Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]

Lug : Nedhen Star [Reincarnated Of Acestral Dimension]
Vol II Chap 1 - Seorang Gadis Ranker Perak


__ADS_3

Seorang gadis dengan rambut pirang, kini sedang berbincang dengan suatu makhluk. Makhluk itu memiliki kulit yang sangat putih, rambut putih yang panjangnya sepinggang, mata sipit, ujung telinga yang lancip dan memakai anting berupa rantai yang ujungnya menggantung sebuah perak berbentuk bulan sabit, tubuhnya sedikit pendek, dan mengenakan kaos putih bulan serta celana panjang berwarna krem.


Sementara gadis berambut pirang itu mengenakan pakaian berwarna hitam, yang baguian depannya terdapat armor berwarna abu-abu cerah. Ada juga pelat armor yang melindungi lengan atasnya dengan warna yang sama, pada pelat tersebut terdapat simbol perisai yang di dalamnya terdapat gambar bintang dengan empat ujung, di bagian atas bintang tersebut terdapat sebuah garis melengkung yang bagian atasnya bergerigi laksana matahari, dan di bagian bawah bintangnya terdapat garis melengkung yang lebih besar laksana bulan sabit.


Gadis tersebut kini sedang berada di sebuah kota elf yang cukup megah.


"Hei, apa kita bisa berbicara sebentar?" tanya gadis itu.


Elf yang berdiri di hadapannya itu mengangguk. "Noirse," sahutnya.


Noirse adalah sebuah kata dari bahasa elf yang berarti baiklah, iya, atau oke yang biasa dianggap sebagai kata persetujuan di bangsa elf. Dan angsa elf sendiri memiliki beberapa kata dan kalimat yang berbeda dari bahasa manusia. Ada 23 kata bahasa elf yang berbeda dari beberapa kata dari bahasa manusia.


"Emm ... Apa kita bisa berbicara di tempat lain?" pinta gadis pirang itu. "Anggap saja aku sedang mengajakmu ke obrolan rahasia."


"Noirse," jawab elf itu lagi. "Proisa, kita akan pergi ke mana? Bagaimana kalau aku merekomendasikan sebuah ruosterr? Yang ada di ujung jalan sama itu," elf tersebut menunjuk sebuah bangunan klasik yang di bagian atas pintunya terdapat sebuah kain melengkung yang menutupi bagian atas pintu masuknya.


'Proisa' itu berarti lalu, kemudian, selanjutnya, ataupun konjungsi temporal lainnya. Sementara 'Ruosterr' sendiri berarti sebuah rumah makan, biasanya juga berarti sebuah pondok yang biasanya digunakan untuk beristirahat yang ada di taman taman.


Gadis pirang itu mengangguk, dan ternyata dia adalah Nagisa yang sekarang telah menjadi Ranker Perak. "Noirse," sahutnya.


Mereka berdua pun segera menuju ke sebuah restoran yang ditunjuk barusan. Di dalamnya terdapat begitu banyak pengunjung, namun mereka semua adalah elf. Hanya Nagisa saja yang manusia di sana, akan tetapi tak ada yang menatapnya dengan tatapan aneh atau benci. Para elf yang ada di sana sudah terbiasa dengan manusia manusia yang datang. Hampir semua elf berpikiran sama, yakni 'asalkan manusia itu tidak berbuat onar, maka kami juga akan menghargai kedatangannya,' begitulah pemikiran para elf.


Sebenarnya juga banyak elf yang sudah datang ke dunia manusia, hanya saja sangat jarang ada elf yang berkunjung ke kerajaan Da Nuaktha. Bahkan Nagisa saja untuk ke dunia elf harus melewati dua negara dan sebuah danau yang sangat luas terlebih dahulu, perbatasannya sendiri sangatlah jauh dari kerajaan Da Nuaktha.


Terdapat seorang pelayan elf yang memberikan daftar makanan yang dituliskan pada sebuah lempengan kayu persegi panjang yang diplester berwarna cokelat.


Nagisa memesan sebuah makanan sekaligus minuman, kebetulan makanan di dunia elf hampir tidak jauh berbeda dengan makanan para manusia. "Aku memesan kue cokelat dan perasan lemon jingga saja, kau pesan apa?" Nagisa menawarkannya.


Elf di depannya menjawab, "Estolèr, aku sudah makan. Silahkan saja."


'Estolèr' berarti tidak perlu atau tidak usah, terkadang juga berarti tidak mau.


Tapi karena Nagisa merasa sungkan untuk makan sendirian, lantas ia hendak memesankan elf tersebut minuman yang sama dengannya. "Tolong jangan menolak, aku pesankan saja lemon jingga saja, bagaimana?"


"Estolèr estolèr, nona- aku ... Aku alergi lemon jingga, jadi aku tidak bisa memakannya. Tapi jika kamu memaksa, susu kedelai saja, apa boleh?" tanya elf.


"Boleh, silahkan saja," sahut Nagisa. "Susu kedelai satu, ya?"

__ADS_1


Pelayan itu mencatat pesanan Nagisa di sebuah buku, "Noirse, satu kue cokelat, satu lemon jingga, dan satu susu kedelai segera datang."


Sebelumnya Nagisa sudah pernah datang ke dunia elf sekali sebagai tugas pertamanya, yakni untuk mengantarkan benih kedelai dalam jumlah banyak ke dunia elf. Para elf sangat menyukai kedelai, itu adalah makanan yang sangat bernutrisi bagi mereka. Sementara Nagisa sendiri menyukai lemon jingga. Lemon jingga sendiri adalah salah satu buah-buahan yang tidak ada di tumbuh di dunia manusia, itu mirip dengan lemon biasanya, namun berwarna jingga kemerahan dan ukurannya lebih besar dari lemon biasa. Untuk rasanya sendiri berbeda dari lemon biasa, hanya saja seperti seperti buah tomat namun sedikit masam–bukan karena busuk.


"Kupikir kita pernah bertemu, iya kan, Loi?" tanya Nagisa.


Elf itu ternyata bernama Loi, dan gadis itu mengenali elf pria ini. "Hahaha, iya- aku tidak menyapamu tadi karena aku mengira kau sudah tak mengenaliku lagi karena sudah hampir dua bulan kita tidak bertemu," sahutnya.


Dan lagi, sebelumnya Nagisa pernah bertemu dengan Loi. Mereka saling berkenalan sembari elf lelaki itu memberi arahan pada gadis tersebut di dunia elf.


Tepat setelah itu, makanan dan minuman mereka telah tiba. Nagisa memakan kue cokelatnya yang seukuran kepalan tangannya.


"Apa kau ada urusan lagi di sini, Nagisa?" tanya Loi?


Nagisa mengangguk, dia kini menelan makanannya. "Iya- aku ingin bertanya beberapa hal padamu, tapi mungkin ini berhubungan dengan uang," terangnya.


Loi bingung menanggapi jawaban Nagisa. "Uang? Apa maksudmu?" tanyanya.


"Ah, maaf, maksudku adalah 'loan,' di tempatku itu namanya uang atau alat pertukaran," jelas Nagisa.


"Ooh, jadi begitu."


"Lalu hal yang kautanyakan itu?" tanya Loi.


Nagisa menjawab, "Aku butuh sepasang bola mata leonider." Gadis itu sedikit ragu kalau teman elf-nya itu mempunyai apa yang diinginkannya itu. "Apa kau punya itu? Kalau tidak, apa kau tahu tempat di mana aku bisa mendapatkannya?" tanyanya balik.


Leonider adalah nama bagi serigala salju yang biasanya hidup di pegunungan bersalju. Meskipun ada gunung atau tempat yang dingin, tapi leonider sendiri tak bisa hidup tanpa di tempat yang tinggi dan bersalju.


Loi menggeleng. "Maaf, Nagisa. Benda seperti itu sangatlah sulit didapat. Lagipun jika kau benar-benar menginginkannya, kau harus ke pulau Moanah, aku sudah pernah memberitahumu tentang itu, kan?" terangnya.


Nagisa mengangguk. Dia tahu bahwa pulau Moanah sendiri dipenuhi oleh pegunungan bersalju, dan untuk pergi ke sana itu membutuhkan perjalanan berhari-hari serta harus melewati lautan yang luas. Waktu yang dibutuhkan untuk menempuhnya biasanya samlai empat hari tiga malam jika menggunakan sebuah perahu.


"Apa kau tak punya solusi lain, Loi?" tanya Nagisa lagi.


Loi menggeleng lagi. "Meskipun aku seorang elf, aku tak tahu pasti tentang semua yang ada di duniaku. Kau pasti juga begitu, kan?" tanyanya balik.


Nagisa mengangguk. Dia benar, itu tak bisa dipungkiri. Tapi setidaknya masih ada hal lain yang harus kukerjakan di tempat ini, batinnya.

__ADS_1


Loi pun bertanya lagi, "Kau ke sini hanya untuk itu?"


Nagisa pada saat ini hanya terdiam, dia menatap matanya Loi sesaat, lantas melemparkan pandangannya ke kiri atas.


"Uroke?" tanya Loi lagi untuk memastikan.


Uroke memiliki arti sebuah pertanyaan, yaitu 'apa kau baik-baik saja?' ataupun semacamnya. Bisa menjadi 'apa kabar?' apabila berada dalam situasi tertentu, seperti tengah berduka atau semacamnya.


Nagisa menatapnya, lantas menjawab, "Tenang saja. Aku hanya sedang banyak pikiran saja, aku tak tahu kau bisa membantuku atau tidak setelah perkataanmu tadi. Sehingga kupikir aku akan mencari elf lain untuk kutanyai."


Terlihat Loi sedikit menyesal karena kurangnya informasi. "Apa kau masih ingin mendapatkan bola mata leonider?" tanyanya.


Nagisa menggeleng. "Bukan itu, ada hal lain lagi," sahutnya.


"Proisa apa?"


"Eeeemm ... Ini tentang yang akhir-akhir ini sedang heboh."


"Apa para pemuja iblis akhir-akhir ini sering bermunculan?"


"Tidak tidak, yang kemarin kemarin itu biarkan saja, aku sudah tidak ada hubungannya dengan yang itu. Ini adalah tugas baru lainnya."


"Kau tak ingin memberitahukan itu padaku?"


"Bukan seperti itu, hanya saja- mungkin kau tak tahu."


"Katakan saja padaku, mungkin saja aku bisa membantumu."


Nagisa menghela nafas. Dia masih merasa resah. "Ini tentang Pusaran Angin Seribu Lengan," jawabnya.


BRAK


Tiba-tiba saja ada seorang elf lelaki yang memukul meja. Lelaki itu berdiri dan segera menghampiri Nagisa, ia menatap gadis itu dengan tajam dari sudut pandang elf. Nagisa menelan ludah sesaat, tapi dia memberanikan diri sebagai seorang Ranker.


"Apa kau ingin tahu tentang Pusaran Angin Seribu Lengan?" tanya elf pria itu. Wajahnya mendadak berubah menjadi ramah, begitu juga dengan suaranya yang ternyata ramah meskipun terdengar keras dan serak.


Nagisa bingung melihatnya. Yang awalnya dirinya takut melihat elf itu karena sedikit lebih tinggi darinya, sekarang malah terheran-heran.

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2