
"Bri, "panggil Papa Ken l.
" Iya, Pa. Ada apa? "tanya Brian yang baru saja selesai membalas pesan Anne.
" Apa kamu sedang sibuk? "tanya Papa Ken saat melihat Brian masih memainkan ponselnya.
" Tidak, Pa. Memangnya ada apa? "tanya Brian yang langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Papa Ken menatap lurus ke arah pemandangan kota NY.
" Ada hubungan apa kamu sama, Anne? "tanya Papa Ken to the point. Ya, pria paruh baya itu memang tidak suka bertele-tele selalu saja langsung pada intinya.
" Maksud Papa apa, ya? "tanya Brian bingung kenapa Papa angkatnya itu tiba-tiba bertanya seperti itu. Pasalnya Anne maupun Brian memang masih merahasiakan hubungan mereka dari Fabio fams. Hanya Seva dan Jeremy saja yang tahu, selebihnya tak ada yang tahu, bahkan Nala sekalipun.
Semua ini, mereka lakukan atas permintaan Anne yang memang belum siap untuk publish mengingat status mereka yang masih magang.
" Jawab saja, ada hubungan apa antara kamu dan Anne.
Brian masih terdiam, seakan berpikir haruskan ia jujur sekarang pada pria yang telah menjadi ayah angkatnya ini? Tapi, akankah dia menerimanya jika mengingat kejadian di masa lalu?
Brian mencoba menarik nafasnya panjang-panjang, lalu membuangnya perlahan.
" Pa, sebenarnya saya___"
" Kalian sedang berbicara apa? Kok kelihatan serius sekali?" tanya Mama Dira yang baru datang dengan membawakan sebuah camilan hangat dan kopi sebagai teman mengobrol. .
__ADS_1
Raut wajah Papa Ken yang dingin, tiba-tiba berubah menjadi lebih hangat ketika istri tercintanya datang.
" Tidak ada sayang, hanya pembicaraan antar laki-laki saja," jawab Papa Ken dengan tersenyum lebar agar sang istri tidak curiga.
Melihat interaksi Papa Ken dan mama Dira yang terlihat harmonis, hangat, serta tatapan penuh cinta dari keduanya, membuat Brian menyadari kalau Daddy dan Mommynya dulu tak pernah terlihat seperti itu.
" Sepertinya sekarang aku baru sadar kalau ternyata, gestur tubuh orang yang saling mencintai itu terlihat berbeda dengan yang hanya berpura-pura." gumam Brian dalam hati yang baru menyadarinya sekarang. Mungkin karena dari awal dia sudah melihat yang palsu sehingga tak menyadari hal itu.
Selepas mengantarkan camilan hangat, Mama Dira segera pergi meninggalkan Papa Ken dan Brian karena sepertinya ada pembicaraan yang ingin mereka bicarakan hanya berdua.
" Sekarang kamu bisa melanjutkan lagi ucapanmu yang tadi sempat tertunda," pungkas Papa Ken setelah Mama Dira pergi.
Brian menarik sudut bibirnya, ternyata Papa angkatnya ini tipe orang yang suka to the point dan tak suka membicarakan sesuatu yang menggantung. Dia akan menuntaskan semuanya sampai jelas, baru selesai.
Brian kembali menetralkan nafasnya agar tak terdengar gugup di depan pria yang sangat berarti dalam hidup wanita kesayangannya.
" Kamu menyukai putri saya?" kini, nada bicara Papa Ken berubah dingin tak lagi hangat seperti sebelumnya. Seorang Kenzo yang dingin, seakan kembali hadir dikala ada seorang pria yang menyukai putri kesayangannya. Seorang putri yang sudah seperti separuh dunianya. Putri yang sangat ia jaga dengan kasih sayang dan rasa cintanya.
" Lebih tepatnya, saya mencintai Anneta,"balas Brian yang tak kalah tegasnya.
Papa Ken melirik ke arah Brian seakan mencari sesuatu pada manik dan raut wajah pria itu. Namun, tak ada keraguan dan kepalsuan saat Brian mengatakan bahwa ia mencintai Anne.
" Apa kamu yakin itu cinta? "tanya Papa Ken memastikan. Bagi pria lima puluh dua tahun itu, cinta adalah sesuatu yang memiliki makna besar.
Brian tersenyum dengan menatap dalam-dalam mata Papa Ken agar pria itu mengerti kalau dia sedang tak main-main. Sesama seorang pria, pasti akan lebih mudah paham seperti apa perasaan seorang pria yang sedang jatuh cinta.
__ADS_1
" Bagi Saya, Anne bukan sekadar wanita yang saya cintai saja, tapi dia sudah bagaikan separuh hidup saya. Tanpa Anne, hidup ini terasa sepi, dan membosankan. Tapi, sejak hadirnya dia, hidup ini menjadi lebih bermakna dan penuh warna."
"Saat bersama Anne, saya bisa merasakan bahagia, sakit, maupun rindu. Dari apa yang saya rasakan, bukankah itu arti dari sebuah kata cinta? "
" Tapi, cinta saja tidak cukup untuk kamu bisa bersama dengan putri saya."
Papa Ken mengalihkan pandangannya karena sudah tak sanggup beradu tatap dengan pria itu.
" Jadi, Papa tidak akan merestui hubungan kita? "
Papa Ken masih terdiam dengan tatapan nanar menatap ke arah gedung-gedung yang menjulang tinggi.
" Kenapa Papa tidak merestui hubungan kita? Apa Brian kurang baik? Atau ... karena Brian anak Daddy? " Brian mencoba menebak-nebak apa alasan Papa Ken tak merestui hubungan mereka.
" Bukan, Saya tahu, anak didikan istri saya tidak mungkin buruk karena dia adalah wanita penuh energi positif, dan berhati mulia. Lagipula, saya juga bisa melihat jika kamu bisa menjaga Anne dengan baik, Tapi Bri ... ada satu hal yang harus kamu tahu dan ingat. Ada dinding yang begitu besar dan kokoh diantara kalian."
" Maksud Papa?" tanya Brian tak mengerti.
Papa Ken tak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan sorot mata yang tertuju pada suatu benda yang melingkar di leher Brian.
Brian pun mengikuti sorot mata Papa Ken, dan jatuh pada kalung yang ia pakai. Pria itu langsung memasukkan kalung itu kedalam bajunya. Brian jadi teringat kembali akan perkataan Anne tempo hari.
" Walau kamu tutupi dengan pakaian berlapis-lapis sekalipun, itu tidak akan merubah apapun, kecuali satu__" Papa Ken sengaja menggantung ucapannya karena hal ini terdengar sangat sensitif.
" Apa?" tanya Brian serius.
__ADS_1
...****************...