Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 35 : Bangunlah, Kak


__ADS_3

"Anne ... aku begini juga karena cemburu!" ujar Brian yang sudah tak mau lagi menutupi rasa cemburunya.


Dahi Anne berkerut, lalu berbalik menatap ke arah Brian. " Apa tadi Kakak bilang? Cemburu? Sama aku?" ulang Anne sembari menunjuk ke wajahnya sendiri.


" Ya, aku Cemburu melihat kamu pergi dengan pria lain! " Brian menekankan ucapannya agar Anne sadar dan paham kenapa dia bisa berbuat seperti itu.


" Lagian, buat apa Kakak cemburu jika aku pergi dengan pria lain? "


" Karena__"


" Anne ... Tuan Brian," panggil Seva dari pintu lift yang sudah mulai terbuka. Panggilan Seva membuat Brian harus gagal lagi untuk mengungkapkan perasaannya pada Anne.


Karena Seva dan beberapa petugas berada di atas, membuat Anne sedikit kesulitan agar bisa keluar dari lift itu.


" Anne, izinkan aku menggendong tubuhmu agar bisa naik ke atas." Brian meminta izin terlebih dahulu karena takut kalau gadis itu akan marah lagi.


" Ayo, Anne segera naik sebelum lift jatuh ke dasar," teriak Seva dari atas sana. Karena dalam keadaan terdesak, Anne mengizinkan hal itu.


Setelahnya, Brian segera menggendong tubuh Anne agar bisa memanjat naik ke atas. Ketika Anne sudah berhasil keluar dari lift, pihak keamanan kembali berusaha membantu mengeluarkan Brian. Namun, siapa sangka bahwa mereka sudah kehabisan waktu dan lift pun kembali bergerak turun kebawah.

__ADS_1


" Kakak!" teriak Anne tatkala melihat lift itu terjun ke bawah.


Melihat Anne yang begitu panik , membuat Seva segera memeluknya dan mencoba menenangkan gadis itu. Namun, Anne terus memberontak seperti orang yang kesetanan. Dia terus menangis dan meminta tolong pada petugas agar segera membantu mengeluarkan Brian dari sana.


" Anne, tenanglah."


Anne menatap tajam ke arah Seva. " Bagaimana aku bisa tenang di saat Kak Brian masih berada di dalam ruangan sempit yang terjatuh itu! Dan ... Bagaimana keadaanya sekarang ..." Anne benar-benar merasa khawatir pada Brian. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada sang Kakak.


" Anne, kita berdoa saja agar Tuan Brian baik-baik saja. " Seva terus mencoba menenangkan Anne agar dia tak lepas kendali. Sebenarnya Seva juga khawatir, tapi dia sudah meminta batuan para petugas apartemen untuk membantu mengeluarkan Brian dari sana.


Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya para petugas itu berhasil juga membantu mengeluarkan Brian dari dalam lift. Anne menangis sesegukan tatkala melihat Brian sudah tak sadarkan diri dengan tubuh yang terkulai lemas.


Sesampainya di rumah sakit, Brian segera di bawa masuk ke dalam ruangan UGD. Sedangkan Anne dan Seva menunggu di luar.


" Anne, duduklah." Seva ikut pusing sendiri melihat Anne yang terus mondar-mandir tak jelas di depannya. Namun, Anne tak menghiraukan ucapan Seva karena saat ini pikirannya penuh dengan Brian.


Tak lama kemudian, terlihat seorang Dokter keluar dari ruangan UGD, membuat Anne segera berlari menghampirinya.


" Dok, bagaimana kondisi Kakak saya?" tanya Anne cemas.

__ADS_1


" Kondisinya___"


Melihat raut wajah Dokter itu yang tak memungkinkan, memicu rasa khawatir yang semakin dalam. Tanpa berpikir lama, Anne langsung menerobos masuk.


" Nona," panggil Dokter itu yang berusaha mencegah Anne agar tak masuk terlebih dahulu sebelum ia selesai menjelaskannya. Tapi, namanya orang cemas ya tak peduli. Karena saat ini yang ia butuhkan, hanyalah segera bertemu dan melihat bagaimana keadaan orang yang telah membuatnya cemas setengah mati.


Seva ikut menghentikan Dokter itu.


" Biarkan saja, Dok. Karena saat ini dia sedang dalam mode cemas berlebihan." Seva hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Anne yang seperti itu, lalu mencoba memberi pengertian pada sang Dokter. Setelahnya, sang Dokter menjelaskan bagaimana kondisi Brian pada Seva.


Di dalam ruangan, langkah Anne semakin melambat, persendian dalam tubuhnya seakan melemas tatkala melihat pria yang telah mampu memporak-porandakan hatinya tengah berbaring lemas di atas brankar dengan tangan yang di pasang selang infus.


" Kak ...," lirih Anne sembari menatap Brian yang masih tidur terlelap.


Anne menarik sebuah kursi untuk ia duduki. Lalu, memberanikan diri meraih tangan Brian yang masih terasa dingin.


" Bangunlah, Kak. Aku tak suka melihat kamu seperti ini. Walau terkadang kamu menyebalkan, tapi aku juga tak mau kehilangan kamu." Anne terus saja berbicara di hadapan Brian dengan air mata yang mengalir deras. Jujur, saat ini Anne belum siap jika harus kehilangan Brian. Meski kebersamaan mereka belum lama, tapi Brian sudah mampu membuat Anne merasa bahagia saat bersamanya, dan akan kehilangan jika tak ada dia.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2