Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Chap 49 - Performa Lug


__ADS_3

Pada saat ini, Raini tengah menggunakan sihir yang telah dikuasainya. Sihir tersebut merubah matanya menjadi hitam pekat. Itu membuat Zephyr menjadi cemas melihatnya.


Namun Raini malah tersenyum, lantas mengembalikan matanya menjadi seperti semula. "Tenang saja, mataku ini baik-baik saja," katanya.


Lantas Lug menimpali, "Sihir itu bernama Mata Kehampaan. Kemampuannya sangatlah unik, sihir itu juga dipasangkan dengan sihir Tubuh Kehampaan, sihir Area Kehampaan, dan sihir Otoritas Kehampaan. Kemampuan dari sihir Mata Kehampaan sendiri adalah mampu melihat sisi terbalik dari dunia ini, jadi Raini dapat melihat bagaimana dunia ini ketika tidak ada manusia sama sekali. Karena dipengaruhi oleh bakat dan rambutnya itu, dia mampu memposisikan penglihatannya sesuka hatinya, sehingga dia mampu untuk melihat dunia ini secara terbalik dan yang normal dalam waktu yang bersamaan."


Sisi terbalik di dunia ini bukan berarti yang atas menjadi bawah, atau sebaliknya, melainkan dunia ini namun berada dalam sudut pandang, kondisi, maupun hukum yang terbalik–sebenarnya juga tidak bisa disebut terbalik, namun dalam sisi pandang yang lain.


Namun Raini terlihat tidak setuju dengan penjelasan tersebut. Dia bertanya, "Lantas kenapa aku masih bisa melihat rumah dan halaman di sekitar?"


Lug tersenyum, lantas menjawab, "Itu karena kamu belum menguasai sihir tersebut sepenuhnya. Ada tingkatannya, dan bahkan jika kau menguasai sepenuhnya, kau bahkan bisa melihat dunia ini bel- tidak, kau bisa melihat dunia ini dalam sisi yang terbalik."


Raini dan Nagisa menyadari bahwa Lug menghentikan penjelasannya di tengah jalan. Seperti ada sesuatu yang sedang disembunyikan dan tidak ingin diungkapkan untuk sekarang ini.


Tetapi untuk menghargai Lug, Raini dan Nagisa tidak ingin mempertanyakannya ataupun membahasnya. Lug kagum melihat mereka yang bisa menghargainya dengan baik.


"Kalau sihir itu masih bisa ditingkatkan, apa bisa sampai menjadi sihir empat lingkaran?" tiba-tiba saja Zephyr bertanya.


Lug menyeringai, tatapan matanya menjadi tajam, raut wajahnya seperti seorang penjahat yang menemukan mangsanya. "Tidak hanya empat lingkaran, bisa lebih tinggi lagi," jawabnya. Tapi itu masih belum selesai. "Jika kau berpikir bahwa sihir itu bisa berkembang sampai sihir lima lingkaran, kau salah! Sihir itu masih bisa berkembang lebih jauh lagi," Lug melanjutkan.


Zephyr menelan ludah, dia merasa bahwa sihir tersebut terlalu mengerikan. "Lalu apa hubungannya dengan beberapa sihir yang kau sebutkan tadi?" tanyanya lagi.


"Keempat sihir itu memiliki relasi yang sangat kuat," jawab Lug. "Pada dasarnya, keempatnya itu adalah satu sihir yang sangat kuat. Dan lagi, ketika Raini mampu memahami dan menguasai Area Kehampaan sepenuhnya, secara alami dia akan menguasai sebuah sihir tipe spasial ruang- yang biasanya disebut domain ruang, bernama Domain Kehampaan."


"Kemampuan dari semua sihir itu apa?"


"Untuk sekarang ini aku tidak ingin menjelaskannya, biar nanti kau tahu sendiri ketika Raini sudah menguasainya."


Sihir tipe spasial ruang atau yang sering disebut ddengan domain ruang adalah sihir yang memungkinkan penggunanya memiliki wilayah pribadi yang terisolasi dari ruang luarnya. Dan sihir tipe ini sebenarnya adalah sihir yang memperbesar ruang kuantum yang juga telah dimodifikasi dengan mana dan lingkaran sihir.


Raini yang mendengarnya tiba-tiba menjadi kesal. "Kak Zephyr, kau terlalu banyak bertanya!"


"Haha," Zephyr menggaruk kepalanya.


Kemudian Raini menoleh pada Lug. "Ah, begini," ujarnya. "Sebenarnya aku juga sudah menguasai Tubuh Kehampaan."


"Bagus," Lug memuji.


"Terima kasih."


Tapi Lug semata-mata tidak hanya memuji Raini begitu saja. "Aku ingin menguji kemampuanmu, coba kita bertarung satu sama lain agar aku bisa menilaimu," ujarnya seraya merubah tubuhnya dengan sihir Transformasi Naga Selestial dan bergerak mundur menjauh.


Nagisa dan Zephyr bergerak menjauh agar tidak mengganggu pertarungannya. Zephyr segera pergi ke kamar batu untuk mengaktifkan penghalang.


Raini terlihat sedikit ragu, tetapi ia terus meyakinkan dirinya sendiri untuk bisa memperlihatkannya di hadapan Lug.


"Baiklah."


Dan Raini pun menggunakan sihir Tubuh Kehampaan yang membuat seluruh tubuhnya diselimuti oleh kabut hitam pekat. Serta dia juga sentiasa mempersiapkan sihir Mata Kehampaan-nya untuk meningkatkan peformanya.


Hmm? Pandangan Lug berbeda, seolah ia melihat sesuatu di luar ekspektasinya. Tetapi dia menggeleng dan tersenyum, seakan memakluminya.


WUUUSH

__ADS_1


Tiba-tiba Lug melesat dengan sangat cepat. Dan ia juga seperti melemparkan sesuatu, tangannya ia hempaskan seperti sedang mengepakkan sayap tetapi tidak ada apa-apa yang keluar. Namun tiba-tiba di depan dadanya dengan cepat tercipta lingkaran sihir yang menembakkan bola-bola abu-abu.


Raini refleks menciptakan bola hitam yang cukup besar, sehingga bisa langsung menutupi serangan yang datang dari depan.


Dan siapa sangka, Lug sudah berada di sebelah kanan Raini dan menyerang dengan serangan yang sama. Serangannya itu mengenai tangan kanan gadis itu, tapi tidak terjadi apa-apa selain kabut hitamnya yang terkena serangan itu menghilang. Sehingga memperlihatkan tangan kanan Raini tanpa diselimuti apapun.


Karena Raini tidak memiliki refleks yang cukup bagus dalam pertarungan jarak dekat, ia tak bisa mengelak ketika Lug mendekatinya hingga pada akhirnya lelaki itu berhasil menangkap tangannya dan membantingnya.


BUGH


"ADUH!!!" teriak Raini.


Seketika kabut hitam di tubuhnya itu menghilang dan matanya kembali seperti semula. Serta nafas Raini tersengal-sengal seperti sedang sangat kelelahan.


Lug juga berubah ke tubuh aslinya. "Padatkan Tubuh Kehampaan-mu," katanya. "Terlihat sihirmu itu terlalu lepas, itu akan dengan cepat membuatmu lelah. Kau juga harus meningkatkan gerakan refleksmu."


Lug menoleh kepada Nagisa. "Nagisa, kemari!" panggilnya.


Nagisa mendatanginya. "Ada apa, kak?" tanyanya.


"Sudah lama kita tidak berlatih bersama, ayo kita coba bertarung lagi seperti dulu," Lug mengajak.


Nagisa terkejut. Di dalam hatinya dia merasa takut, berdebar-debar, dan senang secara bersamaan.


"B-baiklah, kak!"


Kemudian Lug menoleh kepada Raini yang hendak berdiri dan dibantu oleh Zephyr. "Kalian berdua, perhatikan pertarungan kami! Coba bandingkan ini dengan diri kalian!" suruhnya, lantas pandangannya terlempar pada Nagisa lagi. "Dan Nagisa, ingat ini! Aku akan serius, jadi kau juga harus serius dan berhati-hati, oke?" lanjutnya.


"Oke!"


Lalu Lug menggunakan sihir transformasinya lagi, dan Nagisa menyiapkan sihir Tubuh Api Tak Berwujud. Menggunakan kuda-kudanya, dia percaya diri untuk bisa bertahan dalam waktu yang cukup lama.


WUUUSH


Lug melesat dengan cepat, gerakannya memutari gadis di depannya itu dan dan terlihat tidak menjauh ataupun mendekat.


Mata Nagisa terus melirik ke kanan dan kiri–waspada dengan serangan dadakan dari arah manapun.


BUAGH


Terdengar suara pukulan yang sangat keras, tetapi terlihat bahwa Lug tidak berhasil memukul Nagisa yang ternyata gadis itu berhasil menangkis serangannya hanya dengan tangan kanannya.


Nagisa menghirup nafas kuat kuat, lantas memukul Lug dengan telapak tangannya sekuat mungkin. Ia pun menghembuskan seluruh nafasnya. Serangan tersebut membuat lelaki itu terpukul mundur beberapa langkah hingga membuat kakinya menyeret tanah–terlihat bahwa serangan gadis itu sangatlah kuat. Untung saja Lug menyilangkan kedua tangannya dengan cepat, sehingga dadanya terlindungi.


Apa-apaan itu?!


Zephyr dan Raini tak percaya dengan apa yang mereka lihat–Tidak! Mereka tidak melihat apapun, gerakan Lug dan Nagisa tak bisa diikuti oleh mata mereka berdua karena saking cepatnya. Mereka itu monster!


Ketika itu Lug menggunakan sihir Lengan Bayangan dan bayangan hitamnya melesat dengan cepat ke arah Nagisa. Gadis itu juga bergerak cepat mendekatinya, karena jika tidak maka ia akan dirugikan dalam pertarungan jarak jauh yang mana sihir Lengan Bayangan itu cukup kuat untuk melawan musuh dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Sembari mendekati, ia juga menembakkan sihir Cahaya Penembus yang sangat kuat. Radiusnya juga lebih besar dari yang terakhir Lug lihat.


Lug menahan serangan Nagisa dengan Perisai Pedang Emas. Lantas serangan itu berbalik ke arah penyerangnya.


Nagisa berhasil menghindarinya dengan bergerak ke samping kiri, tapi dia tak menyangka bahwa ada sihir tangan hitam yang menghantamnya. Lantas mengikat tubuhnya dan hendak membantingnya.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Nagisa menggunakan sihir Kebangkitan Pedang dan berhasil memotong bayangan hitam yang mengikatnya. Lantas menggabungkannya dengan sihir Cahaya Penembus dan ia menjadi jauh lebih mudah untuk menyingkirkan sihir Lengan Bayangan yang membatasi pergerakannya.


Nagisa masih melesat ke arah Lug, sementara Lug sendiri masih belum bergerak.


Karena dirasa lelaki itu akan melakukan sesuatu, Nagisa langsung menggunakan sihir yang lain untuk menyerang, yakni sihir Kristal Cahaya. Sihir tersebut dapat menembakkan beberapa kristal berwarna putih yang ketika mengenai musuh atau menghantam sesuatu, maka kristal tersebut akan meledak dan memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan.


Ketika kristal kristalnya melesat, Lug mulai bergerak untuk menghindarinya. Namun Nagisa masih terus menembakinya dengan sihirnya itu.


Dirasa Nagisa sudah tidak menembakinya lagi, Lug menampar tanah, tercipta lingkaran sihir dengan tiga garis lingkaran berwarna hijau gelap bergradasi merah di tepinya.


"Akar Berduri!"


Muncul akar yang merambat dengan sangat cepat ke arah Nagisa. Dan tanpa gadis itu sadari, akarnya sudah berada di depan kakinya, serta ada lingkaran sihir pula di sana. Tiba-tiba dari lingkaran sihir tersebut, muncul akar hijau tua dengan ujung merah kehitaman yang sangat tajam menyeruak dan melukai kaki Nagisa sebelum ia sempat bereaksi.


"AARGH!!!" teriak Nagisa.


Gadis itu melompat menjauh karena kesakitan. Duri duri itu ada yang sudah menembus dari permukaan ke permukaan kulit lainnya. Kini kakinya berdarah-darah.


"NAGISA! APA KAU TAK APA-APA?!!!" teriak Zephyr dari jauh.


Tetapi gadis yang diteriakinya itu sama sekali tidak menjawab meskipun ia mendengarnya. Itu karena Nagisa ingin tetap fokus dengan lawan bertarungnya yang tidak akan memberinya kesempatan sedikitpun. Dia tahu bahwa Lug tidak akan memberikan sedikitpun kesempatan apalagi ketika dirinya sedang lengah.


Dan benar saja, Lug langsung melesat ke arah Nagisa dengan cepat. Memanfaatkan keadaan yang mana kaki gadis itu tengah terluka.


Hingga pada saat Lug hendak menjatuhkannya dengan telapak tangan kanannya, Nagisa menendangnya dengan kaki kirinya yang lukanya tidak terlalu parah.


BUUUGH


Lug berhasil menahannya dengan telapak tangan kirinya, tapi tendangan tersebut tetap menghantam dagunya, sehingga ia terdorong mundur dan hampir terjatuh. Tendangan yang hampir mengenai dagunya secara langsung itu membuat transformasi pada wajahnya itu memudar. Lug meringis karena mendapat tendangan semengerikan itu.


Sementara Nagisa justru kehilangan keseimbangannya dan terjatuh karena kaki kanannya sedang terluka. Ia kembali berdiri dengan cepat, matanya masih penuh kewaspadaan.


Mereka jauh lebih mengerikan dari orang-orang militer, gerakan mereka jauh lebih cepat dan intens. Mereka seperti tidak punya rasa lelah atau rasa sakit. Keduanya- mereka terus kembali berdiri apapun yang terjadi, batin Zephyr terheran-heran. Ia kagum serta berpikir bahwa dirinya tak akan bisa untuk seimbang dengan salah satu di antara Lug ataupun Nagisa dari segi gerakan maupun ketangkasan.


Militer pun mungkin tidak mempunyai refleks sebagus Lug dan Nagisa. Bagaimana caranya mereka berlatih? Tanya Raini dalam hati yang juga terheran-heran.


Lug kembali berdiri, melesat dengan cepat lagi, dan menembakkan sihir Bola Petir yang diubah menjadi petir menyambar dari lingkaran sihirnya.


Sementara Nagisa sudah menahan serangan tersebut dengan sihir Gelombang Cahaya. Sihir itu menembakkan beberapa lapis cahaya putih yang kemudian menahan sihir Lug sampai sihir keduanya berakhir.


Lalu Nagisa membuat gerakan menyerang. Ia menggunakan Kebangkitan Pedang-nya dan juga menggunakan metode sihir gabungan dengan sihir Cahaya Penembus. Tapi sayang gadis ini sudah hampir kehabisan mana, ia hanya bisa menggunakan sihir dua sampai tiga kali saja. Itu karena penggunaan mananya terlalu boros dalam penggunaan sihir Tubuh Api Tak Berwujud yang masih ia gunakan sampai sekarang. Aku harus bisa memberikan perlawanan yang lebih lagi terhadap kakak Lug. Aku harus bisa memperlihatkannya kepada Zephyr dan Raini bahwa aku mampu melakukannya, gumamnya bertekad di dalam hati.


Namun, tak disangka Lug sudah berada di sebelah kirinya Nagisa, tanpa gadis itu sadari. Sebelum gadis itu menyadarinya, Lug menendang kakinya hingga membuat Nagisa terpeleset.


"AAAAAHHH ... " teriak Nagisa.


Tapi gadis itu tidak terjatuh menghantam tanah, melainkan ia terjatuh di atas tangkapan tangan Lug.


"Kita sudahi saja, ya?" ujar Lug sembari tersenyum hangat.


Mata Nagisa berkaca-kaca melihatnya. Kemudian ia pun menangis sambil memeluk lelaki yang menggendongnya. "HUAAAAA ... "


"Dasar kau ini- hahaha," ucap Lug.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2