Melawan Restu

Melawan Restu
MR Bab 55 : Perdebatan keluarga


__ADS_3

" Nah, gitu 'kan pinter!" seloroh Nala yang mencoba menahan tawa seusai membantu Anne untuk meminum obat.


" Ketawa aja, nggak usah di tahan!" cibir Anne.


" Habisnya, siapa suruh kamu tuh sulit banget kalau di suruh minum obat dan sarapan. Memangnya kenapa? Masih ngambek sama Papa?"


Anne menghembuskan nafas beratnya.


" Bukan ngambek sih, lebih ke males aja!"


" Anne, " panggil Nala.


" Em. "


" Jangan bersikap seperti ini, karena tak akan ada gunanya. "


" Ngomong mah enak, yang ngejalanin? "


" Oke, aku memang gak tahu dengan apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi Anne ... Bukankah dulu kamu sendiri yang pernah bilang kalau hubungan beda agama itu tak akan berhasil? Ingat nggak? " Nala mencoba mengingatkan kembali tentang ucapan Anne dulu. Dimana, Anne yang mengompori Nala yang tak mau berjodoh dengan Lean sebab Sabrina mencintai pria itu. Apalagi, pada dasarnya, dulu Nala sukanya sama Kean. Tapi, berhubung Kean tiba-tiba menikah dengan wanita lain, dan Lean juga yang sedang patah hati akibat cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Anne pun mencoba menjodohkan mereka, dan ternyata berjodoh sampai bisa menikah, dan akan mempunyai baby. ( Cerita ini, bisa di baca di novel My best Partner)


Anne terdiam, Ia seakan tertampar oleh ucapannya dulu. Dimana, sekarang ia justru jatuh cinta dan memiliki hubungan dengan seorang pria yang beda keyakinan.


Nala meraih tangan Anne, lalu menyatukan kepala mereka, layaknya sedang saling bersandar satu sama lain.


" Apakah aku salah karena jatuh cinta dengan pria yang beda keyakinan, Nal?" tanya Anne yang mulai membuka suara.


" Em, bukan salah juga sih. Karena kita tidak bisa mengontrol hati ini untuk mencintai siapa. Tapi__ kamu sendiri tahulah hidup dalam lingkungan seperti apa. "


Anne mengangguk. Dia mengerti jika di agamanya melarang hubungan beda agama. Tapi, Anne juga tak pernah menyangka jika hatinya justru bisa merasakan hal yang berbeda pada pria yang beda keyakinan. Bahkan, Anne sudah sangat mencintai pria itu.


Nala menghembuskan nafas panjangnya, lalu melepaskan diri.


"Sudah, jangan terus - menerus sedih hanya karena tak di restui. Lagian, kalian masih saling berhubungan 'kan di belakang Papa?" tebak Nala yang tepat sasaran.

__ADS_1


" Jadi, jalani saja! Asal jangan sampai ketahuan!" ujar Nala dengan menaikkan kedua alisnya. Anne pun hanya bisa tersenyum melihatnya.


" Tuh ... Kamu itu, lebih cantik kalau senyum. Jadi, jangan sedih melulu."


" Iya ... Iya ..., bumil ..."


" Makasih ya, Nal. "


" Untuk apa? "


" Emm ... Untuk apa ya ...." Anne terlihat berpikir guna menggoda Nala.


" Gak usah kebanyakan mikir, lebih baik makan aja! "usul Nala yang diangguki Anne.


Setelahnya, kedua wanita itu saling curhat, dan bersenda gurau. Di saat-saat seperti ini, yang Anne butuhkan memang hanya support seperti ini, bukan sebuah tekanan terus - menerus.


***


" Hari ini kamu mau ke mana, Anne? Kok sudah rapi?" tanya Mama Dira.


" Oh, hari ini Anne ada acara di luar sama teman-teman sesama pelukis, Ma."


" Acara apa? Kenapa weekend tidak di rumah saja, kumpul sama keluarga. Papa perhatikan akhir-akhir ini kamu lebih sering menghabiskan waktu di luar daripada di rumah," ucap Papa Ken.


" Oh, ya? Perasaan Anne masih sering di rumah tuh, ya kan, Ma? " jawab Anne yang meminta kebenaran pada Mamanya.


" Iya, Anne masih sering di rumah kok. Lagian, bukankah hanya acara bersama sesama pelukis? Biarin saja lah, Mas. Itung-itung memperbanyak teman dan relasi, "papar Mama Dira.


" Yakin mau kumpul sama sesama pelukis, bukan bertemu diam-diam dengan pacar? " imbuh Lean yang langsung mendapat cubitan dari Nala.


" Kenapa sih Bee, " protes Lean yang tak mengerti kenapa istrinya tiba-tiba mencubitnya. Sedangkan Nala hanya memberi kode agar Lean diam saja, jangan semakin memperkeruh suasana atau membuat Papa Ken curiga pada Anne.


" Bukan kok! Lagian, perginya juga di antar sama supir. Jadi, Papa, sama Kak Lean gak usah khawatir dan curiga yang enggak-enggak!" tandas Anne seraya bergegas bangun dari duduknya. Lalu, berpamitan dengan Mama, dan lainnya.

__ADS_1


Sepeninggal Anne, Mama Dira langsung memberikan tatapan tajam ke arah Papa Ken dan juga Lean.


" Kalian berdua kenapa sih? Bisa nggak, tenang aja seperti Kean gitu!" tukas Mama Dira yang lama-lama ikut gemas dan kesal dengan tingkah over protektif dari suami dan putranya.


" Kalau Kak Kean mah emang kulkas dua Pintu, Ma. Jadinya CUEK!" sindir Lean yang membuat Kean melongo. Tanpa memberi aba-aba, Kean langsung melempar buah apel ke arah Lean. Untung refleks Lean cepat sehingga tak mengenainya.


" Kamu apa-apaan sih, Kak!" protes Lean.


" Kamu yang apaan? Lagian, diam bukan berarti cuek atau tidak peduli. Aku hanya tidak mau menambah tekanan pada Anne," jelas Kean yang tak terima jika di tuduh tak peduli pada adiknya. Sebab, dia punya cara sendiri untuk menanggapi masalah Anne.


" Sudah ... Sudah ... Kenapa jadi tambah ribut sih! Lagian, apa salahnya jika Anne berhubungan dengan Brian? Apa Brian seburuk itu sampai tidak boleh bersama dengan Anne?" Akhirnya Mama Dira mengeluarkan unek-uneknya yang ia pendam selama ini. Jujur, Mama Dira juga sedikit sakit hati karena mereka semua menolak putra yang selama ini ia rawat hanya karena beda agama.


" Sayang, Brian bukan buruk hanya __"


" Hanya berbeda dengan kita, begitu?" potong Mama Dira yang membuat Papa Ken bungkam. Begitupun dengan Lean yang tak berani bicara jika Mamanya sudah ikut andil seperti ini.


" Bisakah kalian lebih welcome dengan hubungan mereka? Biarkan mereka berpikir dan memutuskan sendiri bagaimana kedepannya nanti. Lagipula, Anne dan Brian itu sudah dewasa, jadi mereka bisa berpikir mana yang baik dan tidak."


" Tapi sa___" baru saja Papa Ken ingin angkat bicara, Mama Dira sudah memberi kode untuk diam karena ia belum selesai bicara.


" Apa kalian lebih suka jika Anne menjalin hubungan secara diam-diam di belakang?"


Dua pria itu menggeleng.


" Nah, kalau begitu. Coba restui saja agar Anne lebih terbuka. "


"No! Papa tidak akan merestui hubungan mereka selagi Brian masih pada kepercayaannya!" tandas Papa Ken yang beranjak bangun dari tempat duduknya.


" Mas," panggil Mama Dira yang tak di hiraukan oleh Papa Ken. Dalam hal ini, Mama Dira dan Papa Ken memang sedang berada pada kubu yang berbeda. Pasalnya, posisi Mama Dira juga merupakan Mommy Brian, dimana ia akan merasa sakit saat melihat anaknya di tolak. Seakan dia itu adalah seseorang yang tak pantas untuk Anne. Padahal, dari segi apapun Brian itu unggul, hanya soal perbedaan yang nantinya bisa berubah ketika hidayah telah menghampiri. Namun, dalam mencapai hal itu pasti membutuhkan proses karena hal itu tak akan mudah bagi seseorang yang taat pada agamanya.


Sedangkan Papa Ken yang kerasa kepala, Ia bisa toleransi jika Brian hanya menjadi anak angkat. Dia tidak akan mempermasalahkan tentang apa yang di yakini oleh Brian, atau siapa Brian. karena dia juga punya sahabat beda agama dan hubungan mereka juga masih terjalin baik sampai sekarang. Tapi, jika untuk menikah dengan Anne, tak kan bisa semudah itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2