Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 43 : Kecerobohan Anne.


__ADS_3

"Ma, Mama ma__ Astagfirullah hal adzim!" Anne terjingkat tatkala melihat Brian berdiri tak jauh dari tempatnya sekarang. Begitupun dengan Brian yang tercengang dengan penampilan Anne saat ini.


Menyadari jika ia sedang tak memakai hijab, Anne langsung berubah haluan masuk kembali ke dalam kamarnya.


Setelah berada di dalam kamar, Anne menyandarkan tubuhnya di belakang pintu dengan wajah malunya. Anne mengacak-acak rambutnya serta menghentakkan kakinya di lantai. Dia benar-benar kesal, malu dan ceroboh sekali keluar kamar hanya berpakaian seperti ini. Awalnya, Anne berpikir kalau hanya ada Mama, Papa, dan Seva saja di rumah karena ia memang tak tahu kalau Brian sudah datang dari dinas dan berkunjung. Andai tahu, Anne tidak akan berpakaian seperti ini.


" Dasar Anne, ceroboh!" gadis itu memaki dirinya sendiri yang tak bisa lebih berhati-hati.


" Bri," panggil Papa Ken saat melihat Brian masih tercengang dengan penampilan Anne yang tanpa hijab.


"Eh, iya, Pa." lamunan Brian seketika buyar tatkala mendengar panggilan berulang dari Papa Angkatnya itu.


" Duduk sini," pinta Papa Ken sembari menepuk kursi kosong di sampingnya. Brian pun menurut dan duduk di samping Papa Ken.


" Gimana kabar kamu?" tanya Papa Ken basa-basi.


" Baik, Papa Sendiri gimana?" Brian ikut berasa basi dengan menanyakan bagaimana kabar Papa Ken.


" Seperti yang kamu lihat," jawab Papa Ken yaang membuat Brian tersenyum kikuk.


" Loh, Bri. Kapan kamu datang? "tanya Mama Dira yang baru menyadari jika putranya sudah ada di sini.


" Belum lama, Mom. "


" Oh, Kalau gitu ikut sarapan bareng, ya, " ujar Mama Dira yang masih menyiapkan menu sarapan pagi di bantu oleh Seva.


***


Selama sarapan bersama, Anne terus menunduk menatap makananya tanpa berani menatap ke arah Brian sama sekali. Gadis itu benar-benar masih merasa sangat malu sekali akibat tingkah cerobohnya. Sedangkan Brian justru mencuri pandang ke arah Anne.


"Ada apa dengan gadis itu?" gumam Brian dalam hati.


Sikap canggung dari kedua pasangan aneh itu tak luput dari penglihatan Papa Ken yang terus memperhatikan gerak gerik kedua anaknya.

__ADS_1


" Kenapa sepi sekali?" Akhirnya Mama Dira membuka suara guna memecah keheningan yang tercipta .


" Anne, tumben kamu jadi anak pendiam?" lanjut Mama Dira.


" Huh?" jawab Anne bingung.


" Mungkin Anne lagi sakit gigi atau sariawan, Ma. Mangkanya dia diam tanpa suara," ledek Papa Ken yang berhasil membuat Anne mengomel.


" Papa!" seru Anne yang tak terima di bilang sakit gigi atau sariawan gara-gara tidak berbicara.


" Loh, apakah Papa salah bicara? "tanya Papa Ken dengan wajah datar, dan langsung dapat senggolan dari Mama Dira.


" Ya tentu saja salah, mana ada Anne sakit gigi dan sariawan! "


" Terus, kalau gitu kenapa diam saja dari tadi? Biasanya juga cerewet! " kini Brian ikut berbicara membuat Anne melongo.


Wajah malu-malunya, berubah menjadi tatapan yang begitu tajam pada Brian, sembari menancapkan garpu kuat-kuat pada makanannya, lalu memakannya dengan cara sadis. Seakan sedang memberikan kode kalau saat ini dia sedang marah dan ingin memakan orang hidup-hidup.


Brian hanya bisa menelan salivanya dalam-dalam melihat ekspresi menakutkan dari Anne. Andai tak ada Mama dan Papa, mungkin Brian sudah mencubit gemas pipi yang mengembang itu.


Selesai mencuci piringnya, Anne langsung kembali ke kamarnya karena malas bertemu dengan Brian yang baru pulang tapi sudah membuatnya kesal.


"Dasar Kak Brian nyebelin! Masak aku dikatain cerewet sih! " gerutu Anne sambil melampiaskannya dengan memukul-mukul bantal.


Di meja makan, terlihat Papa Ken dan Mama Dira saling pandang satu sama lain karena bingung dengan sikap aneh Anne. Padahal, biasanya dia biasa saja jika di bilang cerewet karena itu memang sudah karakternya, tapi kenapa sekarang tiba-tiba ngambek?


"Astaga Anne, pasti ngambek lagi! Dasar tukang ngambek! Baru juga ketemu sudah di ngambekin lagi, padahal seharusnya 'kan lagi kangen-kangennya." kesal Brian dalam hati sambil menatap nyalang ke arah pintu kamar Anne.


Brian langsung mengirim Anne pesan.


[ Kekasihku lagi ngambek, ya?]


[ Maaf ya, padahal aku kan hanya ingin bercanda] tak lupa pula Brian mengirim emoticon love dan wajah memelas.

__ADS_1


Anne


[ Gak lucu! Lagian, pulang kok nggak bilang-bilang!]


Brian


[ Katanya, kalau kangen di suruh pulang. Ya aku pulang, dong]


[Lagian, aku tadi udah kirim pesan buat kamu untuk bukain pintu. Jadi, seharusnya kamu tahu kalau aku pulang]


Anne langsung menscroll pesan dari Brian, dan ternyata memang ada. Hanya dia saja yang tadi memang belum membuka ponselnya.


Tiba-tiba, ada pesan lagi dari Brian.


[ Keluar dong sayang, masak pacarnya kangen di tinggal masuk ke kamar]


Setelahnya, Brian pergi ke dapur untuk mencuci tangan.


Anne


[ Sayang ... Sayang ...! Lagian, siapa yang Kakak maksud pacar?]


Ketika pesan Anne masuk, layar ponsel Brian otomatis menyala dan memperlihatkan fotonya bersama Anne. Kebetulan, Papa Ken duduk di samping kursi Brian sehingga tanpa sengaja ia melihat layar walpaper Brian.


Karena penasaran, Papa Ken memberanikan diri untuk melihatnya lagi, dan___ sepasang netra berwarna abu itu langsung melebar tatkala melihat ada balasan pesan dari Anne serta foto walpaper yang terpasang di layar ponsel itu.


" Apa Anne dan Brian ada hubungan spesial?" gumamnya yang spontan meletakkan ponsel itu kembali ketika menyadari Brian yang berjalan kembali ke meja.


" Papa kenapa?" tanya Brian tatkala melihat tatapan tajam dari mata Papa Ken.


" Bisa kita bicara?" ucap Papa Ken dengan nada yang terdengar dingin dan tatapan tajam.


" Boleh."

__ADS_1


Setelahnya, Papa Ken mengajak Brian pergi ke balkon untuk berbicara


...****************...


__ADS_2