Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 8 - Ketakutan Nagisa


__ADS_3

Perintah dari Lug benar-benar membuat Nagisa ketakutan setengah mati. Dia diharuskan untuk membunuh kawanan serigala gunung untuk pelatihannya. Dan anak berambut hitam itu pergi meninggalkan gadis itu yang ditelan oleh ketakutannya sendiri. Sementara dia memiliki ketakutan akan kesendirian dan kegelapan.


Kaki gadis itu bergemetaran, matanya berkaca-kaca dengan wajahnya yang memelas. "K-kakak Lug ... Kau di mana? Jangan tinggalkan aku sendirian ... " rengek gadis itu.


Akan tetapi Lug tetap diam saja dan tidak menghiraukan rengekannya. Dia terus diam mengamati dari atas pohon karena tujuannya adalah menambahkan latihan mental kepada Nagisa.


Hingga beberapa saat kemudian, serigala serigala itu menunjukkan taringnya. Mereka muncul dari semak-semak dan mengepung Nagisa. Gadis pirang itu mengusap air matanya, ia kembali sigap meskipun masih ada ketakutan yang menempel di dalam hatinya. Dia memberanikan dirinya dengan segera mempersiapkan sihirnya.


BLAAAM


BLAAR


DUAAR


Tiap-tiap sihir yang dilancarkan selalu memancarkan kilatan cahaya yang sangat terang benderang, seakan ada kilat yang sedang mengamuk di dalam hutan.


Di atas pohon Lug membatin, sebenarnya anak ini hanya perlu sedikit dorongan saja agar dia benar-benar menunjukkan potensinya yang sesungguhnya. Aku memang tidak salah dalam menilai kemampuannya, dia sungguh hebat.


Tapi pertarungan melawan kawanan serigala itu tak mudah. Nagisa sentiasa dipukul mundur oleh mereka, dia kewalahan hingga terjatuh. Namun dia tetap kembali berdiri. Serigala yang telah dikalahkannya tidaklah sedikit, tetapi sisa serigala yang belum dihabisi juga tidak sedikit pula. Masih ada enam serigala lagi yang masih perlu dihabisi.


Dan secara tak sadar, tubuh Nagisa yang terluka perlahan demi perlahan kembali pulih. Walaupun tidak sampai menutup dengan sempurna, tapi itu membuatnya dapat kembali bangkit.


"Haha, aku tidaklah salah," gumam Lug berbisik.


Dan gadis yang hampir saja tumbang itu kembali menyerang hewan berbulu itu. Dia mengerahkan segenap kekuatannya untuk dapat terus bertahan.


Andai saja aku bisa memiliki kekuatan seperti kakak Lug, dan keberanian seperti kakak Teressa, aku pasti tidak akan seperti kewalahan sampai seperti ini, batin Nagisa.


Lantas gadis pirang itu menyadari adanya sesuatu yang aneh. "Kenapa aku tetap bisa bertarung sekuat ini? Dan lukaku ... " Dia segera menoleh ke lengannya yang tadi terkena cakaran dari salah satu serigala yang menyerangnya.


Tapi dia melihat lukanya itu masih ada, meski begitu dia tak menyadari bahwa luka di lengannya semakin menutup secara perlahan.


Hanya saja ada perasaan nyaman di lengannya yang terluka itu. "Ah- mungkin saja hanya perasaanku!"


WUUUSH


Salah satu serigala ada yang menyerangnya, hanya saja gadis itu menghindarinya dengan sangat baik. Nagisa mengacungkan tangannya ke arah serigala yang menyerangnya barusan dan melemparkan sihir Cahaya Penembus.


Serigala itu menyadarinya dan sempat menghindarinya, walau sebagian tubuhnya terkena serang dari sihir tersebut. Sekarang hewan buas berbulu itu tumbang, tetapi belum mati.


Nagisa segera mengalihkan perhatiannya, dan ternyata serigala serigala yang ada di belakangnya itu telah menyerbunya bersama-sama. Gadis itu refleks menggunakan sihirnya untuk menyerang.


Tetapi hanya mengenai salah satunya saja, serigalanya langsung mati pada saat itu, tetapi Nagisa tetap tak bisa menghindari dua serigala lainnya.


"AAAHH!! teriak gadis itu. Dia terjatuh, lantas mengusap darah di pipinya yang terkena cakaran barusan.


Anak itu terluka parah, tetapi Lug masih belum ingin turun tangan untuk membantunya. Dia juga sudah melihat apa yang terjadi di masa depan, beberapa kemungkinan akan terjadi jika dia menolongnya, begitupun dengan tidak menolongnya.


Dua serigala lainnya juga melompat ke arahnya, Nagisa kembali menggunakan sihirnya untuk melakukan perlawanan. Serigala yang terkena serangan itu terluka parah.


Karena berhasil menghindar ia segera melarikan diri dari sana. Tentu saja serigala yang ada di belakangnya itu tak membiarkannya lari begitu saja, mereka mengejarnya.


"CAHAYA PENEMBUS!!" Nagisa menembakkan sihirnya sembari berlari. Serangannya berhasil membuat dua serigala terjatuh.


Lug juga mengikutinya dari belakang, dia mengawasinya agar sesuatu yang buruk terjadi pada gadis pirang itu. Akan tetapi, tiba-tiba saja anak yang melompat di atas pohon itu menyadari sesuatu.


"Dia datang."


Sementara itu, terus berlari dan menembakkan sihirnya dari belakang. Dia juga menyadari sesuatu yang aneh dengan serigala serigala di belakangnya.


Kenapa mereka terlihat seperti sedang melambat? tanyanya dalam hati.


Persetan dengan apa yang sedang terjadi, Nagisa terus berlari untuk menemukan tempat yang aman. Luka di pipinya telah menutup hingga seperempatnya, tetapi dia sama sekali tak menyadarinya.


Gadis itu bersembunyi di balik pepohonan yang kemudian terduduk bersandar di batang pohon. Dia menghembuskan nafasnya yang panjang seraya memejamkan matanya. Tubuhnya sangatlah lelah, dia juga sudah sangat lemas untuk kembali berdiri apalagi sampai memberikan perlawanan.


Namun tiba-tiba saja ketika dia menunduk, ada yang bernafas berat di di atas kepalanya. Nafasnya begitu berat dan Nagisa segera membuka matanya karena telah menyadarinya.

__ADS_1


"Grhrhrhrh ... "


Mata makhluk itu merah menyala di kegelapan, menyadari hal itu Nagisa langsung berkeringat dingin pada saat itu pula.


"Akselerasi Gravitasi!"


Muncul lingkaran sihir melingkari makhluk mengerikan yang membuat Nagisa itu takut. Sihir itu membuat makhluk itu tak dapat bergerak dan terjatuh ke tanah pada saat itu juga.


Turunlah seorang anak laki-laki dari atas pohon dan dialah yang menggunakan sihir tersebut..


"Maaf Nagisa, apa aku terlambat?" ujar anak itu yang ternyata dia adalah Lug.


Gadis yang duduk bersandarkan pohon itu segera mengangkat kepalanya. Dia tersenyum senang seraya menangis melihat laki-laki itu menyelamatkannya lagi.


Nagisa menggeleng, "Tidak. Kakak Lug tidak terlambat," jawabnya. Kemudian dia berdiri dan menjauh dari makhluk mengerikan yang ada di depannya itu.


Makhluk tersebut adalah seekor serigala gunung. Dia memang sama dengan serigala pada umumnya, hanya saja makhluk berbulu ini memiliki tanduk serta taring yang panjang. Tanduknya itu memiliki kekuatan untuk menyerap cahaya bulan yang bisa merubah dirinya menjadi lebih besar, meningkatkan insting berburunya, dan memberikan atribut sihir pada tubuhnya. Pada umumnya serigala gunung memiliki atribut cahaya atau petir saja, tetapi dalam kasus tertentu serigala gunung memiliki atribut sihir yang berbeda dari kedua atribut tadi.


Lug menatap kepada Nagisa dengan raut wajah serius, "Nagisa, bunuh serigala ini dengan kemampuanmu. Aku yakin kau bisa."


Dari beberapa perintahnya sebelumnya, Nagisa hanya pernah memiliki rasa penolakan sebanyak dua kali. Yang pertama adalah penolakan latihan mental atau keberanian seperti yang tadi. Yang kedua adalah sekarang ini, gadis itu merasa tak sanggup untuk mengalahkannya.


Tetapi anak laki-laki yang menyuruhnya itu meyakinkannya lagi, "Kau harus mengalami situasi hidup dan mati untuk menjadi lebih kuat lagi."


DEG


Setelah apa yang Lug katakan itu, hati Nagisa mulai tergerak.


Ya, kakak Lug benar. Aku tidak ingin menjadi beban baginya, aku ingin menjadi lebih kuat. Dengan adanya pengalaman ini ...


"Lakukan sekarang, Nagisa!" tegas Lug.


Dia melepaskan sihirnya lantas pergi meninggalkan gadis itu dan serigala gunung tadi berhasil bergerak bebas. Makhluk berbulu itu menyerap cahaya bulan dan menambahkan atribut petir pada tubuhnya.


Nagisa bergerak mundur menjauh, segera dia mempersiapkan sihirnya Cahaya Penembus-nya.


Tanduk serigala gunung dilapisi oleh petir yang sangat kuat. Gadis yang ada di depannya adalah mangsanya, makhluk itu tak sempat melihat apalagi sampai mengetahui bahwa ada orang lain yang menundukkannya sebelumnya. Itu karena Lug berada di titik butanya saat serigalanya terjatuh.


BLAAAR


Serigala gunung menggunakan sihirnya untuk menahan sekaligus menyerang balik serangan musuhnya.


Tetapi Nagisa tak diam saja setelah serangannya berhasil ditahan. Dia bergerak dengan cepat ke tempat yang lebih gelap, lantas mengelabuhi lawannya dengan menyerang dari belakang menggunakan pisau yang dibawanya.


Gadis itu melompat dan berhasil menusuk bagian belakang serigalanya. Dia juga menggores bagian perut serigala itu. Kepercayaan dirinya semakin meningkat karena mengetahui bahwa kakaknya, Lug, berada di dekatnya.


Makhluk berkaki empat itu tidak diam saja membiarkan tubuhnya diserang begitu saja. Dia memberikan berbagai perlawanan yang membuat Nagisa sulit untuk membunuhnya.


Tetapi tetap saja, Nagisa telah berhasil membunuhnya setelah menusukkan pisaunya ke leher serigala gunung tersebut.


Setelah itu, Lug turun dari atas pohon dan memberikan tepukan tangan. "Selamat, Nagisa, kau berhasil," ucapnya seraya tersenyum.


Dan gadis yang diselamatinya itu merasa sangat senang dan puas, dia merasa tak sia-sia dalam latihan kali ini. Aku ... Aku dipuji oleh kakak Lug. Latihan ini- aku berharap aku bisa melakukannya lagi, aku ingin dipuji lagi olehnya. Batin gadis tersebut.


Lalu ada dua serigala yang masih mengejar dan ketika mereka mendekat, ada sesosok hitam yang dipenuhi oleh kabut sihir di sekitarnya.


Hanya dalam beberapa kedipan mata, kedua serigala itu telah mati. Nagisa yang melihatnya itu terkagum-kagum akan kehebatannya dari sesosok Lug.


Kemudian mereka mengambil tanduk dan taring serigala gunung yang berharga. Lug berencana untuk menjadikannya sebuah senjata. Kualitas keduanya sangatlah tinggi dan dapat digunakan untuk menjadi sebuah senjata sihir. Benar saja, ketika tanduknya dipegang dan terkena oleh cahaya bulan secara langsung, ia memancarkan petir yang bertegangan tinggi.


Karena Lug memiliki resistensi terhadap sihir yang cukup tinggi, itu membuatnya sedikit tak terpengaruh.


Setelah itu, dia dan Nagisa berjalan kembali ke goa karena menurut mereka sekarang sudah terlalu larut.


Gadis dengan rambut pirang yang melawan serigala gunung tadi merasa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. "Kakak, kenapa luka pada tubuhku cepat sekali pulihnya? Aku baru sadar setelah selesai melawan serigala tadi, mungkin saja di saat aku bertarung tadi ini juga terjadi. Apa kau tahu sesuatu?" tanyanya seraya menoleh ke anak lelaki di sebelahnya.


Lug tersenyum, lantas ia menjawab, "Aku tadi melakukan trik memanipulasi mana. Aku tahu tubuhmu itu yang mana ketika distimulasi oleh mana maka secara alami akan memulihkan luka."

__ADS_1


Tetapi dia menyembunyikan suatu hal dari Nagisa yang mana itu tentang tubuh gadis itu. Mirip dengan sebuah suntikan, Lug diam-diam menyuntikkan mana yang telah dimanipulasi olehnya ke dalam tubuh Nagisa. Dia melakukannya ketika gadis itu sedang menyerang dengan sihir Cahaya Penembus, karena mana yang dia manipulasi itu juga bercahaya ketika disuntikkan. Tetapi Lug juga menggunakan sebuah sihir dalam skala yang besar untuk membantu penyembuhan lukanya Nagisa.


K-kakak Lug ... Dia tahu? Tapi- bagaimana cara dia mengetahuinya? Apa dia juga tahu tentang asal-usulku dan kakak Teressa? Batin Nagisa yang merasa cemas.


Lug tersenyum lagi, senyumannya hangat dan menyenangkan. "Kau terlihat seperti sedang cemas, apa ada yang sedang kau khawatirkan?" tanyanya seraya mengelus kepala gadis itu.


Nagisa menggeleng, "T-tidak ada apa-apa. A-aku hanya merasa kakak sangatlah hebat," jawabnya sembari memalingkan wajahnya.


Sebenarnya Lug tahu apa isi hati gadis itu, dia hanya ingin membuatnya tidak terlalu curiga. Dan lagi anak ini memang sudah tahu asal-usul gadis pirang tersebut, entah itu orang tua, tempat tinggal, dan lain-lain.


"Maaf ya, Nagisa, kau memang harus melatih keberanianmu itu. Kau harus tahu, orang-orang tak akan memperdulikanmu atau berpikir untuk membantumu kelak di masa depan. Mereka hanya akan mementingkan diri mereka sendiri. Inilah kejamnya dunia, realita yang tak dapat dipungkiri," jelas Lug.


Gadis di sampingnya itu benar-benar paham dengan ucapannya itu. Pikirnya adalah setiap orang hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri. Terkadang seseorang hanya dianggap sebagai angin lalu atau tak pernah ada di dalam kehidupan orang lain.


Dan Lug juga memahami perasaan gadis kecil itu, "Oh iya, jangan berpikir aku akan meninggalkanmu di masa depan. Dan tadi aku meninggalkanmu karena ingin melatihmu saja," ujarnya.


Nagisa menoleh lagi ke arahnya, "Tidak apa-apa, justru aku sangat senang bisa diselamatkan oleh kakak sekali lagi," ucapnya dengan senyuman yang hangat.


Seberat apapun latihan yang gadis itu terima dari Lug, dia tak pernah sekalipun mengeluhkannya. Bahkan di setiap latihan, hatinya sangat gembira.


Sesampainya mereka berdua di goa, mereka melihat Qei yang tertidur di atas pos dan Fana juga masih tertidur dengan lelap. Malam itu sangatlah dingin, tetapi bagi Nagisa itu adalah malam yang sangat hangat. Dia masih berkeringat walau sudah berada di dalam goa dan beristirahat.


Lug pun juga ikut beristirahat.


*****


Keesokan harinya, Fana terbangun bersamaan dengan Lug. Dan tak lama kemudian, Nagisa juga terbangun.


Matahari masih belum terlihat, sinarnya masih sangat redup dan langit masih gelap. Dan di bagian timur, langit berwarna merah redup.


Setelah itu mereka pergi keluar untuk memeriksa sesuatu. Dan sudah mereka duga, Qei masih tidur mendengkur di atas pos yang dibangunnya bersama dengan Lug. Dengkurannya sangat keras bahkan terdengar sampai di dalam goa.


Lug menoleh ke arah Fana, "Bangunkan dia!" suruhnya.


Dan gadis yang disuruh itu mengangguk serta melaksanakannya. Dia naik ke atas pos dan segera membangunkan Qei dengan guncangan yang keras. Dan anak laki-laki yang tidur di atas itu langsung terbangun karena terkejut.


Qei masih terus menguap dan matanya masih terpejam walaupun sudah dibangunkan. Dia terus menerus mengusap matanya dan masih enggan untuk bangun.


"Hoaaamm ... Masih sepagi ini, kenapa kalian membangunkanku?" tanyanya sembari mengusap matanya yang enggan untuk terbuka.


Lantas Lug mengacungkan tangannya ke arah Qei, lingkaran sihir terbentuk di bawah anak yang masih mengantuk itu.


"Akselerasi Gravitasi!"


BUGH


Qei terjatuh dan tubuhnya sangat berat untuk diangkat, seketika dia tidak mengantuk lagi dan menjadi sangat takut. Dia juga sangat terkejut merasakan hal yang tiba-tiba menimpanya itu.


.


"A-aku sudah tak mengantuk lagi ... S-sungguh ... K-kumohon lepaskan A-aku ... " pintanya tergagap.


Lug memandangnya sinis dan segera melepaskan sihirnya. Lantas dia berkata, "Jangan tumbuh seperti pemalas yang hanya tidur saja, bangunlah yang pagi."


Note :


(1 hari \= 32 jam


1 Minggu \= 9 hari


1 bulan \= 45 hari


1 bulan \= 5 Minggu


1 tahun \= 405 hari


1 tahun \= 9 bulan)

__ADS_1


"I-iya iya iya ... " ucap Qei seraya bergegas berdiri. Dia jadi sangat takut dan rasa mengantuknya lenyap, apalagi ketika melihat wajah temannya itu yang terlihat sangat mengerikan baginya.


Bersambung!!


__ADS_2