Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 69 : Dimana Brian?


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Anne seakan kembali merasakan lagi yang namanya hampa dan kesepian. Kesepian karena tak ada lagi yang menelpon atau mengirimi ia pesan. Meski perbedaan waktu yang cukup jauh, tak menghalangi untuk mereka saling berkomunikasi satu sama lain. Tapi kini, semua itu telah hilang bagaikan abu. Tak ada lagi yang membuat Anne merasa kesal, marah, cemburu, rindu serta mengatakan I miss you, I Love you, dan lain sebagainya. Yang tersisa hanyalah kenangan yang masih tersimpan dalam memori.


Entah kenapa, tiba-tiba Anne merasa ingin sekali mempunyai ingatan yang singkat, dimana Ia akan mudah lupa dengan apa yang telah ia lalui agar tak terlalu menyesakkan seperti ini.


Demi mengalihkan perasaan tak nyaman itu, Anne pergi ke studio lukisnya. Setiap goresan sketsa ia tuangkan ke dalam lembar kanvas putih itu. Kata orang, seorang penyair akan menuangkan perasaannya lewat sebuah tulisan, sama halnya dengan seorang pelukis yang akan menuangkan perasaannya lewat goresan penanya.


Jika sudah fokus seperti ini, tangan lentik itu seakan tak bisa berhenti untuk membuat sebuah lukisan yang mempunyai arti dan makna tersendiri. Di saat Anne hampir menyelesaikan lukisannya, terdengar suara pintu terbuka.


Anne menoleh ke arah pintu itu, dan terlihat seorang pria paruh baya yang tengah berdiri tegap diambang pintu.


" Papa," lirih Anne.


" Boleh Papa masuk?" izin Papa Ken sebelum melanjutkan langkahnya memasuki ruangan melukis Anne.


Anne mengangguk, menandakan bahwa Ia setuju. Setelahnya, Anne kembali menyelesaikan lukisannya yang tinggal sedikit lagi selesai. Dari belakang, Papa Ken mencoba memperhatikan lukisan yang tengah di buat oleh putrinya. Semenjak mempunyai putri yang sangat suka melukis, Papa Ken juga mulai belajar bagaimana cara membaca arti dari sebuah karya seni.


Dan ... Kini, hatinya sangat terenyuh tatkala menatap lukisan Anne yang memiliki arti begitu dalam.


Papa Ken semakin mendekati Anne, lalu duduk di samping putrinya.


" Apa begitu menyesakkan sampai Anne membuat karya seperti ini?" tanya Papa Ken.


Jari lentik itu seketika berhenti tatkala mendengar penuturan Papanya. Awalnya, Anne hanya diam dan tersenyum kecut. Kemudian, melirik ke arah Papa Ken dengan mata yang sudah memerah serta mengembun.


Anne mengangguk. " Rasanya memang begitu sesak di sini ..." Anne memukul-mukul dadanya, membuat Papa Ken langsung merengkuh tubuh putrinya masuk ke dalam pelukannya. Meski Anne melarang para Bodyguard untuk diam dan tak mengatakan apa yang telah terjadi padanya hari itu. Papa Ken tetap mencari tahu ketika melihat perubahan sikap putrinya.


Dikarenakan dia sendiri yang mengurus Anne dari kecil, membuat Papa Ken sangat sensitif dan peka jika ada perubahan sikap dari putrinya. Hanya saja, dia berusaha diam agar tak semakin membuat Anne merasa sakit.


" Maafkan Papa Anne," batin Papa Ken yang merasa bersalah karena telah gagal dalam menjaga hati putrinya.


Tangis Anne tiba-tiba begitu pecah dalam pelukan sang Papa. Jika beberapa hari ini Anne berusaha untuk baik-baik saja di depan Mama, Papa, dan Kakaknya demi menutupi perasaan yang sebenarnya, tapi kini dia benar-benar meluapkan semuanya.


Di ruangan yang sunyi itu, hanya terdengar suara tangis tanpa kata diantara anak dan Papa itu. Melihat Anne menangis seperti ini, sudah membuat hati Papa Ken sangat sakit.


Setelah cukup lama menangis, barulah Anne melepaskan pelukannya. Papa Ken langsung membantu mengusap sisa-sisa air mata yang membasahi wajah cantik putri kesayangannya.


" Apakah sudah lega?" tanya Papa Ken yang berusaha tetap tenang dan baik-baik saja.


Anne mengangguk. " Maaf, Pa." Dua kata pertama yang terucap dari Anne setelah menangis.

__ADS_1


" Buat apa Anne meminta maaf? Justru Papa yang seharusnya meminta maaf karena____" entah kenapa tenggorokan Papa Ken tiba-tiba tercekat seakan tak mampu mengeluarkan kata-kata selanjutnya.


Anne menggeleng. " Papa tidak salah, karena Anne sendiri yang ... memutuskan untuk tetap menjalaninya walau Anne tahu ... jika akan ada masa seperti ini." Anne berkata seperti itu karena dari awal dia sudah tahu jika dinding pembatas diantara keduanya itu sangat tinggi dan kokoh, tapi ia tetap menjalaninya alih-alih mundur dari awal.


Beginilah resiko mencintai seseorang yang beda keyainan, dimana akan ada luka dan sakit hati ketika hati sama-sama tak ada yang mau mengalah. Jadi, pilihan sudah ada dari awal. Berhenti sebelum terluka, berhenti setelah luka, atau tetap bertahan meski luka sudah sangat dalam.


Lalu, apakah cinta seperti ini tak ada ujung yang bahagia? Tentu saja ada, karena setiap hubungan percintaan tak akan lepas dari namanya luka dan bahagia. Dan hal ini tak hanya terjadi pada cinta beda keyakinan saja, melainkan pada semua jenis hubungan percintaan.


Lalu, jika seperti itu, apakah harus tak usah menjalin sebuah hubungan percintaan saja jika tak mau terluka?


Bukan seperti itu juga, karena pada hakikatnya setiap manusia akan mempunyai rasa namanya 'cinta' dan dalam hidup tak melulu soal bahagia. Pasti akan ada duka yang mengiringinya agar hidup lebih penuh warna, tidak monoton dan membosankan.


Namun, ujung dari kebahagian cinta beda keyakinan hanya ada tiga.


Satu, tak mempermasalahkan jika mereka tetap berbeda.


Dua, ada salah satu yang mengalah sehingga menjadi satu.


Dan tiga, sama-sama merelakan ketika hati sudah tak menemukan titik tumpu. Karena terkadang, bahagia tak selamanya harus memiliki satu sama lain.


" Jika seperti itu, Anne harus lebih bisa untuk melupakan. Karena perjalanan hidup Anne masih sangat panjang, tidak berhenti sampai di sini saja. Dan Anne harus ingat, jika akan ada pelangi setelah hujan. Jadi Papa harap, putri kesayangan Papa ini tak akan terus-menerus larut dalam kesedihan, karena dia harus bahagia. "


" Papa berharap, kedepannya tak akan ada lagi tangis seperti ini. Karena hati Papa akan lebih sakit jika melihat putri kesayangannya rapuh. "


...***...


Ketika ada pekerjaan yang mengharuskan pihak Papa Ken pergi ke New York, pria paruh baya itu memutuskan untuk pergi sendiri alih-alih mewakilkan pada Kean untuk pergi. Padahal, proyek ini yang menjalankan adalah Kean dan Brian, tetapi Papa Ken meminta untuk mengambil alih karena ada sesuatu yang ingin ia lakukan.


Sesampainya di perusahan Marsello grup, Papa Ken langsung berjalan menuju ruang rapat bersama asisten dan beberapa bodyguardnya. Ketika sudah memasuki ruangan itu, betapa terkejutnya Papa Ken ketika melihat bukan Brian yang ada di dalam ruangan itu, melainkan Daddy Samuel.


Ini, adalah pertemuan perdana mereka semenjak dua tahun silam. Kejadian di masa lalu, seakan berputar kembali bagaikan kaset rusak. Dimana, pertemuan pertama mereka yang begitu mengejutkan.


" Selamat datang di perusahaan Marsello Tuan Kenzo," sapa Daddy Samuel sembari mengulurkan tangannya.


Demi sebuah formalitas belaka, Papa Ken pun meraih uluran tangan itu.


" Anda hanya datang sendiri?" tanya Daddy Samuel tatkala melihat tak ada Mama Dira di samping Papa Ken.


Papa Ken menyeringai." Kenapa? Apa Anda menanti kehadiran seseorang?" sindir Papa Ken.

__ADS_1


Daddy Samuel berusaha untuk terlihat biasa saja ketika mendapat sebuah sindiran halus dari Papa Ken.


" Tidak, saya bertanya karena setahu saya seorang Kenzo Clarence Fabian tidak pernah pergi dinas sendiri semenjak istrinya kembali," balas Daddy Samuel yang membuat tangan Papa Ken mengepal.


" Itu memang benar, tapi sayangnya untuk perjalanan kali ini dia tak ingin ikut karena sedang menikmati masa-masa bahagia atas kelahiran cucu keempat kami," dusta Papa Ken yang mencoba memperlihatkan bahwa hubungan keluarganya begitu bahagia dan harmonis. Padahal, sebenarnya Papa Ken memang sengaja tak mengajak Mama Dira.


" Oh, kalau begitu selamat atas kelahiran cucu keempat kalian. Saya juga berharap, kelak bisa merasakan hal seperti itu."


"Tapi, sekarang sepertinya sedikit mustahil." kalimat ini hanya bisa ia katakan dalam hati saja ketika mengingat bagaimana kondisi putranya saat ini.


Melihat raut wajah Daddy Samuel yang tiba-tiba berubah sayu, membuat Papa Ken penasaran apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa Brian tak terlihat ada di sini? Apa dia memang sengaja tak mau bertemu dengannya?


Setelahnya, kedua pria paruh baya itu duduk di kursi masing-masing dan rapat pun di mulai. Seusai rapat selesai, masih ada hal yang begitu mengganjal dan hatinya.


" Terimakasih Tuan Kenzo, semoga kerjasama kita kedepannya terus berjalan dengan lancar," ucap Daddy Samuel.


Papa Ken memaksakan untuk tersenyum. Meski ia ingin sekali menyudahi kerjasama ini, tapi ia sudah berjanji pada Kean untuk tetap mempertahankan dan mengesampingkan masalah internal di luar pekerjaan. Bagaimana pun, mereka harus profesional dalam bekerja. Tidak boleh membawa-bawa urusan priabadi kedalam pekerjaan. Apalagi kerjasama ini sama-sama menguntingkan untuk perusahaan keduanya.


Awalnya, Papa Ken sudah mau pergi tapi ia tak nyaman jika tidam menanyakannya. Jadi, Ia berbalik kembali menatap kearah Daddy Samuel yang ternyata masih ada pada posisinya.


" Oh, ya Mr Samuel. Dari tadi saya tidak melihat Brian, dimana dia? Bukankah sebelumnya dia yang menghandle kerjasama ini?" tanya Papa Ken.


Melihat Papa Ken yang menanyakan dimana keberadaan putranya, membuat raut wajah Daddy Samuel kembali sendu.


" Bu__at apa anda menanyakan keberadaannya? Bukankah anda tak menyukainya? "sindir Daddy Samuel.


Dahi Papa Ken ikut mengerut tatkala mendengar ucapan Daddy Samuel.


" Saya hanya___ " Papa Ken bingung harus berkata apa. Tapi, jika tak bertemu maka sia-sia kedatangannya ke sini.


" Hanya ada yang ingin saya bicarakan dengannya. Jadi, bisakah saya bertemu dengannya?"


" Tapi maaf, Brian tak ada di sini."


" Lalu, dimana dia? "


" Dia___"


...****************...

__ADS_1


Ya Allah, bab ini panjang banget. Semoga kalian gak bosen bacanya. Kira-kira, ada yang bisa menebak Brian dimana?


__ADS_2