Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 17 - Makhluk Mistik dan Blasteran (2)


__ADS_3

Nagisa menatap Empat Topeng cukup lama, entah apa yang dipikirkannya, tapi dia terlihat sedih. Lantas ia menoleh ke arah sekumpulan Ranker pingsan yang ada di belakangnya, dengan Otoritas Cahaya Agung, ia memindahkan para Ranker itu ke tempat yang jauh, namun masih berada dalam lingkup sihirnya. Gadis itu juga memindahkan Wajah Berdarah dan Taring Iblis ke tempat yang sama.


Tahu akan hal itu, Petro segera mengambil senjata sihirnya. Dia dan saudaranya sudah melepaskan warna putih pada tubuhnya, yang mana itu adalah pengaruh dari sihirnya Nagisa.


Begitupun dengan Empat Topeng dan rekan-rekannya, mereka juga sudah melepaskan diri dari sihir tersebut.


WUUUSH


Nagisa mengayunkan pedangnya, tebasan itu mengarah kepada Kembar Gila dengan sangat cepat.


BLAAARR


Serangan tersebut menghancurkan es pijakan Kembar Gila itu, namun mereka berdua berhasil menghindarinya. Petro melompat dan menarik tubuh Peter dengan serabut angin yang ada di belakang punggungnya. Sumber jiwa mereka kini berada di belakang punggungnya Petro pula.


Tak lama setelah itu, kedua sumber jiwa mereka telah bergabung sepenuhnya. Tubuh Peter dan Petro memancarkan sinar.


Nagisa tidak terkejut, dia berpikir bahwa itu adalah salah satu dari kemampuan Kembar Gila.


Empat Topeng tampak sedikit resah. "Mereka berdua akan menjadi makhluk abadi seperti para dewa," paparnya.


Rekan-rekannya itu terkejut dan menoleh padanya.


"Kita harus segera menghentikan mereka!" seru Topeng Jingga.


"Jangan gegabah," ujar Empat Topeng. "Kita sudah terlambat jauh untuk menghentikan mereka. Meski di saat pertarungan tadi ada yang mati, entah itu Rajutan Bola Emas atau Rajutan Bola Perak, jika salah satunya bertahan, prosesnya tetap akan berhasil. Karena ketika proses penggabungan sumber jiwanya dimulai, mereka sudah menjadi ... Semi-abadi."


"Jadi mereka tidak bisa mati?" tanya Topeng Merah yang mulai ikut resah.


Empat Topeng menggeleng. "Tidak, mereka hanya tidak terbatas oleh umur, awet muda, tidak bisa terjangkit penyakit, dan ketahanan mereka sangatlah tinggi," jawabnya.


Awet muda dan abadi? Wah, aku sangat menginginkannya. Tapi kenapa aku tidak memiliki kemampuan itu? Aku tak bisa membayangkan jika aku abadi, usiaku ratusan- mungkin ribuan tahun, namun masih terlihat seperti seorang gadis berusia belasan tahun, batin Topeng Merah.


Pada saat itu, tubuh Kembar Gila mulai memudar. Namun ketika tubuh mereka berdua menghilang, di saat yang bersamaan sumber jiwa mereka membentuk tubuh yang baru.


Tubuh seorang anak lelaki, memiliki rambut sedada yang di sebelah kanan memiliki warna emas, dan di sebelah kiri berwarna perak, begitupun dengan mata mereka, namun pupil mata mereka berubah menjadi seperti pupil mata kucing. Tingginya juga sedikit bertambah.


Pada saat itu, Kembar Gila mengambil senjatanya hanya dengan mengacungkan tangannya, dan semua senjatanya terbang ke arahnya. Lantas dia mengatakan, "Potter!"


"Jadi namamu Potter, ya?" tanya Nagisa.


Wajah Berdarah dan Taring Iblis segera melarikan diri karena merasa bahwa situasi sudah sangat tidak memungkinkan mereka ada di tempat mengerikan itu.


Lantas Taring Iblis melempar sebuah benda tajam berwarna putih bulan–sebuah taring hewan buas. "Ayo!" ajaknya sembari memegang erat tangan Wajah Berdarah.


Wanita yang dipegang tangannya itu mengangguk.


Taring Iblis membawa sebuah taring lagi, pada ujung taring tersebut mengeluarkan petir berwarna merah yang terhubung dengan taring yang satunya lagi.


BRRZZZZTT


Tubuh mereka berdua dilapisi petir merah oleh taringnya, namun di saat seluruh tubuh mereka berdua penuh dengan petir, garis petirnya berubah.


BRRZZZZTT


Mereka berdua telah berhasil berpindah tempat dengan sangat cepat.


"Kita berhasil melarikan diri!" seru Wajah Berdarah kegirangan.

__ADS_1


Tetapi tidak dengan Taring Iblis yang menyadari sesuatu yang janggal terjadi pada dirinya dan rekannya itu. "T-tidak ... Ini- bagaimana bisa?" tanyanya terheran-heran.


Itu karena dirinya berpindah tepat di hadapan Potter yang kini sedang menatapnya. Tatapannya itu sangat tajam dan dingin, seakan mengatakan bahwa dirinya akan membunuh siapa saja yang ada dilihatnya.


Lalu Potter menerbangkan satu mata pisaunya ke arah Wajah Berdarah, dan wanita itu baru saja menyadarinya.


CRAAASSH


Mata pisau itu menusuk wajahnya.


"TINAAAA!!!" teriak Taring Iblis meratapi kematian Wajah Berdarah yang ternyata bernama Tina. Lantas ia menoleh dengan cepat ke arah Potter dengan wajah penuh kemarahan. "KALIAN TAHU BAHWA KAMI AKAM MENIKAH SETAHUN MENDATANG! KAU ADALAH TAMU TERHORMAT KAMI, KAU TAHU BAHWA KAM- ARKHH ... Karkkhh- krk ... " Pada saat Taring Iblis meneriaki Potter, lehernya ditusuh oleh tiga buah mata pisau.


Nagisa terkejut mendengar teriakan Taring Iblis. Seandainya aku tahu bahwa mereka adalah sepasang kekasih ... Aku sedikit menyesal, tapi jika tidak ... Jikalau aku membunuh Potter, mereka pasti akan melaporkanku atas pembunuhan sesama Ranker, ujarnya dalam hati.


Penyesalan Nagisa dikarenakan ia memindahkan taring yang dilemparkan oleh Taring Iblis. Dengan menggunakan benda itu, akan membuat penggunanya berpindah dengan sangat cepat ke arah taring yang dilemparkan, dan Nagisa yang memindahkan taring yang terlempar itu. Nagisa juga teringat dengan kematian Lug yang mana dia sangat menyukainya seperti Wajah Berdarah dan Taring Iblis.


Tetapi sudah tak ada lagi yang harus disesali.


WHUU


Nagisa menghilang dari tempatnya, dan muncul tepat di belakang Potter. Kecepatannya itu setara dengan kecepatan cahaya.


BUGH


Tidak sempat menyadari gerakan Nagisa, Potter terkena serangan dari pedang besarnya gadis itu. Tetapi yang mengherankan adalah tubuh Potter tidak tergores sedikitpun dan suaranya seperti terkena pukulan yang sangat besar. Seakan pedang Nagisa sedang memukul batu yang sangat keras.


Potter menghantam tanah dan terlempar hingga sangat jauh. Dia bangkit kembali seperti tidak terjadi apapun padanya.


"Sangat kuat dan sangat keras," gumam Nagisa berbisik.


WHUU


Nagisa mengubah pedangnya menjadi cahaya putih padat, lantas membuat pedang tersebut terbang di belakang punggungnya. Pedang tersebut juga bertambah menjadi tiga buah. Ia melesat ke arah Potter dan menyerangnya di udara. Ketiga pedangnya itu berputar dan menebas Potter secara bergantian. Kecepatan perputarannya jauh melebihi kecepatan kilat.


Karena Nagisa kesal tidak bisa menebas tubuh Potter, dia menusuknya dengan ketiga pedangnya itu.


BUGH


Dan ya, lagi-lagi itu tak berdampak kepada Potter. Justru lelaki itu terlempar lebih jauh lagi di atas udara. Bahkan dia dan Nagisa sudah tak bisa dilihat lagi oleh Empat Topeng dari bawah.


Hingga semakin lama, Nagisa melempar Potter ke luar angkasa. Dengan transformasinya sekarang, ia bisa bertahan dari tekanan, suhu, dan radiasi yang ada di luar angkasa. Bahkan Nagisa seperti tidak bernafas dan tetap terlihat baik-baik saja.


"Pertarungan yang sangat luar biasa," gumam Empat Topeng. "Yang satu punya kekuatan dan kecepatan yang luar biasa, namun yang satunya lagi mempunya ketahanan yang di luar nalar."


"Mungkin bisa disamakan dengan pertarungan antar dewa?" Topeng Merah menimpali.


Topeng Hitam menjawab, "Tidak. Pertarungan antar dewa bisa mengguncang dunia meski tempatnya dari dunia dewa itu sendiri."


"Tidak usah membicarakan para dewa itu!" tegas Empat Topeng.


Topeng Merah dan Topeng Hitam mengangguk.


"Baik."


Kembali pada pertarungan yang ada di luar angkasa, Potter sudah mendapatkan kesempatan untuk menyerang lagi. Dengan menggunakan dua senjata sihirnya, ia menyerang Nagisa dari berbagai penjuru. Serangannya juga sangat cepat, setara dengan kecepatan kilat.


Tetapi Nagisa dengan sangat mudahnya menghindari semua serangan tersebut. Dan gadis itu menggunakan pedangnya itu menangkis semua serangan yang mengarah padanya.

__ADS_1


Lantas kelima cahaya lingkaran yang ada di tangannya bercahaya sangat terang.


BUUUUFFFF


Itu menembakkan sihir Cahaya Penembus yang setara dengan sihir lima lingkaran.


Karena tidak secepat serangan sebelumnya, Potter bisa menghindari serangan tersebut meski lawannya menembakkan sihir yang sama berulang kali.


BLAAARR


Ada beberapa yang mengenai tubuh Potter, tapi itu tidak berpengaruh apapun terhadapnya.


Tetapi Nagisa sudah mulai kehabisan tenaga.


Potter memunculkan sumber jiwanya dan seperti mengatur sesuatu yang ada di dalamnya.


SHUU


Tiba-tiba lelaki itu menghilang.


Beralih pada Empat Topeng, dia kini sedang berlari menuju ke tengah-tengah kawasan Pusaran Angin Seribu Lengan.


"Kau mau ke mana?" tanya Topeng Hitam yang mengikutinya.


Yang lainnya juga mengikuti.


"Kalian berjaga saja, aku hanya ingin memastikan sesuatu," kata Empat Topeng.


"Baiklah," sahut Topeng Hitam.


Mendengar perintah tersebut, semuanga langsung bergegas pergi ke arah yang berbeda untuk berjaga-jaga. Sementara Empat Topeng masih menuju ke tengah. Ketika itu, ia melihat ada lubang yang sangat dalam dengan lebar delapan regrit. Dan pada saat itu, Empat Topeng terkejut melihat apa yang ada di ujung lubang tersebut. Di bawah lubangnya, terdapat seperti ruang besar yang memancarkan banyak sekali mana.


"I- ini ... Bagaimana bisa ada yang seperti itu di sini?" Empat Topeng sampai terheran-heran melihatnya.


Dan kembali pada Nagisa, ternyata dirinya berhasil dipukul oleh Potter. Dengan sumber jiwanya, lelaki itu ternyata dapat berpindah tempat di tempat yang diinginkannya.


BUGH


Nagisa terpukul dan kini terhempas kembali menuju ke permukaan. Potter mengejarnya.


Namun gadis itu sedang menyiapkan sebuah sihir dengan lingkaran cahaya yang ada di tangannya. Itu mengumpulkan banyak mana sekitar dan bahkan banyak helai cahaya yang terhisap olehnya. Ini adalah sihir terkuat miliknya, yang pernah ia sesali karena menggunakannya, Pusaran Badai Cahaya.


BUUUUFFFF


Sihir itu sangat cepat dan Potter terlambat untuk menyadarinya. Dia terkena oleh sihir tersebut.


Namun seusai melepaskan sihir semasif itu, Nagisa masih terjatuh menuju ke permukaan. Ia sudah tak bisa melakukan apapun karena mananya sudah hampir habis dan tubuhnya mulai kembali seperti semula.


Empat Topeng dan yang lainnya mendengar dan melihat sihir Nagisa yang berada di langit. Sihir itu terlihat sangat jelas seperti garis putih yang memotong langit.


Hingga pada saat itu, Empat Topeng menyadari bahwa ada yang jatuh dari langit. Dia- gadis itu akan segera menghantam tanah, batinnya.


Tapi tak lama setelah itu, Empat Topeng menyadari sesuatu. Dia akan terjatuh masuk ke dalam Dunia Kekacauan Arus Waktu.


WUUUSH


Semuanya sudah terlambat, Nagisa sudah terjatuh tepat di lubang yang baru saja diperiksa oleh Empat Topeng.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2