
Dikarenakan tak sanggup berlama-lama saling diam dengan Anne, Brian pun menyerah dan mencoba menghubungi lebih dulu.
Brian
[ Anne, kamu senggang hari ini?]
Melihat tak ada balasan dari Anne, Brian pun kembali mengirim pesan.
[ Anne, bisakah kita bertemu? Ada yang ingin aku bicarakan]
Setelah mengirim pesan itu, Brian memutar kursinya berbalik Arah menatap ke luar jendela. Cuaca hari ini sangat cerah, langit pun terlihat indah. Namun, hati Brian yang sedang mendung tanpa adanya hujan.
Dulu, Brian berpikir bahwa mencintai seseorang itu tak harus mendapatkan balasan. Cukup mencintainya dalam diam, menjaganya, dan memberikan sebuah kebahagiaan tanpa meminta imbalan. Tapi, kenyataannya? Sekarang dia justru ingin cintanya terbalas agar bisa selalu bersama dan memilikinya. Ia tak ingin, ada orang lain yang memiliki wanita yang telah membuatnya jatuh cinta.
Sungguh egois bukan?
Cinta, memang tak bisa di paksakan. Tapi, bisakah cinta berpihak padanya?
Brian juga ingin memiliki kisah hidup yang penuh akan cerita cinta, setidaknya di sisa hidupnya. Agar ada kenangan indah yang selalu terkenang dalam ingatannya.
***
Di tempat lain, Anne hanya membaca pesan Brian tanpa membukanya. Jujur, Anne juga bingung harus bersikap bagaimana terhadap Brian. Anne sadar, jika ia juga memiliki rasa yang berbeda terhadap pria itu. Ketika mendengar Brian mengatakan bahwa ia mencintainya, ada rasa bahagia di lubuk hatinya paling dalam. Namun, ada rasa takut juga. Takut jika rasa ini akan membuatnya mudah lupa diri. Apalagi ketika bersama Brian, banyak sekali kejadian yang terjadi tanpa terduga.
Anne
[ Maaf, Kak. Bisakah di lain waktu?]
Brian
[Kenapa? Apa kamu sibuk?]
Anne
__ADS_1
[ Ya, banyak tugas yang harus aku kerjakan]
Brian
" Oh, kalau begitu. Semangat, sampai bertemu di lain waktu]
...***...
Setelah beberapa hari, Anne tetap tak kunjung menghubungi Brian. Jadi, Brian mencoba cara lain, yaitu meminta bantuan Seva agar mereka bisa bertemu. Awalnya, Seva ragu karena takut jika Anne akan marah. Tapi, dia juga kasihan melihat Brian dan hubungan mereka yang semakin jauh. Padahal, sebelumnya mereka sudah sangat dekat. Bahkan, sering pergi makan bersama, atau berlibur untuk menikmati waktu luang. Tapi, sekarang seperti orang asing.
Ketika sepulang kuliah, Seva mengajak Anne untuk pergi jalan-jalan. Awalnya, Anne menolak karena ia lagi malas pergi kemana-mana. Tapi, sejak terus memaksa dan akhirnya Anne pun setuju.
Sesampainya di sebuah restoran, Seva mengajak Anne masuk ke dalam ruangan privat.
" Kak, kenapa tidak memesan meja yang seperti biasanya?"
" Em, pengen suasana baru." Seva mencoba mencari alasan, dan berharap Anne akan percaya.
"Ada yang Kakak sembunyikan dari aku?" tebak Anne yang langsung membuat Seva gusar.
Ketika pintu terbuka, apa yang Anne pikirkan ternyata benar. Tanpa berkata-kata, Anne ingin segera pergi karena belum siap untuk bertemu dengan Brian. Namun, Seva segera mencekal tangannya.
" Kak lepaskan!" pinta Anne dengan nada dingin.
" Anne, bisakah jangan terus-menerus menghindar? Memangnya kamu suka ya, dengan hubungan kalian yang sekarang? Aku tahu, kamu sebenarnya juga cinta 'kan sama Tuan Brian? Tapi, mencoba menutupinya," papar Seva yang membuat Anne menunduk.
" Kak Seva___"
" Bicara dulu baik-baik, sesuatu yang di pendam sendiri itu tak baik. Jika kamu memang tidak mencintainya, maka katakan yang sejujurnya. Jangan menggantung perasaan orang lain atau menghindarinya, karena itu egois dan lebih menyakitkan!" setelah itu, Seva melepaskan Anne dan beranjak pergi. Sedangkan Anne masih terdiam di tempatnya.
"Anne, bisakah kita makan dan mengobrol sebentar?" tanya Brian yang kjni sudah berdiri di depan pintu.
Anne pun akhirnya setuju dan ikut masuk ke dalam ruangan itu. Tak lama kemudian, datanglah seorang pelayan yang menyajikan makanan untuk mereka.
__ADS_1
" Makanlah Anne, kita bicara setelah makan,"pinta Brian.
" Em. "
" Ketika melihat Anne yang sedikit kesulitan memotong saging steak, Brian langsung menggantinya dengan daging miliknya yang sudah di potong.
"Makanlah, sama-sama halal kok," ujar Brian yang berusaha tetap tersenyum.
" Terimakasih."
Entah kenapa, Brian tiba-tiba rindu dengan Anne yang suka ngomel, banyak bicara, dan ceplas ceplos. Melihat Anne yang begitu pendiam, membuat Brian seakan sedang tak bersama dengan Anne, melainkan orang lain.
"Bagaimana kuliahmu, Anne?" Brian mencoba membuka pembicaraan.
" Berjalan dengan baik."
" Baguslah."
" Apa yang ingin Kakak bicarakan?" tanya Anne yang memberanikan diri untuk menatap Brian.
" Apa Kamu sudah tak nyaman berlama-lama denganku, Anne?" Brian justru kembali bertanya.
" Bukan itu, Anne hanya___"
" Maaf Anne," potong Brian yang mulai masuk ke pembicaraan inti.
"Maaf untuk apa?"
" Segalanya, maaf jika aku sudah membuatmu tak nyaman. Maaf jika sudah bersikap tak sopan, dan maaf karena___ a_ku mencintaimu," lanjut Brian yang mencoba menahan rasa sesak di dada. Jujur, sungguh berat mengatakan ini semua.
Anne tertunduk dan sedikit menaikkan sudut bibirnya." Tidak perlu minta maaf, karena sudah mencintai seseorang. Karena pada hakikatnya, kita tidak bisa mengontrol hati ini untuk mencintai siapa."
" Hanya terkadang, cinta itu___ memang sedikit rumit," lanjut Anne.
__ADS_1
" Rumit?" ulang Brian yang tak mengerti dengan maksud Anne.
...****************...