Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 74 : Apa kita bisa bertemu?


__ADS_3

"Memangnya kenapa? Apa anda akan membunuh saya agar tak ada lagi yang menghalangi hubungan mereka? " tanya Papa Ken dengan wajah tanpa rasa takut.


Beberapa penjaga, tiba-tiba menodongkan senjata ke arah Papa Ken. Sementara para Bodyguard Papa Kenzo ikut mengeluarkan senjata mereka dengan posisi mengepung tubuh Tuannya.


" Apa anda yakin ingin mencelakai kita Mr Samuel?" Kini, Nino yang bertanya dengan sikap siaga.


Bukannya menjawab, Daddy Samuel justru tertawa lantang layaknya orang yang sedang mengalami depresi. Sesungguhnya, batinnya memang sedang tak baik-baik saja.


Hatinya kembali hancur ketika mengetahui penyakit putra semata wayangnya datang lagi dan jauh lebih parah dari sebelumnya. Belum lagi, serangan dari musuhnya terus datang menghampiri, membuat Daddy Samuel semakin bingung dan tak tahu harus berbuat apa lagi demi menjaga keselamatan putranya.


Selain pengobatan, tempat aman, Brian juga butuh penyemangat dari orang-orang terdekatanya. Tetapi, orang-orang itu tak ada di sampingnya.


" Saya tidak akan membunuh anda, tetapi bisakah anda izinkan Anindira dan Anneta datang ke sini untuk memberikan semangat pada Brian? Hanya sebatas memberikan penyemangat, tak lebih dari itu."


Dahi Papa Ken berkerut, Ia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Samuel. Bukankah dia tadi sudah mengatakan dengan jelas jika tak akan membiarkan putrinya bersama dengan Brian. Lalu apa bedanya permintaannya tadi dan sekarang? Justru, sekarang dia justru meminta istrinya ikut datang? Permintaan macam apa ini?


" Apa anda mencoba bernegosiasi dengan saya Mr. Samuel? Kalaupun anda ingin membunuh saya, maka bunuhlah!" gertak Papa Ken.


"Tapi, sebelum itu. Coba pikirkan lagi, apakah anda akan mendapatkan sebuah keuntungan?"


" Kalau dari analisis saya, alih-alih mendapatkan sebuah keuntungan. Anda justru akan mendapatkan sebuah kehancuran."


" Kehancuran yang akan membuat anda terbunuh secara perlahan!"tukas Papa Ken.


Daddy Samuel seakan berpikir sejenak, tiba-tiba wajah Anne yang tersenyum padanya terlintas kembali. Kemudian, berganti dengan wajah-wajah yang memberikan sebuah tatapan penuh kebencian karena telah membunuh seorang Kenzo.


" Ingat, Tuan Samuel. Jika anda berani menyentuh keluarga saya lagi, maka saya tak akan segan-segan menghancurkan anda!"


" Kenapa Kamu setega itu, Sam? Kamu jahat!"


" Uncle jahat, kenapa tega membunuh Papa Anne.

__ADS_1


" Apa Daddy sudah gila! Jika seperti ini, mana mungkin Anne akan mau hidup bersama pria anak dari pembunuh Papanya!


Daddy Samuel memegangi kepala dan telinganya yang berdengung. Tiba-tiba, Ia merasa bahwa semua orang datang mendekat untuk menghakiminya. Melihat kondisi Samuel yang tiba-tiba seperti orang histeris, asisten dan para penjaga mendekatinya.


" Pergi kalian! Aku bukan pembunuh!"


" Ada apa dengan Mr. Samuel?" gumam Nino yang merasa aneh dengan apa yang sedang terjadi pada Samuel.


" Dia hanya sedang berada dalam ilusi yang di buat sendiri!" pungkas Papa Ken.


...***...


Di tempat lain, terlihat seorang wanita yang tengah merekam suaranya sesuai dengan permintaan sang Kakak.


Selesai merekam, tiba-tiba ada sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tak di kenal.


✉️ +628xxxx


Awalnya, Anne mengacuhkannya. Tetapi, ada sebuah pesan selanjutnya masuk dari pengguna nomor itu.


[ Saya, Pangeran Aditama. Si pembeli lukisan in memories]


Melihat siapa yang mengirimi pesan, membuat Anne membalasnya.


✉️ Anneta


[ Waalaikumsalam, iya. Ada apa?]


✉️ +628xx


[ Saya hanya mau bilang, bahwa lusa saya ada waktu untuk bertemu. Jadi, bagimana dengan kamu? Apa kita bisa bertemu? ]

__ADS_1


Anne terlihat berpikir, dan mencoba mengingat-ingat kembali agendanya lusa. Dan, untungnya ada waktu free sepulang dari kampus.


✉️ Anne


[ Sepertinya ada waktu, tapi sekitar agak sore. Jadi, gimana? Apa anda bisa?]


✉️ +628XXX


[ Bisa, kalau begitu sampai bertemu lusa. Soal lokasi, akan saya beritahu menyusul]


✉️ Anne


[ Baiklah]


Setelahnya, komunikasi mereka berhenti. Anne merasa lega karena sebentar lagi, dia akan bisa membawa lukisan in memories kembali.


Dikarenakan Anne mudah sekali lupa, Ia segera mengirim hasil rekamannya pada Kean.


✉️ Anneta


[ Sudah selesai, ya. Tapi jangan di dengarkan kalau gendang telinga Kakak gak mau pecah mendengar suaraku yang ....]


Anne tak mau menuliskan kelanjutannya secara gamblang karena itu sama saja seperti menghina diri sendiri.


✉️ Kean


[ Makasih,Anne]


Melihat balasan pesan Kean yang begitu singkat, membuat Anne sedikit kesal. Tapi, mau bagaimana lagi. Namanya juga si kulkas dua pintu, bicara panjang kalau lagi nasehatin dan seperlunya saja. Gak ada basa basi, atau yang lainnya. Beda dengan Kakak kembarnya yang satu lagi, pasti akan ada kata-kata tengil dan menjengkelkan yang terselip dalam balasan pesannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2