Melawan Restu

Melawan Restu
Ada apa denganmu?


__ADS_3

Sepanjang hari ini dilalui Lalita dengan tidak bersemangat. Ia kesal sekali karena sejak semalam sang kekasih tidak ada kabar. Ponsel Fahriza juga tidak bisa dihubungi. Biasanya pacarnya itu paling rajin menghubunginya. Mengingatkannya ini dan itu.


Pikiran-pikiran buruk menggelayuti otak Lalita. Seperti gadis muda kebanyakan, Lalita hobi sekali overthinking. Takut Fahriza sakit, Fahriza terluka, sampai terbersit di otaknya Fahriza sedang asik dengan gadis lain alias mendua.


Padahal dia tahu sendiri, betapa sayang dan setianya Fahriza padanya selama ini. Tapi, bukankah hati manusia bisa saja berubah? Begitulah pikir Lita.


"huhuhu......" si cengeng mulai menangis. Lalita sudah tidak tahan lagi, dia sudah menahannya sejak pagi. Tubuhnya yang lelah karena bekerja, semakin memantapkan hatinya untuk menangis. Persetan dengan malu, paling juga jadi bahan olok-olokan teman-temannya seperti biasa.


"Yah, dia nangis" keluh Meiva, rekan kerja Lalita.


"Huaaaa.....Riza jahat!" teriak Lalita, meluapkan kekesalannya. Tangan dan kakinya bergerak-gerak memukul dan menendang udara.


Bukannya menenangkan, rekan-rekan kerja Lalita malah menjadikannya tontonan yang menghibur. Saat ini jam kerja telah usai, jadi menikmati drama Lalita sebelum pulang sepertinya asik juga.


"Lah, dia tidak ada ngapa-ngapain juga di kata jahat. Makanya jangan nethink mulu, coba berfikir positif. Oh, mungkin mamas lagi banyak kerjaan. Oh, mungkin mamas lagi di jalan. Oh, mungkin mamas lagi makan...sama cewek lain. Wakakakak" tawa Budi membahana, pria beranak satu itu memang paling hobi mengompori Lalita saat sedang kesal.


"Budi Sialaaannn!" pekik Lalita dengan mata melotot kearah Budi. Hilang sudah sopan santunnya kalau sedang marah.


"Bang Budi mah suka gitu, udah tahu orang lagi galau malah di bikin tambah galau. Mungkin Mamas mu lagi bobok...bobok sama cewek lain. Hahaha" ujar Anabel menambahi.


Tangis Lalita kembali pecah, pikirannya tambah semrawut gara-gara mulut nista teman-temannya.


Lalita menggendong tas punggungnya, memutuskan untuk segera pulang. Ingin membeli es krim coklat dan strawberry di minimarket dekat rumah untuk mendinginkan hatinya yang panas. Dengan menghentak-hentakkan kaki, Lalita berjalan keluar gedung kantor berlantai dua itu diiringi suara cekikikan teman-temannya.

__ADS_1


.....


Dari jarak beberapa meter, Lalita melihat Fahriza yang menunggunya di depan kantor. Perasaan Lalita semakin was-was saat Fahriza tidak menyambutnya dengan senyuman dan lambaian tangan seperti biasa. Pria yang sudah memacarinya selama dua tahun itu hanya menatapnya dengan datar. Benar-benar tidak seperti Fahriza biasanya.


Lalita berjalan pelan. Awalnya ia ingin memarahi Riza karena tidak ada kabar sejak semalam. Tapi melihat wajah Riza yang tidak ramah, Lita malah jadi cemas.


Apa aku sudah berbuat salah? tanya Lita dalam hati.


Riza membuka pintu mobil lebar-lebar. "Masuk!" perintahnya. Bicaranya benar-benar dingin sama seperti wajahnya saat ini.


Lalita mencuri pandang pada wajah serius Riza yang agak menakutkan baginya, sebelum masuk ke mobil.


Hening menyelimuti keduanya saat mobil sudah mulai menyusuri jalanan. Lita terus saja mencuri pandang kearah Riza yang terlihat serius mengemudi. Biasanya pria itu akan memasangkan seat belt untuknya, mengelus kepalanya, menawarinya air mineral, bertanya mau makan dulu atau tidak, bertanya bagaimana hari ini, bertanya tentang pekerjaan Lita dan dia juga akan bercerita tentang pekerjaannya atau apa saja yang dia lakukan dan dia alami hari ini.


Karena asik menatap wajah Riza dan bergelut dengan berbagai pikiran buruknya. Lalita sampai tidak sadar dibawa kemana. Saat menengok kearah jendela mobil, Lalita baru sadar jika mereka sudah berhenti di area taman kota dengan hiasan air mancur. Tempat mereka berkencan pertama kali.


"Turun!" titah Riza masih dengan sikap dinginnya. Lalita benar-benar sedih di perlakukan seperti ini, ia ingin menangis. Tapi sebisa mungkin dia menahannya, tak ingin membuat suasana semakin tidak baik.


"Kenapa..."


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Ayo!" potong Riza sebelum Lita menyelesaikan pertanyaannya.


"Mas, mamas....." Riza acuh, tak menanggapi panggilan Lita. Ia keluar dari mobil dan meninggalkan Lita.

__ADS_1


Ada apa denganmu, mas?


Setitik air mata jatuh, Lita dengan segera mengusapnya dengan punggung tangan. Sulit sekali bagi gadis cengeng sepertinya menahan air mata.


"Mas. Mamas, tunggu!"


"Jalannya cepat sekali seperti di kejar rentenir. Ya Allah, si mamas kenapa? Harusnya kan aku yang marah. Jangan-jangan dia....nggak mau, nggak mau di putusin." gumam Lita berbicara pada dirinya sendiri.


Riza menghampiri Lita yang berhenti berjalan dan asik berbicara sendiri. Menarik tangan Lita agar mengikutinya. Mengajak kekasihnya itu duduk di bangku taman yang berada di bawah pohon akasia yang sedang berbunga. Bunga-bunga berwarna kuning berguguran saat angin menerpanya.


"Mas, kamu kenapa? Apa aku berbuat salah?" tanya Lita setelah keheningan beberapa saat.


"Menurut mu?"


"A-aku, aku tidak tahu" jawab Lita terbata, ia begitu cemas, takut dan gugup.


"Dengarkan baik-baik. Aku hanya akan mengatakan ini satu kali dan tidak akan mengulanginya lagi" ucap Riza dengan tegas.


Riza mengangkat dagu Lita yang menunduk, menatapnya dalam. " Lihat Mas!"


"Lihat dan dengarkan mas, Lita!"


Lalita mengangkat wajahnya. Menatap wajah tampan kekasihnya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2