Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 82 : Bagaimana jika aku menyerah?


__ADS_3

Hari ini, Brian akan menjalani MRI untuk mengetahui perkembangan sel kanker yang ia alami.


" Bri," panggil Daddy Samuel pada putranya.


" Em."


" Kamu kenapa?" tanya Daddy Samuel ketika melihat putranya melamun.


Brian hanya menggeleng. Meski ia sudah sering menjalani pemeriksaan seperti ini, entah kenapa rasanya Brian seakan takut mengetahui hasil terbaru dari MRI otaknya.


Ingatan tentang beberapa waktu yang lalu seakan terulang kembali. Dimana, Ia mengetahui jika ada sel kanker yang tumbuh lagi di jaringan otaknya.


" Anda yakin tidak salah periksa, Dok?" tanya Brian yang seakan tak percaya dengan hasil dari pemeriksaannya. Pasalnya, selama ini ia sudah menjalani hidup sehat, menjaga pola makan, dan lain sebagainya.


Meski sudah ada peringatan jika Kanker itu akan kembali, Tapi kenapa secepat ini?


" Jika kamu tidak percaya dengan hasil pemeriksaan saya, maka kamu bisa cari Dokter lain."


"Bri, ayo."


Suara Daddy Samuel seketika membuyarkan lamunan Brian. Ia pun segera di bawa masuk kedalam ruangan MRI, dan segera menjalani pemeriksaan.


Seusai menjalani pemeriksaan, Brian meminta diantar keluar ke pantai untuk menikmati keindahan laut senja. Daddy Samuel pun membantu mendorong kursi roda Brian. Namun, di tengah perjalanan. Tiba-tiba Daddy Samuel mendapatkan sebuah telepon yang mengharuskan ia pergi.


" Bri, maaf Daddy tidak bisa menemani Bri. Soalnya___"


" Daddy pergi saja, biar Jeremy yang menemani Bri."


" Kamu gapapa, Daddy tinggal?"


Brian mengangguk.


" Kalau begitu, Daddy pergi dulu. Kamu baik-baik di sini, oke!" pesan Daddy Samuel sebelum pergi.


Setelahnya terlihat Jeremy yang berlari menghampiri Brian.


" Mari saya temani, bos. " Jeremy segera mendorong kursi roda Brian berjalan menuju tebing dengan pemandangan laut lepas yang begitu indah.


" Jer, "panggil Brian pada asistennya itu.


" Iya, bos. "


" Apa Kamu tahu apa perbedaan Senja dan Pelangi? "tanya Brian yang kini mulai memiliki tenaga dan energi.


Jeremy menggeleng,membuat Brian tersenyum. Pria seperti Jeremy yang hanya tahu pekerjaan dan wanita, tentu saja tak tahu soal keromantisan.


" Memangnya apa perbedaan Senja dan pelangi, bos? "


" Senja, meski keindahannya hanya sesaat tapi ia berjanji akan tetap kembali esok hari. Kalau pelangi, hadir setelah hujan datang. Menandakan bahwa akan ada keindahan setelah kesedihan yang panjang. Namun, dia tak pernah bisa berjanji kapan ia akan datang lagi. "


" Kenapa artinya begitu dalam, "lirih Jeremy.


" Menurutmu, apakah aku masih bisa mendapatkan keindahan pelangi? " tanya Brian dengan tatapan lurus ke arah laut lepas.


" Saya berharap, anda akan mendapatkan keindahan pelangi, bos."


Brian kembali tersenyum, namun entah kenapa senyuman itu seakan menyimpan sebuah kesedihan di dalamnya.


" Aku merindukannya, Jer. " entah kenapa tiba-tiba kalimat itu yang lolos dari mulut Brian.


" Jika anda merindukannya, maka berjuanglah untuk sembuh agar bisa kembali bersamanya, bos."


" Ingin ku seperti itu, tapi entah kenapa aku merasa bahwa___" tiba-tiba, tenggorokan Brian tercekat seakan tak mampu mengeluarkan kata-kata yang ada dalam pikirannya.


Dalam kondisi seperti ini, banyak hal yang ada dalam pikiran Brian.


Akankah dia bisa sembuh kembali?


Bisakah ia kembali bersama dengan Anne setelah apa yang terjadi?


Apa Anne juga masih merindukannya?

__ADS_1


Atau, dia sudah bisa melupakannya dan mendapatkan pengganti baru?


" Buang pikiran negatif yang ada, bos. Ganti dengan pikiran positif dan semangat yang tinggi. Saya yakin, anda pasti bisa melalui ini semua." Jeremy mencoba untuk memberikan Brian semangat.


" Bagaimana jika pada akhirnya aku menyerah, Jer?"


Deg


Jantung Jeremy seakan berhenti sejenak, entah kenapa dia merasa bahwa ada ketidakberdayaan dalam diri Brian. Padahal, selama Jeremy bekerja dengan Brian, Ia selalu terlihat optimis dengan nilai semangat juang yang tinggi. Tapi, kenapa sekarang terlihat seperti sangat rapuh? Apa karena tak ada Anneta di sini? Tapi, bukankah dulu juga tak ada?


...***...


Di saat membersihkan studio lukis, tanpa sengaja Anne menyenggol salah satu lukisan seri in memories hingga membuatnya terjatuh diatas kuas dan pallete lukis


Anne pun segera memeriksa lukisan itu, dan betapa sedihnya Anne saat melihat ada beberapa detil yang rusak dan sobek akibat tergores painting pallete knives .


" Kenapa bisa begini? Dan, kenapa perasaanku jadi tak enak?" gumam Anne sambil menatap sobekan tepat pada lukisan seorang pria yang duduk diatas pasir pantai bersama Wanita.


Tanpa berlama-lama, Anne segera menghubungi teman-temannya untuk menanyakan orang yang bisa merestorasi sebuah lukisan. Dari beberapa teman-temannya yang sudah di hubungi, mereka tak tahu dimana ada tempat restorasi lukisan. Namun, Anne tak berhenti di situ saja. Dia terus mencoba menelpon temannya yang lain.


" Halo, Ki," sapa Anne pada temannya yang bernama Kinara.


" Iya, Anne. Ada apa?"


"Em, gini. Aku mau tanya, kira-kira kamu tahu nggak tempat mereatorasi lukisan?" tanya Anne.


" Restorasi lukisan?" ulang Kinan memastikan jika ia tak salah dengar.


" Iya, kamu tahu gak tempatnya dimana? Soalnya, ada lukisanku yang tiba-tiba jatuh dan rusak, "terang Anne.


" Bentar ya, Anne. Aku tanya Kakekku dulu. " Di balik telepon, Kinan terlihat berlari ke taman belakang untuk menemui Kakeknya yang kebetulan adalah seorang pelukis senior dan pernah melakukan restorasi lukisan. Jadi, Ia mencoba bertanya.


" Kakek," panggil Kinan pada Kakeknya yang tengah sibuk mengurus burung kenari peliharaannya.


" Iya, Ki. Ada apa?"


" Kakek punya kenalan tukang restorasi lukisan nggak?" tanya Kinan pada Kakeknya yang masih terdengar oleh Anne.


" Bukan punya Kinan, tapi teman Kinan. Kalau gitu, bisa minta alamatnya? "


Setelahnya, Kinan segera memberi tahu alamat itu pada Anne. Dikarenakan tempatnya ada di luar kota, Anne segera mengemasi sedikit pakaiannya. Karena menurut penjelasan Kakek Kinan, merestorasi lukisan itu butuh waktu beberapa hari pengerjaannya. Jadi, kemungkinan Anne akan menginap.


Selesai mempersiapkan semuanya secara kilat, Anne segera berpamitan pada Papa dan Mamanya.


" Anne, kamu yakin pergi sendiri? Mau Papa temani?" tawar Papa Ken.


" Atau Mama yang temani?" imbuh Mama Dira yang ikut menawarkan diri untuk menemani putrinya pergi.


" Gak perlu, Ma, Pa. Anne sudah besar masak kemana-mana harus di temani Mama, Papa. Lagipula, sudah ada Bodyguardnya 'kan? Jadi, bisakah biarkan Anne mandiri untuk menyelesaikan masalah?" Anne terlihat memohon.


Papa Ken terdiam sejenak untuk berpikir haruskah ia mengizinkan Anne pergi sendiri?


" Baiklah, Papa izinkan. Tapi, sesampainya di sana, jangan lupa untuk memberikan kabar oke! " Akhirnya Papa Ken mencoba untuk memberikan sedikit kebebasan dan kepercayaan pada putrinya untuk bepergian hanya bersama pengawal. Lagipula, tempat itu tak begitu jauh.


Anne mengangguk dan tersenyum lebar. Akhirnya, Papanya mau memberikan sedikit kebebasan pada dirinya.


" Makasih Papa, I Love you! "ucap Anne sembari memeluk Papa Ken dan mencium pipinya. Begitulah Anne ketika berhasil mendapatkan sesuatu yang ia inginkan.


" Kalau begitu, Anne berangkat dulu. " Anne berpamitan dengan Papa dan Mamanya.


" Assalamualaikum, " salam Anne dengan wajah penuh bahagia.


" Waalaikumsalam," balas Mama Dira dan Papa Ken bersamaan. "Hati-hati Anne."


Anne hanya melambaikan tangan dan memberikan sebuah kode dari jari telunjuk dan jari jempol yang menyatu membentuk huruf O.


...***...


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, akhirnya Anne sampai juga di alamat yang sudah di beritahukan oleh Kakek Kinara. Perlahan, Anne melangkahkan kakinya berjalan memasuki sebuah rumah kayu yang terlihat begitu asri dengan halaman yang cukup luas.


Pemandangan di sekitarnya juga sangat bagus, dan udaranya pun sejuk. Mungkin Karena tempat ini berada di dataran tinggi yang masih dekat dengan alam bebas sehingga membuat udaranya lebih terasa segar dari perkotaan.

__ADS_1


Ketika memasuki gerbang, Anne dapat melihat ada beberapa anak kecil yang datang menyambutnya. Sepertinya, Kakek Kinara benar-benar sudah menghubungi orang-orang di tempat ini jika dirinya akan datang.


" Apa Kamu Anneta?" tanya seorang lanjut usia yang memakai sebuah tongkat sebagai penyangga.


Anne mengangguk, lalu menyalami wanita lanjut usia itu.


" Kalau begitu, silahkan masuk," ajak sang nenek.


Anne pun mengekor berjalan di belakangnya, Setelahnya ia di persilakan untuk duduk di sebuah kursi kayu yang terdapat ukiran. Jika di lihat dari desain rumah, furnitur, pajangan yang ada, terlihat sekali kalau pemilik rumah ini sangat menyukai seni.


" Kamu darimana?" tanya nenek itu.


" Dari Jakarta, Nek," jawab Anne sopan.


" Cukup jauh dari sini."


Anne pun mengangguk dan tersenyum. Tak berselang lama, terlihat seorang wanita datang dengan membawa sebuah nampan berisikan teha hangat dan juga camilan tradisional.


" Maaf kalau hanya ada seadanya, "ujar nenek itu


" Tidak apa-apa, Nek. Ini sudah lebih dari cukup, justru Anne yang merasa tak enak karena tidak membawa apa-apa, " balas Anne.


Nenek itu tersenyum lebar ketika melihat Anne yang begitu sopan.


" Kalau begitu, di minum. "


Anne pun meminum teh itu, dan ia merasakan jika teh yang ia minum terasa berbeda dan lebih harum.


" Ada apa? Apakah kurang enak? "


Anne menggeleng.


" Justru tehnya sangat enak, aromanya pun harum sekali, tidak seperti teh yang biasa Anne minum." puji Anne.


Nenek itu kembali tersenyum. " Tentu saja berbeda, karena ini adalah teh racikan dari tumbuhan yang nenek tanam sendiri. Jadi, tentu tak ada duanya. "


" Wah, nenek hebat sekali. "


" Kamu juga sangat cantik, dan sopan. "


Anne jadi tersipu malu karena di puji.


Setelahnya, sang Nenek meminta Anne untuk memperlihatkan lukisannya yang rusak. Ia pun mencoba mengambil kaca pembesar untuk melihat kerusakan secara detail.


Nenek itu terlihat geleng-geleng kepala ketika melihat kerusakan lukisan itu cukup parah. Padahal, lukisannya sangat bagus dan mempunyai arti yang begitu dalam.


" Bagaimana, Nek? Apakah Nenek bisa membantu memperbaikinya?" tanya Anne dengan wajah penuh harap.


" Sepertinya lukisan ini sangat bermakna ya, bagi kamu?" Bukannya menjawab, sang nenek justru kembali bertanya.


Anne mengangguk.


" Sayang sekali, di usia yang sudah tak lagi muda, sulit untuk nenek bisa memperbaiki lukisan dengan kerusakannya cukup parah seperti ini. Apalagi, anak-anak didik di sini, juga belum begitu mahir."


Anne terlihat begitu sedih dan kecewa saat mendengar penuturan sang nenek. Ia benar-benar merasa bersalah karena tak bisa berhati-hati.


" Tapi___"sang Nenek ternyata belum menyelesaikan ucapannya.


" Saya punya cucu yang mungkin bisa membantu, kebetulan hari ini dia datang untuk berkunjung," lanjut sang nenek yang membuat wajah Anne kembali cerah seakan mendapatkan titik terang.


" Benarkah, Nek?" tanya Anne memastikan.


" Ya, meski dia bukan ahlinya. Tapi, dengan___"


" Assalamualaikum," salam seseorang yang sepertinya baru datang.


" Waalaikumsalam, dia panjang umur. Baru saja di bicarakan sudah datang," ujar sang Nenek yang begitu senang jika cucunya datang. Pasalnya, Ia sudah lama sekali tidak datang untuk berkunjung.


" Nek___"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2