Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 77 : Kenapa tak bisa?


__ADS_3

Dikarenakan sedang tak ada kesibukan serta rasa penasaran yang cukup kuat, membuat Anne ikut pergi bersama Pangeran.


" Timezone?" gumam Anne ketika melihat Pangeran berhenti ke sebuah tempat permainan yang ada di mall.


Pangeran mengangguk.


" Apa Kamu sudah ingat?" tanya Pangeran.


" Ingat apa?" Anne semakin bingung dengan maksud pria asing yang beru ia kenal beberapa hari lalu.


" Sekitar, tiga tahun lalu. Kita pernah bertemu di sini," papar Pangeran.


" Tiga tahun lalu," lirih Anne yang mencoba mengingat-ingat kembali. Namun, Anne tak mengingat apapun, bahkan ia merasa bahwa pertemuan pertamanya dengan Pangeran ya di galeri.


" Tiga tahun lalu, aku bermain di sini dengan teman-temanku. Sedangkan kamu, juga bersama kedua temanmu masih memakai seragam sekolah bermain mesin capit itu." Pangeran menunjuk mesin capit yang ternyata masih ada pada tempatnya.


(Cerita ini, ada di novelnya Papa Ken season 2 waktu masih ada Sabrina)


" Kamu tetap tak ingat? "


Anne menggeleng


" Kalau tak ingat juga gapapa, kok. Karena kejadiannya juga sudah lama," lanjut Pangeran.


Setelahnya, Pangeran mengajak Anne memainkan beberapa permainan untuk bersenang-senang. Mulai dari main Maximum Tune, sampai yang terakhir Dance-Dance Revolution.


Anne yang sudah lama tak melakukan ini pun terlihat bahagia dan menikmati. Setidaknya, Ia bisa bernostalgia dengan apa yang dulu sering ia lakukan bersama kedua sahabatnya, Nala dan Sabrina. Namun, semenjak Sabrina pindah dan Nala juga yang sudah menikah, membuat mereka tak pernah melakukan hal ini.Ternyata, bermain seperti ini masih mengasyikkan di usia yang tak lagi remaja.


Begitupun dengan Pangeran yang sudah lama tak merasakan kebahagian seperti ini. Semenjak ayahnya meninggal, Ia seakan dipaksa untuk dewasa lebih cepat. Dimana harus menggantikan posisi sang ayah dalam mengurus perusahaan sekaligus menyelesaikan kuliahnya yang belum selesai.


Setelah keduanya merasa lelah, tanpa sadar mereka terduduk begitu saja di atas lantai Dance-Dance Revolution.


" Capek juga, ya," ujar Anne seusai main Dance-dance Revolution.


" He.em, haus nggak?" tawar Pangeran sembari melirik ke arah Anne yang berada di sampingnya.


"Lumayan sih! "lirih Anne yang sudah terlihat lelah.


" Kalau begitu, tunggu sini ya. " Pangeran bergegas bangun dari duduknya untuk pergi membeli minuman di food court yang tak jauh dari tempat timezone.


" Minumlah, " Pangeran menyodorkan segelas minuman boba rasa taro.


" Kamu kok tahu minuman favoritku?" tukas Anne bingung. Sementara Pangeran hanya tersenyum seraya terus menyedot minumannya.


" Minumannya aman kok!" goda Pangeran tatkala melihat Anne masih belum meminum minuman yang ia beli


" Yakin?" Anne terlihat tak percaya.


" Yakinlah, orang belinya di temani sama pengawal kamu!" jujur Pangeran yang membuat Anne menahan senyum.


" Kalau mau senyum, senyum aja. Jangan di tahan!"


" Soalnya kamu sangat cantik kalau tersenyum." Namun, kata-kata ini hanya bisa Pangeran ucapkan di dalam hati saja karena takut jika Anne akan ilfil jika ia terlalu blak-blakan memuji. Padahal, belum juga lama kenal.


Setelah energinya kembali terisi, Pangeran mengajak Anne pergi ke tempat permainan yang dulu membuat ia melihat dengan gadis ini.


" Kita mau kemana lagi, Ran?" tanya Anne yang tetap jalan mengekor di belakang Pangeran meski tak tahu kemana pria itu membawanya pergi.


Pria ini seakan punya magnet tersendiri sehingga mampu membuat Anne selalu penasaran dengannya.


" Mesin capit?" ujar Anne dan diangguki oleh Pangeran.

__ADS_1


" Main yang lainnya aja, yuk."


" Kenapa?" tanya Pangeran bingung. Pasalnya, dulu ia ingat betul jika Anne dan kedua temannya bisa memainkan permainan ini sampai beberapa kali karena hanya hampir dapat terus.


" Soalnya, mesinnya penipu! Masak udah nyapit, habis itu lepas lagi! "terang Anne dengan memasang wajah kesal ketika teringat kembali kenangan saat memainkan mesin capit. Bahkan, Ia sampai membeli mesin capit sendiri untuk belajar. Namun, tetap saja tak pernah berhasil sampai di ejek-ejek terus sama Lean. Giliran Kean dan Lean yang main, mereka sering berhasil.


" Kalau gitu, mau taruhan nggak?" tawar Pangeran yang mencoba mencari kesempatan.


" Taruhan apa?"


" Kalau aku berhasil mendapatkan boneka yang ada di dalam mesin itu, kamu harus mau lunch sekali lagi denganku, gimana?" tantang Pangeran.


" Gak mau ah! "tolak Anne.


" Kenapa? "


" Ya ... taruhannya aneh sih! "


" Taruhannya yang aneh, atau kamu yang takut kalau aku menang? "


Anne terlihat berpikir sejenak sambil melirik ke arah mesin capit.


" Kalau kamu kalah? "


" Aku akan turuti semua permintaan kamu," tukas Pangeran tanpa rasa cemas.


" Sepertinya sulit!" gumam Anne yang masih menatap ke arah posisi boneka- boneka itu.


" Baiklah kalau begitu, aku terima tantangan kamu!"


" Oke, deal?"


" Deel! "


Dan ternyata ....


Berhasil.


Anne terlihat tercengang tatkala melihat Pangeran berhasil mencapit boneka yang ia tunjuk. Padahal, posisinya sepertinya sudah sangat sulit untuk berhasil, tapi nyatanya dia bisa.


Hebat! Satu kata yang terlintas dalam pikiran Anne.


" Gimana? Kamu punya satu janji lunch bareng sama aku!" ucap Pangeran sambil menyodorkan boneka hasil capitannya.


" Pasti ini tidak nyata 'kan?" tanya Anne yang tiba-tiba yadi ngebleng.


" Nyata lah, apa kamu mau mencoba lagi?"


" Tapi___" Anne takut jika Pangeran akan meminta janji lunch lagi sebagai Hadiahnya.


" Tenang saja, meski aku bisa mengambil seluruh boneka di dalam sini. Kamu hanya perlu lunch sekali sama aku," terang Pangeran yang seakan tahu pikiran Anne.


Dahi Anne berkerut, Ia benar-benar tak mengerti dengan pria di depannya ini. Apakah dia bisa membaca pikiran orang?


" Aku tidak bisa membaca pikiran orang, hanya saja. Ekspresi wajahmu itu, seakan menuliskan bahwa kamu tak mau jika terlalu banyak janji makan siang denganku," terang Pangeran yang semakin membuat Anne tercegang.


Setelahnya, Pangeran kembali menggesek kartu dan memainkan mesin capit. Hingga beberapa kali permainan, Pangeran terus saja berhasil sampai mampu membuat Anne yang tegang menjadi gembira. Bukan hanya itu saja, pasangan di samping mereka saja sampai iri melihat Pangeran yang terus berhasil mendapatkan boneka. Sedangkan pacarnya, tak berhasil-berhasil.


" Yang, coba kamu kayak dia! Udah ganteng, pinter lagi main mesin capitnya," omel wanita itu yang terlihat merajuk.


Kemudian, ada juga gadis kecil yang menangis meronta meminta orang tuanya untuk mengambilkan boneka di dalam mesin capit itu. Anne yang melihatnya pun, mencoba menghampiri gadis kecil itu.

__ADS_1


Anne merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi gadis kecil itu, lalu menyodorkan beberapa boneka hasil tangkapan Pangeran.


" Kamu mau? Pilihlah, "ucap Anne dengan tersenyum.


" Tidak perlu, "tolak orang tua dari anak itu.


" Tidak apa-apa, ambillah. "


Setelahnya, gadis kecil itu mengambil salah satu boneka yang ditawari oleh Anne. Tanpa Anne sadari, ada seseorang yang diam-diam memotretnya.


...***...


Sesampainya di Indonesia, Papa Ken langsung pergi ke rumah sakit tempat putranya Lean bekerja. Entah kenapa, perasaannya terus tak tenang semenjak melihat kondisi Brian yang begitu memprihatinkan.


Dia yang tak dekat saja, bisa cukup sedih. Apalagi jika istri dan putrinya tahu?


" Tidak, aku belum siap melihat kesedihan mereka, " gumam Papa Ken.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya Papa Ken sampai juga di rumah sakit Internasional tempat Lean bekerja.


Kedua kaki jenjang itu terus melangkah beriringan menuju ruangan putranya. Sebelum datang ke sini, Papa Ken sudah menghubungi Lean terlebih dahulu untuk menanyakan apakah dia sedang melakukan operasi atau tidak. Dan untungnya, dia baru selesai melakukan operasi. Jadi, saat ini adalah waktu istirahatnya.


Sesampainya di depan pintu ruangan itu, Papa Ken mengetuk pintu terlebih dahulu.


" Masuk," terdengar suara barinton dari dalam ruangan.


" Papa," seru Lean ketika pintu sudah terbuka dan memperlihatkan jika yang datang adalah Papanya.


" Duduk, Pa." Lean mempersilahkan Papa Ken untuk duduk di sebuah sofa panjang yang ada di ruangan itu.


" Gimana perjalanan bisnis Papa? Apakah lancar?" tanya Lean basa basi sambil menyedihkan minuman untuk sang Papa.


" Cukup lancar, tapi ada satu masalah. "


" Masalah? Apa itu, Pa?"


" Apa Kamu sudah tahu soal kondisi Brian yang kembali sakit?" tanya Papa Ken to the point.


Deg


Lean terlihat terdiam sejenak.


" Papa sudah mengetahuinya?" Lean justru kembali bertanya.


Papa Ken menghembuskan nafas yang sejak kemarin tertahan dan menyesakkan.


" Jadi kamu tahu, Le? Tapi kenapa hanya diam saja?"


Lean menatap dalam kearah Papa Ken.


" Memangnya kenapa, Pa? Apakah Lean harus siaran jika Brian saat ini sedang sakit agar semua orang tahu? Lagipula, sebelumnya Lean sudah sempat memprediksi hal ini akan terjadi, " terang Lean semakin lirih.


Setelahnya kedua pria itu saling diam.


" Lalu, kenapa kamu tidak membantu mengobatinya? "tanya Papa Ken dengan mata yang sudah mengemban. Meski Brian bukan putra kandungnya, serta tak menyetujui hubungannya dengan Anne. Tetapi, Papa Ken juga adalah seorang Ayah. Dimana Ia juga bisa merasakan bagaimana stress dan sakitnya seorang ayah ketika melihat putranya sakit. Sementara dia tak mampu menyembuhkannya.


" Dulu Lean memang pernah membantu Brian, tapi untuk kali ini ... Maaf, jika Lean tidak bisa membantu."


Papa Ken terlihat tercengang ketika mendengar jawaban putranya. " Apa maksud Kamu, Le? Bukankah kamu dulu adalah dokternya dan operasinya juga berjalan lancar. Lalu, kenapa sekarang tidak bisa? "


" Karena sekarang___"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2