Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 48 : Berat untuk pergi


__ADS_3

Selesai membereskan pakaian serta barang-barang yang akan ia bawa pulang. Anne mencoba  menghubungi Brian untuk berpamitan sebelum ia pulang ke Indonesia. Namun, panggilan teleponnya tak kunjung diangkat-angkat. 


" Kak Brian kemana sih? Tumben, di telpon nggak diangkat-angkat!" kesal Anne sembari terus mencoba menelpon Brian. 


" Anne, apakah kamu sudah siap sayang?" panggil Mama Dira dari balik pintu. 


" Iya, sebentar, Ma," jawab Anne.  


Karena Brian  tetap tak bisa di hubungi, Anne pun menyerah dan segera keluar dari kamarnya karena takut jika sang Papa marah karena terlalu lama menunggunya. Di luar, terlihat Papa Ken, Mama Dira, dan Seva yang sudah siap semua. 


" Karena sudah siap semua, kita segera berangkat!" tukas Papa Ken sembari menyeret kopernya. 


" Pa, tunggu!" cegah Anne yang membuat Papa Ken menghentikan langkahnya.


" Ada apa lagi?" tanya Papa Ken dengan wajah dingin. 


" Boleh Anne pamit dulu sama Kak Brian?" izin Anne takut-takut. 


" Dia tidak ada di rumah!" tandas Papa Ken yang kembali melanjutkan langkahnya.  


Melihat Anne yang masih berdiam diri, membuat Mama Dira menggandeng lengannya dan mengatakan kalau apa yang dikatakan oleh Papa Ken benar. Meski Papa Ken tak merestui hubungan mereka, bagaimana pun Brian sudah menjaga Anne dengan baik selama ada di sini. Jadi, Papa Ken tetap harus berterimakasih dan berpamitan sebelum pergi sebagai sopan santun. Tetapi, ternyata Brian tak ada di apartemennya. 

__ADS_1


Selepas mendengar penjelasan sang Mama, Anne jadi merasa bersalah karena sudah berprasangka buruk pada Papanya. Ia mengira bahwa sang Papa berkata seperti itu agar Anne tak menemui Brian, tapi ternyata itu salah. 


Sebelum memasuki lift, Anne menghentikan langkahnya, lalu kembali menatap ke arah pintu apartemen sang penakluk hatinya yang tertutup rapat.  


" Selamat tinggal, Kak," ucap Anne dalam hati. 


" Anne, ayo!" 


Anne pun segera memasuki lift.  


Selama perjalanan menuju bandara, Anne terus menatap ke arah Jendela, seakan sedang berpamitan pada kota yang telah ia tinggali beberapa bulan ini. Kota yang penuh akan kenangan indah, dan buruk. Kota yang membuat Anne menemukan cintanya, dan kota yang mengajarkan banyak hal padanya. 


Meski tak memiliki kebebasan, Anne tetap merasa bahwa kehidupannya jauh berbeda dari sebelumnya. Setidaknya, Ia memiliki pengalaman hidup jauh dari orang tua, dan juga saudara. Awalnya, Anne berniat membujuk Papanya untuk meminta izin agar bisa menyelesaikan kuliahnya di sini. Tapi nyatanya, sebelum ia meminta izin, dia sudah di paksa pulang karena ketahuan menjalin hubungan dengan Kakak Angkatnya. Jadi, impian itu hanya menjadi angan-angannya saja.


" Kamu berat pergi dari sini Anne?" bisik Seva yang duduk di samping Anne. 


Anne menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang terlihat dipaksakan. Sebuah senyuman untuk menutupi perasaan yang sebenarnya. 


" Bukankah Kakak sudah tau jawabannya, kenapa masih bertanya? "


Seva hanya bisa menghela nafasnya. Ya, dia memang tahu jika Anne pasti berat meninggalkan kota ini. Apalagi dalam keadaan mendadak seperti ini. Sungguh, kejadian ini pasti berada di luar nalarnya. Ditambah lagi, dia harus pergi meninggalkan orang yang dicintai tanpa bisa berpamitan terlebih dulu. 

__ADS_1


Sesampainya di bandara, mereka berempat langsung berjalan menuju gerbang keberangkatan. Sejak tadi, Anne terus menengok ke belakang, berharap bahwa sang magang cintanya datang untuk mengantar kepulangannya. Namun, sampai di menit terakhir sebelum masuk ke dalam pesawat, Anne tak melihat ada tanda-tanda kehadiran pria itu. 


" Kamu kemana, Kak? Kenapa tidak datang ke sini? Aku 'kan ingin melihatmu sebelum kita berjauhan!" gumam Anne dalam hati. 


" Anne, ayo," panggil Seva sembari menepuk pundak Anne. 


" Kak, bisakah kita tunggu sebentar lagi untuk naik pesawatnya?" tanya Anne yang masih terasa berat untuk melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kota ini. 


" Nggak bisa Anne, lagipula kamu masih nunggu siapa sih?" tanya Seva. 


" Tentu saja si magang cinta. "


Seva geleng-geleng kepala.


" Sepertinya dia tidak akan datang, "ucap Seva yang membuat Anne menatap tajam ke arahnya. 


" Kok Kakak ngomong gitu, apa Kakak tahu sesuatu? "selidik Anne. 


Seva menggeleng." Aku hanya menebak Anne. Sudahlah, nanti Tuan Ken marah jika kita tak segera masuk, " ajak Seva.


Anne pun hanya bisa menghela nafas beratnya, dan mencoba melangkahkan kakinya yang terasa berat untuk pergi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2