![Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]](https://asset.asean.biz.id/lug---nedhen-star--reincarnated-of-acestral-dimension-.webp)
Sesampainya Nio di kota kerajaan Da Nuaktha, dia langsung pergi mencari di mana kediaman Azamuth berada. Dengan ingatannya, dia masih ingat dengan sangat jelas geografi kota kerajaan. Kota kerajaan sangatlah kecil, dan bisa dibilang luasnya tidak melebihi lima kali luas desa Nedhen. Kerajaan Da Nuaktha memang dipenuhi oleh hutan belantara dan pemukiman pemukiman yang berupa desa tersebar di berbagai penjuru teritori kerajaan. Kerajaan Da Nuaktha memang mempertahankan julukannya sebagai kerajaan terhijau di dunia manusia, dikarenakan banyaknya hutan di kerajaan tersebut bahkan sampai perbatasan antar kerajaan.
Semua orang memandangi Nio yang berjalan dengan menawan, pakaiannya benar-benar sangat mewah sehingga memancing banyak perhatian di sekitar–meski sekarang kerajaan terasa sedikit lebih sepi.
Beberapa menit kemudian, Nio sampai kediaman Azamuth. Sebelum masuk, dia memandang ke belakang yang mana di jalanan lurus tersebut akan melewati akademi sihir kerajaan Da Nuaktha dan asramanya. Entah Toni sekarang berlatih menjadi Ranker atau tidak, tapi sepertinya dia kini mungkin memilih kembali, batinnya.
Ketika hendak masuk, ada seorang penjaga yang menghadang Nio.
"Anda ini ... Siapa? Apa keperluan anda di kediaman Azamuth ini?" tanya penjaga tersebut sembari menyapu pandangannya dari kaki Lug sampai ke ujung rambutnya. Wuih ... Anak lelaki ini pasti bangsawan, dari mana asalnya? Melihat pakaiannya yang mewah, dia pasti anak orang kaya, gumamnya dalam hati.
Nio memberikan tatapan datar ke arah penjaga itu. "Apakah nona muda Eveline, Raini Eveline ada di dalam?" tanyanya dengan nada datar dan masih dengan tatapan acuh.
Nona Raini? Bangsawan muda ini mencari nona Raini? Batin penjaga gerbang. "Ah, nona muda Raini ada di dalam. Tapi ... Ada keperluan apa anda ingin bertemu dengannya? Dan anda sendiri- "
"Nama saya Nio Vlamera, jika saya tidak boleh ke dalam, beritahu saja namaku kepadanya," ujar Nio.
Penjaga tidak tahu siapa itu Nio Vlamera, tapi dia merasa seperti pernah mendengar nama itu. Namun penjaga itu tahu bahwa jika menolak Nio masuk yang mana sekarang lelaki muda itu tengah mengenakan pakaian yang sangat mewah dan elegan, maka akan sangat merusak nama kediaman Azamuth dan nama Eveline.
"Tidak tidak, maafkan saya, tuan muda. Silahkan masuk, maafkan atas ketidak sopanan saya," ujar penjaga itu sembari menundukkan kepalanya.
Nio melirik kepada penjaga itu. "Tidak perlu meminta maaf, itu sudah menjadi kewajibanmu. Dan lagi, terima kasih telah membiarkan saya masuk ke dalam," ucapnya dengan senyuman tipis di bibir.
Penjaga pun membukakan gerbang dan membiarkan Nio masuk ke dalam. Melewati taman bunga yang cukup luas, dia benar-benar teringatk akan masa lalu. Aku jadi bernostalgia- kuingat lagi sepertinya kediaman Claudia tidak seluas ini, tapi mereka memang terlihat lebih sederhana, batinnya.
*****
Sebelum berada di rumahnya Cleo, Nio telah mengunjungi Alice di kediaman Claudia. Dia pingsan dengan kondisi telinganya yang berdarah-darah. Di antara seluruh keluarganya, gadis itulah yang paling parah kondisinya, meskipun ayahnya sendiri, Vorger Claudia juga mengalami pendarahan di telinganya.
Nio mengelus rambutnya Alice yang masih dalam kondisi tak sadarkan diri. Telapak tangan Nio bersinar, dan itu menyembuhkan telinga Alice secara perlahan.
Setelah beberapa menit, Alice telah sadarkan diri. Tatapannya masih buram dan kepalanya pun juga masih pusing. "Aduh ... Ini- di mana?" tanyanya. Gadis itu berusaha untuk bangun dengan memegangi kepalanya yang masih sakit.
Nio memegangi punggung Alice dan tatapannya terlihat sedang mencemaskan. "Alice, jangan bangun terlebih dahulu- tidurlah lagi," pintanya.
__ADS_1
Ketika menoleh, Alice sedikit terkejut melihat Nio ada di sampingnya. "Nio? Kenapa kau ada di sini?" tanyanya.
Nio menghela nafas sambil merapatkan bibirnya. "Kau masih dalam tahap pemulihan, aku akan jelaskan kejadiannya nanti. Tapi beristirahat kembali, kau masih belum pulih sepenuhnya."
Alice menurut begitu saja, ia mengangguk dan kembali tidur sembari memegangi kepalanya.
*****
Kembali lagi, kini Nio sedang mengetuk pintu rumah kediaman Azamuth. Tak lama ada seseorang yang membukakan pintu dari dalam. Ketika pintunya terbuka, terlihat ada seorang gadis mengenakan pakaian tidur yang membukakan pintunya sembari mengusap matanya yang masih mengantuk, dia adalah Raini.
Gadis ini ... Batin Nio sembari tersenyum kecil.
"Siapa, ya?" tanya Raini yang berusaha untuk melihat siapa lelaki di depannya. Penglihatannya masih sedikit buram karena mengantuk. Tapi ketika matanya sudah dapat melihat dengan jelas, alangkah terkejutnya Raini yang melihat seorang lelaki berdiri di hadapannya dengan mengenakan pakaian yang teramat sangat mewah. Dia bahkan sampai mundur selangkah karena terkejut, hingga tak sadar kakinya kehilangan keseimbangan. "Aduh!"
Dan ketika hendak terjatuh, dengan sigapnya Nio menangkap gadis itu. Dia menyeringai dengan sangat elegan di hadapan Raini. "Berhati-hatilah," nasehatnya.
Raini sampai melongo menatap wajah Nio yang tampan, tapi dia menggelengkan kepalanya. Lantas ia meminta untuk dilepaskan. "A ... Anda ini- siapa, ya?" tanya gadis itu ternganga dan matanya terbelalak.
Pada saat yang bersamaan, ada seorang gadis lagi yang datang menghampiri mereka berdua. Dia adalah Nagisa yang juga mengenakan pakaian tidur, gadis itu berjalan sembari mengikat rambut pirangnya yang panjang tanpa memperhatikan siapa yang ada di depannya. "Siapa di- " pertanyaannya terhenti ketika melihat siapa sosok lelaki yang berdiri di hadapannya dan Raini.
Raini menoleh pada Nagisa yang tiba-tiba saja tertegum.
"Ka ... Ka ... " ucapan Nagisa terbata. Dia seolah tak bisa mengucap apa yang ingin ia katakan. "K-kakak Lug!" serunya.
Di saat yang bersamaan, Nio kini merubah dirinya dan menjadi Lug yang sebenarnya. Dia tersenyum dan pada saat itu juga dirinya dipeluk oleh Nagisa dengan sangat erat.
Raini menatap wajah Lug dengan mata yang berkaca-kaca, dia sama sekali tidak menduga bahwa Lug telah datang kembali. Tapi Raini menggeleng tidak percaya. "Kau ... Kau! Kau pasti hanyalah seseorang yang- "
"Apa kau sudah menguasai Domain Kehampaan?" tanya Lug yang tiba-tiba memotong kaliamt Raini. Dia tersenyum lebar ketika menatap gadis itu.
Sementara Raini sendiri malah menangis tepat tiga detik setelah pertanyaan itu dilontarkan. Dia berlari dan memeluk Lug bersama dengan Nagisa. Dan lelaki itu juga membalas pelukan mereka berdua yang sudah sangat merindukannya selama beberapa tahun.
"Apakah kalian benar-benar serindu ini denganku? Apa kalian menjaga diri dengan baik? Bagaimana dengan latihan kalian?" tanya Lug beruntun.
__ADS_1
Nagisa menjawab, "Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu sendiri? Meski kita berdua pernah bertemu, tapi ... Aku sudah sangat serindu ini padamu, kakak Lug. Kau lebih cepat kembali dari apa yang kupikirkan. Dan juga, aku berlatih dengan baik dan lebih intensif ketika tidak sedang bersamamu." Gadis itu masih tak mau melepaskan pelukannya, matanya terpejam dan menikmati tubuh Lug di pelukannya.
Sementara Raini juga sama masih tak mau melepaskan pelukannya. Ia menyahuti, "Dia bohong, Lug ... " ucapannya terhenti sejenak karena menarik ingiusnya kembali masuk ke dalam hidung. "Nagisa berbohong padamu, dia tak pernah berlatih selama kau pergi," lanjutnya.
Nagisa mendongak dan menatap ke arah Raini di sebelahnya. "Aku tidak pernah berlatih? Maaf saja, aku sudah menguasai teknik Kepakan Burung Hantu. Justru kau sendiri yang selalu berbuat mesum ketika sedang sendirian di kamar," celetuknya.
Lug menimpali dengan senyuman dan tatapan jahat, "Wah wah, Raini ternyata sudah menjadi gadis mesum selama tidak ada aku di sini." Nadanya terdengar sedang menggoda.
Raini juga mendongak pada saat itu, wajahnya memerah, lalu malah menangis keras dengan suaranya yang memekakkan telinga di seluruh ruangan itu.
"Heh heh! Ada apa kalian ini?!"
Tiba-tiba saja terdengar suara berat, ketika orang itu menampakkan diri, ia adalah seorang pria tua yang mana dirinya adalah Antonio Azamuth. Dia berjalan sembari mengusap wajahnya yang masih basah karena baru saja keluar dari kamar mandi.
Pada saat itu juga, Antonio menatap Lug dengan penuh pertanyaan–terlihat dari ekspresi wajahnya. "Kau ... Kenapa rasanya wajahmu itu familiar? Tunggu!"
Kembali melihat Lug dengan tatapan yang lebih tajam dan mendekatinya beberapa langkah. "Kau ini ... Lug?" tanyanya tercengang.
Lug menyeringai, dia mengangguk membenarkan ucapan Antonio yang telah menebak dengan benar. Dan pria tua itu hampir tak percaya dengan apa yang telah dilihatnya itu.
"Tak mungkin! Kau sudah mati pada saat insiden waktu itu, bagaimana caramu bisa hidup kembali?" tanya Antonio takut dengan satu kaki melangkah ke belakang.
"Kalau itu, aku harus berterima kasih kepada Nagisa karena telah menyelamatkanku," ujar Lug.
Antonio menatap Nagisa yang juga menatapnya. "Apa maksudnya? Bukankah sihirnya yang membunuhmu?" tanyanya ragu.
"Sulit untuk menjelaskannya, apa aku boleh duduk?" tanya Nio.
Antonio masih ragu, justru dia mengira bahwa Nagisa sedang terkena sihir ilusi. Tidak! Antonio bahwa mengira bahwa seluruh ruang tamunya itu sudah tertutup oleh sihir ilusi. "Nagisa! Apa kau yakin dia adalah Lug yang kita kenal selama ini?!" serunya dengan nada tinggi.
Nagisa mengangguk, dari tatapannya juga bukan seperti seseorang yang terkena ilusi.
"Tuan Antonio, kau pasti mengira bahwa aku sedang menggunakan sihir ilusi. Tapi kau tahu? Nagisa memiliki kondisi tubuh yang sangat khusus yang membuatnya kebal terhadap sihir ilusi setingkat enam lingkaran sihir kelas atas. Aku sendiri belum menguasai satupun sihir enam lingkaran," jelas Lug dengan percaya diri.
__ADS_1
Tapi justru itu malah membuat Nagisa terkejut. "Ka ... Kakak Lug ... Kau- kenapa kau bisa tahu itu?" tanyanya dengan mata terbelalak.
Bersambung!!