Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 13 - Pusaran Angin Seribu Lengan


__ADS_3

Empat Topeng dan yang lainnya mulai masuk ke dalam badai angin yang jauh lebih parah. Namun rupanya, di dalamnya tidak terdapat badai yang sangat parah seperti apa yang diperkirakan. Hanya saja terdapat kabut tebal yang sedikit menghalangi penglihatan. Tapi itu bukanlah yang mengganggu, melainkan kekacauan mana pada kabut tersebut mempengaruhi sirkulasi mana yang ada di tubuh tiap orang yang berjalan menerpanya.


Empat Topeng seperti tidak masalah terhadap kabut tersebut, namun rekan yang lainnya terlihat seperti sedang tersiksa. Pergerakan mereka sedikit melambat dan mungkin tidak akan sesuai dengan apa yang diperkirakan.


WUUUSH


Empat Topeng meniup udara yang di depannya, membuat sebuah lorong yang berada di antara kabut.


"Terima kasih," ucap Topeng Jingga.


Sementara Empat Topeng tidak meresponnya sama sekali–alih-alih mengucapkan sesuatu, melirik pun tidak.


Dia benar-benar mendalami perannya- atau mungkin memang kepribadiannya berbeda-beda pada tiap perubahannya, batin Topeng Jingga yang terheran-heran akan sikap Empat Topeng yang sangat dingin.


Mereka segera bergegas sebelum kabutnya mulai menerjang kembali, apalagi hembusan anginnya yang semakin lama semakin cepat yang akan membuat kabutnya terus muncul.


Sebenernya Topeng Jingga pernah mencoba membakar kabutnya, namun suhu dinginnya selalu mengalahkan api miliknya. Empat Topeng juga tidak mengizinkannya untuk membuat api yang besar, itu hanya akan mengungkap lokasi mereka. Sehingga Empat Topeng hanya meniup kabutnya saja agar tidak terdengar ke mana-mana.


Tak lama kemudian, mereka berempat berada di tanah yang cukup lapang dan tidak banyak ditumbuhi pohon cemara. Justru di sana seperti danau yang telah membeku yang di tengah-tengahnya terdapat tanah dan batu besar.


Karena Empat Topeng belum mengizinkan untuk menampakkan diri, Kembar Gila dan dua rekannya berada tepat di depan mereka. Namun keberadaan kelompok Empat Topeng masih tersembunyi di antara pepohonan.


Beberapa saat kemudian, ada sekelompok orang lagi yang datang. Ketika mereka bertemu, tak ada perselisihan yang terjadi.


WUUUSH


Tiba-tiba saja ada angin yang berhembus hebat dari arah batu.


BLAAARR


Batu besar tersebut hancur. Dan muncullah Monster Mistik yang sedang diincar oleh banyak orang, Pusaran Angin Seribu Lengan. Wujudnya itu adalah sebuah piringan cakram yang mana itu adalah angin, dan memiliki serabut serabut angin yang mengalir mana di dalamnya. Semuanya tahu bahwa itu adalah Benang Spiritual. Semua yang mengenainya bisa dikendalikan oleh Pusaran Angin Seribu Lengan atau mungkin dihancurkan. Ukurannya sangat besar, bahkan sebesar rumah, kini dia terbang setinggi 25 kaki.


"Apa kita akan keluar sekarang?" tanya Topeng Jingga.


Empat Topeng menjawab, "Tidak! Kecuali jika makhluk itu menyerang ke arah kita. Jaga tubuh kalian agar tidak terpengaruh oleh mana yang kacau."

__ADS_1


Topeng Jingga dan lainnya mengangguk.


Dua Ranker yang sering disebut Kembar Gila mulai menunjukkan aksinya. Mereka membentuk Benang Spiritual yang saling mengikat keduanya. Mereka berdua melepaskan jubahnya, dan masing-masing dari mereka memakai sebuah cincin–yang satunya memakai cincin dengan permata berwarna emas dan yang satunya lagi berwarna perak–cincin mereka bersinar.


Ketika cincin perak bersinar, muncul mata pisau perak tanpa gagang yang berjumlah belasan terbang mengitari tubuh yang memakai cincin tersebut. Separuh dari mata pisau itu mengitari tangan kanannya, dan separuhnya lagi berputar-putar di belakang kepalanya. Lelaki ini bernama Peter Cannon.


Sementara ketika cincin emas bersinar, muncul lempengan emas berbentuk layang-layang yang berjumlah lima buah. Kelimanya itu berjejeran di atas kepala pemakai cincin tersebut, sehingga membuatnya terlihat seperti sedang mengenakan mahkota. Dan lempengan yang ada di tengah, terdapat sebuah batu mirah delima yang berbentuk bola di tengah-tengahnya yang seukuran dengan bola mata. Lelaki ini bernama Petro Cannon.


"Mahkota sebagai perisai, mata pisau adalah senjata, koordinasi adalah kunci," gumam Empat Topeng.


Topeng Hitam mengerti ucapan tersebut. "Benang Spiritual, latihan, dan hubungan darah adalah koordinasinya," sahutnya menimpali.


"Benda benda itu adalah senjata sihir kelas menengah, digunakan oleh orang yang tepat akan memberikan dampak yang luar biasa," ujar Topeng Jingga.


Kembar Gila bukan hanya sebutan belaka, mereka dikatakan seperti itu karena mereka adalah Ranker yang sangat kuat. Di kompetisi antar Ranker, mereka benar-benar membabi buta apabila berada dalam tim yang sama. Selalu bertarung bersama dan menghancurkan seluruh lawannya. Nama Kembar Gila sudah terdengar lama dari seluruh kerajaan yang ada, namun pada saat ini mereka sedang naik daun karena performanya dan kekuatannya yang dikatakan meningkat pesat.


Peter berusaha menyerang Pusaran Angin Seribu Lengan dengan menggunakan mata pedangnya itu. Mata pedangnya itu dilapisi mana yang diubah menjadi api, lantas berusaha menebasnya.


WUUUSH


"Sepertinya makhluk seperti ini memang punya regenerasi di luar nalar," ucap Peter.


Petro mengangguk setuju. "Ya, mereka memang benar-benar curang," sahutnya.


Setelah beregenerasi, Pusaran Angin Seribu Lengan terlihat marah. Piringan cakram anginnya berputar jauh lebih cepat, sehingga itu membentuk angin puyuh di sekitarnya. Kekacauan mana yang ada di sekitarnya juga mulai meningkat pesat, hampir semua orang yang ada di sana merasakan pusing yang hebat.


Sebenernya kekacauan mana adalah salah satu teknik yang dapat membatalkan segala macam sihir. Namun sepertinya, itu tak berlaku bagi Empat Topeng. Ia menggunakan pembatas tembus pandang berbentuk kubah yang melindunginya dan rekan-rekannya.


"Sirkulasi mana orang-orang itu kacau balau, itu akan mengacaukan sumber mana mereka, sehingga mereka akan mati tanpa memberikan perlawanan," ucap Empat Topeng.


Tapi pada saat itu, ia dikejutkan oleh sesuatu. Matanya melihat bahwa Kembar Gila tidak terpengaruh oleh kacaunya mana yang ada di sekitar mereka.


Tak hanya itu, dua rekan Kembar Gila–Wajah Berdarah dan Taring Iblis, juga terlihat tak terpengaruh.


"Ulah Wajah Berdarah. Dia menggunakan sihir area yang membantunya dan rekan-rekannya masuk ke dalam lingkup yang aman," papar Empat Topeng yang melihat adanya lingkaran sihir berwarna merah darah di bawah kaki Kembar Gila dan rekan-rekannya. Lingkaran sihir tersebut sepertinya juga terlihat seperti darah asli.

__ADS_1


"Lagi!" ucap Peter.


WUUUSH


Orang itu melompat dan menyerang Pusaran Angin Seribu Lengan lagi. Serangannya hampir tak berdampak apapun karena tertutup oleh regenerasi yang sangat tangguh. Tapi mata pisaunya tidak difokuskan pada satu serangan, ia memecah semua mata pisaunya dan menyerang pada tempat yang berbeda.


Ketika itu juga, Petro menyerang menggunakan lempengan emasnya yang memiliki batu delima itu. Batu tersebut memancarkan cahaya merah. "Cahaya Penembus!"


Ya, sihirnya itu sama dengan milik Nagisa. Akan tetapi sihir Cahaya Penembus memang sihir yang sangat umum di kalangan ahli sihir. Sehingga, banyak yang menggunakannya selain Nagisa.


Namun sihir Cahaya Penembus yang digunakan Petro terlihat lebih kuat dari milik Nagisa. Itu dikarenakan batu mirah delima yang ada pada lempengan emasnya. Batu mirah delima memiliki efek yang sangat bagus pada sihir, yang mana akan meningkatkan konsentrasi mana hingga berkali-kali lipat yang dapat mengubah sihir tiga lingkaran menjadi sekuat sihir empat lingkaran.


Sihir Cahaya Penembus yang ditembakkan oleh Petro sama sekali tidak berefek besar pada Pusaran Angin Seribu Lengan. Tapi itu membukakan jalan bagi Peter untu menyerang lebih banyak lagi.


Peter menggunakan dua buah mata pisau yang berada di bawah kakinya agar dapat membuatnya terbang.


Petro terus menembakkan Cahaya Penembus ke arah yang akan menjadi titik serangan Pusaran Angin Seribu Lengan.


Tetapi Monster Mistik itu tidak mungkin membiarkan para manusia menyerangnya begitu saja. Ia terbang lebih tinggi lagi dan memunculkan lebih banyak Benang Spiritual. Lantas mulai menyerang Peter yang menjadi sasaran terdekat.


Dirasa menjadi sasaran, Peter segera pergi menjauh karena banyak sekali serabut angin yang mengejarnya. Semua mata pisaunya terbang kembali mengikutinya dan menebas beberapa serabut anginnya.


BLAAARR


Pusaran Angin Seribu Lengan tidak hanya menyerang Peter, tapi Petro dan yang lainnya yang ada di atas permukaan tanah juga menjadi sasaran. Mereka segera pergi menjauh karena tahu akan menjadi sasaran.


Bahkan sekelompok orang yang datang terakhir itu juga menjadi sasaran. Tanah pijakan mereka dihancurkan dan membuat mereka terlempar ke berbagai arah.


Karena Peter terbang menjauh dari area sihir Wajah Berdarah, ia merasakan pusing yang luar biasa. Sialan, kepalaku ... Bahkan jantungku rasanya akan berhenti jika terus berlanjut seperti ini! Menyakitkan sekali! Batinnya.


Tapi Peter tidak langsung pergi berbalik menuju ke arah sihir Wajah Berdarah. Ia masih terus melaju kencang ke berbagai arah agar tidak terkejar oleh serabut anginnya Pusaran Angin Seribu Lengan.


Namun karena dirasa sudah terlalu lama berputar-putar di udara, kepalanya sudah terasa sangat pusing. Peter tak tahan lagi, sehingga ia memutuskan untuk terbang memutar.


Dengan segera, Peter terbang menuju ke arah area sihirnya Wajah Berdarah. Tapi perjuangannya tidaklah mudah, ketika hendak berbalik saja sudah dihadang oleh puluhan serabut angin. Tapi dirinya sadar bahwa Benang Spiritual yang menghubungkannya dengan Petro, sudah diikat oleh belasan serabut anginnya Pusaran Angin Seribu Lengan. Dan mata Kembar Gila terbelalak karena tersadar pada saat yang bersamaan. Mereka tahu apa yang akan terjadi jika itu terus berlanjut.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2