu terdapat sebuah ruangan untuk membuat token emblem sumber jiwa.


Lug berada di ruangan tersebut. Tepat sebelum memasuki ruangan itu, dia sempat menyeringai dengan tatapan mata yang penuh dengan kesombongan dan menghina ke arah George.


Sialan kau, bocah kampungan! Umpat George dalam hati dengan penuh rasa kesal.


Setelah itu, ada seorang pria yang mengenakan kacama satu lensa tengah berada di dalam ruangan yang Lug dan Nagisa masuki. Di sana terdapat meja yang penuh dengan buku dan format, sebuah lampu meja, dan beberapa token berbentuk segi delapan tanpa lambang berwarna putih bulan. Pria itu terlihat berusia empat puluh tahunan dengan rambut putih pendek yang hanya disisir ke belakang, jenggot putih panjang, dan matanya yang sudah setengah katarak. "Ada apa kalian ke sini? Jangan ke tempat ini kalau tak ada urusan," ujar pria tua itu yang bertujuan mengusir.


Tapi Lug dengan santainya menjawab, "Maaf kalau kami mengganggumu, tuan." Ia membungkukkan badannya. "Kami ke sini untuk token identitas kami."


Kakek tua itu melirik ke arah Lug dan Nagisa. "Kalian sudah bisa memunculkan sumber jiwa?" tanyanya memastikan.


"Sudah, tuan," jawab Lug.


"Jangan panggil aku tuan, namaku Rovers Luminously, panggil saja aku pak Rovers! Sekarang aku ingin lihat sumber jiwa kalian."


"Baiklah, pak Rovers."


Lantas Lug memunculkan sumber jiwanya terlebih dahulu. Rovers berdiri dan mendekatinya, melihat sumber jiwa milik Lug secara mendetail, bahkan ia mendekatkan matanya ke sumber jiwa tersebut.


"Ada yang aneh," kata pria tua itu, lantas memandang Lug dengan penuh rasa curiga. "Aku memang sudah tua, dan jelas sumber jiwa seseorang tak bisa ditebak bagaimana bentuknya, tapi apa sumber jiwa ini benar-benar sebuah bola putih?" tanyanya memastikan.


Benar saja, pria tua ini berasal dari keluarga Luminously. Biar kulihat apakan pak tua ini juga seperti kepala akademi Howard yang menentang paham diskriminasi, batin Lug.


Sementara Nagisa masih ragu-ragu dan gugup. Ia menggenggam kedua tangannya dan diangkat hinggap menutupi mulutnya.


"Maaf pak, tapi ... " kata Lug yang seakan terhenti dan enggan mengatakan kebenarannya.


Tetapi Rovers sama sekali tidak memberikan ekspresi yang menonjol. "Rahasia, ya? Aku memang tidak memaksa, tapi itu semua terserah dirimu," paparnya.


Lug menyeringai sesaat, dan kemudian kembali pada ekspresinya yang sebelumnya. "Tidak, pak, lihat ini," ia segera memperlihatkan bagaimana debu bintang di antara nebula yang berwarna cyan, biru, hijau, dan ungu.


Rovers Luminously pun terkejut. "Ini ... Kelangkaan wujudnya adalah super, iya, ini super," ujarnya, lantas menatap ke arah Lug dengan senyuman penasaran. "Nak, apa kau sungguh berasal dari desa?"


Lug mengangguk dan menjawab singkat, "Iya."


Pak tua Rovers pun menepuk pundak Lug, seakan dia hendak memberikan pujian dan harapan kepada anak itu. Dan benar saja, Rovers pun memberikan sebuah harapan kepada Lug. "Masa depanmu luar biasa, ahli sihir sepertimu tidak terhentikan, tunjukkan keahlianmu pada dunia agar kerajaan Da Nuaktha semakin berjaya di mata orang lain," harapnya.


Kata-kata seperti itu memang selalu diucapkan agar memberikan semangat kepada anak yang diharapkannya.


Tetapi tidak untuk Lug, anak itu justru memiliki tujuan lain karena menurutnya tidak ada yang seru jika hanya menyenangkan kerajaan Da Nuaktha saja. "Pak Rovers, bisa aku minta tolong padamu agar tidak mengatakan bahwa sumber jiwaku ini punya kelangkaan wujud tingkat super?" pintanya.


"Baiklah," pak tua Rovers menyanggupinya. Karena baginya, menyembunyikan berlian mentah seperti itu di mata orang lain akan membuat orang lain–kerajaan lain, memburunya.


Dan pada saat giliran Nagisa, gadis itu menunjukkan tiga buah debu yang bersinar sebagai sumber jiwanya. Menurut pak tua Rovers, kelangkaan wujud jiwa gadis itu berada di tingkat langka. Meski begitu, Nagisa tetap mendapatkan pujian dari Rovers. Segera dia mengambil dua buah token yang ada di mejanya, lantas memberikannya kepada Lug dan Nagisa. "Munculkan sumber jiwa kalian! Token itu secara sendirinya akan menyalin bentuk yang dilihatnya," suruh Rovers.


Setelah itu, Lug dan Nagisa pun melakukan apa yang pak tua Rovers katakan. Mereka segera keluar dari ruangan tersebut.


Benar saja, seluruh kelas S telah menunggu di luar ruangan praktek sihir. Dan para bangsawan dari kelas eksklusif sedang hendak keluar karena mereka diminta oleh Elizabeth yang hendak memakai ruangannya segera.


Sebelumnya Elizabeth sempat berdebat dengan guru pembimbing kelas eksklusif yang mana itu adalah seorang lelaki yang sempat menginterogasi Lug sebelumnya. Karena memang sudah dengar dari kelas S memiliki murid yang dapat memunculkan sumber jiwanya, mereka dari kelas eksklusif pun dengan terpaksa mengalah, karena tak ada satupun dari kelas itu yang dapat memunculkan sumber jiwa.


Pelajaran pun kembali dimulai.


Pelajaran praktek sihir sendiri itu mirip seperti nilai harian pada umumnya. Para murid akan diukur sesuai dengan keahliannya dalam menggunakan sihir.


Sama halnya ketika seleksi, Lug mendapatkan nilai yang cukup bagus. Entah itu dalam segi manipulasi sihir, sihir menembak, sihir area, bahkan dalam penggunaan metodenya.


Metode dalam membentuk lingkaran sihir juga bermacam-macam, ada yang langsung membuatnya di atas tanah, melayang di udara, dan menempel di tubuh sendiri maupun orang lain dengan cara mengalirkan mananya hingga secara sendirinya membentuk lingkaran sihir sesuai dengan apa yang dikehendaki. Ada juga yang melukis di udara dengan hanya ujung jarinya. Dan bahkan, ada juga yang hanya menjentikkan jarinya, lantas tercipta dalam sekejap setelah jentikan jari tersebut. Biasanya metode yang terakhir ini hanya digunakan oleh yang profesional saja, ketika pikiran dan sumber mana telah terintegrasi satu sama lain, sehingga ketika memikirkan hendak membuat sihir apa, maka sumber mana pun sudah menyiapkan lingkaran sihirnya pada saat itu juga, dan metode inilah yang digunakan oleh Lug. Serta ada banyak metode lainnya yang masih orang awam ataupun profesional gunakan sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan mereka masing-masing.

__ADS_1


*****


Satu jam pelajaran telah berlalu. Setelah ini masih tersisa sekitar lebih dari satu jam pelajaran untuk istirahat berikutnya.


Ketika berada di kelas, Elizabeth menerangkan dengan tergesa-gesa. Ia senantiasa melihat jam tangannya seakan ada hal yang hendak diurusnya. "Em ... Anak-anak, maafkan ibu," ucapnya. "Ibu sekarang harus kembali ke ruangan untuk mengurus sesuatu, setelah itu kembali ke sini lagi. Kumohon kalian jangan membuat kegaduhan dan kebisingan yang mengganggu kelas lain. Maaf, ibu tinggal dulu."


Lantas Elizabeth segera mengambil buku buku yang ada di mejanya, bahkan tak sempat ia masukkan ke dalam dompet ajaib miliknya. Hingga pada saat membawanya keluar dan melewati pintu, semua bukunya jatuh.


Para murid lainnya tidak terlalu peduli, tapi berbeda halnya dengan Lug. Ia langsung sontak mendatangi guru pembimbingnya itu dan membantu mengambilkan buku-bukunya. Toni dan Zephyr merasa bahwa Lug itu benar-benar anak yang baik. Tapi yang sebenarnya terjadi, Lug hanya ingin dirinya mendapatkan pandangan yang baik dari beberapa keluarga bangsawan saja. Itu dilakukannya agar tidak terlalu kesulitan ketika dirinya sedang berada di kota kerajaan.


"Ah, nak, tidak perlu membantuku, aku bisa mengambil ini sendiri," kata Elizabeth.


Tetapi Lug bersikeras. "Tak perlu sungkan, bu, lagipula aku ini adalah muridmu," sahutnya.


Elizabeth memberikan senyuman kepada muridnya itu. Meskipun ia tahu bahwa mungkin saja seorang anak yang membantunya ini hanya ingin mendapatkan pandangan yang baik saja, sehingga itu akan membuatnya merasa harus membalas budi di kemudian hari.


Tapi ketika semua buku telah diambil, dan Lug serta guru pembimbingnya, Elizabeth, juga sudah berdiri, anak itu tidak memberikan buku-buku dan formatnya. "Biar kubawa saja sampai ke ruanganmu, bu," ujarnya.


"Terima kasih," balas Elizabeth.


Mereka pun berjalan bersama menuju ke ruangan para guru. Ketika sudah berada tepat di depan pintu, Elizabeth meminta semua buku-bukunya. "Sampai sini saja, kembalilah ke kelas!" suruhnya.


Lug mengangguk. "Baiklah, bu."


"Sekali lagi terima kasih, ya?"


"Iya, bu, sama-sama."


Lug pun segera kembali. Dan pada saat yang bersamaan, Elizabeth masuk ke dalam ruangan, tiba-tiba saja ada seorang senior wanita yang keluar dari ruangan para guru. Dia berlari tanpa memperhatikan apa yang ada di depannya sehingga menabrak Lug. Rambutnya berwarna pirang, dipanjangkan sampai sepinggang, rambut di sisi kiri dan kanannya ditarik dan diikat ke belakang dan dibuat menggelombang (model rambut Bubble Braids).


"Jangan menghalangi jalan!" serunya.


"Lantas? Kau marah? Apa kau pantas?!"


Kalimat itu memang tidak memprovokasi Lug, tapi ada benarnya juga jika dia marah karena apa yang terjadi itu bukan kesalahannya. "Memangnya seseorang hanya boleh marah kalau mereka bangsawan, begitu?"


Dan kalimat Lug ini membalikkan senior itu. "Sialan kau! Beraninya kau membalas ucapanku!" umpat gadis berambut pirang itu. Lantas menembakkan sebuah sihir berupa bola cahaya yang permukaannya diselimuti sedikit api ke arah Lug.


Tetapi anak laki-laki itu tidak menghindarinya, justru ia menggunakan kemampuannya dalam memanipulasi mana yang membentuk seperti sebuah kaca refleksi hanya dengan dua jari tangan kanannya saja–jari telunjuk dan jari tengah. Sehingga bola cahaya yang memantul dan kembali ke penggunanya.


"Aduh!" senior itu mengaduh dan jatuh terduduk. Pantatnya menghantam lantai dengan sangat keras.


Kurasa tulang duduknya hancur.


Kemudian ada seorang guru pria yang keluar dari ruang guru karena mendengar keributan di luar ruangannya. "Ada apa ini ribut ribut?!" bentaknya.


Segera gadis yang terjatuh itu langsung menoleh kepada guru yang tiba-tiba muncul itu. Lug sudah menduga apa yang terjadi, wajahnya sudah tampak seperti orang yang sedang menyesali perbuatan konyolnya sendiri.


Gadis itu pun mengadu, "Lihat, pak! Aku diserang dengan sihirnya." Ia menudingkan jarinya ke arah Lug.


Tak berdiam diri, Lug juga membela dirinya. "Tidak ada!" serunya. "Kau jatuh karena sihirmu sendiri, kenapa harus aku yang disalahkan?"


"Itu karena kau membalikkan sihirku dan berakhir mengenaiku. Itu sama saja dengan menyerangku, aku tidak terima!"


"Itu namanya senjata makan tuan, salahkan dirimu! Salah siapa tiba-tiba menyerang orang yang baru saja kau temui?"


"Kau menghalangi jalanku tadi!"


"Apanya yang menghalangi? Matamu buta?! Lihat sekelilingmu, jalan masih banyak!"


"Aku tidak mau lewat pinggiran karena aku bukan orang yang berasa dari desa pinggiran SEPERTIMU!!!"

__ADS_1


Mereka saling sahut menyahut, hingga pada akhirnya guru lelaki yang mendengar mereka pun muak dengan semua omong kosong yang didengarnya. "Sudahlah kalian berdua! DIAM!!!"


Sebenarnya Lug sudah tahu ini akan terjadi, tapi setidaknya ia ingin wanita yang menjebaknya itu ikut terjatuh dalam lubang yang sama.


"Aku tidak peduli lagi, mau kalian anak bangsawan, dari desa, sebagai gantinya, aku akan menghukum kalian berdua. Itu karena ocehan kalian yang membuat telingaku merasa muak, rasanya sampai aku ingin muntah mendengarnya!"


Hihihi, Lug malah tertawa di dalam hati. Kalau begini kan impas, aku tidak rugi, meskipun aku tidak untung. Dia melirik ke arah gadis yang hendak menjebaknya itu. Rasakan itu, bodoh! Umpatnya dalam hati.


Senior wanita itu menyeringai kesal melihat Lug yang tersenyum licik ke arahnya. Sialan, kenapa aku juga malah kena masalah juga?!!! Ini semua salah bocah keparat itu! Umpatnya juga dalam hati.


Tapi pada saat yang sama, guru yang hendak menghukum mereka berdua itu membatin, mungkin untuk anak yang dari desa ini saja yang berat hukumannya.


Lug dapat mendengar itu dengan jelas. Karena tidak ingin mendapatkan perlakuan diskriminatif, ia pun segera berkata, "Pak, kuharap bapak bisa menyelesaikan masalah ini secara jujur dan tidak memberatkan beban hukumannya hanya kepada saya."


Guru itu pun tersinggung. "Apa maksudmu itu aku sedang bersikap tidak jujur dan diskriminatif?!" tukasnya dengan nada penuh amarah.


Lug tersenyum. "Tidak pak, tapi aku hanya tidak ingin didiskriminasi saja. Seharusnya bapak mengerti dengan masalah ini yang sudah marak diserukan oleh rakyat dengan kasta yang rendah," terangnya dengan berani.


Sebenarnya kalimat yang diutarakan Lug itu membuat guru yang ada di depannya serta senior yang bermasalah dengannya itu tersinggung dan membuat mereka berdua muak. Tapi mereka tak bisa berlaku diskriminatif sejelas itu di hadapan Lug yang mana itu dia adalah saksi, seorang murid di akademi sihir kerajaan dengan kelas terbaik, sekaligus memiliki jaminan keselamatan selama berada di dalam akademi. Melakukan diskriminasi terhadapnya, secara langsung akan memberikan pengaruh besar terhadap telinga rakyat yang mendengarnya dan akan membuat mereka ditindak khusus atas perbuatan diskriminatif.


"Baiklah, aku paham maksudmu," ujar guru lelaki itu. "Setelah ini kalian berdua harus membersihkan toilet karena telah berbuat keributan. Sudahlah, aku akan kembali, dan aku akan memeriksa kalian lagi nantinya."


Pada akhirnya, Lug pun diharuskan untuk membersihkan toilet siswa. Sampai pulang dia baru saja selesai membersihkannya, hingga ia bertemu dengan Toni. Pada saat yang bersamaan, ia juga melihat senior yang bermasalah dengannya tengah berjalan bersama teman-temannya. Pakaiannya masih sangat rapi dan bukan seperti Lug yang sudah sangat kotor karena membersihkan toilet siswa.


Guru yang menghukumnya tadi tidak menepati kata-katanya, ia sama sekali tidak datang untuk memeriksa. Dan yang ada, ketika Lug hendak meminta maaf kepada guru pembimbingnya, ia melihat guru lelaki itu sedang tidur di ruang guru dengan duduk di atas kursi empuk dan kakinya diletakkan di atas meja kerjanya. Lug melihatnya ketika ia berada di kelas dengan sihir bawaannya.


Elizabeth Ellen meminta maaf kepada Lug karena menurutnya, ketika Lug membantunya, yang ada muridnya justru malah terkena masalah.


Lug hanya tertawa dan berkata bahwa dirinya baik-baik saja, serta itu adalah kegiatan aktif yang lebih baik daripada hanya duduk saja.


Elizabeth juga berkata bahwa duduk dan memperhatikan selama pembelajaran adalah keharusan dan dapat membuatnya paham. Dan jelas Lug mengatakan bahwa dirinya sudah lebih dari kata memahami apa yang telah diajarkan gurunya itu.


Sekarang ini Lug sedang mandi. Toni sudah menggunakannya padahal ia sudah menyuruh teman sekamarnya itu mandi terlebih dahulu karena tubuh dan pakaiannya yang kotor.


Setelah mandi, Lug pun segera mencuci pakaiannya dan lekas mengenakan pakaiannya. Karena masih sore dan langit juga masih cerah, ia dan Toni memutuskan untuk berjalan-jalan ke luar saja. Asrama tidak memberikan makanan kepada mereka, tetapi sebagai gantinya, tiap bulan mereka akan menerima uang sebanyak lima koin emas untuk membeli apapun kebutuhan mereka. Jelas itu nominal yang sangat besar bagi orang seperti Lug.


Kini Lug dan Toni berada di pasar yang ada di sekitar asrama. Lug bertanya pada Toni, "Kau mau beli makanan apa?"


Toni menjawab, "Seadanya saja, lagipula aku tidak ingin memboroskan uang sebanyak ini."


"Ya, kau benar. Aku pun juga."


Setelah membeli makanan, mereka berdua langsung bergegas kembali ke asrama. Dan tiba-tiba saja Lug menoleh dengan cepat ke arah kirinya. Dia melihat seorang gadis bercadar dan mengenakan kain untuk menutupi rambutnya meskipun tidak terlalu tebal sehingga membuat rambutnya yang berwarna biru sedikit nampak.


Hanya saja Lug dapat melihatnya dengan sangat jelas. Rambutnya itu ... Batinnya.


Gadis itu pun kemudian juga melirik ke arah Lug, dan di saat yang bersamaan laki-laki itu sudah tak melihatnya lagi. Kupikir lelaki itu memandangiku, gumamnya dalam hati.


Meski begitu, Lug terlihat sangat natural seakan dia memang tak pernah melihat gadis itu. Tetapi gadis bercadar itu masih tetap mencuriganya.


*****


Di malam harinya, Lug berada di balkon dan masih mengingat gadis bercadar itu. Toni sudah tertidur lelap di ranjangnya. Bukan karena menaruh rasa kepada gadis tersebut, Lug hanya penasaran saja.


Lantas Lug memunculkan sumber jiwanya. Ketika itu, pemandangannya yang berupa galaksi langsung bergerak cepat seperti yang ia perlihatkan kepada Nagisa. Bahkan itu lebih jauh lagi, bukan hanya bidang dan kekosongan lagi, ketika diperjauh teramat sangat jauh dengan sangat cepat, memperlihatkan bahwa terdapat bola-bola yang mana itu permukaannya terlihat mirip seperti alam semesta dan unsur-unsur yang ada di dalamnya. Itu masih dapat diperjauh lagi hingga pada akhirnya, Lug mendapatkan apa yang diinginkannya, melainkan wajahnya masih tampak serius dan tidak terlalu senang.


"Apa mungkin jika gadis itu punya kecocokan dengan 'kekosongan?' Rambutnya itu membuatku penasaran," gumamnya.


Dan sumber jiwa Lug tidak memperlihatkan apapun lagi. Benar-benar kosong dan hitam, tiada cahaya, materi, unsur, dan yang lainnya di sana. Seperti kata Lug, kekosongan yang dimaksud itu mungkin adalah 'kekosongan' yang sedang ia tampakkan sekarang ini pada sumber jiwanya.


Bersambung!!

__ADS_1


__ADS_2