Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 28 - Ulang Tahun Lug


__ADS_3

Dua hari kemudian, Lug berulang tahun. Diselenggarakan di rumahnya oleh Nivi, Teressa, dan Rakt. Mereka merayakannya di belakang rumah dengan sebuah kue yang ditanamkannya sebuah lilin yang membentuk angka 9 yang berarti usia Lug sekarang.


Teressa benar-benar membelikan baju elegan yang dilihatnya di butiknya Veni. Ia memberikannya kepada Lug dan bahkan Nagisa juga diberinya pakaian juga.


Rakt merasa bingung melihat pemberian Teressa teruntuk adiknya. "Kapan kau membeli pakaian itu, Teressa?" tanyanya penasaran.


Teressa menoleh, lantas menjawab, "Ah, ini? Setidaknya seminggu yang lalu."


"Kau berkata padaku untuk menghemat, tapi pengeluaranmu lebih banyak dariku."


"Pakaian ini bahkan tidak lebih dari setengah harga dari hadiahnya Lug."


"Gaun yang ingin kubelikan untukmu harganya 65 koin perak."


"Baju ini harganya 50 koin perak. Sudahlah Rakt, aku sudah terlalu banyak kau belikan baju dan gaun gaun yang tak terlalu berguna. Lagipula akan menjadi kotor dan aku malas membersihkan gaun yang modelnya rumit. Kalau kotor, kotorannya biasanya menyumpal dan sulit dibersihkan," terang Teressa dengan nada yang sedikit tinggi.


Lug dan Nagisa saling bertatapan serta melemparkan senyuman menahan tawa.


Nivi menggelengkan kepalanya melihat anaknya yang sudah hampir berkeluarga. "Begitulah kehidupan berkeluarga, pasti akan ada pertengkaran sepele di antara kalian. Jika sudah benar-benar berkeluarga, benahi diri masing-masing. Berpikirlah lebih matang agar tidak saling menyalahkan seperti sekarang ini. Kenalilah pasangan kalian dengan lebih baik," tuturnya sembari tersenyum senang.


Rakt dan Nivi memperhatikannya. Lalu mendekati Nivi dan memeluknya bersama-sama. "Terima kasih, bu," ucap mereka berdua.


"Iya, sama-sama," sahut Nivi sembari membalas pelukannya.


Sementara itu, Nagisa menarik tangan Lug dan membuat anak lelaki itu memperhatikan gadis tersebut.


"Ada apa?" tanya Lug.


Nagisa tersenyum dengan wajah sombong. "Apa kau tahu, kak? Aku sudah bisa sedikit menguasai metode itu. Jangan lupakan janjimu, ya?!" tuntutnya.


Lug penasaran dengan bagaimana perkembangannya Nagisa. "Coba kulihat sejauh apa latihanmu berkembang?"


"Nah, lihat ini!"


Nagisa mengangkat tangannya hingga sedada. Memperlihatkan sebuah lingkaran sihir di tangan kanannya yang berwarna putih. Di tangan kirinya juga terdapat lingkaran sihir pula yang berwarna abu-abu. Keduanya adalah sihir tiga lingkaran, yang putih adalah sihir Cahaya Penembus, dan yang abu-abu adalah sihir Kebangkitan Pedang. Nagisa masih sedikit sulit untuk mempertahankan sihir Kebangkitan Pedang-nya. Namun di mata Lug, perkembangannya itu sudah sangat pesat.


"Bagus sekali," Lug memuji. "Pertahankan lagi, kau pasti bisa. Ingat dengan janjiku!"


Nagisa hanya mengangguk dengan seringainya. Itu menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak ingin konsentrasinya diganggu. Lug segera diam setelah menyemangati, dan itu benar-benar membuat Nagisa bersemangat.


Nivi, Rakt, dan Teressa menoleh kepada dua anak itu karena penasaran apa yang terjadi. Ketika Rakt berbisik, "Lug, apa yang dia lakukan?"


Lug menoleh pada kakaknya, lantas menjawab, "Ssstt, lihat saja!" Ia pun juga ikut berbisik.


Pada saat itu, masing-masing sihir di kedua tangan Nagisa mulai berubah menjadi gumpalan awan kecil. Keduanya mulai menyatukan diri dan membentuk sebuah pusaran serta memancarkan cahaya yang cukup terang. Dan pada saat itu juga, muncul huruf huruf asing yang berterbangan dari pusaran tersebut. Huruf huruf itu membentuk sebuah gagang yang tidak memiliki bilah pedang.


"Apa itu?" tanya Teressa. "Sebuah gagang? Gagang pedang? Kenapa tak ada bilah pedangnya?"


Lalu pusaran awannya melebur di kedua telapak tangannya Nagisa, membentuk ukiran yang mirip seperti ukiran yang biasanya ada pada lingkaran sihir dan menutupi seluruh telapak tangan, jari-jari, punggung telapak tangan, hingga pergelangan tangannya. Ukirannya berwarna abu-abu yang memancarkan cahaya putih terang, hanya saja intensitasnya tidak sampai menyilaukan mata. Dan pada saat Nagisa mengambil gagang pedangnya dengan tangan kanannya, ia mengayunkan tangannya ke bawah dan muncul semburan cahaya dari gagangnya–seperti semburan air namun berupa cahaya putih terang–menggantikan bilah pedang aslinya pada sihir Kebangkitan Pedang.


"Wah, hebat sekali," ucap Nivi, Teressa, dan Rakt secara bersamaan.

__ADS_1


Setelah itu, Lug menerangkan, "Ini adalah metode penggabungan sihir. Menggabungkan dua buah sihir yang berbeda dan menciptakan sihir yang baru hasil dari penggabungan tersebut. Memiliki fungsi yang sama seperti sebelum digabungkan. Ketika terintegrasi, penggunaan mananya hanya sekitar 1,3 hingga 1,8 kali lipat."


"Berarti tidak efisien, dong. Pemakaian mananya kan jadi lebih boros," celetuk Rakt memotong penjelasannya Lug.


Lug menggelengkan kepalanya sembari menyeringai tipis. "Metode itu kan menggunakan dua sihir atau lebih, jadi jika dua sihir digabungkan, maka penggunaan mananya jelas menjadi 2 kali lipat. 1,3 hingga 1,8 sudah termasuk efisien," imbuhnya.


"Oh, iya ya."


Teressa merasa ada yang mengganjal di kepalanya, seperti ada kalimat yang membuatnya berpikir ulang. "Lug, metode itu bisa digunakan untuk lebih dari dua sihir sekaligus?"


Lug mengangguk mantap. "Ya."


"Tidak mungkin!" seru Teressa. Dua sihir yang digunakan secara bersamaan itu sangatlah sulit, dan jika lebih dari dua sihir digabungkan, maka kesulitannya akan meningkat berkali-kali lipat begitu juga dengan resikonya. "Biar kulihat, apa kau juga bisa menggunakan metode itu?!" tuntut Teressa.


Nivi menimpali, "Iya, ibu juga ingin lihat Lug yang melakukannya."


Rakt juga penasaran, ia berpikir bahwa sihirnya pasti akan sangat luar biasa. Tetapi jika itu benar-benar terjadi, itu akan semakin memperlihatkan bahwa dirinya yang sekarang ini sudah tertinggal sangat jauh dari adiknya sendiri.


"Baiklah, dengan senang hati," sahut Lug. Tatapannya nampak sangat percaya diri. Langsung saja ia memunculkan dua lingkaran sihir secara bersamaan di atas kedua telapak tangannya–berbeda dengan Nagisa yang membentuknya satu persatu. Sihir di tangan kanannya adalah sihir Singularitas–sihir yang berupa bola hitam yang menyerap apapun yang ada di sekitarnya. Dan yang satunya adalah lingkaran sihir berwarna ungu serta memiliki tiga lingkaran sihir yang bernama sihir Bola Petir. Ketika Lug menggabungkannya, kedua telapak tangannya memiliki corak yang sama seperti yang dimiliki Nagisa sebelumnya, namun warnanya adalah ungu gelap dan sinar yang dipancarkan berwarna ungu.


Muncul sebuah bola ungu transparan yang di dalamnya terdapat begitu banyak petir yang menyambar ke bola hitam di tengahnya, seolah petir petir itu dihisap ke dalamnya. Bola itu memiliki permukaan yang tidak rata dan bergelombang. Memiliki ukuran yang sedikit lebih besar dari kepalanya Lug.


Wajah kagum terpancar dari Nivi dan yang lainnya. Mereka tak percaya metodenya berhasil dilakukan oleh Lug dan bahkan tiga kali lipat lebih cepat dari apa yang dilakukan oleh Nagisa.


"Wow, luar biasa!" Teressa memuji. "Sudah kuduga kau bisa lebih cepat dari Nagisa, tapi ini jauh lebih cepat lagi."


"Heh," Lug menyeringai, tatapannya terlihat sedang menyombongkan diri. "Aku hanya mempraktekkan sedikit kemampuanku saja, tapi jika ini di pertarungan yang benar-benar nyata, mungkin aku bisa lebih cepat lagi. Semuanya bisa disesuaikan tergantung kondisi."


Lug melihat Rakt–mendengarnya tertawa di dalam hati. "Haha, kak, kau pasti sedang menertawakanku," tukasnya.


Rakt terkejut. "Tidak! Tapi kau- ya, memang sedikit lucu, hahaha," sahutnya seraya memalingkan pandangannya. Dia tak menduga adiknya membaca kata hatinya.


Lug menggelengkan kepalanya–melakukan hal yang sama dengan Rakt.


*****


Sebelum hari berakhir, Lug dan Nagisa berjalan-jalan di pinggir sungai. Mereka menghabiskan waktu dengan bermain-main air di sana. Karena sudah menjelang malam, Nagisa segera mengeluarkan diri dari air. Tatapannya terus tertuju pada Lug seolah ada yang kunci besar di matanya yang membuatnya terus menatap lelaki itu.


"Kak, apa kau mau membawaku berkeliling nanti di saat kita sudah berada di kota kerajaan?" pinta Nagisa parau. Suaranya terdengar serak karena dirinya kedinginan.


"Pastinya," jawab Lug seraya mengelus rambut Nagisa yang basah dan dingin. "Nagisa, Pastikan nanti kau mempunyai performa yang sama denganku ketika seleksinya dimulai. Jangan berpisah denganku."


Biasanya kata-kata itu membuat orang yang mengatakannya menjadi malu-malu. Tapi itu tidak berlaku bagi Lug, justru kalimatnya itu meluluhkan hatinya Nagisa. "Baiklah, kak. Terima kasih sudah mencemaskanku."


"Aku tidak cemas, aku sangat percaya pada kemampuanmu. Tapi jika kita terpisah di kota kerajaan, bukankah itu akan jadi merepotkan? Coba pikirkan itu!" tutur Lug.


"Benar juga, ya?" Nagisa memegang dagunya, wajahnya memperlihatkan seolah dirinya sedang memikirkan sesuatu yang sangat membingungkan. Ketika itu juga, ia teringat pada saat bersama dengan Teressa ketika di hutan–momen pertama kalinya bertemu dengan Lug. Pada saat itu juga, Nagisa selalu berpikir bagaimana jika ia juga akan kehilangan kakaknya dan berakhir dengan hidup sendirian di hutan, sementara dirinya dulu sangat takut dengan kegelapan dan kesendirian. "Kakak Lug, terima kasih telah mengingatkanku. Akan kuusahakan untuk bisa menyamaimu," ucap Nagisa parau. Dia tidak tampak sedang kedinginan, hanya saja wajahnya kini berubah menjadi sedikit murung.


Lug memahami isi hatinya Nagisa. "Sudahlah, lagipula kita ini dari desa. Biasanya akan ada banyak upaya dari orang-orang kerajaan yang berusaha memisahkan kita satu sama lain," terangnya. Tatapannya lurus ke depan, Nagisa melihatnya seperti Lug sedang dilapisi oleh cahaya emas laksana seorang pahlawan.


Lalu Lug menoleh pada Nagisa. "Bagaimana kencan kita tadi? Seru?" tanyanya.

__ADS_1


Wajah Nagisa berubah, ia malah menjadi kesal. "Tidak seru, huh!" serunya. "Kupikir makan es krim beberapa hari yang lalu jauh lebih baik dari sekarang. Berjalan-jalan di pinggir sungai dan mandi di sungai memang seru, tapi mana ada kencan yang seperti itu? Sama sekali tidak romantis, huh!"


Lug malah tertawa lebar mendengar Nagisa yang mengomelinya. Tapi pada saat tertawaannya itu berhenti, tatapannya berubah menjadi lemah lembut menatap ke bawah dengan tatapan kosong. "Kau tahu Nagisa ... "


Nagisa menunggu ucapan Lug dengan seksama. "Tahu apa?" tanyanya penasaran.


"Uangku habis."


Dua kata itu benar-benar merubah pandangan Nagisa kepada Lug. "Kupikir apa? Ada hal yang serius atau tentang apa, ternyata masalahnya cuman uangmu habis?"


"Uang sangatlah penting, kau tahu?!"


"Katakan itu sedari tadi, aku juga punya uang!"


"Mana ada lelaki yang berkencan dengan uang wanitanya. Jika ada yang seperti itu, itu berarti mereka jauh lebih rendah dari pecundang yang kalah di sebuah kompetisi besar. Sangat memalukan, dan aku tidak mau menjadi seperti itu!" Lug menjelaskan dengan nada yang sangat tinggi, ucapannya itu benar-benar hendak meyakinkan Nagisa.


Tetapi gadis itu malah tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Lug melihatnya dengan tatapan aneh. "Ada apa denganmu?" tanyanya.


"Kau menyebutku wanitamu?"


Wow wow, benar-benar kesalahan besar mengeluarkan kata-kata seperti itu. Lug sungguh menyesal tidak berpikir terlebih dahulu di saat berbicara di hadapan Nagisa yang sangat terobsesi padanya itu. "Tunggu tunggu! Bukan seperti itu- maksudku, cobalah mengerti! Ah sudahlah, rumit untuk menjelaskannya! Aku kesal sendiri jadinya."


Ocehan Lug membuat Nagisa tertawa terbahak-bahak. Dan juga baru kali ini ia melihat Lug salah tingkah hanya karena sebuah kata-kata yang disebabkan perdebatan sepele saja.


"Tidak apa-apa kakak tidak mau mengakuinya, tapi suatu saat nanti, akan kubuat kakak Lug bisa berbicara tentang itu lebih jelas lagi," ujar Nagisa dengan penuh percaya diri.


"Kita lihat saja nanti."


Sesampainya di rumah, Nagisa langsung menuju ke kamar mandi. Ia pun langsung mandi karena tubuhnya yang basah kuyup dan dipenuhi oleh lumpur. Dan ketika sedang mandi, Nagisa malah membayangkan dirinya di kota kerajaan dan sedang berjalan-jalan bersama Lug, mengenakan pakaian rapi serta menjadi sorotan utama orang-orang di sekitarnya. Tapi ketika memikirkannya, itu hanya membuatnya malu saja. Itu karena Nagisa juga tak terlalu terbiasa di tempat yang ramai dan dipenuhi oleh orang asing.


Setelah selesai mandi dan keluar, masuklah Lug ke dalam kamar mandi. Ia juga belum mandi dan tubuhnya kotor karena sebelumnya di lempari lumpur oleh Nagisa. "Cepatlah ganti pakaian agar aku nanti tidak melihatmu telanjang seperti dulu!" perintah Lug.


"Ya iya, aku tahu," kata Nagisa. "Lagipula kau sendiri pasti ingin melihat aku telanjang, kan? Ayolah, mengaku saja!"


Lug tidak tergoda oleh ucapan Nagisa sedikitpun. Ia malah memberikan tatapan yang mengerikan. "Aku sama sekali tidak menginginkannya, dadamu saja tidak sebesar kakakmu. Mana mungkin aku terangsang?" Lug meledek, lantas menutup pintu kamar mandinya.


Kemudian Nagisa melihat dadanya sendiri yang dibungkus oleh handuk putih dan dadanya itu masih belum tumbuh, lantas memegangnya. Itu membuatnya kesal. "KAKAK LUG! KAU JAHAT!!!" Bentaknya. Lalu segera kembali ke kamar dengan derap kaki yang sangat berat. Bahkan Nivi yang baru saja selesai menjahit di ruang tamu saja sampai terheran-heran.


"Hmm? Ada apa dengan mereka berdua?" Tak ingin di ambil pusing. Nivi pun segera masuk ke dalam kamarnya yang ternyata di dalam sudah ada Vans.


"Namanya juga anak kecil," ujar Vans yang duduk di atas kasur.


Setelah itu, Nivi pun menutup pintunya.


Dan setelah Lug selesai mandi, ia langsung ke kamarnya dan hendak memakai pakaiannya. Sementara Nagisa di dalam kamar, Lug mengusirnya.


"Kak, kumohon biarkan aku melihatmu mengganti bajumu," pinta Nagisa dengan wajah memelas.


Tak ingin berlama-lama, Lug pun mengambil pakaiannya dan memutuskan untuk mengenakannya di kamar mandi. Nagisa kesal dan senang di waktu bersamaan, rasa kesalnya karena permintaannya tidak terpenuhi, dan rasa senangnya karena berhasil menggoda Lug.


"Haha, kakak Lug benar-benar lucu."

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2