Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 75 : Kalau jadi calon istri aja, gimana?


__ADS_3

Setelah kejadian salah kirim lukisan, membuat Anne lebih berhati-hati lagi dengan mengemasi sendiri lukisan yang akan ia bawa.


Sebelumnya, Anne sudah mengirimkan beberapa foto lukisannya pada Pangeran agar dia memilih mana yang dia suka. Anne melakukan itu sebagai bentuk menghindari terjadinya insiden tak puas dari Pangeran sehingga membuatnya gagal membawa lukisan in memories kembali.


Dan untungnya, Pangeran tak cukup bawel dan langsung memilih lukisan yang sekiranya pantas sebagai pengganti lukisan in memories.


Selesai mengemasi lukisan, Anne segera bergegas pergi untuk sarapan bersama keluarganya.


Sama seperti biasanya, Anne akan menyapa para anggota keluarga yang sudah duduk di meja makan untuk menikmati sarapan pagi.


" Itu, apa Anne?" tanya Mama Dira tatkala melihat Anne membawa tas yang cukup besar.


" Lukisan, Ma."


" Lukisan? Mau dibawa kemana?" tanya Mama Dira.


" Mau di berikan ke pembeli yang sempat salah beli lukisan Anne itu, Ma."


"Oh, gitu. Jadi, dia mau di ganti dengan lukisan lain?"


Anne hanya menjawab dengan anggukan kepala karena di mulutnya penuh dengan makanan.


" Oh ya, Ma. Papa kapan pulang dari luar kota?" tanya Anne yang mengetahui jika Papanya sedang pergi Dinas keluar kota.


" Katanya sih, hari ini. "


" Oh, gitu. Tumben Papa pergi dinas keluar kota lama tanpa mengajak Mama."


Mama Dira tersenyum. " Ya, mungkin Papa sudah mulai bosan kemana-mana selalu di kintilin istrinya," gurau Mama Dira yang mengundang gelak tawa dari Anne maupun Dinda. Sementara Kean hanya diam saja, dan menutupi kebenaran yang ada.


" Mama bisa aja, masak udah bosan," timpal Dinda.


" Ya siapa tahu aja, Din. "


Selesai sarapan, Anne langsung pamit pergi berangkat ke kampus dengan Mama, Kakak, dan Kakak iparnya.


...***...


Di karenakan pertemuannya dengan Beautiful sky masih nanti sore, Pangeran memilih menghabiskan waktunya untuk workout demi menjaga kebugaran tubuhnya. Kesibukannya dalam mengurus bisnis keluarga, membuat Ia jarang mempunyai waktu luang seperti ini.


Baru saja melakukan pemanasan sekitar lima belas menit, tiba-tiba asistennya Bentala datang menghampirinya.


" Pagi, bos. Maaf mengganggu," ujar Bentala dengan kepala menunduk.


" Ada apa?" tanya Pangeran yang masih terus berlari diatas mesin treadmill.


" Tuan Dimyati tiba-tiba meminta meeting dadakan, bos, " terang Bentala sedikit ragu-ragu.

__ADS_1


Pangeran seketika mematikan mesin treadmill itu.


" Apa maksudnya? Apa kamu lupa jika hari ini aku sedang mengambil cuti?" tukas Pangeran dengan wajah kesal. Baru saja dia akan menikmati waktu luang, sudah ada saja yang berulah seperti ini.


" Maaf Bos, saya sudah mengatakan pada Tuan Dimyati jika anda sedang mengambil cuti. Tetapi, beliau seperti biasanya yang selalu saja tidak bisa___"


"Akh," Pangeran mendengus kesal. " Dasar tua Bangka! Selalu saja cari masalah!" umpat Pangeran yang begitu kesal dengan salah satu teman almarhum ayahnya itu. Meski dia termasuk salah satu pemegang saham perusahaan, tapi setidaknya harus tetap punya etika bukan?


Pangeran sudah berminggu-minggu belum mengambil libur karena sibuk mengurus sebuah proyek besar. Dan kini, ketika ia ingin memiliki waktu istirahat harus di ganggu.


Setelahnya, Pangeran segera turun dari alat treadmill dan bergegas pergi dari ruangan gym. Dalam beberapa menit, Pangeran sudah selesai mandi dan berpakaian rapi.


Sebenarnya, dia malas sekali bertemu dengan orang ini. Tetapi jika ia tak menurutinya, dia pasti akan membicarakan yang tidak-tidak pada pemilik saham lainnya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya Pangeran sampai juga di perusahaan Aditama grup. Tanpa berlama-lama, Pangeran langsung pergi menuju ruangan yang biasanya di gunakan untuk meeting besar bersama para pemilik saham.


" Akhirnya kamu datang juga, kenapa lama sekali?" omel Dimyati dengan wajah angkuhnya.


" Maaf Tuan Dimyati, tapi hari ini saya memang sedang mengambil cuti."


" Apa begini sikap dari seorang CEO Aditama grup?" cibir Dimyati.


" Ini bukanlah hari libur, tapi kamu mengambil cuti? Almarhum ayah kamu pasti akan sedih jika melihat putranya tak becus dalam mengurus perusahaan! "lanjut pria paruh baya itu.


Tangan Pangeran sudah mengepal mencoba menahan amarah. Dia paling tidak suka dengan orang yang suka mencibir tanpa tahu apa yang sebenarnya telah ia lakukan sebelum ini.


Tuan Dimyati berpura-pura membenarkan dasinya, dan posisi duduknya.


" Begini, dia adalah putriku yang baru saja lulus dari universitas ternama di luar negeri," ujar Dimyati yang begitu meninggikan status pendidikan putrinya.


" Aku ingin, kamu mengatur dia untuk bekerja di perusahaan ini. Setidaknya, paling rendah menjadi manager lah. "


" Manager? "ulang Pangeran dengan raut wajah keheranan. Ternyata, benar jika pria ini ingin bertemu dirinya hanya karena ada maksud terselubung.


" Ya, tentu saja. Masak iya, kamu mau menempatkan dia sebagai karyawan rendahan!" ketus Tuan Dimyati dengan nada yang sedikit meninggi.


" Tapi, begini Tuan Dimyati. Posisi manager di perusahaan sudah terisi semua. Lagipula, apa anda yakin jika putri anda ini bisa menjadi seorang manager?"


Brak


Tuan Dimyati memukul meja di depannya, Ia terlihat kesal dengan ucapan Pangeran yang terdengar merendahkan kemampuan putrinya.


" Apa maksudmu berbicara seperti itu, Pangeran! "bentak Dimyati yang membuat putrinya terkaget-kaget.


" Tidak bermaksud apa-apa, lagipula bukankah dia baru lulus kuliah? Jadi, otomatis belum ada pengalaman kerja menjadi seorang manager 'kan? "terang Pangeran dan diangguki oleh putri dari Tuan Dimyati.


Gadis muda itu segera bangun dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati Pangeran.

__ADS_1


" Kak Pangeran, sebenarnya Michi juga tidak mau menjadi seorang manager," terang wanita muda itu sambil bergelanjut manja memegangi tangan Pangeran.


" Michi! Apa yang kamu lakukan!?" bentak Tuan Dimyati tatkala melihat sikap anaknya yang tak enak di pandang.


" Sudah lah, Pi. Apa yang dikatakan Kak Pangeran itu ada benarnya, Michi itu memang tidak cocok jadi Manager. Karena Michi lebih suka jadi asisten pribadi kak Pangeran, "ucap Michi dengan bergelayut manja pada Pangeran.


Hal itu, tentu membuat Pangeran risih dan terus berusaha melepaskan tangan Michi yang bergelayut padanya.


" Michi, tapi maaf. Saya sudah punya asisten, " tolak Pangeran.


" Apa! Asisten? Gila ya, kamu! "bentak Tuan Dimyati yang tak mengerti dengan jalan pikiran putrinya. Ia memang tahu jika Michela atau biasa di panggil Michi menyukai Pangeran, tapi tidak seperti ini juga. Dia ingin putrinya bisa ikut andil dalam mengurus perusahaan ini, bukan justru menempel seperti layaknya wanita murahan.


" Kalau jadi calon istri aja, gimana?" tanya Michi lagi yang membuat Pangeran tercengang. Jadi asistennya saja, Pangeran ogah apalagi jadi istri?


Tentu Big no!


Melihat tingkah putrinya yang semakin tak terkendalikan, membuat Tuan Dimyati menarik tangan Michi untuk segera pergi dari ruangan itu. Dia sudah sangat malu sekali dengan sikap putrinya yang tak tahu malu. Padahal, Ia selalu mengajarkan untuk menjadi wanita yang elegan dan smart jika ingin mendapatkan hati Pangeran serta orang penting di perusahaan, tapi bukan seperti ini.


Sepeninggal Tuan Dimyati dan juga Michela, Pangeran segera menyemprotkan cairan disinfektan ke seluruh tubuhnya agar bakteri-bakteri yang menempel ikut Z GCZ menghilang.


...***...


Hari ini, ternyata jam kuliah Anne selesai lebih awal karena ada salah satu dosen yang tak bisa masuk. Jadi, Ia mencoba menghubungi Pangeran untuk mengganti jadwal pertemuan mereka.


Melihat ada notifikasi pesan dari Anne yang meminta agar pertemuan mereka di majukan, tentu membuat Pangeran senang. Tanpa basa basi dia langsung menyetujui hal itu.


Sesampainya di restoran yang dimaksud oleh Pangeran, Anne langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari dimana keberadaan pria itu.


" Sky," panggil seseorang yang melambaikan tangan ke arahnya.


Anne pun segera berjalan menghampiri pria itu.


" Apa sudah menunggu lama?" tanya Anne basa basi.


" Tidak juga. Kamu mau pesan apa?" tawar Pangeran lembut.


" Emm ... Aku mau lihat menu dulu. "


Setelahnya, Pangeran memanggil seorang waiters untuk meminta buku menu yang ada di restoran itu.


Di saat Anne masih memilih minuman apa yang akan ia pesan, tiba-tiba ada seseorang memanggilnya.


" Anne ..., "panggil orang itu.


...****************...


Ada yang bisa nebak, siapa yang manggil Anne?

__ADS_1


Selamat weekend buat semuanya 😊


__ADS_2