Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 50 : Ada obat tidur?


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama puluhan jam, akhirnya rombongan Papa Ken sampai juga di Indonesia. Keempat orang itu, langsung berjalan menuju gerbang kedatangan.


Sesampainya di gerbang kedatangan, mereka sudah dijemput oleh supir dan langsung pergi menuju rumah sakit dimana Kean di rawat. 


" Anne, kamu baik-baik saya sayang?" tanya Mama Dira tatkala menyadari wajah Anne yang terlihat begitu lesu. 


" Anne baik-baik saja, Ma," dusta Anne yang berusaha untuk tersenyum. 


" Beneran? Tapi kok wajah kamu kelihatan lesu gitu?"


" Oh ... ini hanya karena jetlag aja, Ma. " Anne mencoba mencari alasan.


" Oh, yaudah kalau begitu." Mama Dira pun kembali membenarkan posisi duduknya.


Setelahnya, Anne mencoba memejamkan matanya agar tertidur. Namun, Anne masih saja kesulitan untuk tidur. Padahal matanya sudah terasa penat, kepalanya juga berdenyut dan terasa sakit sekali seakan mau pecah. 


" Kak, punya obat tidur?" tanya Anne yang di jawab gelengan kepala oleh Seva. 


" Memangnya kamu kenapa Anne, kok butuh obat tidur?"


" Gapapa." Setelahnya Anne sedikit merendahkan kursinya agar lebih nyaman, lalu memakai earphonenya dengan memutar alunan melodi pengantar tidur, dan tak lama kemudian, akhirnya ia pun bisa tertidur juga. 


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit dimana Kean di rawat.


Mama Dira dan Papa Ken segera turun, ketika melihat tak ada pergerakan dari Anne. Mama Dira kembali mengecek ke dalam mobil. 


" Loh, Anne___" Seva menempelkan ujung jarinya ke bibir guna menghentikan panggilan Mama Dira ke Anne. 


" Ada apa, Sev?" tanya Mama Dira bingung. 


" Sepertinya, biarkan Anne tidur dulu nyonya. Soalnya, selama di pesawat dia tidak bisa tertidur," terang Seva yang merasa kasihan jika Anne harus di bangunkan.

__ADS_1


" Oh, ya?" tanya Mama Dira yang sedikit kaget. Pasalnya, Anne biasanya mudah sekali tidur. 


Seva mengangguk.


Melihat Anne yang terlihat sangat pulas, membuat Mama Dira jadi tak tega juga jika membangunkannya. 


" Yasudah, kalau begitu kalian pulang saja ke rumah, biar Anne bisa lebih nyaman istirahatnya," pesan Mama Dira dan diangguki oleh Seva.


Setelahnya, mobil yang dikendarai Seva melaju pergi menuju kediaman Fabio. Sedangkan Mama Dira dan Papa Ken pergi menjenguk Kean. 


Sesampainya di ruang rawat inap, kehadiran mereka disambut oleh Dinda. 


" Loh Mama, Papa," sambut Dinda sembari menyalami kedua mertuanya dengan wajah terkejut. Bagaimana tak terkejut, setahunya mertuanya itu sedang pergi ke new York untuk menjenguk Anne, tapi kenapa sudah berada di sini. 


" Gimana keadaan Kean?" tanya Mama Dira dan Papa Ken  bersamaan. 


"Loh, Ma, Pa kok ada di sini?" Kean pun ikut terkejut. Padahal, Ia sudah menyuruh semua orang bungkam untuk tidak menghubungi kedua orang tuanya jika ia mengalami kecelakaan


" Kenapa? Kalian terkejut melihat Mama dan Papa ada di sini?" tanya Papa Ken dan diangguki oleh Dinda dan Kean.


" Kita hanya nggak mau buat Mama cemas dan khawatir. Apalagi posisinya Mama dan Papa sedang jauh, makanya Kean menyembunyikannya. Tapi, tetap saja bocor, "terang Kean.


" Kalau nggak mau bocor, pakai no drop aja! "canda Papa Ken yang langsung mendapatkan cubitan kecil dari MAMA Dira.


" Kok di cubit sih, Ma, "protes Papa Ken.


" Habisnya, Papa becanda aja. Udah tau anaknya lagi begini, "omel Mama Dira.


" Gapapa, Ma. Lagian Kean udah gapapa, Kok."


" Yakin, gapapa? "tanya Papa Ken sembari menyentuh Kaki Kean yang di gips, dan sontak membuat pria itu melenguh kesakitan. 

__ADS_1


" Katanya gapapa, kok hanya di pegang sakit?" ujar Papa Ken yang dijawab cengiran oleh Kean. Sedangkan Mama Dira justru kembali memukul lengan Papa Ken karena bercanda dengan putranya yang sedang sakit. 


" Ya, kalau itu memang sakit, Pa." 


" Gitu, bilangnya gapapa. "


" Ya, biar Mama, dan Papa tidak terlalu khawatir. Lagian besok Kean udah boleh pulang, kok. "


Mama Dira hanya bisa menghembuskan nafas panjangnya sembari mengusap lembut kepala putranya yang kini sudah menjadi seorang ayah. Begitulah Kean yang sedari kecil sudah bersikap dewasa, dan tak suka membuat orang khawatir. Dia selalu mengatakan tidak apa-apa, walau sebenarnya kenapa-kenapa. Dia adalah tipe orang yang suka memendam semuanya sendiri.


" Oh, ya si triplet dimana?" tanya Mama Dira ketika tak melihat ada ketiga cucunya di ruangan itu.


" Di rumah sama susternya, Ma. " Kini, Dinda yang jawab. 


" Cuma sama suster?" tanya Mama Dira mencoba memastikan.


"Iya, Ma. Memangnya kenapa?" tanya Dinda bingung dengan ekspresi ibu mertuanya.


" Gapapa, Mama hanya khawatir aja kalau mereka hanya sama suster. Gini aja, gimana nanti kalau si triplet di bawa ke rumah aja, biar Mama bisa mengawasinya selama kalian ada di sini," usul Mama Dira yang begitu protektif pada ketiga cucunya.


" Memangnya tidak merepotkan, Ma. "


" Nggak, mana ada cucu merepotkan Oma sama Opanya. Lagian, di rumah juga ada Anne, "terang Mama Dira.


" Anne? "ulang Kean yang kembali terkejut.


" Loh, bukannya Anne masih kuliah di New York, Ma? "lanjutnya.


" Sudah Papa bawa pulang, "jawab Papa Ken.


" Kenapa, Pa? "tanya Kean dan Dinda bersamaan.

__ADS_1


...****************...


 


__ADS_2