Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 88 : Melamar?


__ADS_3

Ketika memasuki rumah, Bibi terus mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok wanita cantik yang sudah ia rindukan, dan akhirnya ia menemukannya juga.


" Kak, Anne, "panggil Bibi yang seketika membuat Pangeran, Nek Ratu, Papa Ken dan Mama Dira menoleh ke belakang. Sementara Anne berusaha untuk kabur, tetapi keburu di lihat oleh semua orang.


" Anne, Nala, kalian di situ? Kalau begitu sini, "panggil Papa Ken yang membuat Anne terpaksa pergi datang ke sana.


Ketika melihat Anne datang, anak-anak langsung menghambur memeluk dirinya.


" Kita kangen sama Kak, Anne, " ujar Bibi.


" Kakak juga kangen sama kalian, " balas Anne dengan tersenyum ramah.


"Kalau sama yang ini," lirih Pangeran yang masih terdengar oleh Anne. Namun, Ia berpura-pura tidak mendengarnya.


Sementara Nala, Kean, Lean, dan Mama Dira hanya diam saja dan terlihat saling pandang satu sama lain karena tak mengenal Pangeran dan Nek Ratu.


Ketika semua tamu undangan sudah datang, acara pengajian segera di mulai.


Setelah acara pengajian selesai, semua keluarga Fabio ikut membantu memberikan suvenir dan ampau yang sudah di sediakan.


"Anne ...," Nala menyenggol lengan Anne.


" Em, ada apa?" tanya Anne sembari terus memberikan ampau pada anak-anak dengan tersenyum ramah.


" Pria tadi itu siapa?" tanya Nala yang sudah sangat penasaran. Tetapi, Ia menahan untuk tidak bertanya karena masih ada acara pengajian.


" Pria siapa?" Anne berpura-pura tak mengerti maksud dari sahabatnya itu.


" Ih ... Yang namanya Pangeran itu, sepertinya aku belum pernah dengar namanya."


" Belum pernah dengar? Bukankah tadi sudah kenalan?" ujar Anne yang membuat Nala mati kutu dan bingung harus menjawab apa. Padahal, maksud Nala dia belum pernah dengar Anne menceritakan tentang siapa pria itu.


Setelah acara pengajian selesai, kebetulan waktu sholat ashar tiba. Jadi, Papa Ken mengajak semua orang untuk sholat terlebih dahulu sebelum menuju ke acara inti dari segala inti.


" Ran," panggil Papa Ken.


" Iya, Om. Ada apa?"


" Kamu yang jadi imam, ya?" pinta Papa Ken yang di dengar oleh semua orang.


" Saya, Om?" Pangeran menunjuk dirinya sendiri.


Sementara Nala dan Anne terlihat tercengang tatkala mendengar Papa Ken yang menyuruh Pangeran untuk menjadi imam bagi semua orang di sini?


" Apa Papa sedang becanda? "gumam Anne dalam hati.

__ADS_1


" Anne, kira-kira dia bisa tidak menjadi Imam buat orang sebanyak ini? " ujar Nala yang seakan ragu dengan Pangeran. Pasalnya, menjadi seorang Imam sholat bagi orang banyak tidaklah mudah, selain harus pandai dalam bacaan-bacaan sholat tapi juga harus punya mental yang cukup.


" Apa Kamu tidak bisa? "tantang Papa Ken.


" Bisa, Om. "


Nala dan Anne kembali tercengang tatkala mendengar Pangeran mengatakan bisa. Kedua wanita itu saling pandang satu sama lain.


" Dia bisa? "tanya Nala tanpa suara, namun masih dipahami oleh Anne.


Anne hanya menggeleng karena ia juga tak tahu apa-apa soal Pangeran. Saat tinggal beberapa hari di rumah Nek Ratu, kebetulan Anne dalam keadaan halangan jadi ia tak pernah tahu soal Pangeran yang biasanya jadi imam sholat jika ada di sana.


Meski jamaahnya tak sebanyak sekarang, tapi Pangeran sudah punya mental untuk menjadi Imam sholat.


" Kalau begitu, silahkan maju." Papa Ken mempersilahkan Pangeran untuk maju ke depan.


Jika di balik satir Nala dan Anne masih di buat takjub dengan keberanian Pangeran. Begitupun dengan Kean dan Lean yang masih seakan belum mengerti dengan maksud Papanya menyuruh seorang tamu untuk menjadi imam sholat?


Apa Papanya sedang menguji?


Tapi untuk apa?


Apa jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Anne?


Kedua Kakak beradik itu sama-sama tidak ada yang tahu soal Pangeran. Semua ini, di rencanakan oleh Papa Ken sendiri. Dari Pangeran yang diundang ke acara Anniversary sampai menguji untuk menjadi imam sholat.


Entah kenapa, hati Anne seakan berdesir tatkala mendengar bacaan sholat dari Pangeran yang bisa menyentuh hati.


Selesai sholat, semua keluarga inti berkumpul di ruang tengah.


" Kamu benar-benar sudah yakin dan mata dengan dia, Ken?" lirih Papi Rian yang duduk di samping Papa Ken.


" Sejauh ini, aku yakin."


" Sudah istikharah?" Papi Rian kembali bertanya untuk memastikan.


" Em." Begitulah Papa Ken yang suka sekali menjawab singkat.


Selama ini, Papa Ken memang sengaja tak membicarakan soal ini pada Kean maupun Lean, hanya Papi Rian yang ia ajak untuk berdiskusi. Selain Papi Rian sahabatnya serta kenal baik dengan almarhum Papa Pangeran, dia juga sama-sama seorang ayah yang memiliki anak perempuan. Jadi, Papa Ken lebih nyaman dan nyambung ketika berdiskusi dengannya.


" Kalau kamu sendiri, dari kacamata seorang ayah gimana?"


" Kalau aku sih, oke. Selain tampan, pinter, pekerja keras, santun, ternyata dia agamanya juga lumayan bagus. Tapi, menurut kita bagus belum tentu menurut Anne oke. Apalagi kamu bilang jika Anne masih belum bisa melupakan Brian. "


" Itu urusan nanti! "

__ADS_1


Setelah semua orang berkumpul, Nek Ratu mulai membuka pembicaraan. Dikarenakan ini masih dalam rangka untuk menanyakan, maka yang datang hanyalah Nek Ratu sebagai orang yang paling berharga dalam hidup Pangeran.


" Sebelumnya, Saya selaku Nenek Pangeran mengucapkan terimakasih karena sudah di undang hadir ke acara Tuan Kenzo dan Istri."


" Panggil saja, Ken, " tukas Papa Ken yang merasa kurang nyaman di panggil Tuan oleh seseorang yang usianya sudah seperti almarhum Ibunya.


" Baiklah."


" Mbak, ini sebenarnya ada apa, sih?" bisik Mami Senja pada Mama Dira.


" Mbak juga gak tahu, soalnya Mas Ken gak bilang apa-apa."


" Sepertinya, mereka berdua sedang merencanakan sesuatu!" lanjut Mami Senja ketika memperhatikan suami dan besan ya yang terus berbincang-bincang.


Setelah Nek Ratu yang berbicara, kini giliran Pangeran yang akan mengutarakan niatnya datang ke sini.


" Anne, kenapa aku seakan mencium bau-bau aroma orang mau melamar, ya?" bisik Nala.


" Melamar?" ulang Anne dan diangguki oleh Nala.


" Kalian ada hubungan apa?"


Anne menggeleng. " Gak ada hubungan apa-apa."


" Yakin?" tanya Nala yang mulai memastikan.


Melamar? Anne jadi teringat kembali akan perkataan Pangeran tempo hari, dimana ia mengatakan bahwa akan membuktikan keseriusannya. Tapi, apakah secepat ini? Dan, bukankah ini adalah acara anniversary Mama dan Papanya? Tapi kenapa terkesan seperti ada acara di balik acara.


Pikiran Anne seketika berubah kalut setelah mendengar ucapan Nala barusan. Jika benar itu terjadi, Ia harus bagaimana?


"Sebelumnya, perkenalkan nama Saya Pangeran Aditama. Selain menghadiri undangan dari Om Kenzo, Saya juga berniat untuk mengutarakan niat baik saya."


Deg ... Deg ... Deg ...


Entah kenapa jantung Anne tiba-tiba memompa begitu cepat. Padahal, Pangeran masih mengucapkan beberapa kata.


" Anne, kamu gugup? "tanya Nala ketika menyadari tangan Anne yang tiba-tiba begitu dingin saat mengenggam tangannya.


" Saya, ingin mengatakan bahwa saya menyukai seorang putri dari keluarga ini, Anneta dan berniat ingin menjalin hubungan yang serius dengannya. "


Ting.


Entah kenapa gaya gravitasi di ruangan itu seakan berhenti sejenak tatkala mendengar penuturan Pangeran yang mengatakan jika ingin menjalin hubungan serius dengan Anne.


Anne, Nala, Mama Dira, Mami Senja, Kean dan Lean terlihat tercengang. Mereka yang tak tahu apa-apa, benar-benar di buat terkejut.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2