
" Lalu, dimana Brian?"
" Dia___" Daddy Samuel seakan ragu-ragu untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi pada putranya.
" Mr. Samuel," panggil Papa Ken ketika melihat Daddy Samuel yang hanya diam saja.
" Maaf Tuan Ken, tapi saya tidak bisa memberitahu dimana keberadaan Brian," tolak Daddy Samuel yang seakan berat untuk mengatakan dimana Brian berada.
Papa Ken mencekal tangan Daddy Samuel yang berusaha menghindar sebelum mengatakan dimana keberadaan Brian.
" Apa ada yang anda sembunyikan? "tebak Papa Ken.
Daddy Samuel tersenyum smirk tatkala mendengar Papa Ken yang terlihat ingin sekali bertemu putranya. Padahal, bukankah sebelumnya dia yang menyuruh Brian untuk menjauh? Lalu, kenapa sekarang tiba-tiba kekeh ingin bertemu?
" Kalaupun ada, itu bukan urusan anda! Lagipula, bukankah dulu anda yang menyuruh anak saya untuk pergi menjauh? Lalu, kenapa sekarang mencarinya?" sarkas Daddy Samuel dengan tatapan begitu tajam.
Setelahnya, Daddy Samuel segera pergi meninggalkan Papa Ken. Untuk saat ini, Daddy Samuel memang belum bisa mengekspos dimana keberadaan Brian.
" Nino, tolong cari tahu dimana keberadaan Brian! "titah Papa Ken yang semakin penasaran. Dia seakan merasa ada sesuatu yang di sembunyikan.
(Papa mah aneh! Ada, di suruh pergi. Ketika gak ada, di cariin!)
...***...
Hari ini, pameran kelompok yang sudah di rancang dari beberapa bulan yang lalu akhirnya terlaksana juga. Antusiasme para penikmat seni cukup banyak sehingga mampu memadati ruangan galeri. Di sudut bagian ruangan galeri, terlihat pria tampan yang begitu tinggi tengah memandangi sebuah lukisan yang sepertinya menarik perhatiannya.
" Kak, saya mau beli karya ini," ujar pria itu pada sang Gallery sitter.
" Maaf Kak, tapi karya ini sudah laku terjual. Makanya saya mau memberikan tanda terjual," jelas sang Gallery sitter.
" Wah, sayang sekali." sesal pria itu.padahal dia sudah menyukai karya lukisan itu.
" Iya, Kak. Karya beautiful sky memang selalu jadi incaran para kolektor seni. Tapi, kalau gak salah, masih ada satu karyanya yang belum terjual, "jelas wanita itu.
" Oh, ya? Boleh saya melihatnya?"
" Boleh, mari saya antarkan. " sang Gallery sitter pun langsung mengantarkan pria itu untuk melihat karya yang ia maksud.
Sesampainya di tempat lukisan itu, netra sang pria tampan nan tinggi itu seakan terhipnotis oleh lukisan yang ada di depannya saat ini. Entah kenapa dia merasa sangat menyukai gaya lukisan Beautiful sky ini. Setiap karyanya seakan memiliki arti yang begitu dalam.
" In Memories," ucap pria itu memaknai arti dari lukisan yang sedang ia lihat.
" Saya beli lukisan ini," ujar pria itu yang langsung cocok dengan lukisan di depannya saat ini.
" Baiklah, saya akan mengurus prosedur pembeliannya," ucap sang Gallery sitter.
__ADS_1
Di waktu dan tempat yang sama, terlihat seorang wanita cantik tengah berlari memasuki ruang galeri pameran. Ia edarkan pandangannya menyusuri penjuru ruangan guna mencari lukisannya yang salah kirim. Gara-gara kesalahpahaman dengan salah satu maid yang membantunya berberes sehingga membuat lukisan koleksi pribadinya di kirim ke galeri dan hal itu baru Anne sadari pagi ini. Dimana Ia sedang mengecek studio lukisnya, dan mendapati lukisan yang seharusnya di panjang ke galeri justru masih ada di tempatnya. Sementara lukisan koleksi pribadinya justru tak ada di sana.
" Kak Prisillia," panggil Anne pada managernya yang kebetulan ada di tempat pameran. Anne berlari menghampiri Prisillia.
" Bagaimana dengan lukisanku?" tanya Anne to the point. Sebelum berangkat ke sini, Anne memang menghubungi Prisillia terlebih dahulu untuk membantu mengecek lukisannya.
Dari raut wajah Prisillia, Anne bisa mengetahui bahwa sesuatu buruk sedang terjadi.
" Jangan bilang sudah di beli?" tebak Anne dan diangguki Prisillia.
Tubuh Anne seketika melemas tatkala mendengar lukisannya ternyata sudah terjual. Secepat itukah lukisannya terjual?
" Anne maaf, lagian kenapa bisa salah kirim, sih?" tanya Prisillia yang tak tahu akar permasalahannya.
" Ceritanya panjang, intinya ... lukisan itu masih ada di sini atau gak?" tanya Anne.
" Kalau soal itu, masih ada. Soalnya orangnya masih dalam proses pembayaran, tapi___"
Belum saja Prisillia menyelesaikan ucapannya, Anne sudah nyelonong pergi ketika mendengar kata masih ada. Ia pun, langsung memasuki ruangan pembelian karya seni.
" Tunggu!" Anne mencoba menghentikan sang ketua gallery yang siap memberikan karya lukisannya pada pembeli.
"Sky ... ?" gumam ketua Gallery itu tatkala melihat Anne datang.
Elena mengangguk. Sementara, pria itu terlihat bingung dengan kehadiran seorang wanita berhijab secara tiba-tiba.
" Tuan, bisakah anda mengembalikan lukisan ini?" pinta Anne dengan memasang wajah memelas.
Ketika pria itu menoleh, dia seakan dibuat terkejut tatkala mengetahui siapa wanita berhijab itu.
" Tuan, saya mohon. Karya ini sebenarnya tidak untuk di jual, tetapi karena ada kesalah pahaman sehingga membuat___" Anne tak melanjutkan ucapannya ketika menyadari pria di depannya ini hanya diam saja dengan terus menatapnya tanpa berkedip.
" Tuan," Anne menggoyangkan telapak tangannya di depan wajah pria itu.
" I-ya, sorry kenapa?" tanya Pria itu yang akhirnya sadar dari lamunannya.
Anne menghembuskan nafasnya, lalu kembali mengutarakan niatnya untuk menggagalkan pembelian lukisan itu. Namun, pria itu menolak untuk memberikan lukisan itu.
" Jadi kamu pelukisnya?" pria itu justru bertanya di luar topik pembicaraan.
" Ya, saya adalah pelukis karya itu," jawab Anne.
" Tapi, saya sudah jatuh cinta dengan lukisan anda dan telah menyelesaikan prosedur pembayaran. Jadi, sepertinya ___"
" Saya akan ganti dua kali lipat dari harga yang anda beli," potong Anne sebelum pria itu menyelesaikan perkataannya.
__ADS_1
" Tapi sayangnya, saya lebih menyukai karya lukisan ini daripada uang kamu," pungkas pria itu.
Anne terlihat berpikir sembari memperhatikan penampilan pria yang ada di hadapannya ini. Jika di nilai dari penampilan, dia memang bukanlah orang yang kekurangan uang. Tapi masalahnya dengan cara apa agar Anne bisa mendapatkan lukisan itu kembali?
Anne mencoba berpikir keras, dan akhirnya ia mendapatkan sebuah ide.
" Em, begini. Kalau tidak salah dengar, anda tadi bilang kalau suka dengan karya-karya lukisan saya. Jadi, bagaimana kalau saya menggantikan lukisan itu dengan karya saya lainnya. Yang jelas, karya yang belum pernah di pamerkan." Anne mencoba bernegosiasi, dan berharap jika ia berhasil membawa lukisan itu kembali.
Pria itu terlihat sedang berpikir." Saya belum bisa menjawab, sebelum melihat karya yang anda tawarkan itu. Kira-kira sepadan atau tidak dengan karya in memories."
Anne mencoba menahan emosinya, jujur ia sangat tak suka sekali bernegosiasi yang bertele-tele seperti ini. Tapi, demi karya in memories, Ia akan berusaha semaksimal mungkin karena karya ini berarti baginya.
" Sepertinya, karya ini sangat penting tapi, kita lihat sampai mana perjuangannya untuk mendapatkan kembali karyanya sendiri," batin Pria itu.
" Baiklah, kalau begitu mari kita lihat lukisannya," ajak Anne.
" Tapi, maaf. Untuk hari ini, saya tidak bisa karena ada urusan lain," tolak pria itu yang berusaha mengulur waktu.
Anne semakin kesal di buatnya." Kalau begitu, kapan kita bisa bertemu untuk melihat lukisan?"
" Sepertinya lusa. "
" Baiklah, kalau begitu. Saya minta nomor kontak yang bisa di hubungi. " hanya demi lukisan, Anne rela meminta nomor kontak pria lebih dulu. Ia benar-benar menurunkan gengsinya.
Pria itu langsung memberikan kartu nama dirinya.
" Pangeran Aditama? "gumam Anne yang merasa aneh dengan nama pria itu.
" Ya, kalau begitu. Giliran kartu nama kamu sekarang. "
Anne pun mengambil kartu namanya, lalu memberikan pada pria itu.
" Beautiful sky, apa ini nama asli kamu? "tanya Pangeran.
" Kelihatannya? "Anne justru bertanya balik.
" Kalau begitu, see you next time. " Setelahnya, Anne pergi lebih dulu agar bisa keluar dari ruangan yang membuatnya penat. Ia sepertinya butuh udara segar guna merilekskan diri dan mengembalikan moodnya.
" Apa Kamu tahu, siapa nama aslinya?" tanya Pangeran pada Elena.
" Meskipun tahu, saya tidak bisa memberitahukannya. Karena itu privasi pelukis," ujar Elena sopan.
Setelahnya, pangeran pun ikut pergi dari ruangan pembelian karya seni itu.
...****************...
__ADS_1