![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Mendengar kabar bahwa kedua istrinya akan terbunuh ketika pertarungan yang sebenarnya terjadi, Lug menunduk terdiam. Seakan matanya itu tertutup oleh bayangan hitam yang tak dapat menampilkan ekspresi wajahnya.
Selain Lug, Raini dan Nagisa juga langsung syok mendengarnya. Mereka berdua saling menatap bersedih. Dan sebenarnya, bagi Nagisa kesedihannya bukan karena dirinya akan mati, tetapi karena dirinya akan meninggalkan suaminya tercinta itu, baginya itu adalah kesedihan paling mendalam.
Lug berbalik, dia berjalan menuju ke arah kedua istrinya. Semua orang menatapnya dengan rasa iba dan ada juga yang ketakutan seperti Cleo–ketakutan akan kematian.
Dewa Capricorn berusaha menghibur, "Ini mungkin akan sangat berat bagi anda, tuan ... Tetapi- kami meminta maaf karena terlalu lancang terhadap masa depan- "
Lug menghentikan ucapan Dewa Capricorn dengan mengisyaratkan melalui tangannya. "Bisakah aku mempunyai privasi di sini?" tanyanya.
Dewa Leo mengangguk dan menjawab, "Silahkan tuan."
Lantas Lug menggunakan sihir Dunia Kegelapan, membawa Nagisa dan Raini masuk ke dalam sihir tersebut. Dan seketika itu juga, membuat keempat dewa itu terkejut. Mereka sama sekali tidak merasakan kehadiran Lug dan kedua istrinya. Di hadapan mereka hanyalah sebuah dinding hitam yang bentuk seperti semburan api.
Para dewa itu saling menatap satu sama lain, tak menyangka bahwa sihir semacam itu ada pada manusia–yang meskipun adalah reinkarnasi dari makhluk yang bernama Acestral.
Di dalam Dunia Kegelapan, Lug memeluk Nagisa dan Raini bersamaan. "Aku tahu apa yang akan terjadi, aku mengetahuinya. Kuingin kalian bersiap," ucapnya dengan nada kesedihan. Menetes air matanya hingga ke tanah.
Nagisa dan Raini juga menangis, takut meninggalkan Lug sendirian kelak setelah menyelamatkan alam semesta.
__ADS_1
"Kakak Lug, jika aku mati ... Kumohon, jangan lupakan aku," ucap Nagisa sambil menangis terisak-isak.
Lug malah tersenyum, lalu melepaskan pelukannya dan menatap mata kedua istrinya secara bergantian. "Aku tidak berkata bahwa kalian akan mati, kalian ... Takdir kalian adalah menjadi sosok yang akan menemaniku selamanya," paparnya dengan senyuman hangat.
Raini menduga bahwa itu ditujukan untuk menghibur semata, ia memasang senyum palsu.
Lug mengetahui pikiran istrinya itu. "Aku- tidak membohongi kalian ... Para dewa itu memiliki rencana besar di masa depan, saat ini mereka terkejut dengan sihirku ini. Jika mereka benar-benar tahu, seharusnya mereka tidak terkejut dengan sihirku ini. Bola Ramalan Suci memang dapat meramal, tapi bagaimana jika informasinya dipalsukan? Mereka akan merancang sebuah skenario, mungkin aku dihormati, tapi- kita masih belum tahu kedepannya bagaimana. Aku hanya ingin kalian bersiap, oke?" jelasnya memberikan keyakinan. Tatapannya terlihat sangat tajam dan meyakinkan, itu membuat sugesti positif terhadapnya. "Tidak akan kubiarkan kalian mati meninggalkanku," tambahnya.
Nagisa dan Raini mengangguk, mengerti dan percaya dengan kalimat dari suaminya itu.
"Sayang, bagaimana dengan yang lainnya ... Lalu, kakak sepupuku, Zephyr?" tanya Raini resah.
Tatapan Lug tiba-tiba kosong, dia merapatkan bibirnya. "Aku ... Tidak tahu pasti- dia ... "
Meski begitu, Raini tidak merasa tengah dibohongi oleh suaminya. Dia tahu bahwa suaminya berusaha sebaik mungkin agar hal terburuk itu tidak terjadi. Bahkan Nagisa pun segera menghapus pikiran buruknya dan berpikir lebih positif agar hasilnya menjadi yang terbaik.
"Nagisa," sebut Lug memandangi Nagisa, lantas menoleh ke arah Raini dan menyebut namanya, "Raini."
Lelaki itu menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke dahi Nagisa, begitupun pada Raini. Kedua istrinya merasakan sesuatu yang sangat hangat masuk ke dalam tubuh mereka. Cahaya terang mulai masuk ke dalam tubuh Nagisa melalui jarinya Lug, dan energi gelap mulai masuk ke dalam tubuh Raini melalui jarinya yang satunya lagi. Lug berkata, "Terimalah, ini akan menjaga kalian hingga kalian tidak dibatasi oleh usia."
__ADS_1
Kekuatan besar yang memberikan sebuah keabadian kepada orang lain. Lug bahkan meningkatkan sumber mana dan sumber jiwa milik kedua istrinya. Sehingga sihir Dunia Kegelapan mulai memudar dan masuk ke dalam dahinya Raini perlahan.
Para dewa itu beserta orang-orang yang ada di sana menyaksikan betapa hebatnya Lug memberkahi kekuatan seseorang.
"Nagisa, Manifestasi Cahaya [Light Manifestation] ... Raini, Putri Kehampaan [Daughter of Voidness] ... Kini, kalian adalah eksistensi abadi yang tidak lagi dibatasi oleh usia," ucap Lug dengan senyuman tipis di bibirnya.
Para dewa terdiam memandangi kejadian tersebut. Mereka benar-benar tak menduga bahwa kemampuan manusia yang seperti itu pun ada selayaknya kemampuan para dewa–bahkan jauh lebih baik.
Nagisa mulai lepas dari jarinya Lug, begitupun dengan Raini. Mata mereka terpejam, berusaha menerima kekuatan besar yang mulai masuk ke dalam tubuh mereka. Tubuh mereka berdua terbang ke udara dengan sendirinya, dan di dahi mereka masih menyerap cahaya/energi gelap yang semakin lama semakin kuat. Cincin yang diberikan oleh Lug melebur, berubah menjadi energi yang membentuk simbol Yin dan Yang–hitam dan putih. Simbol Yin sendiri yang berwarna hitam adalah untuk Raini, ketika simbol itu menyatu dengannya pada dahinya, dengan sangat cepat matanya terbuka. Namun bola matanya itu berbeda, seluruhnya berwarna hitam dengan kerlipan di dalamnya, seakan terdapat alam semesta pada kedua bola matanya.
Sementara Nagisa, simbol Yang juga melekat pada dahinya. Matanya terbuka lebar dengan cahaya yang menyembur dari kedua bola matanya tersebut. Tanpa sadar wanita itu berubah menjadi wujud cahayanya, hanya saja ukuran tubuhnya tidak membesar. Muncul juga sebuah halo cahaya di atas kepalanya, tetapi itu berubah menjadi seperti mahkota yang sangat indah.
Para dewa terdiam memandangi kedua manusia itu, karena apa? Kekuatan kedua manusia itu sudah hampir setara dengan para dewa.
"Kalian ... Adalah manusia terkuat yang pernah ada!" seru Lug dengan tegas, terdapat senyuman tipis pada bibirnya, hanya saja, tatapan matanya menunjukkan kepastian.
Hingga tubuh Nagisa dan Raini turun dengan sendirinya secara perlahan. Ketika mereka kembali ke permukaan tanah, mata mereka berdua membuka perlahan. Menatap sayu ke arah suami mereka, dan berdiri dengan kaki yang setengah lemas. Nagisa sentiasa tersenyum ketika menatap Lug, dan Lug membalas senyumannya itu. Namun lelaki itu tidak terlihat sehat, terlihat adanya kantung mata yang terukir di wajahnya, seakan dirinya sangat mengantuk.
"Nagisa, Raini, kini eksistensi kalian telah setara denganku- dengan para dewa. Aku membagikan separuh kekuatanku pada kalian- jadi ... Patahkan ramalan itu!" ucap Lug dengan senyumannya yang lemas. Nada suaranya terdengar lemah.
__ADS_1
Nagisa dan Raini mengangguk. Mereka berdua memeluk Lug dengan penuh kasih sayang. Selamanya kita takkan pernah terpisah!
Bersambung!!