
Sejak panggilan dari Nala selesai, Anne tak kunjung bisa tertidur. Entah mengapa, matanya tak mau di pejamkan, dan tubuhnya pun hanya bisa berguling ke kanan dan ke kiri. Padahal, Ia tak habis minum atau makan sesuatu yang mengandung kafein.
Anne mencoba bangun dari tidurnya, dan melihat jam dinding yang ada di dalam kamar itu.
" Sudah jam setengah tiga, tapi kenapa mata ini nggak mau terpejam-pejam ya? Aneh! Sepertinya besok aku harus ke rumah sakit deh, untuk cek kesehatan!" gumam Anne yang merasa jika tubuhnya sedang bermasalah.
Dikarenakan tetap tak bisa tertidur, Anne memilih beranjak bangun untuk menunaikan sholat tahajud. Siapa tahu, setelah sholat ia bisa tertidur.
Ketika selesai sholat dan mengaji sebentar, tiba-tiba Anne merasa sangat mengantuk. Bahkan, di bacaan ayat-ayat suci al-qur'an yang terakhir, Anne sudah seperti melayang akibat saking mengantuknya.
Anne segera meletakkan Al-qur'annya di atas nakas, dan setelahnya dia sudah terlihat tertidur pulas dengan masih menggunakan mukena lengkap.
***
Denting suara alarm terus berbunyi di sebuah kamar. Namun, sang penghini kamar tak kunjung bangun dari tidurnya yang terlihat sangat pulas. Mungkin akibat tidak bisa tidur semalaman sehingga membuat Anne mengantuk berat dan tak bisa terbangun, meski suara alarm terus berbunyi.
Ketika matahari sudah tinggi, Anne tak kunjung keluar dari kamarnya.
"Tumben, jam segini Anne belum keluar - keluar juga. Bukankah dia ada kelas pagi?" gumam Seva yang masih menyiapkan sarapan pagi.
Setelah pekerjaannya selesai, Seva segera berjalan menuju kamar Anne, dan mengetuk pintu kamar itu.
" Anne ... ayo sarapan, nanti keburu telat loh! "ujar Seva di balik pintu. Merasa tak kunjung ada balasan, membuat Seva cemas.
" Anne ... Buka pintunya, kamu di dalam 'kan? "Seva kembali memanggil dan mengetuk pintu kamar Anne dengan suara yang lebih keras.
Mendengar suara ketukan pintu yang keras dan juga suara teriakan yang terus memanggil namanya, membuat Anne akhirnya terbangun juga.
" Siapa sih, pagi-pagi begini teriak-teriak! Ganggu orang tidur aja!" gerutu Anne yang masih sangat mengantuk.
__ADS_1
Melihat pintu yang tak kunjung terbuka, dan tak ada tanda-tanda sahutan dari Anne, membuat Seva semakin cemas takut terjadi apa-apa terhadap nona mudanya.
" Anne, kalau sampai hitungan ketiga kamu gak keluar - keluar juga! Aku dobrak ni pintu kamarnya!" Seva sudah mulai mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar itu.
" Satu ... Dua ... Ti__"
" Kak Seva kenapa sih, pagi-pagi udah teriak-teriak dan pakek mau dobrak pintu segala? Ganggu orang tidur aja!" omel Anne seraya membuka pintu dengan mata yang masih tertutup.
" Jadi kamu dari tadi tidur? Aku kira kamu kenapa-kenapa Anne," ujar Seva yang merasa kaget sekaligus lega ketika melihat Anne baik-baik saja.
" Yaudah, kalau gitu kamu cepetan mandi, terus kita sarapan," pinta Seva.
" Mandi? Emangnya sekarang jam berapa? "
" Jam tujuh pagi. "
" Astagfirullah, aku belum sholat subuh lagi! "gumam Anne yang langsung lari masuk ke dalam kamar mandi. Akibat ketiduran menjelang subuh, membuat Anne jadi bangun kesiangan dan melupakan kewajibannya sebagai seorang hamba.
Sepasang mata Anne kembali melotot tatkala melihat pantulan wajahnya di cermin.
Aaa …
Teriak Anne yang membuat Seva segera berlari masuk ke dalam kamar mandi.
" Ada apa Anne?" tanya Seva cemas takut terjadi sesuatu pada gadis itu.
" Kantung mataku hitam sekali … dan ada jerawat besar muncul lagi," rengek Anne dengan memasang wajah sedih dan memegangi jerawat besar yang muncul di pipinya. Namun, hal itu justru membuat Seva tergelak karena melihat tingkah absurd dari nona mudanya di pagi hari.
" Hanya gara-gara itu kamu berteriak, Anne? "
__ADS_1
Anne mengangguk. " Bagaimana ini, aku terlihat sangat jelek dan seperti hantu panda!" gerutu Anne seperti anak kecil.
Seva mendekati Anne dan mencoba melihat wajah yang katanya seperti hantu itu. " Masak hantu panda bisa secantik ini?" ucap Seva yang berusaha untuk tidak membuat mood Anne semakin kacau.
" Kak Seva bisa aja! " Setelahnya, Anne mengambil air wudhu untuk mengganti sholat subuhnya yang terlewatkan.
...***...
Di karenakan waktu jam kuliahnya sudah hampir masuk, Anne bergegas pergi tanpa sarapan.
Di saat Brian baru keluar dari apartemennya, Ia melihat Anne dan Seva yang sedang berlari menuju lift. Niat hati, Brian ingin menyapa sekaligus mengantar Anne pergi ke kampus. Tapi sayang, panggilannya di hiraukan oleh Anne.
" Kenapa Anne terlihat seperti menghindari ku?" gumam Brian.
" Bos, ayo kita pergi karena Tuan Samuel pasti sudah menunggu anda," ujar Jeremy yang mencoba mengingatkan Brian jika pagi ini dia di suruh pulang ke mansion.
" Jer, bisakah di tunda saja?" tawar Brian yang sedang tak ingin bertemu dengan Daddy.
" Tapi, bos ... Jika anda tidak datang, pasti saya yang akan___"
" Memangnya ada perlu apa sih sampai Daddy ingin aku pulang ke Mansion pagi-pagi begini?"
"Saya kurang tahu, Boss karena Tuan hanya berpesan seperti itu. Dan Anda juga tahu sendiri bagaimana sifat Tuan jika___"
" Kalau tidak tahu, tempe saja!" celetuk Brian yang seketika membuat Jeremy bingung. Sedangkan Brian menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis. Entah kenapa dia jadi teringat kalau Anne sangat suka sekali dengan makanan yang terbuat dari biji kedelai itu. Saat berada di Indonesia, Mama Dira sering membuatkan lauk makanan itu. Awalnya, Brian merasa aneh tapi lama-lama dia jadi suka juga. Namun, Brian lebih suka tahu yang teksturnya lembut daripada tempe.
"Tempe? Apalagi itu?" gumam Jeremy yang tak tahu kosa kata yang digunakan oleh bosnya.
...****************...
__ADS_1