
" Bri, ada di dalam ruangan itu," ucap Daddy Samuel dengan tatapan nyalang ke dalam ruangan yang di penuhi alat - alat medis.
Papa Ken pun, ikut menatap ke arah ruangan itu. Pupilnya seketika melebar tatkala melihat seorang pria dengan tubuh lemas dan penuh alat bantu hidup. Suara bunyi monitor jantung terdengar masih berbunyi stabil, cairan infus juga masih terus menetes masuk kedalam tubuh, menandakan bahwa jiwa itu masih hidup. Namun, raganya sudah tak sadarkan diri.
" A__pa yang terjadi pada, Bri?" tanya Papa Ken dengan nada bicara yang terbata-bata akibat masih dalam mode terkejut.
Daddy Samuel melirik ke arah Papa Ken dengan tatapan sendu, menandakan bahwa pria itu sebenarnya sedang dalam keadaan tak baik-baik saja, tetapi harus tetap terlihat kuat. Begitulah laki-laki yang berusaha tegar meski hatinya sedang rapuh. Jika melihat kondisi Brian yang seperti, membuat Papa Ken mengerti kenapa raut wajah Daddy Samuel selalu saja berubah ketika membahas soal Brian.
" Apa anda yakin tidak tahu?"
Dahi Papa Ken berkerut tatkala mendengar pertanyaan Daddy Samuel yang seakan menuduhnya tahu tapi berpura-pura tak tahu.
" Apa maksud anda berbicara seperti itu?"
Daddy Samuel menampilkan senyuman smirknya.
" Saya tidak bermaksud apa-apa. Hanya tidak menyangka jika anda tak tahu jika penyakit putra saya kembali lagi. Pasalnya, putra anda mengetahuinya," jelas Daddy Samuel.
" Putra saya? Siapa? "tanya Papa Ken penasaran. Soalnya, Ia mempunyai dua putra.
" Tanyakan saja sendiri pada mereka. "
" Lalu, sejak kapan Brian seperti ini? "Papa Ken kembali bertanya.
" Sejak kembali dari Indonesia, kondisi Brian semakin hari kian memburuk. Setiap hari, sepulang dari kantor dia hanya akan merenung dan berdiam diri di dalam apartemennya. Dia tak mau pulang ke Mansion karena takut jika saya akan mengetahui penyakitnya."
" Dan, seminggu yang lalu. Saya menemukan tubuh Brian sudah terkulai lemas di atas tumpukan buku-buku tentang islam. Dari situ saya mengetahui satu hal, jika Brian sedang patah hati karena tak mendapatkan restu dan berencana untuk pindah agama. "
Deg
__ADS_1
Jantung Papa Ken seakan berhenti sejenak. Ia tak pernah mengira jika Brian ternyata sungguh menepati ucapannya. Ingatan tentang pembicaraannya yang terakhir kali bersama Brian seakan berputar kembali.
Keesokan harinya, setelah insiden Brian yang membawa kabur Anneta ke tempat penerbangan helikopter. Brian datang ke kantor Fabio grup menemui Papa Ken meminta di berikan satu kesempatan untuk membuktikan jika ia benar-benar mencintai Anneta.
" Apa lagi yang ingin kamu buktikan pada saya, Brian?"
" Saya akan buktikan jika saya tidak hanya main-main dengan Anneta, tapi berikan saya waktu untuk membuktikannya."
" Sebenarnya, sejak menjalin hubungan dengan Anne. Saya sudah sering mencari tahu tentang Islam, begitupun dengan Anne yang banyak mengajari saya tentang Islam. Tapi, masih ada keraguan di dalam hati ini. "
" Jika kamu masih ragu, maka jangan lakukan. Karena saya tak ingin, kamu masuk islam semata-mata hanya demi mendapatkan restu dari saya, bukan dari hati. "
" Jadi, Papa akan memberikan saya waktu untuk memantapkan hati dan mempelajari islam lebih dalam lagi? "
" Saya tidak janji, tapi jika dalam waktu itu Anne bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dan pasti. Maaf, jika nantinya saya akan merestuinya. "
" Jadi, apakah Brian sudah menjadi seorang mualaf? "tanya Papa Ken.
" Tapi Tuan Ken, apa anda yakin tak merestui hubungan mereka hanya karena beda keyakinan, bukan kisah di masa lalu? " Akhirnya Daddy Samuel menanyakan hal itu juga.
Jujur, Daddy Samuel takut jika Papa Ken sebenarnya tak merestui hubungan Anne dan Brian bukan hanya karena beda keyakinan, melainkan kesalahan di masa lalu. Jika hal itu benar, maka Daddy Samuel lah yang akan sangat merasa bersalah.
Papa Ken masih terdiam sejenak.
" Apakah Anda tidak masalah jika putra anda pindah agama?" entah kenapa Papa Ken justru menanyakan hal ini, alih-alih menjawab pertanyaan Daddy Samuel.
" Lebih tepatnya kecewa, tapi jika itu memang sudah menjadi pilihan Brian saya akan menerimanya. Karena saya tahu, Brian pasti sudah memikirkannya secara matang sebelum dia mengambil sebuah keputusan."
" Jadi, Tuan Ken. Bisakah anda merestui hubungan mereka? Saya tahu, anak saya begitu banyak kekurangan, di tambah lagi kanker otak yang ia derita. Tapi, hanyalah Anneta yang bisa menjadi sumber kekuatan bagi Brian untuk bertahan hidup dan melawan penyakitnya seperti dulu. Jadi, saya mohon___"
__ADS_1
" Stop Tuan Samuel!" seru Papa Ken.
" Anda seorang ayah 'kan?"
" Jadi, Anda pasti tahu bagaimana perasaan seorang Ayah yang selalu ingin melihat putrinya bahagia, bukan menderita."
" Kenapa Anda berbicara seakan-akan tahu jika Anneta akan menderita jika bersama Brian?"
Papa Ken menarik sudut bibirnya." Sekarang anda pikir dan lihat sendiri, jika Anne melihat kondisi Brian yang seperti ini, akankah dia bahagia? "
" Tapi, Brian adalah anak saya satu-satunya dan hanya dia yang saya punya di dunia ini. Jadi__"
" Dan Anneta juga adalah putri saya satu-satunya!" Papa Ken kembali memotong ucapan Daddy Samuel.
" Putri yang saya jaga, saya rawat penuh cinta dan kasih sayang. Dan, sekarang anda ingin mengambilnya juga dari saya hanya untuk Brian? Apakah Anda lupa jika delapan belas tahun yang lalu, anda pernah mengambil seseorang yang sangat berarti dalam hidup saya dan juga anak-anak saya? " Papa Ken layaknya bom waktu yang sudah siap meledak.
Daddy Samuel menggeleng
" Saya tidak mengambilnya, saya justru menolongnya," tolak Daddy Samuel yang tiba-tiba tak mau di salahkan.
" Menolong, tetapi menutup mata dan telinga sehingga tak mau mencari tahu siapa keluarganya hanya karena putra anda membutuhkan dia. Itu, yang anda maksud!" pungkas Papa Ken dengan suara sedikit meninggi.
Setelahnya, Papa Ken bergegas untuk pergi.
" Tunggu! " panggil Daddy Samuel, namun tak di hiraukan oleh Papa Ken.
" Jadi ternyata benar, jika selama ini anda tak merestui hubungan mereka juga karena kisah masa lalu?"teriak Daddy Samuel yang seketika membuat langkah Papa Ken terhenti, lalu membalikkan tubuhnya.
Kedua tangan Papa Ken terlihat mengepal dengan erat, rahangnya pun semakin mengeras, dengan tatapan begitu tajam.
__ADS_1
" Memangnya kenapa? Apa anda akan membunuh saya agar tak ada lagi yang menghalangi hubungan mereka? "
...****************...