Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 71 : Belum bisa melupakan


__ADS_3

Sesampainya di rumah, sang maid yang sudah salah membungkus lukisan segera menghampiri Anne dan bersujud di hadapannya. Sementara Anne spontan menjauh.


" Non, saya minta. Saya benar-benar tidak sengaja dan___"


Alih-alih memarahi, Anne justru membantu maid itu untuk berdiri.


" Saya sudah maafkan, tapi jangan sampai terjadi kedua kalinya. Dan Saya juga tidak suka Mbak bersujud seperti tadi," ujar Anne yang memang tak suka melihat orang terlalu merendahkan diri di depannya.


Maid itu mengangguk. " Terimakasih Non, terimakasih ..., " maid itu merasa lega karena Anneta sudah memaafkan dirinya tanpa memarahi atau memecat.


Setelahnya, Anne segera pergi meninggalkan maid itu. Kedua kakinya terus melangkah menuju studio melukisnya. Anne kembali menatap beberapa lukisan seri in memories yang terpajang rapi di dalam ruangan. Seri lukisan ini, menggambarkan runtutan memori kebersamaannya bersama seseorang yang sampai detik ini belum pergi dari hati dan ingatannya. Seseorang yang ternyata memiliki arti yang cukup dalam bagi kehidupannya.


Semakin Anne berusaha untuk melupakannya, dia justru semakin ingin tinggal di dalam hatinya. Maka dari itu, daripada terus membohongi diri sendiri. Anne memilih untuk menuangkan semua kenangan itu kedalam sebuah lukisan yang ia beri judul in memories.


" Sudah sebulan berlalu, tapi kenapa aku belum juga bisa melupakanmu, Kak? Bagaimana kabarmu sekarang? Pasti bahagia 'kan?" Anne bermonolog sembari menatap lukisan-lukisan seri in memories.


Tanpa di minta, buliran bening itu kembali menetes membasahi pipi Anne. Gadis cantik itu segera menghapus buliran bening itu, lalu berusaha untuk menahan diri agar air matanya tak jatuh lagi. Anne benci dengan dirinya yang mudah sekali menangis ketika mengingat kembali tentang Brian. Mungkin, karena Brian adalah pria pertama yang membuatnya jatuh cinta sehingga sulit untuk Anne melupakannya.


Apalagi selama beberapa bulan menjalin hubungan, hubungan mereka berjalan baik-baik saja, tanpa ada masalah internal dan sangat membahagiakan. Tapi, tiba-tiba harus kandas di tengah jalan. Padahal, sebelumnya Brian sendiri yang mengatakan akan berjuang sampai akhir, tapi nyatanya hanya sampai di sini.


Ketika Anne baru keluar dari kamarnya, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Kean.


" Kakak," lirih Anne.


Kean tersenyum


"Bisa Kakak bicara sama Anne?" tanya Kean.


" Mau bicara apa, Kak?" Anne kembali bertanya.


" Kita, masuk aja dulu."


" Mau bicara di dalam?"


Kean mengangguk. " Iya, sama sekalian ingin melihat koleksi terbaru lukisan adik Kakak," ujar Kean sembari merangkul tubuh Anne masuk kembali ke dalam studio melukis.

__ADS_1


Kean mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling isi ruangan lukis itu. Meski desainnya tak berubah dari terakhir kali ia masuk, tapi untuk lukisan sepertinya bertambah.


" Kapan ya, terakhir Kakak masuk sini." Kean seakan mengingat-ingat kembali kapan terakhir kalinya ia memasuki studio lukis adiknya.


" Kalau gak salah ... semenjak Kakak menikah dan pindah ke rumah sendiri, deh!" jawab Anne.


" Oh, ya? Cukup lama juga, ya."


" Ya ... Begitulah, Kakak - Kakakku yang suka sekali pindah tinggal di tempat lain setelah menikah. Padahal, rumah ini sangat cukup untuk menampung banyak orang," sindir Anne.


Kean tersenyum sembari mengusap lembut kepala Anne. " Nanti, kalau Anne sudah menikah ... pasti juga akan ada keinginan untuk tinggal di rumah sendiri, "papar Kean.


" Sepertinya tidak, "jawab Anne asal.


" Kenapa? "


" Ya ... Soalnya Anne belum tahu kapan menikah, jadi gak tau juga apakah ingin tinggal di rumah sendiri atau tetap di sini menemani Mama dan Papa," terang Anne dengan memasang wajah datar.


Kean memegang kedua pundak adik kesayangannya itu." Jika sudah waktunya, Anne pasti akan menikah. "


Anne tersenyum.


" Em ... Siapa gak, ya?" Anne mengetuk-ketuk dagunya layaknya sedang berpikir.


" Kok gitu sih jawabannya. "


" Ya ... Karena belum ada calonnya Kakak ...," tukas Anne dengan memasang wajah memelas. Sementara Kean justru tertawa melihat ekspresi dan tingkah adiknya.


" Di ketawain lagi! Ingat, dilarang menertawakan jomblo yang kesepian, "gurau Anne yang membuat Kean semakin tertawa. Namun, tawa itu seketika hilang tatkala melihat beberapa lukisan yang berjejer rapi di sudut ruangan itu.


Melihat Kean yang berjalan menghampiri lukisan in memories yang lupa di tutup, membuat Anne berlari dan berdiri di depan Kean guna menghalanginya.


" Kamu kenapa sih, Anne?" tanya Kean bingung dengan tingkah adiknya.


" Katanya tadi mau bicara, jadi kita bicara di sofa saja ya." Anne mencoba mengalihkan pembicaraan serta perhatian Kean agar tak melihat lukisan itu. Anne malu jika Kakaknya tahu kalau dia belum bisa move on.

__ADS_1


" Anne ...," panggil Kean dengan memasang wajah dingin.


" Kita pergi saja ya, Kak. Jangan___"


Kean menyingkirkan tubuh Anne kesamping agar Ia dapat melihat lukisan itu. Sedangkan Anne sudah terlihat gelisah tatkala melihat Kean mengamati lukisannya.


" Kamu masih mencintainya, Anne?" Kean bertanya, namun dengan nada bicara yang terdengar lebih lembut.


Anne justru diam dan menunduk.


" Kamu kenapa, Anne?" tanya Brian seraya membantu mendongakkan kepala Anne.


" Maafkan Anne karena belum bisa melupakannya, "lirih Anne dengan mata yang sudah mengembun.


" Untuk apa Anne meminta maaf? Anne tidak salah karena sudah mencintai seseorang dan sulit melupakannya ketika tak lagi bersama. Karena pada hakikatnya, dua hal itu tak mudah bagi beberapa orang. Mungkin Kakak tak pernah merasakan patah hati karena putus cinta, tapi Kakak bisa mengerti. "


" Jika Anne belum bisa melupakannya, biarkan saja semua berjalan layaknya air yang mengalir. Jangan terlalu memaksakan diri jika memang tak bisa. "


Mendengar penuturan Kean yang begitu bijak, membuat Anne terharu dan langsung memeluk Kakaknya. Ia tak pernah menyangka jika Kakaknya yang terkenal cuek, dingin bagaikan kulkas dua pintu justru yang bisa mengerti perasaaanya.


Begitulah Kean yang sebenarnya peduli dengan masalah orang-orang di sekitarnya. Hanya saja, dia punya cara tersendiri untuk menanggapi setiap masalah yang ada. Daripada banyak bicara di depan dan semakin membuat Anne tertekan, Kean lebih suka melakukan tindakan yang tak pernah di sangka-sangka.


" Terimakasih, Kak," lirih Anne yang semakin mengeratkan pelukannya. Selama ini, Kean memang yang paling diam dan tak banyak berkomentar ketika mengetahui hubungan Anne dan Brian.


Setelahnya, Kean mengusap sisa-sisa air mata yang membasahi wajah cantik adiknya. Lalu, mengajak Anne duduk di sebuah sofa yang ada di dalam ruangan itu.


" Apa sudah lebih baik?" tanya Kean sebelum memulai pembicaraan yang sempat tertunda.


Anne mengangguk.


" Kalau begitu, boleh Kakak memulai pembicaraannya?" izinnya.


" Silahkan."


...****************...

__ADS_1


Kira-kira, ada yang bisa menebak apa yang akan di bicarakan oleh Kak Kean ke Anne?


Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, hadiahnya ya... Dan, jangan suka nimbun bab ya... Biar novel ini bisa naik level bulan depan. Terimakasih 🙏


__ADS_2