Melawan Restu

Melawan Restu
Gadis dari masa lalu


__ADS_3

Riza meletakkan ponselnya di meja kerja dengan kasar. Pria berusia 27 tahun itu berjalan dengan tergesa, bahkan sesekali ia terlihat berlari. Wajah tampan yang biasanya selalu terlihat ramah, kini terlihat agak horor. Sapaan beberapa bawahannya pun tak ia hiraukan. Hingga membuat orang-orang merasa sedikit heran, tidak biasanya Manager tempat mereka bekerja tidak membalas sapaan.


Dengan wajah serius bercampur tegang, Riza melajukan mobilnya secepat mungkin. Riza bahkan mengumpat saat lampu merah memaksanya menghentikan laju mobil. Kakinya kirinya terus saja bergerak, seperti orang yang sedang cemas.


Nirvana Garden , sebuah tempat yang biasa di gunakan untuk pesta bertema out door menjadi tujuan Riza. Dengan cepat ia memarkirkan mobilnya dan kembali melangkahkan kakinya dengan tergesa.


Beberapa orang nampak berlalu lalang. Semua sibuk dengan bagiannya masing-masing. Ia mengedarkan pandangan, mencari-cari sesuatu atau mungkin seseorang. Mata tajamnya terus saja mengedar, memindai satu persatu orang-orang yang ada di sana.


Pandangannya terfokus kala menangkap visual seorang gadis. Gadis berambut pendek agak bergelombang berwarna kecoklatan. Bibir tipisnya nampak tertawa-tawa. Sepertinya ia sedang bersenda gurau dengan kedua teman perempuannya. Tangan mereka sibuk menata manekin dan gantungan berisi dress-dress cantik berwarna pastel. Menyusunnya semenarik mungkin.


Riza melangkahkan kakinya dengan perlahan, matanya tak lepas pada gadis berambut pendek itu meski kini ia hanya bisa menatap bagian belakang tubuh gadis itu. Lagi-lagi sapaan orang-orang yang mengenalinya tak ia hiraukan. Sepertinya seluruh dunia Riza saat ini hanya terfokus pada satu titik, gadis mungil berambut pendek. Kaki Riza terus melangkah, seolah ada medan magnet yang menariknya untuk semakin mendekat kearah gadis yang masih asik tertawa-tawa dengan kawannya, tak menyadari kehadiran Riza sama sekali.


"Stttt…ada pak ganteng" bisik salah satu gadis. Matanya melirik Riza yang berjalan kearah mereka.


"Ginting bingittt…" bisik gadis lainnya dengan wajah gemas.


"Siapa?" tanya gadis berambut pendek, ikut berbisik seperti kedua temannya. Namun kedua temannya tak menjawab, mereka malah senyum-senyum tidak jelas.


"Selamat pagi pak Riza"


Deg!tubuh gadis berambut pendek itu tiba-tiba menegang saat mendengar kedua temannya menyebutkan nama pak ganteng yang mereka bicarakan tadi.


"Riza? tidak mungkin dia kan?"


"Ta!" tegur mereka berdua, karena Lalita, gadis berambut pendek tadi terlihat melamun.

__ADS_1


"Itu…" Mona dan Luna, teman Lalita melirik kearah Riza yang berdiri tepat dibelakang Lalita dengan ekspresi yang tidak bersahabat. Memberi kode pada Lalita kalau pria yang mereka bicarakan tadi ada di belakang Lalita.


Lalita, menoleh dengan ragu-ragu. Tiba-tiba saja saraf-saraf tubuhnya seolah kaku. Manik mata Riza dan Lalita bertemu. Riza menatap tajam Lalita, terlihat ada kekecewaan, amarah dan kebencian di sana. Sedangkan Lalita, setelah terpaku beberapa saat. Ia memilih menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Kedua teman Lalita keheranan dengan situasi yang mereka lihat saat ini. Namun, mereka tidak berani bertanya. Melihat wajah Riza yang tidak bersahabat saja sudah membuat mereka sungkan. Mungkin nanti setelah Riza pergi, mereka akan menginterogasi Lalita.


"Jangan terlalu banyak bercanda, ini acara penting. Kerjakan tugas kalian dengan serius!" tutur Riza dengan dingin. Mona dan Luna yang sudah beberapa kali berinteraksi dengan Riza, agak terkejut melihat sikap Riza. Riza yang mereka lihat sekarang, sangat berbeda dengan Riza yang pernah mereka temui.


"Baik pak" jawab Luna dan Mona kompak.


"Kurangi mengobrol dan tertawanya" sambungnya lagi dengan ketus.


"Baik pak"


Riza melirik sinis pada Lalita yang masih menunduk. Tanpa kata, ia meninggalkan ketiga gadis pegawai butik Pastel Lovers yang akan mengikuti acara live Belibaju.com yang dipimpinnya.


"emmm"


"Kalian…"


Lalita menggeleng tanda tak ingin membahas itu saat ini. Kedua temannya pun mengerti. Meskipun setan kepo di hati mereka memberontak, tapi melihat wajah sedih Lalita membuat mereka urung menuntaskan hasrat ingin tahu yang menggebu-gebu didalam diri.


……


Riza melempar kunci mobilnya keatas meja kerjanya. Dadanya naik turun, helaan nafas kasar berkali-kali terdengar dari mulutnya. Ia juga mengusap wajahnya dengan kasar. Bertemu dengan gadis dari masa lalunya membuat perasaan Riza menjadi kacau.

__ADS_1


Riza meraih segelas air putih di mejanya dan meneguknya dengan buru-buru hingga tandas, berharap mampu meredakan gejolak di dadanya. Sayangnya air itu sama sekali tak membantu. Sesak di dadanya tak berkurang sedikitpun. Ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"MITA! Kamu itu anggap aku apa? Hah!?"


"Apa sih Za, nggak salam nggak apa tiba-tiba marah-marah. Nggak usah teriak, aku nggak budek!"


"Kamu emang nggak budek, tapi kamu nggak punya perasaan Ta! Tega ya kamu sama aku!"


"Kenapa sih Za, aku nggak paham deh!"


"Tita, maksud aku Lalita, aku ketemu sama dia"


"HAH APA? Kok bisa?"


"Tega kamu Ta, teman macam apa kamu?"


Tut…Riza mengakhiri sambungan telepon, ia merasa kecewa pada Mita, sahabatnya sejak SMA yang kini juga rekan kerjanya. Riza memejamkan matanya, berusaha menstabilkan emosinya yang masih di ubun-ubun.


Tak berapa lama, pintu ruangannya diketuk. Lalu seorang gadis cantik terlihat menyembulkan kepala dengan senyum manis.


"Pak Riza, saatnya meeting" ajaknya dengan senyum yang masih menghiasi wajah cantiknya.


"Oke, kamu keruang meeting dulu saja. Nanti aku menyusul"


"Bareng, nggak suka jalan sendiri. Kelihatan jomblonya" ucap gadis, anak pemilik perusahaan tempat Riza bekerja.

__ADS_1


Riza mengulas senyum mendengar celotehan bernada manja Shania. Membuat Shania ikut tersenyum. Setelah merapikan barang-barang yang akan ia bawa untuk meeting, Riza dan Shania berjalan bersisian menuju ruang meeting.


Keduanya nampak serasi saat berdampingan seperti saat ini. Banyak karyawan perusahaan yang penasaran dengan hubungan keduanya. Tak sedikit pula yang berspekulasi, jika anak pemilik perusahaan dan manager tempat mereka bekerja ini memiliki hubungan spesial.


__ADS_2