
Mendengar suara pintu terbuka, membuat Seva seketika bangkit dari duduknya.
" Kamu sudah pulang Anne?" tanya Seva yang tak di hiraukan oleh Anne. Dia terus berjalan menuju kamarnya.
" Ada apa dengan Anne? Kenapa wajahnya terlihat muram begitu?" gumam Seva yang terlihat bingung dengan sikap Anne. Karena tak seperti biasanya, Anne bersikap seperti ini padanya.
Sesampainya di dalam kamar, Anne langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, tanpa mengganti pakaian dan membersihkan make up terlebih dahulu. Setelahnya, tiba-tiba ada genangan air mata yang jatuh menetes membasahi pipinya.
Perasaan sesak itu seakan datang lagi ketika mengingat kejadian di tempat pesta. Kejadian dimana, Anne melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Brian bercumbu dengan seorang wanita di depan umum. Bahkan, Cassidy juga mengumumkan jika sebentar lagi mereka akan bertunangan.
" Kenapa Kak Brian tak pernah cerita jika dia akan bertunangan? Tapi, kenapa juga aku sesedih ini? Dan rasanya sangat sakit sekali di sini ...." Anne menunjuk hatinya. "Ada apa dengan diriku ...? Anne menangis dalam kebingungan dan kegundahan akan dirinya.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Sedangkan Anne masih merasa sangat malas untuk mengangkat panggilan itu. Jangankan mengangkat telepon, sekadar bangun dari posisinya sekarang aja dia malas.
Tapi, suara dering ponselnya terus berbunyi tanpa henti sampai membuat gendang telinganya seakan mau pecah. Jadi, terpaksa Anne mengambil ponselnya yang ada di dalam tas dan melihat siapa yang menelpon malam-malam.
"Nala?buat apa dia menelpon sampai sebanyak ini?" gumam Anne yang masih ragu antara mengangkat panggilan itu atau tidak. Tiba-tiba, sebuah notifikasi pesan masuk.
Nala
[ Adik ipar, angkat teleponnya, urgen!]
Urgen? Ada apa?
Tak berselang lama, ada panggilan vidio lagi masuk. Dan terpaksa Anne mengangkatnya karena ia juga penasaran apa yang sedang mendesak.
Sebelum mengangkat panggilan vidio itu, Anne mencoba menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya.
" Anne ...," teriak Nala yang membuat Anne langsung menjauhkan ponselnya.
__ADS_1
" Astagfirullah, biasakan salam dulu, bukannya teriak-teriak!" omel Anne pada Nala.
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam, nah gitu 'kan enak di dengar."
" Kamu kemana aja sih? Di WA gak di balas, di telepon nggak diangkat-angkat! Kayak orang sibuk banget sampai capek aku."
Anne hanya menghela nafas panjang tatkala mendengar Nala yang terus mengomel. Semenjak hamil, dan menikah dengan Lean. Nala yang kalem seakan sirna di telan bumi. Entah efek hamil atau apa, Nala jadi lebih cerewet, gampang bad mood, manja, tukang ngomel, dan masih banyak lagi.Intinya, dia seakan menjadi orang yang berbeda dari sebelumnya.
" Kalau capek, istirahat, atau pijat biar capeknya hilang"goda Anne yang membuat Nala membeo. Bisa-bisanya Anne bercanda saat di omeli. Begitulah Anne kalau sudah bicara dengan Nala.
"Eh, sebentar ... Kamu habis darimana dandan cantik gitu?" tanya Nala ketika menyadari wajah Anne yang masih full make up.
" Em ... Ini..."
" Kamu punya pacar ya, di sana?" tebak Nala yang membuat Anne melongo karena bingung dengan hubungan dandan sama punya pacar apa.
" Beneran? Nggak usah bohong, kalau ada juga gapapa. "
" Apaan sih, Nal. Aku tuh beneran nggak punya pacar di sini, teman aja hanya bisa di hitung pakai jari. "
" Terus, kalau gitu habis dari mana kok dandan full make up gitu? "
" Oh, ini___ tadi di ajak Kak Brian ke sebuah acara koleganya. "
" Oh, ya? Sepertinya kalian makin deket ya ... Apa jangan-jangan ... " Nala mencoba menggoda Anne dengan memasang mata genit.
" Jangan-jangan apa? " kilah Anne.
__ADS_1
" Ada hubungan spesial, ya ... "goda Nala sembari menggoyangkan jari telunjuknya.
" Apaan sih, Nal. Kita itu gak ada apa-apa, " elak Anne.
" Kalaupun ada juga gapapa Anne. Lagian, kalian juga tidak ada hubungan darah, jadi sah-sah aja dong kalau mau pacaran atau menikah, " papar Nala.
Anne hanya bisa tersenyum canggung tatkala mendengar ucapan Nala yang memang benar adanya.
" Anne ..., "panggil Nala tatkala menyadari jika Anne hanya diam saja.
" Ya, ada apa? "
" Kamu kenapa melamun? Mikirin apa? "
" Oh, gak mikirin apa-apa kok. Oh, ya. Katanya tadi ada urgen, apanya yang urgen? " Anne mencoba mengalihkan untuk berbicara ke topik utama.
" Oh, itu hanya bualan biar kamu mau mengangkat teleponku. Soalnya, aku lagi suntuk dan kesepian."
" Kesepian?" ulang Anne. " Emangnya Kak Lean kemana?
" Biasa, kerja dong Anne sayang," jawab Nala.
" Oh, pantes! "gumam Anne yang masih terdengar oleh Nala.
"Apanya yang pantes, Anne?"
" Gapapa, itu gimana kehamilan kamu? Apakah keponakanku baik-baik saja di dalam perut?" tanya Anne guna mengalihkan pembicaraan.
" Dia baik, dan sangat aktif."
__ADS_1
" Oh, ya? Jadi kangen, pengen merasakan tendangannya," ujar Anne yang tiba-tiba merasa kangen mengelus perut Nala sambil merasakan tendangan lembut dari sang calon keponakan yang masih berada di dalam perut. Berbicara dengan Nala, seakan membuat Anne sedikit lupa akan kesedihan dan rasa sakit yang dialaminya.
...****************...