Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 33 - Akademi Sihir Kerajaan


__ADS_3

Pertandingan antara Nagisa dan George berakhir dimenangkan oleh Nagisa. Gadis itu dengan mudah mengetahui kelemahan lawan, yaitu pertarungan jarak dekat. Dengan sihir Tubuh Api Tak Berwujud, Nagisa bisa dengan mudahnya mendekati George meskipun selalu ditahan oleh berbagai serangan. Tetapi tanpa diduga, lelaki bangsawan itu ternyata juga telah menguasai sihir empat lingkaran dan belum sempat digunakan untuk melawan Lug. Sihir itu berupa sihir amukan, Aura Emas Dewa, sihir yang diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga Lionel.


Sempat terintimidasi, Nagisa tetap mengingat bahwa Lug memiliki aura ganas yang jelas melebihi itu ketika sedang serius atau marah. Sehingga gadis itu tetap bersikap tenang ketika menyerang, karena menurutnya apa yang ada di hadapannya itu belum ada apa-apanya.


Pada akhirnya George kalah dan sangat malu ketika dikalahkan oleh kakak adik yang mana keduanya berasal dari desa. Sempat ingin mengamuk dan menyerang lagi, tapi dia mengingat konsekuensi yang akan diterimanya jika memberontak.


"Cih, gadis itu hanya beruntung. Tahu jika aku lemah dalam pertarungan jarak dekat," gumamnya sembari berjalan kesal kembali ke kerumunan.


Beberapa bangsawan ada yang menertawainya, biasanya ada beberapa yang memang saling bertolak belakang, sehingga saling mengejek satu sama lain.


Dan Qei sendiri menantang sesama anak desa dan juga ditantang oleh anak desa pula. Ketika menantang, dia menang dan ketika ditantang, dia kalah. Meski begitu, ia juga sudah merasa mendapatkan nilai yang bagus untuk memiliki kualifikasi yang tinggi.


Pada akhirnya adalah pembagian kelas. Secara pribadi kepala akademi sendiri yang mengumumkannya. "Perkenalkan, namaku Howard Luminously, dari keluarga Luminously," ucapnya memperkenalkan diri.


Dikatakan bahwa keluarga Luminously memiliki peran dan kekuasaan yang tinggi di kerajaan Da Nuaktha pada ratusan tahun yang lalu. Tapi karena puluhan pemberontakan dan berbagai macam kudeta selalu datang dari keluarga tersebut, kerajaan pun menurunkan status keluarga tersebut hingga ke tingkat baron dan terpecah menjadi tiga keluarga lainnya. Dulunya keluarga Luminously adalah bangsawan kelas archduke, yang mana itu mereka adalah keluarga dari seorang adipati agung kerajaan. Untuk mempertahankan posisi kebangsawanannya di kerajaan, keluarga Luminously pun membentuk berbagai akademi dan yang paling berhasil hingga sekarang adalah akademi sihir.


Kembali kepada Lug, dia sekarang mendapatkan kelas tertinggi, yaitu kelas S bersama dengan Nagisa. Tetapi Qei juga mendapatkan kualifikasi yang tidak terlalu buruk, dia masuk ke dalam jajaran murid kelas B yang mana itu sudah termasuk bagus bagi para murid yang datang dari desa.


Dan dari semua peserta yang datang, terdapat 27 anak yang gagal untuk mendapatkan kelas, sehingga mereka dipulangkan dengan penuh rasa kekecewaan.


Sekarang Lug dan lainnya telah diarahkan ke akademi sihir untuk melihat-lihat. Kepala akademi tampak sangat tertarik kepada Lug, sehingga sebelum ia masuk ke dalam kelas untuk melihat-lihat, kepala akademi pun mendekatinya.


"Namamu Lug, kan?" tanya Howard.


Lug menoleh, lantas mengangguk. "Iya, benar," jawabnya. Dalam hati ia berkata, Baguslah, aku sudah punya koneksi dengan orang yang bagus.


"Dengan siapa dulunya kau berlatih? Kau luar biasa," puji pria tua beruban itu.


Lug tersenyum. "Tidak ada, aku berlatih sendirian," jawabnya lagi.


Howard merasa ada yang disembunyikan oleh Lug, dan Lug juga sudah tahu bahwa dirinya telah dicurigai. Meski begitu, kepala akademi sama sekali tidak ingin menguak kebenarannya. Dia membiarkan muridnya itu memendam rahasianya sendiri. Lug merasa bahwa itu adalah keputusan yang bagus, memang seharusnya begitulah sikap orang dewasa, dapat menghargai privasi orang lain walau anak kecil sekalipun.


"Oh iya, nak Lug, berapa sihir tiga lingkaran yang sudah kau kuasai sekarang ini?" Howard bertanya lagi.


Lug merasa bahwa kepala akademi terlalu banyak bertanya, tetapi itu juga baik untuk hubungan mereka berdua. Jadi Lug membiarkannya. "Ada beberapa, pak. Setidaknya empat," sahutnya.


"Empat? Wow, berarti kau menguasai satu sihir empat lingkaran dan lima sihir tiga lingkaran? Luar biasa! Apa kau dulunya langsung berlatih sihir dua lingkaran?"


"Tidak. Aku langsung berlatih sihir tiga lingkaran, itu kemauanku. Karena aku dulunya suka membaca di perpustakaan desa."


Howard Luminously benar-benar terkejut mendengarnya. Itu adalah sesuatu hal yang sangat gila, sangat jarang dan bahkan hampir tidak ada yang seperti itu dalam hal tentang sihir kecuali kau adalah ras yang lain yang memang pada dasarnya handal dalam penguasaan sihir.


Sebenarnya Lug menjawab panjang lebar karena ia tak ingin terlalu banyak ditanyai, maka dari itu jawabannya cukup mendetail dan sedikit melenceng dari pertanyaannya seperti memberikan alasan meskipun tidak ditanya mengapa?


Tiba-tiba kepala akademi teringat akan suatu hal. "Nak Lug, jangan sampai kau bermasalah nantinya," pesannya.


Lug berpikir hal yang sama dengan kepala akademi. Seorang anak yang datang dari desa dan mendapatkan predikat yang tinggi di akademi pasti tidak disukai oleh beberapa anggota bangsawan yang iri dan dengki. "Selagi aku bisa menyelesaikannya secara pribadi, mungkin aku akan sedikit bermasalah. Justru akan aneh jika anak-anak itu tidak membuat masalah denganku," terang Lug.


Kepala akademi beranggapan hal yang sama. "Berlian harapan manusia itu berada dalam dirimu, kuyakin kau pasti paham. Kumohon mulailah dari tempat ini, jangan sampai kau keluar dari akademi ini karena bermusuhan dengan para bangsawan," imbuhnya.


"Baiklah, pak," sahut Lug. "Saya mohon izin untuk pergi, pak."


Kemudian anak itu pergi bersama murid lainnya yang sedang memeriksa kelasnya. Howard pun masih memandang penuh harapan kepada anak lelaki tersebut. Dia tak sudi jika para bangsawan itu membuatnya melepaskan berlian berharga.


Tetapi dalam hati Lug, dia berkata, cih, semua orang seperti kepala akademi pastinya adalah seorang politikus. Benar saja membuatku memulai segalanya dari sini, tak ingin melepaskanku atau apalah, yang jelas itu karena kepentingan pribadinya. Tapi jika itu memberikanku tempat terbaik di antara yang lainnya alih-alih di atas para bangsawan, dengan senang hati aku menerimanya. Meski terdengar sedikit congkak dan terlalu egois, tapi kenyataannya kejamnya dunia memang harus dilawan dengan cara seperti itu. Lug memang sudah memahaminya sejak lama.


*****


Di malam harinya, Lug sudah berada di asrama yang disiapkan oleh akademi. Tempat itu juga adalah tempat di mana Lug singgah sementara di saat masih menjadi peserta seleksi. Nagisa tidak berada dalam satu kamar bersamanya–berada di asrama wanita, dan Lug sendiri sekamar dengan orang yang sekelas dengannya–di asrama pria, sesama dari desa, namanya adalah Toni.

__ADS_1


Toni sendiri berasal dari desa Forto. Desanya itu lebih besar dari desa Nedhen, tapi tempatnya berada di perbatasan kerajaan Da Nuaktha dengan kerajaan tetangga.


Mereka berdua sudah saling berkenalan, saling memberikan kesan yang baik dan saling berteman.


Toni juga termasuk dalam kelas S. Kualifikasi sumber mananya adalah tiga garis penuh–hampir empat garis, kemampuannya dalam memanipulasi mana juga mendapatkan nilai tiga dengan bentuk yang beraturan atau sesuai dengan bentuk asli batunya. Namun ujian tertulisnya mendapatkan setengah dari nilai sempurna, dan sama halnya dengan Qei, dia kalah dalam tantangan dan menang ketika menantang.


Toni memiliki penampilan sederhana dengan pakaian berwarna cokelat kusam. Dia dan Lug tidak memiliki baju tidur. Toni memiliki rambut layaknya duri-duri yang disisir ke belakang dengan warna cokelat pula dan mata yang lumayan lebar dengan iris berwarna hitam. Ukuran telinga dan mulutnya kecil, serta tingginya hampir melewati telinganya Lug.


Toni sekarang berbaring di ranjangnya–ranjang mereka berdua adalah ranjang bertingkat–ranjang Lug adalah yang atas.


Asrama pria terdengar begitu bising. Banyak sekali orang yang baru berkenalan, dan terkadang ada juga yang bertengkar karena berebut ranjang. Ada juga yang malah berlarian di koridor dan bermain-main, hingga pada akhirnya ada seseorang yang berkeliling di koridor dan menangkap anak-anak yang berlarian, dia adalah penjaga yang berusaha menertibkan peserta didik yang berlarian di koridor. Bercanda boleh, asalkan jangan membuat gaduh dan kekacauan dengan cara berlarian di koridor dan di tangga. Lug dan Toni berada di asrama lantai ketiga.


"Lug, apa kau punya semacam latihan rahasia?" tanya Toni penasaran karena sebelumnya ia cukup memperhatikan Lug ketika menghebohkan seleksi tahapan pertama.


Lug yang sedang berdiri dan memandangi langit di balkon pun menoleh. "Ada," jawabnya. "Dari kecil aku selalu berlatih keras, itu saja."


Toni menggelengkan kepalanya, "Bukan itu. Kalau seperti itu pun aku juga sama, tapi bagaimana caramu bisa memiliki kualifikasi yang bahkan bisa dikatakan jauh dari bangsawan?" tanyanya lagi mendesak.


"Hmm?" Lug berpikir jawaban apa yang seharusnya ia berikan. Tak mungkin jika dia berkata, aku adalah leluhur yang menyelamatkan dunia dan lalu bereinkarnasi menjadi manusia seperti sekarang ini. Jelas saja jawaban seperti itu tidaklah mudah untuk diterima dan hanya dianggap bualan saja, meskipun faktanya itu adalah benar. "Sejak kecil aku selalu berlatih dengan kakakku. Belajar tentang dasaran sihir, bertarung, bahkan sesekali aku berburu di hutan sendirian dalam beberapa malam," Lug berterus terang.


"Wow," ucap Toni kagum. Raut wajahnya itu seperti baru saja melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat ataupun ia dengar. "Sejak usia berapa?"


"Tiga tahun, tapi kalau berburu, untuk pertama kalinya pada saat itu aku berusia lima tahun."


"Bagaimana dengan adikmu? Maksudku, gadis tadi yang namanya- siapa itu? Em ... Nagisa?"


"Iya, betul, namanya Nagisa."


"Nah, bagaimana dengan latihannya?"


Lug sedikit bimbang untuk menjelaskannya. Tapi melihat wajah Toni yang begitu berharap dengan jawabannya, membuat Lug teringin untuk menjelaskannya secara mendetail. Tapi ada kalanya sedikit detail yang harus ditutupi. "Nagisa, ya? Dia dan kakaknya itu adalah anak angkat kedua orang tuaku. Orang tua mereka meninggal dan tak ada yang mengurus mereka. Nagisa juga sama sepertiku, di bawah bimbingan kakakku, dia mendapatkan latihan yang sama denganku. Pada akhirnya, kakakku dan kakaknya Nagisa menikah tepat beberapa hari sebelum hari penerimaan murid baru dimulai," terang Lug lagi.


"Kau cepat tanggap juga, ya?"


"Kaupikir aku ini masih kecil?"


"Hahaha."


Mereka pun bersendau gurau di kamar. Dan dirasa hari sudah terlalu larut serta asrama juga sudah mulai senyap, Lug menyarankan Toni agar segera tidur karena besok kelas akan dimulai.


Tetapi Toni merasa heran. "Kenapa kau juga tidak tidur?" tanyanya.


Lug tertawa kecil. "Ini mungkin seperti sedang membual, tapi percayalah! Aku tidak terlalu membutuhkan tidur, kurasa sehari tidur satu atau dua jam saja cukup bagiku," jelasnya.


Benar saja, Toni meragukan ucapan Lug. Tetapi dia sama sekali tidak peduli, tidur adalah urusan pribadi seseorang. Jika dia mengantuk, mungkin akan tidur sendiri nantinya. Aku memang kurang percaya, tapi- ya sudahlah, terserah anak itu, gumam Toni dalam hati.


Lug dapat mendengar apa yang Toni gumamkan dalam hati. Ia hanya tersenyum seraya membalikkan pandangannya dan kembali menatap bulan sabit di langit yang cukup cerah.


Beberapa jam kemudian, Toni sudah tertidur pulas. Pintu balkon telah tertutup, beberapa obor telah dimatikan–terdapat empat buah obor di dalam kamar dan ada tiga obor yang sudah tidak lagi menyala. Lug juga tidak berada di dalam kamar, ia pergi keluar untuk berjalan-jalan mengenakan jubah hitam panjang yang menutupi tubuhnya. Dia juga membawa masker agar identitasnya tidak diketahui oleh orang-orang di sekitarnya.


Jalanan sangatlah sepi. Hanya ada serangga-serangga yang berterbangan di sekitar sinar lampu jalan yang masih menyala.


Lug berjalan-jalan di luar bertujuan untuk mengenali lebih banyak lagi tentang jalanan kota kerajaan. Ketika ia keluar dari gerbang, dirinya menggunakan sihir Tak Terdeteksi dan keluar tanpa diketahui oleh siapapun dengan melompat melewati gerbang.


*****


Keesokan harinya, Lug dan Toni turun bersama dari asrama. Mereka dan murid yang lainnya mengenakan seragam resmi dari akademi–baju putih polos dengan lengan panjang dan saku di dada kiri, jubah biru keunguan tanpa lengan dan kancing dengan motif garis garis emas, serta berlambangkan pedang dan tongkat yang saling menyilang dan di belakangnya bertuliskan huruf s–huruf s menandakan bahwa seseorang itu berasa di kelas S, serta di atas logo tersebut, terdapat sebuah emblem bintang berwarna, celananya adalah celana jeans hitam panjang–sementara untuk para wanita adalah rok yang panjangnya sampai menutupi lutut. Di lantai satu, mereka berdua bertemu dengan Qei, lantas anak itu pun berkenalan dengan Toni.


Lug sekarang membawa sebuah kalung yang di mana pada kalung tersebut terdapat sebuah koin yang ia dapatkan pada saat di kota kerajaan dulunya ketika bersama ayahnya.

__ADS_1


Mereka pun segera menuju ke akademi yang berseberangan dengan asrama. Ketika melewati gerbang akademi, terbentang lapangan dengan rumput hijau yang cukup halus, lapangan tersebut sangatlah luas dan dikelilingi oleh bangunan bangunan berplester merah tua yang mana itu adalah bangunan untuk ruang kelas dan ruang lainnya.


Lug mencari kelasnya yang berada di lantai satu, tepatnya berada di sebelah ruang kelas ekslusif. Ketika menyusuri ruang koridor, dia melihat ruangannya, dan di sebelah kirinya kelas ekslusif atau ujung koridor terdapat pintu yang mana itu adalah ruangan para guru untuk murid junior. Di koridor itu hanya ada tiga kelas saja, yakni kelas eksklusif, kelas S, dan kelas A.


Lug pun masuk ke dalam kelasnya. Di sana terdapat tempat duduk yang tatanannya menggunung–semakin tinggi, maka semakin jauh dengan papan tulis.


Di tempat duduk yang paling belakang dan paling tinggi, telah ditempati oleh bangsawan bangsawan yang datang lebih cepat. Lug tidak ingin terlalu berebutan tempat duduk, maka dari itu ia memilih tempat duduk yang paling depan.


Susunan tempat duduknya adalah satu meja untuk dua orang. Untuk para siswa duduk di barisan kiri dan untuk para siswi duduk di barisan kanan–dekat dengan pintu.


Karena Toni merasa tidak ada seseorang yang ia kenal selain Lug, maka dari itu ia juga duduk di tempat yang sama dengan teman sekamarnya itu. Mereka pun saling mengobrol, hingga pada akhirnya Lug melihat masa depan yang tak mengenakkan hatinya. Apakah ada masalah lagi dengan bangsawan bangsawan keparat itu? batin Lug.


BRAAAK


Dan benar saja, ada seorang bangsawan yang menendang pintu dengan sangat keras. Sedikit lebih keras lagi, mungkin pintunya akan terlepas. Bangsawan itu adalah seorang anak laki-laki.


Ketika Lug melihatnya, ia merasa sedikit familiar dengan wajah bangsawan itu. "Aku seperti pernah melihat si bodoh itu," ujar Lug seraya menuding laki-laki yang menendang pintu. Dia menunjuk tanpa mengangkat tangannya dari meja.


Toni melihat siapa yang dimaksud oleh Lug. "Jangan berkata seperti itu, kalau tidak kau akan bermasalah dan itu tidak baik untukmu," tuturnya berbisik.


Lalu bangsawan yang menendang pintu itu melihat ke arah Lug. Dia tersenyum dan mendatanginya.


Lug memandangi lelaki itu dengan sebal. "Ah, yang benar saja," gumamnya.


Lelaki yang menendang pintu itu memiliki rambut merah panjang yang disisirkan ke belakang dengan beberapa helai berwarna hitam yang menjulur bergelombang melewati pelipis kirinya. "Hei, bocah, aku seperti pernah melihatmu," ujarnya.


Lug memalingkan wajahnya. "Aku juga, tapi itu tidak penting. Kalau aku bocah, kau sendiri apa?" sahutnya sebal.


Bangsawannya pun mulai sebal. "Jangan buat aku kesal, lihat aku! Apa orang tuamu tidak mengajarkan sopan santun?!" serunya.


Lantas Lug berbalik dengan wajah dingin dan amarahnya melonjak. "Dengar ini! Kalau kau berbicara denganku, jangan bawa-bawa orang tuaku! Bagaimana jika aku mengatakan orang tuamu itu seperti babi yang memakan kotorannya sendiri?!" seru Lug balik.


Mata semua orang tertuju kepada mereka berdua. Pada saat itu juga, Nagisa dan teman-temannya baru saja sampai di kelas dan melihat adanya keributan. Nagisa sudah menduga bahwa kakaknya itu, Lug, cepat atau lambat pasti akan bermasalah dengan salah seorang bangsawan di akademi sihir ini.


Toni bahkan sampai berkeringat dingin, ia diam membisu karena tak berani ikut campur dalam urusan tersebut. Bukannya tak mau menolong, tapi resikonya adalah kedudukannya di akademi ini.


Bangsawan itu juga mulai emosi, hingga pada akhirnya dia ingat siapa lelaki yang baru saja menghina orang tuanya. "Aku ingat siapa kau itu."


"Memangnya siapa?" Lug kembali memalingkan wajahnya, suaranya kembali terdengar datar.


"Kau kan bocah yang dulu sangat sombong karena telah berhasil mengenai tiga target di acara panahan keliling?"


Lug mengingat kejadian itu. Tapi dia tak tahu apa hubungannya dengan bangsawan tersebut.


Lelaki yang mendobrak pintu itu pun menampar meja dengan sangat keras.


BRAAAK


"Bisa tidak kau tak perlu menggedor-gedor seperti itu?!" seru Lug.


"Tidak, tapi yang pasti, untuk pertemuan yang kedua kalinya, kau membuat aku kesal juga untuk yang kedua kalinya. Sebelum itu, perkenalkan, namaku adalah Wilson, Wilson Lawrence, dari keluarga Lawrence," terang pendobrak pintu yang bernama Wilson.


"Oh, aku tidak tanya itu," papar Lug.


Wow, sungguh tamparan keras untuk seorang bangsawan. Wilson hampir kehilangan kesabarannya. "Kau ini ... Aku berusaha untuk berbicara baik-baik denganmu," nada bicaranya memang terdengar lebih santai. Tapi bagaimana juga, ia ingin menjebak Lug dalam kata-katanya, itu karena dirinya sudah dipenuhi oleh emosi.


Lug pun berkata, "Dengar ya, kalau kau ke sini hanya untuk bernostalgia, maaf, aku tidak sedang tidak menerima tamu yang seperti itu. Sekarang carilah tempat dudukmu sendiri, dan mengobrollah dengan teman sebangkumu!" Menerima tamu yang dimaksud adalah mengobrol dengan seseorang.


Bersambung!!

__ADS_1


__ADS_2